Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 30 Oktober 2013

Review Novel Sing Me To Sleep

Novel yang ditulis oleh Angela Morrison ini berkisah tentang Beth, seorang remaja perempuan yang sering menjadi korban bully oleh ketiga teman sekolahnya yang nakal, Colby, Travis, dan Kurt. Karena postur tubuhnya yang tinggi, kacamata tebal yang ia kenakan, jerawat di wajahnya, dan rambut keriting cokelatnya, ia kerap diolok-olok dengan sebutan monster. Bahkan anak kelas satu diikat di lokernya sebagai "tumbal" kepada monster. Colby dan para kroninya juga memaksanya memakai topeng nenek sihir untuk mengejeknya. Saat ia menolak, topeng itu terus bermunculan di dekatnya, direkatkan pada lokernya, diletakkan di bangkunya, bahkan dijatuhkan ke nampan makan siangnya. Meski berusaha tabah, terkadang Beth tak kuasa menahan tangis saat diganggu oleh teman-teman sekolahnya. Beruntung, masih ada Scott, sahabatnya sejak kecil, yang meski sudah berubah menjadi tampan, tapi tetap bergaul dengannya, gadis yang jelek dan tidak populer. Bahkan, Scott dengan terang-terangan menunjukkan perasaan sukanya pada Beth, yang justru membuatnya jengah karena ia merasa terlalu jelek untuk Scott.

Nasib Beth mulai berubah saat Meadow, penyanyi solo di Bliss Youth Singers, paduan suara sekolah mereka muntah karena tegang, maka Beth pun mengajukan diri untuk menyanyikan bagian lagu yang harus dinyanyikan Meadow. Beth yang bersuara emas akhirnya terpilih untuk menggantikan Meadow. Meski tadinya Meadow dan gadis-gadis lain menganggapnya sebelah mata, Beth akhirnya diterima sebagai teman mereka. Meadow pun bersikeras melakukan makeover terhadap Beth; mulai dari membawanya ke salon dan memotong rambutnya, me-rebonding dan mengecat rambutnya menjadi pirang, melaser wajahnya dari bekas luka akibat jerawat, melaser matanya sehingga tidak lagi mengenakan kacamata, hingga mengajarinya berdandan, dari memakai lip gloss, bedak, hingga maskara. Scott pun menunjukkan rasa tak sukanya karena perubahan itu. Menurut Scott, Meadow dan teman-temannya mengubahnya menjadi orang lain yang bukan Beth. Namun Beth bersikeras hal itu memang perlu karena ia telah diserahi bagian sebagai penyanyi solo utama.

Saat rekaman suaranya dan paduan suaranya diikutkan dalam lomba, Beth pun mendapat kesempatan berkenalan dengan Derek Collins, pemuda tampan dari paduan suara Amabile Youth Singers, saingan paduan suara sekolahnya lewat jejaring maya. Derek yang mengagumi suara merdu Beth dari situs Bliss penasaran dengannya dan ingin menemuinya di Lausanne, Swiss, tempat mereka akan bertanding menyanyi.

Saat Scott dan Beth pergi ke pesta dansa di sekolahnya, Colby yang biasa mengatainya monster tak mengenalinya, malahan ingin berkenalan dengannya. Beth pun tersadar, kini ia telah berubah menjadi cantik. Meski begitu, ia tak menanggapi perasaan cinta Scott. Bagi Beth, Scott adalah sahabatnya, dan di lubuk hatinya, ia masih merasa sebagai monster buruk rupa.

Beth akhirnya menjejakkan kaki ke Swiss dan bertemu Derek. Meski mencurigai Derek memakai obat-obatan, namun Beth tak bisa menepis pesonanya. Ia tetap menjalin hubungan dengan Derek sehingga membuat Scott cemburu ketika mengetahuinya. Apalagi saat Derek menginap di ruang kerja di rumah Beth karena cuaca buruk saat Derek mengunjungi Beth. Meski Beth senang dengan kehadiran kekasihnya, ia juga sedih dengan sikap Derek yang menyimpan rahasia dan malahan berpesan agar Beth menerima Scott saja seandainya mereka tidak dapat bersatu.

Beth bertambah bingung saat Derek memaksanya keluar dari Bliss dan bergabung dengan Amabile Youth Singers, sementara ia masih sedih dengan hasil tes kesehatannya. Beth menuruni gen trisomi - kromosom triplet dari ayahnya yang mungkin membuatnya tak bisa memiliki anak. Ketika ia memutuskan untuk tetap menyanyi bersama Bliss, Beth pun bertengkar dengan Derek. Ia makin tertekan saat Scott dan ibunya sama-sama menganggap Derek akan membuatnya terluka.

Beth yang merindukan persahabatannya dengan Scott menerima tawaran Scott untuk belajar bersama di rumah Beth, tapi kehadiran Derek yang tiba-tiba datang mengunjunginya membuat Scott langsung meninggalkan rumahnya. Sepeninggal Scott, Beth bertengkar lagi dengan Derek. Tapi, saat ia melihat Derek menyanyi bersama paduan suaranya di televisi dan tiba-tiba nyaris terjatuh, Beth pun baru tersadar bahwa selama ini Derek menderita sakit parah yang tidak ia ketahui. Ia pun tanpa pikir panjang segera melajukan mobilnya menuju Kanada untuk menemui Derek di rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Derek meminta Beth untuk pergi karena ia tidak ingin membuatnya sedih dengan kondisi penyakitnya. Dari ibu Derek, Beth baru mengetahui bahwa Derek mengidap Cystic Fibrosis dan kini ia tengah sekarat. Beth pun bersikeras menunggui Derek. Sayangnya, Beth masih harus pergi ke sekolah.

Khawatir jika Derek sewaktu-waktu meninggal dan ia tak bisa mendampingi kekasihnya, Beth meminta ijin ibunya untuk kembali ke rumah sakit. Meski berat hati, ibunya terpaksa mengijinkan setelah Beth berjanji menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Scott yang tak mengetahui apa yang terjadi bersikap bermusuhan terhadapnya.

Setelah beberapa kali berhasil melewati kondisi kritis, Derek akhirnya tak sanggup lagi memerangi penyakitnya. Ia akhirnya meninggal dengan ditunggui Beth dan kedua orang tuanya. Tak kuasa menahan kesedihan sepeninggal Derek, Beth hanya mengurung diri dalam kamar dan menolak pergi ke sekolah. Baru pada saat Blake, sahabat Derek menawarinya untuk ikut menyanyi di acara penggalangan dana untuk penyandang Cystic Fibrosis untuk mengenang Derek, Beth pun perlahan merelakan kepergian Derek. Seperti pesan Derek semasa hidupnya, Beth pun akhirnya menerima kehadiran Scott.

Secara keseluruhan, novel ini tidak berat untuk dibaca. Gaya bahasanya ringan dan plotnya pun mengalir lancar. Bagian-bagian akhirnya lumayan mengharukan saat Beth yang akhirnya mengetahui penyakit Derek memilih untuk bersama kekasihnya hingga ajal menjemput Derek. Awalnya tokoh Derek ini seperti tokoh antagonis yang membuat Scott, si tokoh protagonis tak bisa memiliki Beth, tokoh utamanya; namun di akhir cerita kematian Derek membuat endingnya jadi terkesan pahit. Pembaca jadi dibawa mengasihani tokoh Derek yang harus merelakan gadis yang dicintainya dimiliki pemuda lain setelah ia meninggal. Yang lebih menyedihkan, meski Angela Morrison mengklaim bahwa Derek bukanlah almarhum Matt Quaife yang tutup usia pada tanggal 25 November 2007, saat berusia delapan belas tahun karena cystic fibrosis, novel ini didedikasikan untuk mengenang Matt, anak dari Joyce, sahabat Angela. Apa yang dialami orang tua Derek saat kehilangan anaknya adalah peristiwa kehilangan yang nyata yang dialami Joyce.

Ditinjau dari segi fiksi, saya tidak menyukai endingnya yang agak pahit. Berhubung saya adalah penggemar happy ending, saya lebih suka jika Derek sembuh dan kembali pada kekasihnya yang terdahulu, sementara Beth akhirnya menyadari bahwa orang yang paling tepat untuknya adalah Scott. Tapi, novel ini ditulis oleh Angela Morrison, bukan oleh saya. Jadi...

Tidak ada komentar: