Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 18 Juli 2012

Menulis: Saya versus Mood

Menulis adalah hal yang saya lakukan jika ingin menyuarakan atau menceritakan apa yang saya lihat, saya pikirkan atau sekedar membagi apa yang tengah saya rasakan. Masalahnya belakangan ini saya merasa menulis tidak lagi menyenangkan. Terkadang malah menjadi beban. Misalnya saja jika saya menargetkan untuk menulis paling tidak satu kali dalam setiap minggu di blog saya ini. Saya seringkali tidak berhasil memenuhi target saya sendiri sehingga menulis mulai menjadi sebuah beban saat tidak bisa dikerjakan sesering yang saya inginkan. Terkadang saya bahkan merasa tidak ada yang cukup baik untuk ditulis. 

Saya bukan kekurangan ide untuk menulis. Kepala saya justru disesaki oleh terlalu banyak ide sehingga tidak bisa fokus. Akibat terlalu lama menunda dan memilah lebih dulu apa yang ingin saya tulis, saya jadi merasa menulis bukan lagi sebuah petualangan. Menulis kini terasa menyesakkan. Apalagi jika saya merasa apa yang saya tulis sepertinya tidak akan ada yang cukup peduli untuk membacanya. Itu membuat menulis menjadi lebih membebani lagi. 

Lucunya saya seringkali merasa kekurangan waktu untuk menulis. Tapi saat sudah berada di depan komputer, saya justru bingung apa yang harus saya tulis. Otak saya memang memerintahkan saya untuk menulis ini dan itu, tapi belum-belum saya sudah menjadi editor bagi gagasan saya sendiri sehingga saya mengurungkan diri untuk menuliskannya karena merasa hasilnya tidak akan cukup baik. 

Jadi, manakah yang lebih penting: sekedar menulis, meskipun hasilnya buruk atau memastikan apa yang saya tulis (meski tidak bagus, tapi mungkin) masih ada satu atau dua orang yang mau membacanya, meski akibat proses pemastian itu saya akan menjadi kurang produktif atau bahkan tidak produktif sama sekali? 

Mood adalah salah satu yang paling menyulitkan karena sukar untuk diajak kompromi. Orang bisa memberi tips tentang disiplin diri dan latihan, tapi jika mood sedang buruk, meski otak memerintahkan untuk menulis, jemari ini tidak akan sudi menari di atas keyboard. Puluhan ide boleh melintas di kepala, tapi jika yang namanya mood sedang tidak ingin bersahabat, ribuan tekad yang coba dipompakan pun tidak akan membuat saya menulis. 

Orang boleh menyebutnya writer’s block atau apa. Tapi saya tahu hal terbesar yang mencegah seseorang dari kesenangannya menulis adalah mood. Setidaknya begitulah yang saya alami. Bagaimana dengan kamu?

3 komentar:

DX-Star Inc Sampit mengatakan...

Menurut saya, menulis adalah sebuah keindahan.

~ jessie ~ mengatakan...

Kalau kata Djenar Maesa Ayu, bukan kita yang mendatangi inspirasi, tapi inspirasi lah yang mendatangi kita. Apakah itu berlaku juga untuk mood? :D I'm happy I'm not the only one feeling that way.

-Indah- mengatakan...

Membaca postingan ini, sejak awal sampai akhir, gua ngerasa, "kok gua bangets yaa!", ahahahaha :))

Gua juga merasakan hal yang sama, ketika menulis itu sendiri gua jadikan sebagai sesuatu yang 'rutin' dan 'mengikat', gua kehilangan sensasi rasa menyenangkan yang biasanya selalu hadir ketika gua menulis :D Jadi walau ada banyak hal yang sebenernya ingin diceritakan, tapi tangan ngga mau kompromi menyalurkannya keluar :p

Btw, salam kenal yaa ;)