Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 16 Desember 2011

Sajak Pagi Hari Telah Berganti

Tadi pagi:

Memulai hari kadang terlalu berat. Seringkali kita bahkan belum siap untuk melakukannya, tapi hari yang baru suda keburu menjelang. Hari ini terasa berat karena kantuk masih juga menahan saya untuk tetap terbaring di ranjang. Nyeri di tenggorokan dan skorbut di mulut membuat saya malas bangun dan menggosok gigi. Reptil peliharaan ibu saya yang tanpa sengaja salah masuk ke kamar saya dan akhirnya mati terjepit di antara kedua lemari buku masih tergeletak di lantai, menunggu dipindahkan; menunggu disemayamkan di tempat peristirahatan terakhir yaitu tempat sampah. Saya malas memulai hari.

Bagi saya sangat tidak masuk akal bagaimana orang-orang yang sok optimis menggambarkan hari yang baru dengan menghirup udara pagi, sinar matahari yang menyeruak masuk, embun yang tersisa di dedaunan, burung berkicau, langit biru cerah, dan sebagainya. Manusia-manusia modern sudah demikian sibuknya. Tidak ada lagi waktu untuk sekedar melihat embun di daun, merasakan sinar matahari yang menghangatkan kulit. Kalau kamu terkena stroke dan terpaksa tinggal di rumah atau kamu baru saja diberhentikan dari pekerjaanmu, mungkin saja kamu melakukan semuanya itu. Siapa pula yang memiliki waktu untuk mendengarkan suara burung berkicau? Sajak pagi hari sudah berganti sejak lama.

Pagi hari adalah bunyi alarm yang dipasang setidaknya tiga kali untuk memastikan kamu benar-benar bangun. Tiga kali alarm bunyi di waktu yang berbeda-beda. Dua di antaranya segera dimatikan oleh si pemasang alarm sebelum akhirnya ia tidur lagi. Saat alarm berbunyi untuk ketiga kalinya, barulah si pemasang alarm benar-benar terjaga dan baru sadar sepenuhnya. Sajak pagi hari sudah berganti. Tidak ada lagi burung-burung berkicau. Gedung-gedung tinggi tidak menyisakan pepohonan buat burung-burung bersarang. Burung-burung sudah bermigrasi entah ke mana bertahun-tahun yang lalu. Pohon-pohon yang ditanam sepanjang tepian jalan untuk mengurangi polusi atau di taman kota yang jumlahnya makin sedikit saja jelas tidak akan membuat betah burung-burung untuk tinggal di dahan-dahannya. Burung-burung akan jadi korban pertama polusi suara, di mana suara klakson, derum kendaraan bermotor, teriakan tukang parkir dan kenek angkot beradu menjadi satu. Burung-burung tak mungkin kerasan tinggal di kota. Mungkin mereka bermigrasi ke desa-desa, sementara orang-orang desa berurbanisasi ke kota-kota.

Sajak pagi hari adalah suara derum kendaraan bermotor, suara teriakan ibu membangunkan anaknya, pekik kaget saat seseorang menyadari dirinya terlambat bangun. Jika kesiangan dan telat masuk kantor, itu artinya uang makan siang akan dipotong atau bahkan hilang, tergantung berapa menit kamu telat tiba di kantor. Siapa juga yang sempat memperhatikan langit? Kecuali hujan turun, manusia-manusia modern mana sempat memperhatikan langit?

Penghiburan saya setiap kali memulai hari adalah secangkir kopi panas atau sekotak kopi siap minum yang saya ambil dari kulkas. Bukan udara pagi, sinar matahari, burung bernyanyi, embun di daun, atau langit yang biru cerah. Saya malah lebih mengapresiasi langit malam. Meski jarang, tapi kadang-kadang masih terlihat bintang. Rembulan lebih sering muncul. Kadang berbentuk sabit, kadang purnama. Kadang seekor kelelawar masih melintas, terbang naik-turun, tinggi-rendah, entah kebingungan atau kesepian. Terkadang terlihat kelip beberapa pesawat terbang membelah langit malam.

Bahkan sejak saya masih kecil pun, saya paling susah kalau disuruh bangun pagi. Sejak dulu, sajak pagi hari berarti menggeliat beberapa kali, memicingkan mata sebentar, lalu bersiap-siap untuk tidur lagi. Saya bukan manusia pagi. Memang ada kalanya bangun pagi tidak lagi menjadi masalah besar. Tapi, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar mengapresiasi pagi hari. Kecuali hujan turun, tidak ada yang puitis dari pagi hari.

Saya memang bukan manusia pagi; tapi saya tahu apa yang saya katakan ini benar. Sajak pagi hari sudah berganti. Bagi saya, alarm bunyi dan bersiap menikmati kopi. Apa sajak pagi harimu? 

Tidak ada komentar: