Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 17 April 2013

Review Novel Joshua

* Review ini untuk Herny yang menghadiahi saya novel ini sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-34.

Novel ini bercerita tentang seorang pendatang di kota kecil di Auburn. Joshua, tanpa nama belakang adalah seorang pemahat kayu yang sangat berbakat. Penduduk di kota itu pun mulai membicarakannya dan kemudian balik menyukai sikapnya yang bersahabat. Namun saat Joshua mulai bicara tentang Tuhan dan mengungkapkan hal-hal yang dinilainya bertentangan dengan Alkitab, termasuk perilaku para pemuka agama yang tidak mencerminkan Kristus, Joshua pun diminta menemui para pemuka agama yang lebih senior karena timbul pro-kontra seputar ucapannya. Klimaksnya adalah saat Joshua harus menghadap Paus di Roma. Usai menjawab berbagai pertanyaan selama penyelidikan, Joshua tiba-tiba menghilang dari kamar tempatnya menginap. Novel ini berakhir dengan beberapa orang yang menemaninya selama keberadaannya di Roma menemukan kamarnya yang kosong tanpa penghuni dan hanya tersisa barang-barangnya, satu-satunya bukti bahwa pernah ada seseorang bernama Joshua.

Meski tidak berani terang-terangan, Joseph F. Girzone menggambarkan Joshua sebagai Tuhan Yesus yang berinkarnasi sekali lagi dalam diri Joshua. Dalam berbagai bagian, Joshua teringat akan kilas balik pengalamannya ribuan tahun lalu saat ia masih menjadi Yesus. Juga Girzone mengimitasi tindakan Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit dan meredakan badai yang terdapat dalam Alkitab ke beberapa bagian dari plot novel ini.

Dari sisi deskripsi novel ini ditulis dengan sangat baik. Namun dari plot dan dialognya novel ini sebenarnya cukup membosankan untuk dibaca. Ditambah plotnya yang entah merupakan imajinasi penulisnya atau harapan pribadi Girzone untuk bertemu langsung Kristus membuat novel ini menjadi rancu antara fiksi atau buku yang cenderung mengarah pada bidah. Jika persepsi pembaca lebih mengarah pada yang kedua, sungguh disayangkan. Sebagai seorang pensiunan imam, Girzone justru menulis novel yang membuatnya lebih terlihat seperti AntiKristus.

Ditinjau dari aspek fiksi, seorang penulis memang berhak membuat cerita dengan plot sebebasnya seturut fantasinya; meski begitu tak pelak novel ini membuat saya yang notabene adalah seorang Kristen mengerutkan dahi. Allah Tritunggal sudah berinkarnasi dalam diri Tuhan Yesus dan tidak mungkin berinkarnasi sekali lagi dalam diri Joshua, dan saya sungguh prihatin karena agama dan iman dibuat seolah memiliki definisi yang sama dalam novel ini. Yang lebih mengerikan adalah jawaban Joshua pada Marcia bahwa "Tuhan bukan manusia." (halaman 155) yang bisa menimbulkan salah tafsir bahwa Tuhan Yesus bukan manusia. Padahal ayat-ayat Alkitab jelas mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah seratus persen Allah dan juga seratus persen manusia. Misalnya saja Matius 12:8 yang berbunyi: "Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." yang jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Manusia, juga Tuhan.

Anggaplah Girzone tidak bermaksud "mementahkan" Alkitab atau menulis novel yang mengarah pada bidah, tetap saja fantasi bahwa Tuhan Yesus berinkarnasi lagi dalam diri Joshua terlihat seperti mengatakan bahwa telur itu berbentuk segitiga. Bahkan, atas nama fiksi pun, telur selamanya tidak berbentuk segitiga, apalagi dialog-dialog dalam novel ini (meski tak semuanya ambigu) tak urung seperti mengatakan bahwa telur ada pula yang berbentuk trapesium, jajaran genjang atau belah ketupat.

Tidak ada komentar: