Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 15 November 2013

Review Buku A Lucky Child

Buku yang ditulis oleh Thomas Buergenthal ini adalah memoarnya sewaktu ia masih kanak-kanak dan menjadi korban holocaust serta kekejaman perang. Ditulis dengan lugas dan apa adanya tanpa kesan mengasihani diri, tanpa kebencian atau pun kemarahan, pembaca dibawa mundur ke tahun 1933. 

Adalah Mundek Buergenthal, ayah Thomas yang pindah dari Jerman ke Lubochna untuk membuka sebuah hotel kecil bersama temannya, Erich Godal. Sementara ibu Thomas adalah Gerda Silbergleit - yang oleh Thomas dia panggil Mutti. Keduanya bertemu di perbatasan Jerman-Ceko, bertunangan tiga hari kemudian dan menikah setelah beberapa minggu. Sebelas bulan kemudian, lahirlah Thomas.

Pada akhir 1938 atau awal 1939 hotel milik ayahnya diambil-alih secara paksa oleh Hlinka Guard, kelompok fasis Slovakia yang didukung oleh Nazi Jerman. Keluarga kecil ini pun pindah ke apartemen kecil di Zilina. Tak lama, mereka terpaksa pindah lagi dan berniat mengungsi ke Polandia, tapi segera diusir balik ke Ceko. Baru pada Maret 1939 mereka berhasil masuk ke Polandia. Mereka lalu menuju Warsawa dan akan melanjutkan perjalanan ke Katowice pada 1 September 1939 ketika Hitler memutuskan menyerang Polandia pada hari itu. Thomas dan orang tuanya lalu mengungsi ke Kielce dan menetap selama empat tahun, kemudian dipindah ke Auschwitz awal Agustus 1944.

Berawal dari suatu subuh di bulan Agustus 1942, tentara Jerman mengepung pemukiman mereka dan memaksa mereka meninggalkan rumah. Orang tua atau orang sakit yang tak bisa pergi segera ditembak. Kakek-nenek Thomas dan dua puluh ribu lebih warga Yahudi di Kielce diangkut ke Treblinka dan dibunuh di kamp pembantaian itu begitu tiba di sana. Thomas kecil dan kedua orang tuanya dibawa ke Henrykow untuk menjalani kerja paksa. Pada Juli 1944 mereka dipindahkan ke Auschwitz. Di sini Thomas dipisahkan dari ibunya yang dibawa ke kamp perempuan. 

Setiap tahanan di Auschwitz menghadapi terornya sendiri setiap hari, mulai dari siksaan dari Kapo (sesama tahanan Yahudi yang berpihak pada Gestapo), penghitungan harian yang dibarengi pemukulan dan hukuman gantung, hingga seleksi maut Dokter Mengele. Mereka yang tidak lolos seleksi akan dibawa ke kamar gas dan krematorium untuk dihabisi. Pada bulan Oktober tiba-tiba diadakan seleksi yang di luar kebiasaan. Thomas pun dipisahkan dari ayahnya.

Thomas dibawa ke Krankenlager (kamp rumah sakit) dan terhindar dari kamar gas karena SS berpikir akan buang-buang bahan bakar jika menghabisi kelompok kecil yang lolos seleksi itu sekarang. Awalnya Thomas selalu terbangun dari tidurnya karena teriakan minta tolong dari para tahanan yang dibawa ke krematorium. Ia juga menjadi takut tidur karena selalu bermimpi dirinya dipukuli atau dihukum mati. Thomas lalu mengatasinya dengan meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi hanya mimpi buruk. Suatu ketika seluruh kamp dibawa untuk dibantai. Untunglah seorang dokter muda Polandia di kamp itu yang berteman dengan Thomas merobek kartu lamanya dan membuatkan kartu baru, sehingga Thomas selamat dari maut. Dia lalu ditempatkan di kamp D (kamp anak-anak) dan bertemu lagi dengan temannya, Michael dan Janek. Mereka bekerja sebagai pengangkut sampah. Saat mengangkut sampah, Thomas sempat melihat ibunya dari balik pagar, hanya sekali karena tak lama kemudian ibunya dipindahkan ke tempat lain. Thomas juga diungsikan ke Oranienburg, dikarantina selama dua minggu di pabrik pesawat terbang Heinkel. 

Di Sachsenhausen, Thomas bertemu dokter Norwegia yang baik hati bernama Odd Nansen yang mengoperasi kakinya yang bengkak dan makin parah karena terlalu lama berjalan saat pengungsian. Dokter Nansen juga memberinya biskuit, buku gambar, dan pensil. Thomas tetap tinggal dalam kamp sampai perang usai dan tentara Polandia datang untuk membebaskan tahanan. Mereka menghuni rumah-rumah kosong yang telah ditinggalkan tentara Jerman. Thomas tinggal bersama para tentara Polandia sampai dibawa ke panti asuhan Yahudi di Otwock, sampai suatu hari Thomas mendapat surat yang mengabarkan bahwa ibunya masih hidup. Ia pun mengalami awal yang baru saat bersatu lagi dengan ibunya, sementara ayah Thomas meninggal pada 15 Januari 1945 saat dikirim dari Sachsenhausen ke Buchenwald. Sejak itu Thomas menjalani hari-harinya secara normal seperti saat sebelum perang. Bahkan, Thomas akhirnya berhasil berkontak kembali dengan surat dan juga bertemu kembali dengan Odd Nansen. 

Bertolak dari pengalamannya sebagai survivor holocaust, Thomas pun memilih karir sebagai hakim Amerika di International Court of Justice di Den Haag selama lebih dari sepuluh tahun. Ia lalu menjadi profesor hukum internasional dan hak asasi manusia di Fakultas Hukum George Washington University.

Hal yang langsung terasakan dari buku ini adalah penuturannya yang "tidak berat". Meski bertutur tentang pengalaman mengerikan dari korban kejahatan kemanusiaan, Thomas menceritakannya tanpa kepahitan, sebaliknya ada pelajaran moral di dalamnya, seperti yang terungkap pada halaman 71 ketika Thomas menulis, "Seandainya tidak berakhir di kamp, barangkali mereka tetap menjadi manusia beradab. Ada apa sebenarnya dalam karakter manusia yang memberi kekuatan moral pada beberapa individu agar tidak mengorbankan kepantasan dan martabat mereka - tanpa menghiraukan harganya bagi diri sendiri - sementara yang lain menjadi pembunuh lalim dengan memastikan mereka sendiri tetap hidup?"

Kutipan lain di halaman 193 juga menegaskan hal ini, "Setelah sekian waktu, aku mulai berpikir betapa pentingnya individu-individu seperti Nansen dan kami semua - yang pernah mengalami penderitaan mengerikan di tangan Jerman - untuk memperlakukan mereka secara manusiawi. Bukan karena mengharap ucapan terima kasih atau ingin menunjukkan betapa kami sangat berjiwa murah hati, melainkan karena pengalaman kami semestinya justru mengajarkan kami untuk berempati terhadap manusia yang membutuhkan, tak peduli siapa pun."

Pada akhirnya, saya merasa buku ini sebenarnya adalah sebuah pembelajaran tentang memaafkan, seperti yang diungkapkan Thomas di halaman 200, "Aku sangsi kami bisa mempertahankan kewarasan seandainya seumur hidup terus dimangsa dendam."

Tidak ada komentar: