Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 25 Oktober 2013

Review Buku Chicken Soup for the Writer’s Soul

Buku ini terdiri dari 42 kisah nyata yang ditulis oleh 42 pengarang yang dirangkum oleh 3 orang: Jack Cranfield, Mark Victor Hansen, dan Bud Gardner. Sesuai judul bukunya, Chicken Soup for the Writer's Soul, buku ini memang mengisahkan pengalaman para penulis tentang bagaimana awal mulanya mereka bisa menjadi penulis. Berikut kisah mereka:

1. Mengapa Aku Menulis - Terry McMillan:
"Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku dan tidak merasa dihakimi. Dan aku senang berada di sana."

2. Alex Haley - Seorang Penulis Takdir - Barnaby Conrad:
Barnaby Conrad bercerita tentang bagaimana Alex Haley berniat menjadi penulis dan akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Niat Haley terlihat jelas saat ia mengatakan, "Aku akan menjadi seorang penulis walau harus mati!"

3. Dari Dasar Jurang ke Puncak Gunung - Larry Wilde:
Wilde, seorang penulis buku komedi mengawali kariernya dengan kegagalan dan penolakan, "Ada satu hal yang dimiliki semua penulis terkenal: tabah menghadapi penolakan. Berulang kali." hingga akhirnya sukses menerbitkan bukunya yang berisi lelucon Polandia dan Italia dan terjual sebanyak satu juta enam ratus ribu eksemplar dalam 36 cetakan, "Ada sebuah pepatah kuno: Jika kau gagal, penyebabnya karena kau mencoba. Jika kau berhasil, penyebabnya karena kau menggunakan sebuah peluang."

4. Impian Bisa Menjadi Kenyataan - Christine Clifford:
Clifford menuangkan rasa marah, takut, penolakan, dan sedihnya setelah dinyatakan menderita kanker dalam bentuk kartun yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku humor yang ditulis khusus untuk anak-anak dan memenangkan beberapa penghargaan. Ia mengungkapkan bahwa, "Peran yang paling kusukai dan memenuhiku dengan perasaan bangga adalah peran sebagai "pengarang"."

5. Impian yang Hilang dan Ditemukan - Kate M. Brausen:
Kate kecil bercita-cita menjadi prima ballerina setelah ibunya membawanya menonton Swan Lake. Ia melupakan mimpinya menjadi ballerina karena kerusakan otot yang dideritanya dan baru diketahui saat Kate remaja. Kate mulai menulis puisi untuk menenangkan diri dari perasaan takut akibat kondisi fisiknya yang semakin menurun dan kini menjadi penulis lepas full time. "Menulis adalah sejenis doa, yang terus membantuku mencapai dan menaklukkan hidupku tanpa merasa, pada akhirnya, ditaklukkan olehnya.", "Sesamar apa pun jadinya peristiwa itu nantinya dalam ingatanku, tindakan menulis yang sederhana akan membuatnya tersimpan aman dalam bentuk asli, selamanya.", ungkap Kate.

6. Impian Mempunyai Harga - Gene Perret:
Menurut Perret, menjadi penulis memerlukan usaha dan proses, seperti yang diungkapkan Mike Price, "Lebih banyak yang mempunyai bakat daripada disiplin. Itu sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi."

7. Demi Cinta atau Uang - Gregory Poirier:
Berawal dari seorang penulis miskin, Poirier menjadi kaya-raya setelah berhasil menjual naskahnya dan lalu menulis ulang skenario yang dibencinya. Meski uang mengalir lancar ke koceknya, Poirier menjadi tidak menikmati menulis, sampai ia sadar bahwa tujuan hidupnya bukan lagi untuk menulis. Ia pun memutuskan untuk menulis sendiri skenarionya. "Saranku untuk mereka yang bercita-cita menjadi penulis selalu sama: Jika ada hal lain yang bisa kalian lakukan dalam hidup kalian, maka silakan, pergi dan lakukan saja hal itu. Jalan ini tidak cocok untuk kalian jika kalian ragu-ragu. Tapi jika inilah satu-satunya pekerjaan kalian, maka terjun dan bekerja keraslah. Berjuang, menangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa untuk mencintainya, bahkan ketika tulisan kalian mulai menghasilkan.", ungkap Poirier.

8. Bingkisan Ayah - Cookie Potter:
Saat menjelang bercerai, ayah Cookie memintanya ganti bercerita, berkebalikan dengan kebiasaan ayahnya yang selalu membacakan cerita untuknya; maka Cookie kecil pun mulai bercerita, sementara ayahnya mencatat setiap kata dari ceritanya. Baru kemudian, Cookie tahu bahwa ayahnya mengirimkan ceritanya ke koran dan menunjukkan tulisannya yang dimuat di Junior Page. Beberapa hari kemudian ayahnya meninggalkan rumah dan Cookie tak pernah melihatnya lagi, meski bertahun-tahun bertukar kartu dan surat dengan ayahnya. Cookie pun melanjutkan menulis hingga dewasa. "Aku telah menghabiskan tak terhitung banyaknya waktu yang luar biasa dengan bermimpi, mengarang, membuat alur cerita, lalu membelanjakan cek yang dikirimkan oleh editorku. Menulis telah menjadi hobiku, panggilanku, gizi bagi jiwaku.", ujar Cookie.

9. Jangan Pernah Meragukan Diri Sendiri - Nora Profit:
Nora menonton pertunjukan dan terpukau oleh nyanyian Salome Bey. Ia pun dengan modal nekat berpura-pura menulis cerita untuk majalah Essence supaya bisa mewawancarai Salome. Setelah mengirimkan tulisan hasil wawancaranya, tiga minggu kemudian ia menerima balasan dari tulisannya. Mengira bahwa tulisannya ditolak, ia pun tidak membuka amplopnya sama sekali. Lima tahun kemudian, saat tengah bersiap pindah ke Sacramento, ia baru membuka amplop itu dan baru mengetahui bahwa ternyata tulisannya tidak ditolak. Nora pun sampai pada kesimpulan, "Rasa takut ditolak lebih buruk daripada penolakan itu sendiri." Nora pun menjadi penulis lepas full time. "Jangan sampai kau meragukan dirimu sendiri. Kau akan rugi.", ucap Nora.

10. Malam yang Sempurna untuk Mati - Dierdre W. Honnold:
Dierdre kecil sangat terhibur oleh kisah-kisah yang diceritakan ibunya. Sangat disayangkan hingga ibunya meninggal, ibunya tak pernah menyelesaikan menulis sebuah buku pun. Maka Deirdre pun belajar dari kesalahan ibunya dan menulis. "Aku tahu jika seseorang ingin menjadi penulis, ia harus menulis, bukan membicarakannya.", "Aku harus memastikan bahwa kata-kata di dalam diriku mempunyai suara yang bisa kubagi. Aku akan menulis.", simpul Dierdre.

11. Sebuah Perbincangan dengan Alex Haley - Bud Gardner:
Bud, direktur pertemuan menulis mengirim sepucuk surat pada almarhum Alex Haley pada 8 Desember 1980 untuk memintanya berbicara di konferensi dan memberikan dorongan kepada para penulis pemula. Meski nyaris gagal menghadirkan Alex di konferensi karena masalah penerbangan, Alex akhirnya jadi juga menjadi pembicara. "Sikapmu adalah segalanya. Yakinlah kepada dirimu sendiri dan percayalah kepada materimu. Untuk menjadi penulis berhasil, menulislah setiap hari entah kau menginginkannya atau tidak. Jangan pernah putus asa, dan dunia akan memberimu anugerah yang melampaui impianmu yang paling mustahil.", saran Alex.

12. Mengapa Aku Terus Menulis - Catherine Bramkamp:
Saat Catherine merasa kehilangan Susan, tetangga sekaligus sahabatnya yang telah dikenalnya selama lima tahun karena Susan pindah rumah, ia merasa sangat sedih. Catherine yang adalah seorang penulis kolom mingguan di sebuah koran kecil secara part time, lalu menuliskan tentang perasaan kehilangannya itu di dalam tulisannya. Berminggu-minggu kemudian, seorang perempuan mengenalinya dan mengucapkan terima kasih karena telah menulis tulisan itu. Perempuan itu bilang bahwa dia juga merasakan hal yang sama terhadap sahabatnya, hanya dia tak punya kata-katanya untuk diungkapkan. Catherine pun menyadari, "Pada akhirnya menulis bukanlah tentang uang.", "Menulis adalah tentang frase-frase yang mengesankan, penggambaran yang menyentuh. Menulis adalah tentang tersambung dengan pemahaman orang lain mengenai dunia.", "Menulis adalah tentang memberi seseorang, satu pembaca, kata-kata yang tepat."

13. Apa pun yang Kalian Tulis - Elizabeth Engstrom:
Elizabeth selalu ingin menjadi penulis, tapi merasa tulisannya tidak pernah bagus; hingga ia mengikuti sebuah lokakarya dan bertemu dengan penulis Theodore Sturgeon. Elizabeth belajar dari Sturgeon bahwa, "Apa pun yang kalian tulis, keyakinan kalian akan terpancar."

14. Warisan - Sue Grafton:
Sue telah menerima beberapa penolakan sebelum akhirnya novelnya yang kedelapan yang diberinya judul A for Alibi berhasil diterbitkan. Novel kedelapannya ini adalah novel pertamanya yang diterbitkan dan ia dedikasikan untuk almarhum ayahnya. Diinspirasi oleh ayahnya yang seorang pengacara sekaligus novelis, Sue terus melanjutkan menulis. Selagi ia menerima penolakan untuk novel-novel sebelumnya, Sue berkata, "Tanpa mengetahuinya, saat itu aku sedang mengajari diriku sendiri tiga pelajaran penting tentang menulis: tekun, tekun, dan tekun." Sue juga membagikan pelajaran-pelajaran yang telah pelajari lebih dulu, "Ikuti hatimu. Kerahkan keberanian untuk mewujudkan impianmu. Tidak ada di antara kita yang benar-benar mengetahui berapa banyak waktu kita yang tersisa. Menulis adalah tugas kita. Itulah tanggung jawab kita di bumi ini. Jika kamu gemar menulis, jangan tunda prosesnya. Menulislah setiap hari, penuhi hidupmu dengan khayalan yang tak kenal takut. Kamu mungkin akan kesulitan melakukannya, tapi disiplin yang kamu jalani akan membentuk dan mengisi hidupmu."

15. Nilai Sejati Seorang Penulis Ada di Bagian Dalam - Howard Fast:
Howard selalu merasa ada kisah untuk diceritakan; karena itu ia menulis. Howard harus membagi waktu antara sekolah, bekerja sepulang sekolah, dan menulis. Ia terus melakukannya dan produktif menghasilkan banyak karya. Menurut Howard, "kebanyakan penulis tidak menghasilkan banyak uang, dan di dunia ini di mana uang adalah ukuran segalanya - atau aku harus mengatakan hampir segalanya - kau harus menemukan ukuran lain. Ada penulis yang berpenghasilan jutaan, dan ada penulis lain yang berpenghasilan sangat sedikit, tapi itu bukan ukuran nilai. Nilai sejati ada di dalam dirimu dan hanya bisa diukur oleh pengertianmu akan keadaan manusia."

16. Penulis, Guru, Pejuang Damai - Dan Millman:
Milmann dengan gigih berusaha supaya bukunya dapat diterbitkan, meski menghadapi berbagai kendala. Ia menyimpulkan, "Kerja keras menghasilkan nasib baik, dan aku telah bernasib baik. Semuanya diawali dengan muncul - terus menulis selama saat-saat baik dan buruk. Aku telah belajar bahwa aku bisa menulis untuk pengungkapan diri, tapi untuk menjadi pengarang, aku tidak saja harus mengembangkan keahlian menulis, tapi juga empati untuk para pembacaku."

17. Nasihat dari Seorang Veteran Perang Tulisan - Irving Wallace:
Berikut sebagian dari nasihat Wallace, "Pikirkan tentang menulis satu halaman, hanya satu halaman, setiap hari. Di akhir 365 hari, di akhir satu tahun, kamu mempunyai 365 halaman. Dan tahukah kamu apa yang kamu punya? Kamu mempunyai sebuah buku lengkap."

18. Pesan Bersandi dan Sahabat Sejiwa - Marilyn Pribus:
"Jika aku menangis ketika menulis, aku menyentuh sesuatu dalam diri orang lain.", "Jika aku menangis ketika sedang menulis, cerita itu pasti akan terjual saat pertama kali kutawarkan.", "Ketika kita menulis tentang hal-hal yang dirasakan orang di mana pun - saat sulit, saat menyenangkan, keputusasaan, kegembiraan - sandi dikirim, seorang sahabat sejiwa menangkapnya, dan hubungan penting itu terjalin. Dan itu sebabnya kita menulis.", ungkap Marilyn.

19. Kisah Ayahku - Ed Robertson:
Ed menceritakan bagaimana ia merasa tersentuh ketika ayahnya meneleponnya dan mengatakan bahwa proposal tulisannya bagus. Sayangnya, ayah Ed tak pernah melihat proposal itu terbit sebagai buku, karena tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. Tapi, telepon itu bagi Ed sangat berarti baginya.

20. Kadang yang Terbesar Adalah yang Terbaik - Connie Shelton:
Berulangkali mengalami penolakan, Connie pun merasa frustasi untuk terus melanjutkan menulis, sampai ia mengikuti konferensi dan lokakarya penulis, dan lalu mendapat telepon dari Sue Grafton, yang mengajarinya bahwa menulis adalah "kembali ke hal-hal dasar."

21. Sentuhan Abadi untuk Ibu - Pat Gallant:
Ibu Pat adalah seorang penulis. Setelah ibunya meninggal, Pat memberanikan diri untuk mengirimkan tulisan ibunya ke penerbit. Nyatanya tulisan ibunya berhasil diterbitkan, meski penulisnya sudah meninggal. "Ibuku telah memberikan cinta dan kehidupan kepadaku dan, akhirnya, aku bisa memberinya sesuatu sebagai balasan, sesuatu yang, mungkin, memberinya sebuah sentuhan keabadian.", ungkap Pat.

22. Melukis Gambaran dalam Jiwa Kita - Jennifer Martin:
Jennifer tadinya tidak pernah memahami ibunya, namun saat pencuri membongkar rumahnya dan surat-surat cinta almarhum ayahnya yang ditujukan kepada ibunya hampir tercuri; Jennifer pun setelah membaca surat-surat cinta ayahnya bisa melihat dan memahami ibunya lewat kacamata ayahnya. Ia pun menghabiskan waktu dengan ibunya yang menderita Alzheimer yang tadinya tak dipahaminya, hingga akhirnya ibunya meninggal.

23. Kotak Natal - Richard Paul Evans:
Richard menulis The Christmas Box sebagai hadiah Natal untuk kedua puterinya, dan mempertaruhkan seluruh uangnya untuk memastikan buku itu terbit. Setelah harapannya untuk melihat buku itu terbit nyaris musnah, seorang wartawan meneleponnya dan memberitahu bahwa buku itu akan diterbitkan. Dalam waktu tiga minggu setelah buku itu terbit, bukunya berada pada peringkat kedua daftar buku terlaris New York Times. 

24. Apa Pun yang Terjadi - Barbara Jeanne Fisher:
Setelah Barbara didiagnosa menderita Multiple Sclerosis dan kemudian juga menderita lupus, dan divonis akan mati, merasakan sakit akibat penyakitnya, ia pun akhirnya tetap berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam bidang penulisan kreatif dan menerbitkan novelnya.

25. Profesor dan Aku - Catherine Lanigan:
saat profesornya mengatakan bahwa ia tidak berbakat sebagai penulis, Catherine patah semangat, dan akhirnya hanya menghabiskan waktunya dengan membaca banyak buku. Empat belas tahun setelah berhenti menulis, ia bertemu dengan seorang penulis yang menganjurinya untuk mencoba menulis lagi. Nyatanya ia sangat berbakat dan novel-novelnya diterbitkan. Catherine pun sampai pada kesimpulan, "Aku telah belajar bahwa penulis menghasilkan sesuatu dari nol. Kami membuat impian menjadi kenyataan. Itulah sifat kami, misi kami. Kami dilahirkan untuk melakukannya."

26. Kau Pecundang, Cunningham - Chet Cunningham:
Sejak Chet memutuskan untuk menulis, ia melakukannya tanpa berhenti dari pekerjaan utamanya karena ia masih harus membiayai keluarganya. Ia pun lalu belajar sendiri bagaimana menulis dari buku-buku yang ia baca. Karena kegigihannya, ia pun berhasil menerbitkan novelnya, bahkan ia pun diberi julukan penulis "cepat" karena produktivitasnya. "Aku akan terus menulis novel sampai aku tahu bagaimana caranya.", tekad Chet.

27. Obsesi - Frances Halpern:
Frances memiliki obsesi untuk menulis di Los Angeles Magazine. Setelah berulangkali mencoba menemui editornya dan gagal, Frances pun membujuk teman dan kenalannya yang ia jumpai di pasar untuk berlangganan majalah itu. Setelah berhasil mendapatkan 25 orang yang bersedia berlangganan, Frances berusaha sekali lagi untuk menemui editornya. Kali ini usahanya berhasil. Ia pun ditawari menulis artikel politik karena penulis sebelumnya kesulitan menyelesaikannya. Frances memenuhi tantangan itu dan obsesinya menerbitkan tulisannya di majalah itu terbayar sudah.

28. Kiat-Kiat Membiayai Kuliah dengan Menulis - Lois Duncan:
Lois memang seorang penulis, tapi ia sebelumnya tak pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Karena ingin kuliah, tapi tak ada biaya, ia pun memutuskan menulis dari materi yang ia dapatkan selama kuliah. Dari mata kuliah minor dalam bidang psikologi, ia berhasil menjual artikelnya yang menutup biaya kuliahnya selama satu semester penuh. Lois lalu mengambil mata kuliah psikologi pendidikan, jurnalisme, bahasa Inggris, mitologi Yunani, pelajaran Shakespeare, filosofi, dan sejarah yang membuat pendapatan menulisnya meningkat menjadi tiga kali lipat dan membuatnya berhasil menamatkan perguruan tinggi di usianya yang sudah setengah baya. Pengalamannya itu ia tuangkan dalam esai yang lalu diterbitkan di Good Housekeeping.

29. Sebuah Takaran Baru - Erik Olesen:
Erik tengah menikmati kesuksesan sebagai penulis, penceramah, dan psikoterapis, ketika sebuah kecelakaan yang menyebabkan ia menderita cedera otak traumatis ringan membuatnya mengalami sakit kepala, kelelahan, konsentrasi buruk, dan rentetan kendala lain yang membuat kliennya berkurang drastis. Ia pun mengikuti program rehabilitasi untuk pasien cedera otak dan mengikuti ceramah yang diberikan oleh Dr. Claudia Osborne, seorang dokter dan penulis yang juga pernah menderita cedera otak parah. Diilhami oleh ceramah dan buku yang ditulis oleh Osborne, Erik pun memutuskan untuk menulis lagi meski sukar. Dua setengah bulan kemudian cerita Erik tentang pengalamannya termuat di Chicken Soup for the Writer's Soul.

30. Menulis Adalah Takdirku - Kris Mackay:
Kris tadinya tak berniat menjadi penulis profesional. Ia hanya senang menulis untuk mengisi waktu saat menunggu kuliah psikologi yang diikutinya. Lalu saat ia mengikuti kuliah yang dibawakan oleh Bud Gardner, ia diminta menghubungi editor dan menawarkan tulisannya. Ketika ia berhasil menerbitkan tulisannya dan menikmati menulis artikel yang diterbitkan, ia pun tergerak untuk menulis buku juga. Bahkan, saat kedua orang tua dan suaminya meninggal, dan putrinya didiagnosa menderita kanker payudara, pada akhirnya menulis menjadi sarana kebangkitan bagi Kris.

31. Anugerah Mendua - Marcia Preston:
Sebagai seorang nenek, sekaligus penulis, Marcia seringkali kesulitan membagi waktu antara pekerjaannya menulis dan menghabiskan waktu bersama keluarganya, terutama cucunya, Jessica yang jarang ditemuinya karena tinggal di kota yang berbeda, namun yang sekali berkunjung bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu. Marcia pun harus bangun di tengah malam untuk menyelesaikan tulisannya.

"Kita, yang kecanduan menulis, memaki-maki diri kita sendiri dan merasa bersalah ketika kita tidak menulis, dan pada saat bersamaan menundanya dan mencari pengalihan. Mengapa? Karena hal yang paling membuat kita bahagia juga merupakan sesuatu yang membosankan, mengesalkan, dan sulit. Menulis membuat kita gila; tapi tidak menulis, bahkan membuat kita menjadi semakin gila.", ungkap Marcia.

32. Kau Harus Siap Ketika Editormu menelepon - Penny Porter:
Penny berbagi cerita tentang pengalamannya saat editornya menelepon untuk menerbitkan ceritanya. Karena perbedaan zona waktu, Penny dari hanya memiliki sebuah telepon, kini memiliki telepon hampir di semua ruangan, termasuk juga di kamar mandi. Penny menceritakannya dengan penuh humor bagaimana ia tanpa sengaja menjatuhkan teleponnya ke dalam kloset karena menerima teleponnya saat sedang mandi.

33. Helen Bantu Kami! - Suzanne Peppers:
Beribukan seorang Helen Bottel, kolumnis terkenal, Suzanne remaja dan ibunya menulis bersama di kolom yang dinamai Generation Rap. Almarhumah ibunya yang humoris suka memberitahu orang-orang bahwa Suzanne (waktu itu berusia 15 tahun) adalah satu-satunya remaja di Amerika yang dibayar untuk berdebat dengan ibunya, karena perbedaan pandangan dalam tulisan keduanya. "Helen Bottel, ibu kami dan seorang kolumnis bersindikasi yang dikenal di seantero Amerika, meninggalkan sebuah pemberian yang tak ternilai harganya bagi kami: penghargaan terhadap menulis. Melalui kata-katanya dan kenangan kami, warisannya terus hidup.", kenang Suzanne yang berniat menulis tentang ibunya bersama saudara perempuannya berdasarkan kaset dan buku harian yang diwariskan ibunya.

34. Seember Penuh Penelitian - Ethel Bangert:
Ethel membaca di buku Paul Gallico mengenai cara Nazi memasangkan sebuah ember kaleng di atas kepala seseorang dan memukulinya dengan sebatang kayu untuk membuat orang itu gila. Terpengaruh saran James A. Michener tentang penelitian mendalam sebelum menulis, Ethel pun mencoba membuktikan apakah cara Nazi membuat orang menjadi gila dengan menaruh ember di atas kepala dan memukulinya itu benar. Ethel pun mencobanya dan dipergoki oleh tetangganya yang mengira ia gila dan segera pindah apartemen minggu itu juga karena takut pada "kegilaan" Ethel.

35. Membuat Janji - Valerie Hutchins:
Kesibukan menulis membuat Valerie merasa bersalah saat putranya, Jake sampai membuat janji untuk bermain dengannya. Ia pun lalu mendapat inspirasi untuk membuat buku kecil berupa foto, keterangan, dan alur cerita sederhana dari foto-foto Jake dan memberikannya pada putranya. Mata Valerie pun berkaca-kaca saat Jake yang baru berusia lima tahun menyimpulkan, "Penulis membuat orang merasa senang dengan kata-kata, keren!"

36. Musim Panas dan Menulis TIDAK Mudah - Kerry Arquette:
Dengan nada penuh humor, Kerry menuturkan bagaimana ia harus tetap menulis untuk memenuhi tenggat sementara kedua anak perempuannya terus bertengkar dan berdebat dan meminta perhatian ibunya untuk memihak salah satu dari mereka.

37. Tak Ada yang Mudah - Clive Cussler:
Ketika Clive memutuskan untuk menjadi penulis, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan bergengsinya sebagai direktur kreatif sebuah agen iklan dan menggantinya dengan bekerja sebagai pegawai di sebuah toko menyelam, karena ia ingin menulis tokoh pahlawan di bawah air. Ketika kekecewaan dan kemarahan akibat penolakan merambati dirinya, Clive yang hampir menyerah memutuskan untuk terus menulis, dan akhirnya berhasil menerbitkan buku-bukunya.

38. Ibu, Tulislah Sebuah Buku untukku - Terri Fields:
Saat Jeff, putra Terri berumur enam tahun, ia meminta ibunya untuk menulis sebuah buku untuknya. Terri yang bukan penulis buku anak tadinya hanya mengira Jeff akan segera melupakan permintaannya. Saat sadar anaknya serius, ia pun mulai mengerjakan proyek buku itu untuk Jeff. Tak mudah karena berakhir dengan penolakan dan anaknya menjadi kecewa dan marah karena ia mengira tak cukup berusaha. Setelah menulis ulang dan penantian selama lima tahun, Terri akhirnya berhasil menerbitkan buku itu dan memenuhi janjinya pada anaknya. "Seorang penulis bisa menghadapi banyak tekanan. Tenggat waktu pendek, editor cerewet, bahkan hambatan penulis. Tapi tidak ada tekanan yang lebih besar dibanding keyakinan seorang anak kepada orang tuanya, dan tidak ada penghargaan atau hadiah menulis yang lebih besar dibanding mewujudkan keyakinan itu.", kenang Terri.

39. Tak Ada yang Lebih Sering Menerima Penolakan Dibanding Seorang Pengarang - Dan Poynter:
Dan membeberkan bagaimana seorang pengarang seringkali menemui penolakan, termasuk juga para pengarang besar seperti naskah The Celestine Prophecy yang ditulis oleh James Redfield yang ia terbitkan sendiri dengan menjualnya dari bagasi mobilnya, tapi kemudian haknya dibeli oleh Warner Books dan berhasil menempati buku terlaris New York Times selama 165 minggu. Pengarang lainnya di antaranya adalah John Grisham yang menjual karya pertamanya, A Time to Kill dari bagasi mobilnya.

40. Pelajaran Seumur Hidup - Philip Barry Osborne:
Menurut Philip, "Dalam setiap orang ada jiwa penulis, karena di dalam setiap orang ada sebuah cerita. Bahkan di dalam diri setiap orang ada banyak cerita, karena beberapa tulisan terbaik - yang mudah dimengerti pembaca - muncul dari semua kejadian kecil dalam hidup sehari-hari kita." Masih menurut Philip, sayangnya, "Di antara kebanyakan penulis, terdapat sebuah kecenderungan alami untuk menggunakan bahasa yang terlalu indah dan berbunga-bunga dalam penulisan prosa mereka.", "Mereka mengabaikan kenyataan bahwa cerita-cerita terbaik menuturkan hal-hal kecil dan kebenaran mendasar dalam hidup, dan kita tidak memerlukan kata-kata canggih untuk memaparkannya.", ungkap Philip.

