Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 28 Februari 2012

My Hero: Chairil Anwar


Sebelumnya, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menulis sesuatu yang tidak melulu review film. Jadi kali ini saya ingin bercerita tentang pahlawan dalam hidup saya. 

Pertama kali saya memiliki tokoh idola adalah pada usia dua belas tahun. Seiring bertambahnya usia, tokoh idola saya juga bertambah. Salah satu di antaranya adalah Chairil Anwar

Saya pertama kali mengetahui tentang Chairil Anwar dari pelajaran Bahasa dan Sastera Indonesia sewaktu SMP dulu. Berhubung saya bukan pecinta pantun dan tidak pandai membuatnya, saya bersyukur sekali di dunia ini pernah hidup seorang Chairil Anwar. Kalau tidak, jangan-jangan wajah puisi di Indonesia masih bersajak a-b-a-b. Chairil memang pelopor angkatan '45 di bidang sastera, khususnya puisi. Chairil yang memperkenalkan puisi bebas yang tidak terikat rima dan jumlah baris dalam satu bait. Saat membaca biografi dari penyair yang hari kematiannya diperingati sebagai hari sastera ini, saya mengetahui bahwa dia memiliki hobi membaca. Karena kesukaannya akan buku, Chairil bahkan tidak segan untuk mencurinya dari perpustakaan atau toko buku jika dia tidak sanggup membeli buku tersebut. Chairil memang sering kesulitan dalam masalah finansial. Meski Chairil bukan klepto dan saya juga tidak menyetujui tindakannya, tapi kecintaannya akan buku, jelas patut ditiru. Chairil adalah sosok penyair yang saya cintai puisi-puisinya (termasuk puisi-puisi sadurannya yang membuat Chairil menyandang cap plagiat yang dieufemismekan sebagai penerjemah dalam film GIE), tekadnya dan pilihan hidupnya yang (ceroboh?). Gaya hidupnya yang bohemian mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa Chairil meninggal dalam usia muda.

Namun saya mengagumi tekadnya untuk merantau dalam usia muda dengan meninggalkan keluarga intinya. Chairil juga menguasai beberapa bahasa asing, di antaranya bahasa Belanda. Puisi-puisinya konon juga disukai meski pada masa pendudukan Jepang di Indonesia yang memberlakukan sensor yang cukup ketat.

* Gambar dipinjam dari Wikipedia.

2 komentar:

~ jessie ~ mengatakan...

Kenapa yah seniman-seniman itu doyan model hidup bohemian? ;D

Selvia Lusman mengatakan...

@Jessie: Hehe... Mungkin kalo ngga bohemian ngga nyentrik :p