Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 17 Januari 2012

Resolusi dan Fakta

Setiap kali pergantian tahun, resolusi bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang harus dibuat dan dikerjakan. Kadangkala resolusi itu tergantung sepenuhnya pada usaha kita, tapi sebagian lagi tergantung pada situasi yang memang tidak bisa kita kendalikan. Salah satu resolusi saya di tahun ini adalah sehat selama 365 hari di tahun 2012 ini. Nyatanya sejak pergantian tahun, saya sakit demam, flu, batuk, sakit kepala selama sedikitnya dua minggu. Sekarang pun saat menulis postingan ini, saya masih flu. Rasanya ironis mengingat resolusi yang saya buat berhubungan erat dengan kesehatan. Nyatanya sejak hari pertama di tahun yang baru, resolusi saya jelas-jelas tidak terwujud. Bukan awal yang menjanjikan untuk memulai tahun ini. Membuktikan bahwa resolusi bisa terwujud, tidak sepenuhnya tergantung pada usaha kita. 

Tentu saja, saya tahu untuk menjaga kesehatan, saya perlu mengubah gaya hidup saya yang ritmenya cenderung berantakan. Itu sebabnya kini saya menghindari kata-kata motivasi yang cenderung membuat orang jadi workaholic. Masih karena imbas kalimat motivasi yang pernah sangat mempengaruhi saya di waktu-waktu yang silam, sampai kini pun saya cenderung jadi insomnia kalau merasa belum mengerjakan sesuatu yang berarti selama sehari itu. Akibatnya saya jadi terbiasa tidur di pagi hari dan hanya tidur beberapa jam, karena beberapa jam berikutnya saya sudah harus memulai aktivitas saya. 

Kadang saya merasa semua kalimat motivasi yang dilontarkan para motivator tak lebih dari sebuah pembodohan. Hampir semuanya menitikberatkan pada kerja keras. Tanpa sadar kita jadi terpola untuk bekerja dan berusaha terlalu keras, lupa istirahat, lupa rekreasi, lupa rileks, dan akhirnya lupa menjaga kesehatan. Hampir semuanya hanya menitikberatkan pada kesuksesan, tapi berapa banyak yang menyuarakan keseimbangan? 

Sebagian besar orang hari ini malah jadi merasa hidupnya tidak berarti kalau dia belum berprestasi. Semua orang ingin menjadi pemenang, dan kadang harga yang dia bayar terlalu mahal dan tidak sebanding dengan pencapaiannya. Benarkah eksistensi hidup kita hanya bergantung pada pencapaian kita? 

Saya jadi teringat salah satu eks murid saya (saat dulu saya masih menjadi guru). Eks murid saya ini tidak keberatan tidak menjadi juara kelas. Dia tidak ingin seperti teman sekelasnya yang hampir seluruh harinya dihabiskan untuk belajar hingga tidak punya waktu untuk bermain dengan adiknya. Betapa menyentuh bahwa anak usia dua belas tahun ternyata membuat pilihan yang lebih bijaksana ketimbang orang dewasa hari ini. Sementara masih ada saja orang tua yang menginginkan anak super, memaksa anaknya mengikuti berbagai kursus dan tambahan pelajaran untuk memastikan anaknya menjadi juara kelas dan menganggap diri mereka orang tua yang peduli pada pendidikan anaknya. Berikutnya saat anak mereka gagal mencapai tujuan yang mereka tetapkan, mereka akan memarahi anaknya dengan alasan klise bahwa mereka telah membanting tulang untuk membiayai pendidikan anaknya, termasuk kursus ini dan itu, tapi bahwasannya mereka terlupa bagaimana menjadi orang tua. Lupakah mereka bahwa anak bukan cuma butuh pendidikan, tapi juga butuh kasih sayang dari orang tuanya? Apakah bentuk kasih sayang harus selalu dengan menjejali anak dengan tambahan pelajaran? Apakah kasih sayang harus selalu dalam bentuk hadiah dan mainan jika mereka berhasil berprestasi? Tidak bisakah kasih sayang diberikan tanpa syarat, hanya karena anak mereka adalah darah daging mereka, tidak peduli apakah mereka anak berprestasi atau tidak? 

Saya sendiri belum merasakan menjadi orang tua dan mungkin saya lancang menilai mereka seperti itu. Mungkin saya tidak tahu apa pun tentang parenting, tapi saya tahu saya punya intuisi, dan seharusnya semua orang menggunakan intuisi mereka juga, bukan cuma akal sehat atau ego yang berujung pada pembenaran diri. Lupakah orang-orang dewasa itu bahwa hidup tidak melulu hanya untuk mencapai tujuan dan menjadi superior, di antaranya seharusnya masih tersisa ruang untuk menjadi manusia, yang masih butuh cinta dan kebersamaan? 

Saya juga jadi teringat lirik lagu Would You be Happier-nya The Corrs, “Would you be happier if you weren't so untogether? Would the sun shine brighter if you played a bigger part?” Jadi benarkah mentari bersinar lebih cerah jika kita memainkan peran yang lebih besar? Setiap kali saya nyaris terlupa bagaimana menjadi manusia, saya menanyakan hal ini pada diri sendiri. Pada akhirnya saya dikembalikan pada keseimbangan yang saya perlukan. Alangkah sepinya menikmati sukses jika kita tidak tahu harus membaginya dengan siapa, karena pada proses mencapai sukses itu, kita tanpa sadar menyisihkan orang-orang terdekat, karena sebagian besar waktu kita habis untuk berusaha sangat keras mencapai resolusi, tujuan, sukses, dan setumpuk “mimpi” untuk menjadi besar. 

Tentu saja resolusi tetap penting untuk dicapai, tentu saja orang harus memiliki tujuan dan target dalam hidup, tentu saja sukses adalah bagian dari pencapaian dan eksistensi manusia, hanya saja, sisakanlah keseimbangan, jangan lupakan bahwa kita masih manusia. Jangan sampai kita lebih mencintai kesuksesan dan perasaan superior ketimbang diri sendiri dan manusia-manusia lain di sekeliling kita. Bagaimana pun, manusia jauh lebih berharga ketimbang kesuksesan sebesar apa pun itu. 

8 komentar:

alicemop mengatakan...

Selv, bukannya kalau kalau lagi flu malah jadi nulisnya lancar yaaa :) Cepet sembuh yaaa
Aku seneng baca artikelmu yang ini, bener banget kita butuh keseimbangan. Bener banget bahwa eksistensi kita tidak hanya dinilai oleh pencapaian saja...
Tulisan ini bukin adem hatiku. Keep writing^^

rezKY p-RA-tama mengatakan...

skrg sy bingung,,bedanya resolusi gambar sama resolusi untuk tahun ini

Selvia Lusman mengatakan...

@Alice: Ya, kalo flu malah lebih kreatif :-) Thanks. Semoga hati Alice selalu adem. Hehe... @Rezky: Biar ngga bingung, gimana kalo resolusi tahun ini kamu buat resolusi gambar aja. Haha...

Ronny Dee mengatakan...

Buutuh keseimbangan dan fokus :) Kalau saya nggak mencapai resolusi krn kurang fokus nih. O ya dulu emang pernah jd guru ya? Ceritain dikit dong kok udah ngak jd guru lg...:)

Selvia Lusman mengatakan...

@Ronny Dee: Kenapa saya berhenti jadi guru? Ini ceritanya agak panjang. Ringkasnya, dulu saya jadi guru karena terinspirasi oleh guru-guru saya. Salah satunya yang paling berkesan adalah guru PMP & PSPB saya waktu SMP. Namanya Pak daniel. Sewaktu beliau kecil buku tulis itu langka dan dia harus belajar memakai batu tulis. Meski begitu hingga dia dewasa dia tetap ingin jadi guru, bukan jadi dokter/insinyur dll (profesi yang dianggap lebih prestisius dan memberikan salary yang lebih besar). Berkat beliau, saya juga menjadi guru dengan harapan saya bisa menjadi inspirasi bagi murid-murid saya sampai... saya menonton film Freedom Writer's dan A Ron clark's Story. Saya pun sadar, sebagai guru saya cuma punya kapasitas sebagai pengajar, bukan pendidik. Tidak yakin bisa menjadi inspirasi, saya memilih putar haluan dan memilih menulis sebagai sarana untuk menginspirasi pembaca saya. Sejauh ini, saya tidak yakin tulisan saya sudah menjadi inspirasi, tapi setidaknya saya sudah menuliskan tokoh/film yang menurut saya inspiratif :-)

AB.SatriaTataka mengatakan...

Ehm, maaf telat komen nih, tapi mungkin kamu salah ambil kata motivasi tuh Grace. Coba yang ini : "EVERYDAY IS SUNDAY"
oke?
It works for me, a lot!
;)

Ronny Dee mengatakan...

@ Selvia : O gitu ceritanya, thanks for sharing. Salah satu film yang inspiring tentang guru adalah "Miracle Worker", udah nonton belum? Ini film ttg guru yang sangat menyentuh, selain film-film yang udah kamu sebut tadi, film ini juga berdasarkan kisah nyata.
Selain nulis di blog, nulis di mana aja (pengen tahu aja yah...:).

Selvia Lusman mengatakan...

@A.B. Satria Tataka: Kalau "Everyday is Sunday" ngga dapat salary donk? Kan tiap hari libur :p @Ronny Dee: Belum nonton tuh. Wah, harus dicari dulu dvd-nya. Kalau dvd dari film lama agak sukar dicari. Selain nulis di blog, maunya sih nulis di mana-mana (majalah, tabloid, dll), tapi apa daya belum ada yang dipublikasikan, lebih sering rejected :p