Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 23 November 2013

Review Novel The Ghost Writer

Novel yang ditulis oleh Robert Harris ini dibuka dengan pertemuan antara sang penulis bayangan (the ghost writer) dengan agennya, Nick Riccardelli yang biasa disapa Rick. Setelah kematian tiba-tiba dan mengejutkan Michael James McAra, penulis memoar mantan perdana menteri Inggris, Adam Peter Benet Lang, maka Rick mendesak sang penulis bayangan (yang namanya tidak pernah disebutkan dari awal hingga akhir novel) untuk menerima proyek melanjutkan pekerjaan McAra untuk menulis memoar Adam Lang. Karena bayarannya yang besar, sang penulis menyanggupi. Pertemuan pun diatur Rick dengan John Maddox, pemimpin eksekutif Rhinehart Inc (penerbit yang akan menerbitkan buku memoar Lang) dan Sidney Kroll (pengacara Lang). Dalam perjalanan pulang, setelah menerima transkrip tulisan McAra, sang penulis diserang oleh dua orang tak dikenal dan transkip itu diambil darinya. Tak lama, ia pun diminta segera terbang ke Boston untuk selanjutnya tinggal di Martha's Vineyard untuk mewawancarai Lang dan menulis ulang memoarnya.

Sementara itu sang mantan perdana menteri dikait-kaitkan dengan Operasi Tempest, di mana keempat pria warga negara Inggris diculik di Peshawar lima tahun sebelumnya. Setelah mengalami penyiksaan dengan teknik water boarding, Nasir Ashraf meninggal, sementara tiga pria lainnya, Shakeel Qazi, Salim Khan, dan Faruk Ahmed ditahan di Guantanamo selama tiga tahun. Keempatnya adalah tersangka teroris al-Qaeda di Pakistan. Lang memberi otorisasi ilegal kepada pasukan khusus Inggris untuk menangkap mereka dan kemudian menyerahkan keempatnya pada CIA untuk diinterogasi. Richard Rycart, mantan menteri luar negeri yang dipecat Lang berniat mengadukan Lang ke mahkamah internasional di Den Haag dengan tuduhan kejahatan perang, sehingga Lang pun diburu media dan menghadapi kecaman dari para demonstran.

Sang penulis bayangan pun mulai menemukan berbagai kejanggalan saat mulai bekerja. Dari penuturan seorang pria tua yang ia temui saat menapaktilas jejak McAra sebelum meninggal, pria itu mengatakan bahwa tidak mungkin McAra hanyut ke daerah itu. Pria itu juga mengungkapkan bahwa Annabeth Wurmbrand yang memiliki rumah paling dekat dengan laut jatuh di tangga dan mengalami koma tak lama setelah ia melihat "cahaya" di waktu yang bersamaan dengan menghilangnya McAra. Ditambah lagi dengan temuannya berupa foto-foto lama Lang saat masih kuliah di Cambridge yang membuktikan bahwa penuturan Lang bahwa ia terjun politik karena jatuh cinta pada Ruth (isteri Lang) yang menyukai politik terbukti tidak benar, karena sebelum bertemu Ruth pun ia telah terlibat dalam partai. Apalagi ia menemukan nomor telepon Rycart di balik salah satu foto itu. Penyelidikannya juga membawanya menemui Paul Emmett yang secara mencurigakan sepertinya juga terkait dengan CIA. Mengikuti rasa penasarannya, ia pun nekat menemui Rycart. Tak dinyana, Rycart mengaku bahwa bukti tentang keterlibatan Lang dalam Operasi Tempest ternyata diberikan oleh McAra.

Semuanya terasa semakin mencurigakan. Fakta bahwa setelah McAra dan Lang bertengkar, dan setelah McAra menemui Emmett ia hilang dan ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa karena tenggelam. Meski penyelidikan polisi menyatakan McAra mabuk dan terjatuh dari kapal ke laut, baik Rycart maupun sang penulis tak memercayainya.

Saat sang penulis yang terdesak kembali berada dalam satu pesawat dengan Lang, ia berniat mengorek lebih jauh dengan mewawancarai Lang lagi. Lang menolak memberitahu apa yang ia pertengkarkan dengan McAra sebelum meninggal. Tak diduga, itu adalah kali terakhir ia mewawancarai Lang, karena setelah turun dari pesawat, seorang pembom bunuh diri, George Arthur Boxer (mantan mayor Angkatan Darat Inggris yang menyalahkan Lang atas tewasnya putranya yang terbunuh di Irak dan isterinya pada bom bunuh diri di London) meledakkan bom bunuh diri yang menewaskan dirinya dan Lang.

Untuk menghindari tuntutan hukum, sang penulis pun terpaksa memenuhi kewajibannya untuk menulis memoar Adam Lang sesuai pesanan. Sesuai kapasitasnya sebagai ghost writer, ia tidak menyebutkan dirinya sama sekali dan hanya mencantumkan McAra sebagai kolabolator Lang dalam penulisan autobiografinya. Buku memoar itu sukses besar, tapi setelah itu sang penulis mengalami depresi klinis. Ia tak bisa melupakan transkrip awal yang dibuat McAra dan setelah memecahkan pesan tersembunyi McAra dalam transkrip membosankan yang tak jadi dijadikan memoar Lang itu, sang penulis mendapati fakta lain yang lebih mengejutkan. Ruth - bukan Lang yang justru direkrut CIA sejak masa kuliahnya dan Emmett yang merekrut Ruth. Hal mencurigakan lainnya terjadi saat Rycart tewas dalam kecelakaan mobil bersama sopirnya.

Setelah menimbang-nimbang sang penulis pun menulis memoarnya sendiri tentang penemuan mengejutkan itu, meletakkan transkripnya di depan pintu tempat tinggal Kate (nama samaran perempuan yang pernah dekat dengannya) untuk menerbitkannya jika sekiranya terjadi sesuatu terhadap dirinya. Dengan kesadaran bahwa ia mungkin sudah mati jika nantinya tulisan terakhirnya itu terbit, ia kembali ke Martha's Vineyard untuk melihatnya saat musim panas.

Hal yang langsung terasakan dalam novel ini adalah deskripsinya yang terkesan puitis (tapi tidak berbunga-bunga) membuat para pembacanya turut merasakan lokasi yang dilalui karakter utamanya. Yang membuatnya lebih menarik, saya baru menyadari bahwa Harris tidak memberi nama pada karakter the ghost writer yang ia ciptakan. Ini adalah kali kedua saya menemukan novel yang tokoh utamanya tidak memiliki nama. Sebelumnya saya sempat menemukan hal serupa dalam novel The Historian karangan Elizabeth Kostova. Teknik menulis seperti ini buat saya sangat mengagumkan, karena saya yakin tidak semua penulis bisa melakukannya. Meski plot novel ini bergerak agak lambat di bagian-bagian awal, namun endingnya yang di luar perkiraan menjadikan novel ini patut diperhitungkan sebagai "brilian". Selain itu, meski bermuatan konspirasi politik, ketujuh belas babnya yang ditulis pendek-pendek membuat novel ini "tidak berat" untuk dibaca.

Tidak ada komentar: