Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 17 Januari 2014

Review Novel The Hundred Secret Senses

Novel yang ditulis oleh Amy Tan ini bercerita tentang Olivia Yee, warga negara Amerika keturunan China, yang saat ayahnya hampir meninggal baru memberitahu isterinya, Louise - ibu Olivia, bahwa sebelumnya ia pernah menikah dan memiliki anak perempuan, Kwan. Karena hantu mendiang isterinya memperingatkannya untuk menjemput puterinya yang selama ini diasuh oleh kerabat dari ibu Kwan. Maka setelah melewati berbagai rintangan, termasuk birokrasi di negara komunis itu, Kwan pun akhirnya berhasil dibawa ke Amerika untuk tinggal bersama Olivia (yang saat itu masih kecil), bersama ibu dan adik-adik lelaki Olivia, Kevin dan Tommy. Olivia kecil tadinya tak menyukai keberadaan Kwan yang selalu bercerita tentang makhluk yin (sebutan Kwan untuk arwah) dan terus mengoceh dalam bahasa Mandarin. Olivia kecil yang tidur sekamar dengan Kwan jadi fasih berbahasa Mandarin karena kakak perempuannya itu. Amy Tan menggambarkannya sebagai berikut: "Ia terus bicara sementara aku berpura-pura sudah tertidur. Saat aku terbangun, ia masih juga berceloteh. Itulah sebabnya mengapa aku satu-satunya anggota keluarga yang mengerti bahasa Mandarin. Kwan telah menularkan bahasa itu padaku. Aku menyerap bahasanya melalui pori-pori sementara terlelap. Ia menjejalkan rahasia-rahasia Chinanya ke dalam otakku dan mengubah cara berpikirku tentang dunia. Dalam waktu singkat aku bahkan bermimpi buruk dalam bahasa Mandarin." 

Olivia sempat merasa bersalah ketika ia mengadukan Kwan pada orang tuanya, dan lalu ayah tirinya memasukkan Kwan ke Rumah Sakit Jiwa karena dikira mengidap skizofrenia, dan rambut Kwan pun tidak lagi selebat dan seindah sebelumnya setelah menerima terapi kejutan listrik sebagai bagian dari pengobatan skizofrenia-nya. Meski begitu, Kwan tidak marah padanya dan tetap memperlakukannya sebagai adik kesayangannya. Boleh dikata, Kwan seperti ibu baginya, karena ibu kandung Olivia terlalu sibuk dengan kegiatan sosial dan kehidupan cintanya. Bahkan, ketika Olivia memperlakukannya dengan buruk, Kwan tetap bersikap baik padanya.

Saat dewasa, Kwan juga yang meyakinkan Simon, lelaki yang disukai Olivia bahwa ia memang berjodoh dengan adiknya itu. Padahal Simon masih berduka setelah Elza, kekasihnya meninggal karena kecelakaan saat bermain ski. Di kemudian hari, saat pernikahannya dengan Simon berakhir, Kwan juga yang berusaha merekatkan kembali hubungan keduanya. Kwan yang mengusulkan agar mereka bertiga pergi ke China. Hal ini diusulkan Kwan karena petunjuk dari arwah. Meski sempat menolak, Olivia dan Simon setuju untuk berangkat ke China guna menulis untuk majalah. Sayangnya, saat tiba di China, bibi Kwan meninggal sebelum bertemu dengannya, dan Kwan sendiri hilang di goa dan tak tak pernah ditemukan lagi. Sementara itu, Olivia dan Simon masih mencoba memperbaiki hubungan mereka, kendati Olivia akhirnya melahirkan bayi Simon.

Sementara plot novel ini bergulir, lewat tokoh Kwan, pembaca dibawa masuk ke dalam dunia gaib yang hanya bisa dilihat oleh Kwan dan yang diceritakannya pada Olivia. Para arwah dari dunia yin seperti Nona Banner, Lao Lu, Zeng, Yiban, Nunumu dan lain-lain menjadi hidup lewat penuturan Kwan.

Novel ini jelas ditulis dengan sangat baik, plotnya bergerak agak lambat, namun lincah, dengan penggambaran yang halus, detail, juga indah. Meski secara keseluruhan, jika Anda adalah penyuka ending bahagia, novel ini mungkin bukan pilihan yang cocok, bahkan di beberapa bagian, hidup para tokohnya berakhir tragis. Juga pembaca perlu mengingat, bahwa novel ini hanya fiksi; karena itu tak perlu diambil hati jika Anda tak percaya dengan reinkarnasi atau arwah. Pastinya, Amy Tan sangat brilian saat menuturkan hal yang miris dengan puitis. Puitis yang miris. Berikut di antaranya, "Seorang laki-laki terjatuh menimpa batu. Kepalanya pecah dan otaknya tumpah." (halaman 46). 

Selain itu, kutipan-kutipan di novel jelas sarat makna dan indah, seperti: "Terlalu banyak kesenangan akan selalu melimpah menjadi mata air kesedihan." (halaman 78), "Cinta manis tidak tahan lama, dan sulit didapatkan. Tapi cinta busuk! - bisa didapat di mana pun. Jadi ia menjadi terbiasa dengan semacam itu, dan itulah yang diraihnya begitu mendapat kesempatan." (halaman 79), "Setiap orang harus punya impian. Kita bermimpi agar punya pengharapan." (halaman 232), "Menangis adalah kemewahan manusia lemah." (halaman 257), "Aku pernah menyangka bahwa cinta seharusnya hanya membawa kebahagiaan. Sekarang aku tahu cinta juga berarti kekhawatiran, dukacita, pengharapan, dan percaya. Percaya pada roh berarti percaya bahwa cinta tidak pernah padam. Bila orang-orang yang kita kasihi meninggal, mereka hanya hilang dari panca indra kita. Bila kita ingat, kita bisa menemukan mereka kapan saja melalui keseratus indra rahasia kita.". 

Di beberapa bagian, selera humor yang halus juga turut disisipkan, seperti berikut, "Kwan tidak pernah mampu melafalkan namaku, Olivia, dengan benar. Baginya, aku akan selalu disebut Libby-ah, bukan sekadar Libby, seperti jus tomat, melainkan Libby-ah, mirip negara yang dipimpin Muammar Qaddafi." 

Sebagai seorang penyuka happy ending, novel ini tidak akan menjadi favorit saya, namun penuturannya yang indah jelas sangat menggugah.

Tidak ada komentar: