Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 19 November 2013

Review Novel The Guy Next Door

Novel yang ditulis oleh Meggin Cabot ini terbilang unik, karena dari halaman pertama hingga terakhir ditulis dalam bentuk email yang ditujukan dari orang-orang di sekeliling tokoh utamanya, dan tokoh-tokoh lain yang menyusun keseluruhan cerita berikut balasan dari sang tokoh utama, serta antar tokoh pendukung.

Daripada Anda bingung apa maksud saya, langsung saja baca bukunya, tapi sebelumnya simak dulu plot ceritanya:

Melissa Fuller adalah lajang berusia 27 tahun yang bekerja di New York Journal sebagai penulis kolom gosip selebriti dan fashion yang rubriknya dimuat di halaman sepuluh (page ten). Setiap kali terlambat atau sakit, Divisi Human Resources yang diwakili oleh Amy Jenkins selalu menghitungnya sebagai keterlambatan dan "mengincarnya" supaya diskors atau bahkan dipecat. Nadine Wilcock, sahabat dan teman kerjanya yang menulis critic food mencemaskan Mel (panggilan akrab Melissa) yang hari itu terlambat lagi. Sementara Aaron Spender, eks kekasih Mel yang ia lempari dengan tasnya setelah semalam mengaku berselingkuh dengan Barbara Bellerieve saat meliput bersama di Kabul mengira Mel bersembunyi darinya, sedang George Sanchez, managing editor-nya yang galak terus memarahinya lewat email karena ia tak kunjung masuk kantor. Ada pula Dolly Vargas yang mengincar Aaron setelah putus dari Mel.

Mel sendiri baru kemudian sempat membalas email dan menjelaskan keberadaannya. Ia harus menolong tetangganya, Mrs. Friedlander yang menjadi korban pemukulan dan akhirnya koma. Selama Mrs. Friedlander dirawat di rumah sakit dan belum tersadar dari komanya, Mel merasa bertanggungjawab memelihara Paco, anjing Great Dane milik Mrs. Friedlander dan kedua kucing siamnya, Tweedledum dan Mr. Peepers. Nadine yang gusar karena Mel sibuk mengurusi hewan-hewan itu dan tidak membantunya menahan nafsu makannya menjelang pernikahan memaksa Mel segera menemukan Max Friedlander, satu-satunya kerabat dari wanita tua, tetangga Mel itu.

Akibat desakan sahabatnya, Mel pun mengirim email kepada Max Friedlander supaya pria itu mengambil-alih tugas mengajak Paco jalan-jalan beberapa kali sehari dan mngurus Tweedledum dan Mr. Peepers. Max yang playboy dan tidak bertanggungjawab menghindari tugas itu, karena ia tengah bersenang-senang dengan supermodel bernama Vivica; maka setelah mengingatkan John Trent, sahabatnya sewaktu kuliah bahwa John berhutang padanya, dan sekaranglah saatnya untuk membayar hutangnya tersebut, Max pun meminta John untuk berpura-pura menjadi dirinya. Pasalnya Max khawatir jika bibinya tahu bahwa ia tak segera menemui bibinya saat mengalami musibah, maka bibinya akan mengurangi persentase warisan yang akan diwariskan padanya jika bibinya nanti meninggal. 

John sebenarnya enggan menuruti permintaan Max, tapi setelah minta saran dari kakaknya, Jason Trent, maka John akhirnya menyanggupi, karena Max memang pernah mencegahnya melakukan kesalahan dengan menikahi wanita berambut merah dalam keadaan mabuk. Maka, John pun pergi menemui Mel dengan mengaku sebagai Max Friedlander. Ia tinggal di apartemen bibi Max dan mengurusi ketiga hewan peliharaan Mrs. Friedlander.

Mel yang diam-diam mengawasi John (yang dikiranya bernama Max) dari jendela apartemennya jadi tertarik dengan pria itu. Sementara Dolly yang mengenal Max yang asli memperingatkan Mel supaya berhati-hati terhadapnya, karena reputasi playboy yang dimiliki Max. Mel tentu saja tidak sependapat dengan Dolly, karena John sama sekali berbeda dengan karakter Max seperti yang digambarkan Dolly. Apalagi saat ia mulai berkencan dengan John (yang mengaku mendapat nama panggilan John dan meminta Mel untuk memanggilnya dengan nama John saja), Mel merasa cocok karena keduanya sama-sama menyukai bencana. Nadine dan teman-teman kerjanya yang mencemaskan Mel memintanya membawa John untuk bertemu dengan mereka, dan semuanya setuju bahwa John memang tidak seperti yang digambarkan Dolly.

John sendiri sebenarnya merasa bersalah karena harus berpura-pura sebagai Max. Ia sebenarnya berniat mengungkapkan segalanya pada Mel, apalagi kakak iparnya, Stacy terus menyemangatinya untuk jujur pada Mel. Sayangnya, bertepatan dengan itu, Max Friedlander yang asli baru saja mencampakkan Vivica. Karena marah, Vivica berniat membalas Max dan mengirim email pada Mel, memberitahunya bahwa selama ini "Max" yang dikenal Mel adalah John Trent. Tentu saja Mel marah besar. Apalagi saat ia tahu John adalah wartawan kriminal dari surat kabar New York Chronicle, surat kabar saingan tempat Mel bekerja. 

Membalas kebohongan John, ia pun membuat berita bahwa John tengah mencari isteri dan akan mewawancarai semua wanita lajang yang ingin menjadi calon isterinya. Karena keluarga Trent memang termasuk milyuner (meski John berusaha keluar dari bayang-bayang kekayaan keluarganya), maka jalanan utama di New York pun dibuat macet saat para wanita lajang berebut ingin bertemu John. 

Berhubung John gagal minta maaf pada Mel, baik lewat email, telepon, dan mendatangi apartemennya, maka John pun terpaksa mendatangi Mel di tempat kerjanya. Sayangnya usahanya gagal karena Mel telanjur sakit hati. Malahan John yang kehilangan kendali memukul Aaron yang sok tampil sebagai pahlawan dengan menghalangi John menemui Mel. Aaron yang masih mengharapkan Mel kembali padanya berusaha memakai momen itu untuk mendapatkan Mel kembali, tapi Mel yang tak lagi mencintainya menolak mentah-mentah.

Karena simpati dengan kondisi John, Stacy pun meminta bantuan nenek John untuk menolongnya berbaikan dengan Mel. Sayangnya email dari Mim (panggilan nenek John) malah membuat Mel berpikir bahwa keluarga Trent demikian kejamnya, sehingga Mim yang mungkin diancam akan dimasukkan ke panti jompo terpaksa menulis email padanya, memohon supaya Mel mau kembali pada John. 

Sadar usaha Mim gagal, Stacy pun mengambil-alih. Ia mengirim email pada Mel, mem-forward email-email yang pernah dikirim John padanya yang menceritakan perasaannya tentang Mel. Setelah sadar bahwa John tidaklah seburuk yang ia bayangkan dan bahwa perasaan John padanya benar-benar tulus, Mel pun tak kuasa menahan tangisnya. 

Setelah berbaikan dengan John, Mel pun bekerjasama dengannya untuk memerangkap Max, karena Mel curiga yang memukul Mrs. Friedlander hingga koma adalah kemenakannya sendiri. Berkat kerjasama antara John dan Mel dengan polisi, Max akhirnya keceplosan bahwa memang ia yang memukul bibinya, maka Max pun akhirnya dibui, sementara Mel akhirnya mendapatkan berita eksklusif. George pun akhirnya menyadari bahwa ia bisa menulis sesuatu yang lebih serius daripada kolom di Page Ten. Mel pun mendapat janji dari George bahwa ia boleh menulis artikel yang serius, tapi hanya sesekali.

Plot novel ini berakhir saat John berniat melamar Mel. Belum sempat melamar, Mel yang wartawan dan sudah terlebih dulu mengendus niat John, langsung mengiyakan.

Hal yang langsung terasakan dari novel ini adalah plotnya yang ringan dan mengalir lancar, humor segar nyaris di sepanjang ceritanya, dan di bagian yang memang seharusnya mengharukan, Meggin bisa mengemasnya dengan baik, tanpa berlebihan. Selain itu, saya menyukai selera humor penulisnya yang cerdas, semisal Mel menganalogikan hubungan dirinya dengan Aaron dengan mengungkapkan bahwa jika Aaron adalah Stephen Hawking, maka dirinya adalah Stephen King. Secara keseluruhan, novel ini sangat menghibur.

2 komentar:

-Indah- mengatakan...

ini salah satu chicklit kesayangan gua :)) gua sukaa bangets ma ceritanya! and cara penyampaiannya emang unik ya melalui e-mail githu tapi ketangkap seperti apa karakter2 yang ada dalam cerita ^o^

*sayang nih buku sekarang ngilang ke mana ya, hikss..*

Selvia Lusman mengatakan...

@Indah: Hehe... Bukunya seperti Max Friedlander ya? Suka menghilang...