Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 25 April 2013

Elegi untuk Browny

Aku adalah seorang penyuka anjing, dan jenis orang yang selalu menganggap anjing itu lucu, bahkan setelah  menghancurkan sandal dengan menggigitinya dengan giginya yang mungkin gatal. Terutama hal ini dilakukan oleh anjing-anjing muda yang energik dan nakal. Aku menyayangi tidak saja ketiga anjingku sendiri, tapi juga anjing-anjing yang berada di lingkunganku. Mungkin hal ini menurun dari ibuku yang saat melihat anjing liar yang tak memiliki majikan berjalan mondar-mandir di sekitar rumah, terlihat dekil, lapar, dan kurus, tanpa seorang pun yang peduli; ibuku akan tergerak untuk memberinya makan. Atau saat ia melihat anjing yang ditelantarkan oleh pemiliknya, ibuku akan merasa iba dan serta-merta ingin menolong. Paling tidak mencoba mencarikan rumah dan pemilik baru untuk anjing tersebut. Meski hal ini tentu tidak mudah, karena tidak semua orang penyuka anjing.

Seperti beberapa temanku yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada anjing. Jangankan anjing besar dengan gonggongannya yang menyeramkan, bahkan pada anak anjing lucu yang baru lahir pun, mereka alergi berdekatan dengannya. Alergi ini berasal dari rasa jijik berdekatan dengan makhluk berbulu dan berkaki empat itu (yang bagiku justru terlihat lucu dan menggemaskan). Seperti yang kubilang, tak semua orang adalah penyuka anjing. Tak semua orang menganggap anjing adalah binatang yang seharusnya dipelihara dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang, seperti layaknya anggota keluarga.

Ada sebagian orang yang menganggap anjing tak lebih sebagai penjaga rumah. Jadi jika mereka memelihara anjing, mereka hanya difungsikan sebagai pengidentifikasi maling dan pencuri dan diharapkan untuk menggonggong menakuti penjahat dan menyerangnya. Umumnya orang semacam ini juga tidak mau keluar uang untuk membeli anjing atau memberi makan anjingnya dengan layak. Anjing bagi mereka mungkin tak lebih seperti alarm mobil yang berbunyi jika ada orang yang mendekatinya. Jelas tak ada pelukan hangat atau belaian sayang untuk anjing yang mereka pelihara. Jelas pula, tidak ada upaya untuk merawatnya, seperti memandikannya atau membawanya ke dokter hewan jika sakit. Yang ada mereka tanpa segan, sungkan, atau berpikir dua kali untuk menyingkirkan anjing yang mereka miliki, jika merasa anjing mereka tak lagi berguna.

Itulah nasib yang dialami Browny, anjing berwarna cokelat tua, entah dahulu pemiliknya siapa. Dari anjing hias yang biasa makan dog food bermerk, entah bagaimana, dia diletakkan begitu saja di sebuah lapangan parkir sebuah gedung, yang banyak orang lalu-lalang, tak semuanya menghiraukan keberadaannya. Dia diketahui ada di sana, dan beberapa penyuka anjing berusaha memberinya makan, dan memandikannya, dan frekuensinya semakin berkurang setelah kesibukan para penyuka anjing itu bertambah, yang mampir di gedung itu hanya sepintas lalu saja. Toh mereka bukan penghuni gedung itu, dan tidak benar-benar merasa memilikinya. Dari dog food, makanan Browny pun berubah menjadi makanan biasa, yang diberikan sekedarnya dan sambil lalu saja.

Tak lama seekor anjing lain pun diletakkan di lapangan parkir di gedung yang sama. Juga seekor anjing betina berwarna cokelat muda. Karena tak ingin repot-repot mencari nama, anjing cokelat muda ini diberi nama yang sama. Aku menyebutnya Brownie untuk membedakannya dari Browny yang berwarna cokelat tua. Konon Brownie ini diletakkan begitu saja di lapangan parkir gedung itu setelah pemiliknya murka sebab taman rumahnya dihancurkan oleh Brownie, yang tanpa tahu salah dan sebabnya dipukuli membabi-buta oleh tuannya.

Jadilah Browny dan Brownie melewati hari-harinya di lapangan parkir sebuah gedung. Keberadaan mereka antara ada dan tiada. Kadang dikenali sebagai anjing penjaga, kadang menakuti pengunjung di gedung itu, orang-orang yang bukan penyuka anjing, meski sebenarnya kedua anjing betina itu jinak dan haus kasih sayang. Keduanya sering berkejaran, berlarian bersama, dan juga saling memperebutkan perhatian dan kasih sayang beberapa penyuka anjing, yang kebetulan singgah dan melintas di lapangan parkir di gedung itu. Hingga, suatu hari Brownie pun lenyap, tanpa sebab, tanpa jejak, hilang begitu saja. Beberapa penyuka anjing mempertanyakan ke mana kepergiannya, tapi seperti juga datangnya, perginya tak diketahui ke mana. Entah hidup atau mati, tetap misteri. Rumor beredar, entah benar atau hanya dugaan dan prasangka, Brownie mati diracun penjaga gedung itu, yang bukan penyuka anjing dan muak melihat kotoran kedua anjing itu bertebaran di mana-mana, muak membersihkannya, muak melihat biang kerok pencipta kekacauan itu, dan lalu makanan yang bercampur racun pun yang menjadi solusinya. Entah benar, entah prasangka. Rumor itu beredar begitu saja, hilang begitu saja.

Lalu datanglah seekor anjing jantan berwarna hitam, anjing tetangga yang masuk ke pelataran parkir gedung itu karena musim kawin telah tiba, dan pejantan yang kesepian ini pun mencari betinanya. Tadinya Pluto tinggal di sebuah rumah di mana pemilik terdahulunya memperlakukannya dengan cukup baik. Pluto terawat, tidak saja dari gizi makanannya, yang termasuk buah-buahan pula, meskipun mungkin hanya pepaya, tapi setidaknya tak ada kutu di tubuhnya, dan dia mengenakan kalung yang menandakan bahwa dia bukan anjing liar. Pluto pun memiliki betinanya sendiri yang dinamai Shiva, anjing berwarna cokelat yang lalu melahirkan anak-anak anjing yang pastinya akan tumbuh menjadi anak anjing yang lucu dan lalu anjing dewasa yang sehat, jika dirawat dengan baik oleh tuannya. Sayangnya entah kenapa, tak diketahui pasti, apakah Shiva, atau Pluto, atau keduanya membunuhi sendiri anak-anak anjing mereka. Pemiliknya yang murka dan tak percaya lalu menghibahkannya begitu saja berikut dengan kandangnya ke sahabatnya yang juga penyuka anjing.

Karena sahabat tuannya telah memiliki tiga ekor anjing dewasa dan tak mungkin menambah lagi memelihara dua ekor anjing dewasa lagi, maka Pluto pun diberikan kepada sepupunya, sedang Shiva diberikan kepada pemilik pabrik yang memang butuh anjing untuk menjaga pabriknya dari pencuri yang mungkin menyelinap masuk waktu malam.

Pluto pun diterima dengan sukacita oleh pemilik barunya. Sayangnya karena pemiliknya meninggal tiba-tiba dalam usia terbilang remaja, Pluto pun menjadi tidak terawat. Saudara-saudara sekandung tuannya sekalipun juga penyuka anjing, tapi tak cukup telaten untuk memandikan, membasmi kutunya, atau pun mencukupi makanannya. Pluto pun bahkan berganti nama beberapa kali sesuka tuan-tuannya memanggilnya. Maka terpaksalah Pluto mencari makanan sendiri, mengais sampah dari tong sampah tetangga, dan dimulailah petualangannya yang mempertemukannya dengan betinanya di lapangan parkir sebuah gedung, yang dijaga oleh para penjaga yang tidak menyukai anjing dengan beberapa penyuka anjing terkadang singgah dan melintas di lapangan parkir gedung itu.

Musim kawin tiba. Pluto pun menemukan betinanya, Browny, seekor anjing berwarna cokelat tua, dan mereka pun menciptakan calon anak-anak anjing. Entah bagaimana, setelah kembali ke rumah tuannya, Pluto pun tiba-tiba mati dan busa keluar dari mulutnya. Entah siapa yang meracuni, dia mati begitu saja, dan tuannya pun menggantikannya dengan anak anjing pemberian sahabat tuannya, seekor anak anjing yang lucu, yang gesit dan nakal, yang karena tak dijaga dengan seksama, akhirnya tergilas kendaraan yang melintas di jalan di depan rumahnya, dan akhirnya mati begtu saja. Berikutnya, ada pula anjing kurus, berkutu, anjing kampung biasa berwarna cokelat, yang karena kurus, dekil, dan kutunya, tidak menimbulkan perasaan sayang bagi yang memeliharanya, dan akhirnya anjing ini pun disingkirkan entah ke mana. Begitulah nasib anjing, entah anjing hias atau anjing kampung biasa, disingkirkan begitu saja, jika sudah tidak disukai dan dianggap tidak berguna.

Lalu di lapangan parkir itu, datanglah seekor anak anjing yang berwarna cokelat muda. Konon khusus dibawa ke sana untuk ikut menemani Browny menjaga gedung itu; tapi tak lama anjing itu menghilang juga. Seperti datangnya, tak jelas siapa yang membuangnya di sana, atau siapa yang menyingkirkannya. Datang dan pergi tanpa ada yang peduli, selain beberapa penyuka anjing yang terheran-heran dari mana dia datang dan ke mana dia pergi. Anak anjing itu bahkan belum sempat diberi nama atau diketahui namanya.

Kemudian datang juga di lapangan parkir di gedung itu, seekor anjing jantan berukuran agak besar, berwarna cokelat muda. Juga tak diketahui dari mana datangnya dan siapa tuannya atau siapa yang membawanya hingga bisa berada di situ. Tak lama juga keberadaannya di lapangan parkir gedung itu. Anjing malang tak bernama itu akhirnya hanya menjadi sasaran kemarahan para penjaga di gedung itu yang memukulinya setelah menghancurkan keset bertuliskan “welcome” yang konon harganya ratusan ribu rupiah, setelah dia melintasi lapangan parkir, menaiki undakan tangga dan akhirnya menghancurkan keset mahal yang diletakkan di lantai pintu utama gedung itu. Anjing malang tanpa nama itu pun diusir, tidak saja dari lapangan parkir gedung itu, tapi juga dari gedung itu. Tak boleh kembali. Beruntung anjing malang yang tak terlalu malang itu ditemukan oleh penjaga pabrik di sebelah gedung itu dan akhirnya diadopsi sebagai anjing penjaga pabrik.

Sementara itu Browny akhirnya beranak dan melahirkan delapan ekor anak anjing dalam selang waktu dua hari. Dua di antaranya mati. Mungkin karena induknya yang tidak diberi cukup makanan tidak bisa menyediakan cukup air susu untuk kedelapan anaknya, mungkin juga mati kedinginan, atau karena sebab yang lain. Keduanya mati begitu saja. Datang dan pergi dari kehidupan tanpa nuansa.

Beberapa penyuka anjing lalu mencoba menolong membersihkan kandangnya, setelah mereka menyadari betapa tak terurusnya Browny dan anak-anaknya. Semut mengerumuni dan menggigiti anak-anak anjing itu akibat makanan yang diletakkan begitu saja. Tak lain karena mitos yang mengatakan bahwa anjing yang baru beranak beringas dan ganas. Jadi beberapa orang yang melintas di lapangan parkir di gedung itu malah takut berdekatan dengan anjing yang baru beranak itu. Padahal Browny jinak saja, bahkan setelah beranak pun, dia jinak saja. Betapa manusia yang mempercayai mitos itu, mungkin tak menyadari atau tak ingin mempercayai, bahwasannya, manusia jauh lebih beringas dan lebih ganas daripada anjing betina yang baru beranak.

Dua ekor anak Browny lalu diadopsi penyuka anjing yang dulu menjadi tuan Pluto, demi memori dan kenangan atas anjing mereka. Dua ekor lagi lalu diadopsi. Kabarnya begitu. Entah kebenarannya. Lagi-lagi beberapa penyuka anjing yang singgah dan melintas di lapangan parkir itu bertanya-tanya kenapa jumlah anak anjing itu berkurang dan beberapa ekor menghilang.

Betapa kemarahan berbaur rasa kasihan dan sedikit duka menyeruak, saat seorang penyuka anjing itu mendengar kabar, bahwa Browny dan anak-anaknya yang dianggap menyusahkan, merepotkan, dan dianggap hanya membuat kotor, akhirnya diputuskan untuk disingkirkan. Para penjaga yang bukan penyuka anjing itu lalu mencoba membuangnya ke sebuah lapangan bola. Sayangnya Browny bisa menemukan jalan pulang dan kembali ke lapangan parkir itu. Beberapa kali lagi usaha untuk membuangnya, tapi sia-sia saja. Browny kembali lagi ke lapangan parkir itu. Sebagai usaha terakhir, anjing malang itu dan kedua anaknya yang tersisa, lalu dimasukkan paksa ke dalam karung oleh keempat orang, penjaga gedung itu dan eks manager building-nya yang cuti sementara setelah terserang stroke. Browny dan anak-anaknya yang malang dipaksa masuk ke dalam karung, tanpa udara untuk bernapas, dan lalu karung yang telah diikat kuat itu pun diceburkan ke kali, dan sejak itu lapangan parkir di gedung itu pun kosong. Tak seekor anjing pun ada di sana.

Saat peristiwa itu telah berlalu, penjaga yang tak menyukai anjing itu pun sambil lalu bercerita pada pengunjung di gedung itu, yang lalu menyampaikannya pada seorang penyuka anjing yang kadang juga singgah dan melintas di gedung itu, yang mengabarkannya lagi pada penyuka anjing di gedung itu yang juga heran ke mana Browny menghilang. Terlebih dia yang membersihkan kandang Browny bersama ayahnya.

Kemarahan itu sesaat, dan duka itu sesaat. Lalu kemarahan itu menjelma menjadi rasa tak suka dan antipati, saat rumor lain beredar. Entah benar, entah prasangka, bahwa Browny sempat berjuang untuk hidupnya, dan hidup anak-anaknya. Mungkin dia menggigit tangan-tangan yang mencoba membunuhnya, mungkin dia menyalak, mungkin dia meronta, dan mencoba membebaskan diri dari karung yang dipakai untuk membunuhnya. Konon mulutnya ditusuk, entah dengan apa. Konon darah bercucuran dari mulutnya, saat dia berjuang untuk hidupnya dan hidup anak-anaknya. Elegi ini untuk Browny, anjing berbulu cokelat tua dan kedua ekor anaknya. Anjing malang yang tak terawat, dengan borok dan kutu, dengan kekuatan yang tak seberapa akibat baru beranak dan makanan yang mungkin tak mencukupi, telah berjuang untuk hidupnya dan hidup kedua anaknya, kendati dia sebenarnya anjing hias yang jinak, bukan anjing pemangsa; bukan anjing beringas dan ganas, meskipun baru beranak. Entah manusia tak menyadari atau tak ingin mempercayai, bahwasannya, manusia jauh lebih beringas dan lebih ganas ketimbang anjing hias yang berjuang untuk hidupnya dan hidup kedua ekor anaknya.

Isakan ini untuknya. Makhluk berbulu cokelat, berkaki empat. Begitulah dia, bagi yang tak menyukainya. Sedang bagi penyuka anjing, keberadaannya yang sementara dan maya, bagaikan anggota keluarga. Elegi ini untuk Browny.

1 komentar:

merry go round mengatakan...

Selalu nggak kuat kalau baca cerita tentang binatang. Dan memang banyak anjing terlantar di luar sana yang hidupnya disia-siakan. Dan betapa terkadang manusia dapat berubah menjadi sesosok mahkluk yang teramat kejam.