41. Penulis Artis gagal - Patricia Lorenz:
Saat Patricia berhenti dari pekerjaannya sebagai copywriter untuk iklan radio, ia menemukan dirinya membuat kesalahan dengan menjadi terlalu santai. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menonton acara bincang-bincang di TV dan tidak juga menulis. Sampai Andrew, anaknya yang berusia tiga belas tahun tanpa sengaja menyadarkannya bahwa ia telah memboroskan waktunya. Ia pun berketetapan untuk setidaknya membaca lima artikel setiap hari dan menulis lima artikel setiap minggu. Dari apa yang telah ia rencanakan, Patria sampai pada kesimpulan, "Bagian yang terbaik adalah mengetahui bahwa jati diriku benar-benar didasari pada apa yang kulakukan dengan bakat yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Dan yang kulakukan adalah menulis. Setiap hari."

42. Hadiah - Jeff Arch:
Naskah film Sleepless in Seattle ditulis oleh Jeff Arch, menuai sukses dan pujian, sebab naskahnya adalah sebuah kisah cinta modern di mana kedua pemeran utamanya bahkan tidak bertemu sampai adegan yang paling terakhir. Tidak ada senjata, tidak ada kekerasan, tidak ada seks, tidak ada kejar-mengejar mobil, tidak ada bahsa kasar, tidak ada penjahat. Naskah yang melanggar semua aturan, dan orang datang berbondong-bondong. Siapa yang mengira delapan tahun sebelumnya, Jeff adalah seorang penulis untuk pertunjukan off-Broadway yang gagal. Semua koran yang mengulas pertunjukannya memberikan penilaian negatif, bahkan kritik pedas. Jeff merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia pun mulai menganggap bahwa kegagalan itu sebagai sebuah hadiah. Berawal dari pemikiran yang menenangkannya itu, Jeff berhasil membawa karir menulisnya ke arah yang lebih baik, meski membutuhkan persis delapan tahun.

Membaca ke-42 cerita dari pengalaman pribadi para penulis ini membuat siapa pun calon penulis yang membaca buku ini merasakan bahwa mereka tidak sendirian. Pengalaman dan pergumulan mereka juga adalah yang dirasakan oleh para penulis lainnya. Hanya bedanya, para penulis tersebut telah berhasil membuktikan diri. Dituturkan dengan cara yang berlainan, ada yang menyentuh, ada yang apa adanya, ada yang serius, ada pula yang lucu dan humoris. Semuanya pasti memberikan kesan yang berbeda pada siapa pun calon penulis atau para penulis yang membacanya. 

Saya sendiri meski sangat tersentuh dengan beberapa kisah di buku ini dan tertawa berderai di beberapa kisah lainnya, saya memutuskan bahwa kisah Larry Wilde, Marcia Preston, Clive Cussler, Patricia Lorenz, dan Jeff Arch adalah yang paling dekat dengan kehidupan kebanyakan penulis. Ternyata Larry bahkan lebih "sinting" dari saya yang memutuskan meninggalkan pekerjaan dengan gaji tetap untuk mengejar karir menulis yang lebih sering harus menghadapi penolakan. Apa yang diungkapkan Marcia adalah juga apa yang saya rasakan, bahwa menulis bisa membuat "gila", tapi tidak menulis malah membuat lebih "gila" lagi. Kemarahan Clive Cussler saat orang terdekatnya meragukan bahwa ia bisa berhasil dalam karir menulisnya, juga adalah kemarahan saya. Kesalahan Patricia Lorenz yang menjadi terlalu santai, juga adalah kesalahan saya, dan pada akhirnya kisah Jeff Arch adalah sebuah inspirasi bagi saya. Kisah-kisah mereka yang apa adanya justru adalah yang paling berkesan buat saya. 

Bagaimana dengan Anda? Kisah manakah yang paling Anda sukai dari buku ini? 

Kisah yang mana pun itu, selama di dunia ini masih ada orang yang berkeinginan untuk menjadi penulis, buku ini seharusnya tetap dicetak ulang. 

Tidak ada komentar: