Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Arsip Blog

Rabu, 26 Juni 2013

Review Film Safe Haven

Film yang diangkat dari novel karangan Nicholas Sparks ini bercerita tentang Erin (Julianne Hough) yang lari dari suaminya, Kevin (David Lyons), seorang detektif. Saat itu Erin mencoba membela diri dari serangan Kevin dengan menusuknya dengan pisau dapur. Pelariannya berakhir di Southport, sebuah kota kecil di Carolina Utara. Di kota ini, Erin mengganti namanya menjadi Katie dan ia berhasil mendapat pekerjaan sebagai waitress dan membeli sebuah rumah. Katie bertetangga dengan Jo (Cobie Smulders) yang lalu menjadi sahabatnya.

Saat membeli cat di toko milik Alex Wheatley (Josh Duhamel), duda beranak dua, Katie sempat menolak diantar, namun saat tangannya kebas akibat mengangkat kaleng cat yang berat, ia akhirnya berubah pikiran. Ketika Alex yang tertarik padanya meninggalkan sepedanya untuk Katie, dengan serta-merta Katie mengembalikan sepeda itu. Jo menasihatinya bahwa Alex tidak bermaksud buruk. Merasa menyesal atas perlakuannya yang agak kasar kepada Alex, Katie pun akhirnya meminta maaf dan menerima sepeda pemberian Alex.

Setelah menghabiskan waktu bersama Alex dan kedua anaknya, Josh (Noah Lomax) dan Lexie (Mimi Kirkland), Katie pun menjadi makin dekat dengan pria itu. Apalagi saat Alex mengajaknya mengarungi sungai dengan kano dan bercerita tentang almarhum isterinya yang meninggal karena kanker beberapa tahun yang lalu. Kedekatan mereka pun berubah menjadi hubungan sepasang kekasih, ditambah kedua anak Alex juga menyukai Katie. Sayangnya Kevin yang terus mencari Erin, lalu mengirimkan gambar Erin ke semua kantor polisi dan membuat Erin seolah adalah penjahat yang dicari karena kasus pembunuhan. Alex yang berteman dengan seorang polisi di kota itu tanpa sengaja melihat foto Erin sebagai tersangka pembunuhan. Hal ini membuatnya merasa dibohongi, karena Katie ternyata bukan nama asli Erin.

Karena kecewa dan gusar, Erin pun memutuskan untuk meninggalkan Southport. Sementara itu Alex yang menyesal karena telah bertengkar dengan Erin akhirnya menyusulnya di tengah jalan. Setelah meminta maaf, Alex meminta Erin untuk tetap tinggal. Di tempat lain, Kevin yang diam-diam masuk ke dalam rumah nenek Erin dan mendengarkan pesan Erin di mesin penjawab telepon, lalu melacak keberadaan Erin hingga ke Southport.

Ketika Alex dan Josh pergi ke pesta kembang api, Erin menjaga Lexie yang tengah sakit. Kevin yang telah mengetahui keberadaannya meminta Erin untuk kembali padanya. Erin tentu saja menolak. Berang oleh penolakan Erin, Kevin bermaksud membakar toko dan rumah Alex. Untuk mencegah niat Kevin, Erin pun berpura-pura menyesal dan bersedia diajak pulang ke kota asalnya oleh Kevin, tapi kemudian Erin mendorong Kevin hingga tercebur ke danau. Kevin yang marah lalu mencoba membunuh Erin dengan pistol, sementara percikan api dari kembang api yang dinyalakan Alex menyulut bensin yang memang sudah disiramkan Kevin sehingga toko dan rumah Alex terbakar. 

Alex yang menyaksikan kebakaran itu langsung kembali dengan boat dan berhasil menyelamatkan Lexie dari kepungan api, sementara itu Erin masih berusaha menyelamatkan diri dari Kevin. Justru belakangan Kevin yang tanpa sengaja tertembak pistolnya sendiri dan meninggal.

Di akhir film, Alex memberikan surat dari mendiang isterinya untuk Erin. Surat itu ditulis oleh mendiang isteri Alex untuk wanita yang kelak akan mendampingi Alex setelah dirinya meninggal. Saat Erin melihat foto mendiang isteri Alex, Erin baru tahu bahwa Jo adalah hantu isteri Alex. Sebelumnya, Jo memang sempat berpamitan pada Erin untuk meninggalkan Southport, tapi Erin tak pernah mengira bahwa Jo adalah hantu yang akhirnya pergi setelah memastikan suami dan anak-anaknya telah menemukan pengganti dirinya.

Meski tidak luar biasa, namun ending di film ini yang agak sedikit di luar dugaan, karena Jo ternyata adalah hantu mendiang isteri Alex membuat film ini terasa berbeda dari film-film adaptasi Nicholas Sparks yang lain. Meski plot di film ini agak mirip dengan Message in A Bottle di mana tokoh wanitanya yang sebelumnya mengalami ketidakbahagiaan di pernikahan pertamanya akhirnya mendapat kesempatan untuk jatuh cinta lagi. Kali ini pada pria yang tepat. Juga ending film ini agak mirip dengan The Lucky One di mana mantan suami si tokoh wanita akhirnya meninggal di penghujung film. Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur. Di satu scene saat hantu Jo dan Erin berjalan di antara rimbunnya pepohonan, scene itu entah mengapa membuat saya merasa iri. Di tengah hiruk pikuknya keramaian kota besar, saya yang tidak menetap di sebuah kota kecil seperti setting di film ini tidak memiliki kesempatan untuk sekedar melihat pepohonan, apalagi berjalam di antara rindangnya pohon-pohon itu. Entah mengapa scene itu menjadi salah satu scene yang mengesankan buat saya. Film ini juga memiliki beberapa dialog yang agak lucu. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Alex : You know, normally when somebody does something nice for you, you just say thank you.

Katie: I just don't want to owe him anything.
Jo: It's a bike, not a kidney.

Josh: Why do you always have to take pictures?
Alex: I don't know, Josh, because I want to be able to remember this stuff, that's why.
Josh: Try to remember without the camera.

* Gambar dipinjam dari sini.

Tidak ada komentar: