Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 16 Juli 2013

Review Buku Kisah-kisah Tengah Malam

* Review ini kudedikasikan untuk Herny yang menghadiahiku buku ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-34.

Buku kumpulan cerita pendek karya Edgar Allan Poe ini terdiri dari 13 cerita:

1. Gema Jantung yang Tersiksa:
Tokoh "aku" di novel ini mengaku dirinya tidak gila. Dia tinggal di sebuah rumah bersama seorang lelaki tua yang menurut si tokoh "aku" mata birunya menjijikkan dan terlihat seperti mata Iblis. Setelah mengawasi lelaki tua itu selama delapan malam dengan sangat berhati-hati, tokoh "aku" akhirnya membangunkan lelaki tua itu dari tidurnya tanpa sengaja. Saat melihat mata lelaki itu, amarahnya timbul dan dia membunuh pria itu dengan cara menjatuhkan ranjang di atas tubuh pria itu yang dia serang hingga jatuh di lantai. Untuk menutupi jejak, tokoh "aku" memutilasi tubuh pria itu dan menaruhnya di pasak kayu di bawah lantai kayu. Ketika muncul tiga polisi yang mendapat pengaduan dari tetangga bahwa ada suara jeritan dari dalam rumah, tokoh "aku" mengaku bahwa itu adalah jeritannya yang mengalami mimpi buruk. Ia juga berbohong bahwa laki-laki tua itu tengah pergi ke desa. Ketiga polisi itu mempercayai penuturannya dan malahan berbincang dengan tokoh "aku". Namun tokoh "aku" yang mendengar suara berisik di telinganya, akhirnya merasa tak tahan dan akhirnya mengakui perbuatannya dan menunjukkan letak potongan tubuh pria tua itu ia sembunyikan.

2. Catatan Dalam Botol:
Tokoh "aku" dalam cerita ini berasal dari keluarga bangsawan. Ia ikut di sebuah kapal sebagai penumpang dari pelabuhan Batavia menuju Kepulauan Archipelago. Saat badai besar tiba-tiba datang, si tokoh "aku" sempat tenggelam dan pingsan. Saat siuman, ia mendapati hanya dirinya dan seorang pria tua berkebangsaan Swedia yang selamat. Mereka selama lima hari, lima malam bertahan hidup dengan makan persediaan gula merah. Lalu tokoh "aku" terpelanting dan terdampar ke dalam kapal asing yang sempat ia kira kapal perang saat ombak besar datang. Kapal itu juga nyaris tenggelam oleh badai, namun masih ada awak kapal yang hidup, meski mereka semua tampak tua. Tadinya tokoh "aku" berusaha sembunyi dari para awak kapal, tapi kemudian ia menyadari bahwa mereka tidak bisa melihatnya. Ia pun menuliskan jurnal, memasukkannya ke dalam botol, dan melemparnya ke laut. Cerita berakhir saat gunung es tiba-tiba terbelah dua dan kapal yang mereka tumpangi terseret ke dalam pusaran air raksasa.

3. Hop-Frog:
Seorang raja dengan ketujuh menterinya memiliki kesenangan mendengarkan lawakan. Di dalam istana ada dua orang pelawak kontet. Yang seorang diberi nama Hop-Frog karena kelainan pada kakinya membuatnya berjalan dengan agak melompat, seperti kodok. Yang seorang lagi adalah Trippetta yang cantik, anggun, dan lincah (namun kontet) yang bertugas sebagai penari. Keduanya diculik oleh Jenderal yang menjadikan keduanya sebagai hadiah kepada raja. Suatu kali raja mengadakan pesta topeng dan Hop-Frog telah merancang kostum dan topeng untuk para tamu; hanya raja dan ketujuh menterinya yang menginginkan kostum istimewa. Raja yang suasana hatinya sedang buruk, lalu memaksa Hop-Frog untuk minum anggur, padahal Hop-Frog tidak suka minum, sebab ia gampang mabuk. Hop-Frog yang terkenang teman-temannya karena saat itu adalah hari ulang tahunnya menjadi sedih dan menangis, namun ia ditertawakan oleh raja dan ketujuh menterinya. Hop-Frog pun dipaksa untuk minum lagi. Karena Hop-Frog ragu, raja pun menjadi marah. Trippetta yang meminta raja mengampuni temannya didorong menjauh dan raja menumpahkan anggur ke wajah gadis itu. Amarah raja sempat terhenti saat terdengar suara misterius, yang lalu diyakini suara paruh burung. 

Hop-Frog lalu memberi usul agar raja dan ketujuh menterinya memakai kostum orang utan dan menakuti para tamu sebagai lelucon, lengkap dengan rantai yang mengikat mereka. Usul itu disetujui dan Hop-Frog mendandani kedelapan orang itu dengan mantel bulu yang dilapisi tar. Mulanya kehadiran mereka menimbulkan ketakutan karena tamu-tamu mengira mereka binatang buas, tapi lalu tertawa saat menyadari itu hanya kostum. Hop-Frog menggantung mereka dengan rantai dan menyangkutkannya dengan rantai lilin, lalu membakar mantel dengan api dari obor, sehingga raja dan ketujuh menterinya tewas. Ternyata suara misterius yang sempat didengar raja dan ketujuh menterinya adalah suara gigi Hop-Frog yang bergesekan karena ia tengah menahan marah. Hop-Frog sendiri memanjat naik dan menghilang di celah jendela. Sejak itu Hop-Frog dan Trippetta tidak pernah terlihat, sehingga timbul dugaan Trippetta membantu Hop-Frog membalas dendam pada raja dan ketujuh menterinya.

4. Potret Seorang Gadis:
Tokoh "aku" dalam cerita ini terluka berat, karena itu, Pedro, pembantu laki-lakinya mendobrak istana supaya dia dapat beristirahat di salah satu kamar. Saat terjaga pada tengah malam, perhatian tokoh "aku" jatuh pada lukisan seorang gadis belia yang sebelumnya luput dari pandangannya yang lebih memperhatikan lukisan-lukisan indah lainnya. Lukisan itu demikian hidup, sehingga tokoh "aku" lekas-lekas membaca buku yang dia temukan di kamar itu yang menjelaskan tentang lukisan-lukisan yang ada di dalam kamar itu. Gadis di dalam lukisan itu jatuh cinta pada seorang pelukis yang lalu menikahinya. Pelukis itu sangat serius dalam menghasilkan karya-karyanya sehingga menimbulkan kecemburuan pada isterinya, meski tak pernah diungkapkan. Saat pelukis itu meminta isterinya menjadi model lukisan, ia mengerjakannya tanpa jeda. Demikian tekunnya sehingga ia tidak menyadari bahwa isterinya jatuh sakit saat dilukis, dan bahkan semakin parah. Orang-orang yang datang untuk melihat perkembangan lukisannya memuji si pelukis. Saat lukisan itu akhirnya selesai, si pelukis baru menyadari bahwa isterinya sudah tidak bernyawa karena selama melukis, isterinya duduk di ruangan gelap di menara istana dan pelukis itu lebih sering memandangi permukaan kanvas saat menyelesaikan lukisan isterinya.

5. Mengarungi Badai Maelström:
Tokoh "aku" di cerita ini tengah mendaki Gunung Helseggen dengan dipandu seorang pria tua. Pria itu mengatakan bahwa kira-kira tiga tahun lalu, rambutnya yang hitam tiba-tiba berubah putih dalam sehari. Waktu itu, pria itu dengan kedua saudara laki-lakinya bekerja sebagai nelayan dan mempertaruhkan nyawa dengan memancing ikan di area yang berbahaya karena ingin mendapatkan tangkapan yang lebih banyak. Meski telah berulangkali melakukannya dan memperhitungkan dengan hati-hati, badai terburuk yang terjadi pada tanggal 18 Juli itu melemparkan adiknya ke laut. Pria itu sempat bertahan berdua dengan abangnya. Teringat bahwa benda berukuran tabung lebih lambat tenggelam, ia pun mengikat dirinya pada galon, sedangkan abangnya yang menolak mengikuti caranya, akhirnya menemui ajal. Saat akhirnya badai reda, pria itu terlempar ke tempat para nelayan lain biasa melaut, namun teman-temannya tidak ada yang mengenalinya karena rambutnya telah berubah menjadi putih dan meski dia menceritakan apa yang terjadi, teman-temannya itu tidak percaya dan ia juga tidak berharap banyak bahwa tokoh "aku" akan mempercayai ceritanya.

6. Kotak Persegi Panjang:
Tokoh "aku" dalam cerita ini menumpang kapal barang dari kota Charleston menuju New York. Di atas kapal, dia bertemu dengan teman senimannya, Cornelius Wyatt yang menyewa tiga ruangan di kapal padahal ia hanya bepergian dengan isteri dan kedua saudara perempuannya. Hal ini mengundang kecurigaan tokoh "aku" yang mengira temannya ingin menyelundupkan lukisan ke New York. Saat Marian, salah seorang saudara perempuan Cornelius memperkenalkan isteri dari Cornelius, tokoh "aku" merasa heran karena perempuan itu ternyata jelek, tidak sesuai dengan gambaran yang pernah dikatakan Cornelius bahwa isterinya berparas cantik. Lalu karena tidak bisa tidur sama sekali selama beberapa malam, tokoh "aku" mendapati isteri Cornelius keluar untuk tinggal di ruangan lain, sehingga tokoh "aku" mengira Cornelius dan isterinya berniat bercerai karena tidak lagi tidur dalam ruangan yang sama. Keheranannya bertambah saat ia mendengar Cornelius berusaha membongkar kotak persegi panjang yang dibawanya dan kemudian menangis. Ia tidak lagi menginterogasi Cornelius karena sebelumnya Cornelius jatuh pingsan setelah ia sindir perihal kotak itu. 

Saat angin ribut disusul badai datang, dan tiga korban jatuh ke laut, sebagian penumpang pindah ke kapal lain karena kapal yang mereka tumpangi bocor dan nyaris tenggelam. Dengan sekoci, keempat belas penumpang termasuk Kapten Hardy berusaha menyelamatkan diri tanpa membawa harta benda mereka. Karena itu, tokoh "aku" mengira Cornelius gila karena menuntut kapten untuk membawa kotak persegi panjang miliknya padahal tak cukup tempat di sekoci yang mereka tumpangi. Saat Mr Hardy menolak permintaannya, Cornelius pun terjun ke laut, kembali ke kapal dan mengikatkan dirinya bersama kotak persegi panjang itu, lalu terjun ke laut dan menghilang. 

Sebulan kemudian saat bertemu Kapten Hardy di Broadway, tokoh "aku" baru mengetahui bahwa sebelum berlayar isteri Cornelius meninggal dan diawetkan dengan garam dalam kotak persegi panjang agar bisa diantar ke rumah ibunya. Khawatir penumpang lain keberatan jika ia diketahui membawa jenazah, maka pembantu Cornelius pun berperan sebagai isterinya. Saat mengetahui isi kotak persegi panjang itu, tokoh "aku" pun merasa bersalah.

7. Obrolan dengan Mummy:
Tokoh "aku" di cerita ini mendapat undangan dari Dokter Ponnonner untuk menyaksikan autopsi mumi yang ditemukan di provinsi Eleithias. Pada pukul sebelas malam, mereka mengeluarkan mumi itu dari kotak ketiga dan merasa heran karena tubuh mumi itu tidak dibalut kain, melainkan semen tebal dengan permukaan penuh lukisan. Pada pukul dua pagi, dengan didasari rasa iseng, mereka melakukan eksperimen pembangkit nyawa. Pada percobaan ketiga percobaan mereka berhasil dan mumi yang bernama Count Allamistakeo itu menendang Dokter Ponnonner sekuat tenaga. Dengan menggunakan bahasa Mesir kuno, mumi itu bertanya pada Mr Gliddon dan Silk yang bisa berbahasa Mesir, mengapa dia diperlakukan tidak senonoh. Setelah Mr Gliddon meminta maaf dan memberikan alasannya bahwa mereka melakukannya demi kemajuan sains, mumi itu menerima permintaan maaf mereka dan menjabat tangan mereka satu persatu. Mumi itu pun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ia diawetkan sewaktu hidup adalah untuk mengoreksi sejarah di zaman ia akan bangkit nantinya. Karena ia berdarah Scarabaeus maka ia diawetkan dalam keadaan utuh tanpa sayatan dan otaknya juga tidak disedot dari hidung seperti layaknya prosedur pengawetan mumi. Count Allamistakeo menjelaskan bahwa teknologi Mesir pada masanya lebih unggul dari teknologi modern sekarang ini. Dokter Ponnonner dan teman-temannya terus mencecar dengan berbagai pertanyaan karena mereka sangsi peradaban sekarang kalah dengan Mesir kuno. Count Allamistakeo akhirnya terdiam karena di masa ia tinggal tak ada permen pelega tenggorokan. Pada pukul empat pagi tokoh "aku" kembali ke rumahnya. Setelah tidur sebentar, mencatat memorandum, bercukur, dan minum kopi, tokoh "aku" yang mengaku lelah dengan kehidupan abad ke-19 bergegas ke rumah Dokter Ponnonner karena ia ingin diawetkan juga dan dijadikan mumi, sebab ia penasaran siapa yang akan menjadi presiden pada tahun 2045.

8. Setan Merah:
Di sebuah kerajaan, muncul wabah Setan Merah yang mematikan. Korbannya akan meninggal dalam setengah jam setelah mengalami sakit menusuk, pusing, dan pendarahan di pori-pori. Mereka yang terkena wabah pun diasingkan dan tidak mendapat pertolongan. Saat separuh kerajaan terkena wabah, Pangeran Prospero mengajak seribu orang yang sehat, para ksatria dan puteri untuk masuk ke gereja yang berbentuk seperti istana, dengan menyiapkan pelawak, aktor, penari balet, dan lainnya untuk hiburan, lalu menyolder gembok pintu gereja. 

Sekitar lima atau enam bulan kemudian saat wabah telah menulari negara-negara asing, Pangeran Prospero mengadakan pesta kostum yang megah dengan ketujuh ruangan sebagai ruang pestanya. Kamar ketujuh yang dicat hitam dan merah justru memberi efek mengerikan, sehingga hanya beberapa orang yang berani memasukinya. Jam berwarna hitam di ruangan itu juga selalu mengeluarkan bunyi aneh saat berdentang, sehingga semuanya mendadak terdiam setiap kali jam itu berbunyi. Pada waktu pesta usai dan jam itu berdentang dua belas kali, muncul sosok yang berkostum Setan Merah. Pangeran Prospero pun marah karena sosok itu menakuti semua orang. Dia pun mengejar sosok itu dari ruangan ke ruangan dan bermaksud membunuhnya dengan pisau, tapi malah Pangeran Prospero yang terbunuh. Semua yang masih hidup pun ketakutan saat menyadari kostum Setan Merah itu tidak dikenakan oleh makhluk nyata. Sejak itu, Setan Merah pun membunuh mereka satu per satu. Jam hitam pun berhenti berdentang saat orang terakhir meninggal.

9. Kucing Hitam:
Tokoh "aku" di cerita ini yang mengaku besok akan mati bercerita bahwa ia tadinya adalah seorang penyayang binatang. Ia menikahi isterinya yang juga penyayang hewan di usia muda. Mereka memelihara berbagai binatang seperti burung, ikan koki, kelinci, anjing, dan lainnya; namun yang menjadi kesayangan mereka adalah seekor kucing berwarna hitam pekat yang dinamai Pluto. Saat tokoh "aku" mulai kecanduan alkohol, dia pun mulai memperlakukan isteri dan binatang peliharaan mereka dengan kasar. Ia mulai memukuli mereka jika amarahnya timbul. Tadinya tokoh "aku" masih berusaha mengekang diri terhadap Pluto, sampai kecanduan dan amarahnya tak lagi terkontrol, sehingga ia mencungkil sebelah mata Pluto. Meski menyesal, tokoh "aku" yang semakin sadis menggantung Pluto hingga mati. Saat rumahnya terbakar, tak sengaja terbentuk ukiran kucing yang mirip Pluto di satu-satunya dinding yang tak terbakar. Untuk menggantikan Pluto, ia pun mencari kucing lain yang mirip.

Suatu kali ia menemukan kucing hitam lain yang mirip Pluto, hanya di dadanya ada sedikit warna putih. Setelah sejangka waktu timbul kebenciannya pada si kucing yang ternyata salah satu matanya juga pernah dicungkil orang. Apalagi warna putih di dada kucing itu kemudian memudar, sehingga sisa warnanya terlihat seperti tiang gantungan, sehingga mengingatkannya pada perbuatannya menggantung Pluto hingga mati. Timbul niatnya membunuh kucing itu. Saat kucing itu tanpa sengaja nyaris membuatnya tersandung, ia bermaksud membacoknya dengan kapak. Ketika isterinya mencoba menghalangi, ia pun membacok kepala isterinya hingga tewas, lalu menguburkan mayat isterinya di balik dinding penyimpanan anggur. Tokoh "aku" pun tidur dengan nyenyak karena kucingnya ikut menghilang di hari yang sama ia membunuh isterinya. Beberapa hari kemudian saat beberapa polisi datang, ia menghadapinya dengan tenang. Bangga karena berhasil mengelabui polisi, dia pun mengetokkan tongkat ke dinding tempat ia mengubur isterinya, sampai terdengar suara yang mirip tangisan, lalu berubah seperti teriakan binatang, dan dinding itu runtuh separuh. Ternyata saat ia mengubur isterinya, tanpa sengaja ia juga mengubur kucingnya yang lalu mencakari dinding hingga kejahatannya terungkap.

10. Jurang dan Pendulum:
Tokoh "aku" dalam cerita ini adalah seorang tahanan yang dijatuhi hukuman mati. Karena ia lebih memilih hukuman moral ketimbang hukuman fisik, ia pun ditempatkan di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Setelah beberapa kali pingsan karena pening, ia pun berusaha mengira-ngira bentuk dan ukuran ruangan dengan menggunakan sobekan pakaiannya sebagai penanda. Ketika tanpa sengaja tersandung, dia baru mengetahui bahwa di dalam ruangan tempat dia ditahan terdapat sebuah jurang. Dia dua kali mendapat roti dan seteko air, setelah makan ia tak kuasa menahan kantuk dan tertidur. Ketika bangun, ia tak lagi diberi minum, hanya daging berbumbu yang membuatnya haus dan dari jurang bermunculan tikus-tikus mencuri makanannya. Ruangan pun berubah terang, sehingga ia dapat melihat di langit-langit terdapat sebuah pendulum berbentuk sabit yang bilahnya terbuat dari silet tajam. Menyadari dirinya terikat di ranjang kayu dengan pendulum di atasnya, ia pun pingsan lagi, antara takut menghadapi ajalnya dan kelaparan. Ketika siuman, ia memakan remah makanan yang disisakan tikus, sehingga jemarinya yang dilapisi remah makanan digigiti tikus. Ia pun mendapat ide mengusapkan remah makanan ke tali yang mengikatnya, sehingga ratusan tikus menggigiti talinya hingga ia bebas; namun pendulum raksasa itu semakin turun dan mengoyak pakaiannya, dadanya juga sakit tergores pendulum itu. Terbebas dari pendulum, besi di ruangannya membara hingga panas, ia pun terpaksa mendekati tepi jurang yang dingin. Menolak terjun ke dalam jurang, ruangannya pun menyempit tanpa berhenti. Saat ia nyaris terjungkal ke dalam jurang, datang pertolongan dari Jenderal Lasalle yang menangkap lengannya. Rupanya tentara Perancis telah menguasai Toledo, sehingga kini giliran para musuh yang mengalami penyiksaan.

11. Pertanda Buruk:
Tokoh "aku" dalam cerita ini diundang seorang kerabat untuk tinggal di vila sederhana di tepi sungai Hudson di New York. Pada saat itu tengah ada wabah kolera dan banyak warga yang meninggal, sehingga timbul ketakutan di antara warga New York. Karena terpengaruh cerita-cerita horor yang dibacanya tanpa sepengetahuan temannya, ia pun yakin akan adanya pertanda buruk. Ia pun pingsan saat suatu kali ia melihat monster menuruni bukit dan menghilang di hutan. Karena shock, baru beberapa hari kemudian ia menceritakannya pada temannya yang malah menertawainya. Saat sadar dirinya serius, wajah temannya pun berubah muram, seolah mencurigai ia tidak waras. Pada saat itu, monster itu menampakkan diri lagi. Ia pun berteriak sambil memberitahu temannya, tapi temannya tidak melihat apa-apa. Setelah menjelaskan rupa makhluk itu, temannya lalu membacakan dari sebuah buku deskripsi anak kecil tentang seekor laba-laba yang mirip deskripsinya tentang monster itu. Pada saat itu monster yang terlihat oleh tokoh "aku" tampak mendekat. Rupanya penglihatan dan imajinasinya telah menipu tokoh "aku" sehingga mengira laba-laba yang sedang membuat jaring sebagai monster.

12. William Wilson:
Tokoh "aku" dalam cerita ini menamai dirinya William Wilson. Sejak kecil, ia telah memiliki sifat liar dan pemarah. Karena itu, ia sering mendapat hukuman dari kepala sekolah yang juga merangkap pastor, Dr Bransby. Ia juga menjadikan dirinya pemimpin di antara kawan-kawannya. Hanya seorang saja yang tidak mau menuruti dirinya, memiliki nama belakang yang sama dengannya, William Wilson bagaikan kembarannya, karena tinggi mereka juga sama, bahkan mereka pun sama-sama dilahirkan pada tanggal 19 Januari 1813. Ia pun dibuat marah oleh saran yang diberikan William Wilson yang biasanya berupa sindiran dan petunjuk. Ia pun sengaja tidak mau menuruti saran-saran itu. Sampai akhirnya ia menjadi mahasiswa di Eton, ia tak pernah lagi bertemu William Wilson. Di Eton, ia menggunakan uang sakunya yang besar untuk bermabuk-mabukan hingga fajar. Suatu kali, dalam keadaan mabuk, William Wilson menemuinya lalu tiba-tiba menghilang, hingga ia mengira itu hanyalah imajinasinya karena pengaruh alkohol. 

Selain minum anggur hingga mabuk, ia juga memiliki kebiasaan berjudi. Berkat kemampuannya berjudi, uang sakunya yang besar pun semakin bertambah. Ia sengaja memerangkap teman-teman sekampusnya dengan membuatnya menang berulangkali, supaya mereka bertaruh besar, untuk kemudian ia kalahkan. Suatu kali, di apartemen Preston, ia memerangkap Glendinning hingga kehilangan seluruh hartanya. Tiba-tiba muncul William Wilson membongkar tipu muslihatnya di mana di sulaman pergelangan kemeja dan saku besarnya, ia menyimpan kartu-kartu untuk ditukar sehingga pada akhirnya ia selalu menang. Ia pun diminta oleh Preston untuk meninggalkan apartemen. Ia pun marah pada William Wilson karena setiap kali berniat melakukan hal jahat, musuhnya itu selalu muncul. Puncaknya adalah pada pesta topeng di palazzo milik Duke Di Broglia, di mana ia berniat menemui isteri Broglia yang muda dan cantik, yang berkebalikan dengan sang Duke yang renta. Belum sempat niatnya terlaksana, ia dihalangi oleh William Wilson yang berpakaian dan terlihat persis dirinya. Ia pun gusar dan menarik William Wilson ke kamar kecil dan menguncinya dari dalam. Ia pun menyerang William Wilson di bagian dadanya dengan sebilah pedang berulangkali hingga ia tersungkur. Saat ia sekarat, ia pun melihat bayangannya yang berdarah di cermin dan baru menyadari bahwa ia telah membunuh dirinya sendiri.

13. Misteri Rumah Keluarga Usher:
Tokoh "aku" dalam cerita ini menerima sepucuk surat dari teman masa kecilnya, Roderick Usher yang mengidap penyakit kelainan syaraf. Roderick berharap kunjungan temannya bisa membuat kondisinya membaik. Begitu ia selesai membaca surat itu, tokoh "aku" pun bergegas menemui temannya itu ke kediaman keluarga Usher. Setibanya di sana, rumah yang mirip istana itu tak urung membuatnya merasakan sensasi yang mengerikan dari lorong-lorongnya. 

Roderick yang gembira dengan kedatangannya lalu bercerita tentang hal-hal gaib di dalam rumahnya yang membuat penghuninya mengidap penyakit dan hidup menderita. Bahkan menghalanginya untuk meninggalkan rumah, sehingga selama bertahun-tahun ia tetap berada di dalamnya. Ia juga bercerita sambil menangis tentang kembarannya, Lady Madeline yang tengah sekarat akibat penyakit yang membuatnya apatis, semakin kurus, dan karakternya semakin aneh.

Selama beberapa hari tinggal di rumah Roderick, tokoh "aku" menghabiskan waktu bersama temannya dengan membaca dan melukis. Ketika Lady Madeline meninggal, ia pun membantu Roderick mengangkat peti mati dan menyimpan jenazahnya di ruang penyimpanan tembaga, karena makam keluarga Usher sangat jauh letaknya dari kediaman mereka. Beberapa hari kemudian, ada perubahan dalam diri Roderick. Ia terlihat ketakutan dan tubuhnya gemetar. Hal itu mempengaruhi tokoh "aku" yang jadi ikut merasa cemas dan gemetar tanpa alasan, apalagi saat angin puyuh berembus, sehingga ia terjaga semalam suntuk. Untuk menghibur Roderick, ia pun membacakan sebuah buku. Di saat ia membaca, muncul suara-suara aneh, namun ia mengira itu hanya imajinasinya saja dan suara itu adalah suara badai di luar. Roderick lalu mengatakan padanya bahwa selama beberapa hari ia terus mendengar Lady Madeline bergerak di dalam peti matinya, menggaruk engsel besi untuk membebaskan diri. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa angin yang menghempaskan pintu kamar hingga terjatuh di lantai, bukan Roderick, namun saat Lady Madeline muncul sambil menangis pilu, ia tak lagi bisa bersikukuh. Apalagi saat Lady Madeline menjatuhkan tubuhnya ke arah Roderick sehingga temannya itu ikut terjatuh ke lantai dan mati. Ia pun melesat keluar dari kamar dan istana itu. Cahaya kilat dan angin ribut membuat dinding istana runtuh, dan danau buatan di bawah jembatan akhirnya menenggelamkan sisa-sisa kediaman keluarga Usher.

Hal yang langsung terasakan dari tulisan Edgar Allan Poe adalah kepiawaiannya dalam mendeskripsikan, dari mulai cuaca, fisik para tokoh-tokohnya, hingga ke karakter mereka; semuanya dilukiskan secara puitis dan indah. Selera humornya juga nampak di cerita Obrolan dengan Mummy dan Pertanda Buruk. Pengenalannya akan sifat jahat manusia juga tergambar jelas dalam cerita Kucing Hitam di mana tokoh utamanya yang seorang pemabuk tega mencungkil sebuah mata kucing peliharaannya dan kemudian bahkan menggantungnya hingga mati, dan pada puncaknya, membunuh isterinya. Namun Poe juga menyuguhkan sifat mulia dalam diri manusia seperti dalam Kotak Persegi Panjang; bagaimana seorang suami yang dengan setia memastikan jenazah isterinya bisa sampai ke kediaman ibu mertuanya, sehingga ia pun memilih kembali ke kapal yang tengah tenggelam sehingga ia sendiri akhirnya hilang di laut. Secara keseluruhan, ketiga belas cerita pendek ini cukup menghibur dan meski judul asli kumpulan cerita pendek ini adalah Tales of Mistery and Terror, namun penggambarannya yang halus membuat cerita-ceritanya tidak sampai membuat pembacanya bergidik ketakutan.

1 komentar:

~ jessie ~ mengatakan...

Cocok dengan judul bukunya ya. Tiap kisah sepertinya 'dark'. Menarik juga.