Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 25 Juli 2012

Shorty July #1

Shorty July adalah event yang disponsori oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta di mana peserta event ini diminta untuk membaca sebanyak mungkin cerita pendek klasik karya penulis dunia dan menuliskan resensinya dengan memperebutkan buku kumpulan cerpen klasik sebagai hadiahnya.

Di postingan kali ini saya akan membahas cerita pendek berjudul Antara Surga, Dunia dan Iblis Bermata Seribu karya Isaac Leib Peretz dengan judul aslinya Oyb Nit Hekher atau dalam bahasa Inggris If Not Higher.

Cerita pendek karya penulis berkebangsaan Yahudi Polandia ini bermula dari kepercayaan agama Yahudi bahwa selama periode pelaksanaan Doa Tobat para rabbi naik ke surga untuk membela manusia di hadapan Tuhan, agar manusia diampuni atas dosa-dosanya. Peretz menggambarkannya dengan kalimat-kalimat berikut, "Lantas kemana perginya sang rabbi? Ke surga, tentunya. Seorang rabbi selalu sibuk mengurus ini-itu sebelum Hari Raya tiba. Umumnya, orang Yahudi membutuhkan penghasilan, kedamaian, kesehatan dan jodoh yang baik. Mereka ingin jadi orang yang baik dan teladan, namun dosa kami terlalu besar, dan Iblis selalu mengawasi bumi dengan seribu mata tersebar dari ujung ke ujung. Apapun yang dilihat Iblis, akan dilaporkan; disangkal, diinformasikan. Siapa yang bisa menolong kami kalau bukan sang rabbi! Setidaknya itu cara pikir sebagian besar masyarakat Yahudi." Lalu suatu hari datang orang Litvak (Yahudi Lithuania) menertawai mereka. Orang Litvak ini lalu bersembunyi di bawah ranjang sang rabbi untuk mencaritahu ke mana sebenarnya tujuan kepergian rabbi itu.

Ternyata rabbi itu pergi ke hutan untuk menebang kayu dan menjadikannya kayu bakar. Lalu dia pergi ke rumah seorang wanita miskin yang tengah sakit untuk menjual kayu bakarnya. Wanita itu menolak karena tidak punya uang, tapi rabbi yang ternyata bernama Vassil ini tidak keberatan jika wanita itu berhutang dulu untuk kayu bakarnya. Bahkan dia juga yang menyalakan kayu bakar itu di oven karena wanita itu terlalu sakit untuk bisa menyalakan sendiri kayu bakarnya dan anaknya juga tengah bekerja.

Sambil menyalakan kayu bakar Vassil pun mulai melantunkan bait demi bait Doa Tobat. Menyaksikan itu semua, orang Latvik ini akhirnya memutuskan untuk menjadi jemaat sang rabbi. Di kemudian hari saat jemaat lain bercerita tentang kepergian sang rabbi ke surga, orang Latvik ini tidak lagi tertawa. Dia menambahkan, "Mungkin lebih tinggi dari surga.”

Mengapa orang Latvik ini demikian terkesan hingga ingin menjadi jemaat sang rabbi? Mungkin karena kata-kata Vassil saat wanita itu menolak membeli kayu bakarnya karena tidak punya uang, "Kau adalah orang miskin yang tengah sakit keras, namun saya siap untuk mempercayakan kau dengan sedikit kayu bakar yang saya tebang sendiri. Saya yakin kau bisa membayarnya suatu hari nanti. Namun kau memiliki Tuhan yang maha kuasa dan maha besar, dan kau tidak mempercayakan enam sen saja kepada-Nya." Vassil tidak menjual kayu bakarnya pada orang yang mampu membelinya, mengindikasikan bahwa ia hanya memakai alasan itu supaya ia bisa memulihkan iman wanita itu yang raib karena penyakit dan kemiskinan.

Tidak ada komentar: