Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 08 April 2011

Review Film Buried

* Posting ini tag dari Jessie.

Film ini dibuka dengan siumannya Paul Steven Conroy (Ryan Reynolds) di sebuah peti. Setelah sempat kesulitan bernapas, batuk, dan mencoba membuka peti dengan memukulinya, Paul lalu menemukan korek api dan menyalakannya. Menyadari dirinya terkubur hidup-hidup di dalam peti mati, ia lalu berteriak dan memukul tutup peti. Setelah menyadari usahanya sia-sia, ia lalu membuka kain yang menyumbat mulutnya dan berteriak hingga suaranya parau. Berikutnya ia membuka ikatan di tangannya dengan paku yang menyembul di tutup peti, mencopot baju luarnya setelah sebelumnya meletakkan korek api di samping tubuhnya, lalu kembali mencoba membuka peti tempatnya terbaring. Saat menyadari usahanya gagal, ia pun menangis karena frustasi. 

Kepala Paul sempat terbentur tutup peti saat ponsel yang terkubur bersamanya tiba-tiba bergetar, lalu berhenti. Ia mencoba menelepon tapi tidak bisa mengingat nomornya. Ketika ia melihat dompetnya, ia tidak bisa menemukan nomor yang ingin ia hubungi. Dengan menggunakan sambungan internasional, Paul lalu mencoba menelepon 911 dan menceritakan pada petugas yang menjawab teleponnya bahwa ia adalah supir truk yang bekerja untuk CRT di Baqubah, Irak. Saat tengah konvoi, mendadak muncul orang-orang yang menembaki dirinya dan rekan-rekannya. Sayangnya 911 yang dihubungi Paul hanya bisa membantu di Ohio, tidak di negara lain.

Paul pun lekas mematikan sambungan telepon dan menghubungi isterinya, Linda. Sayangnya ia terhubung dengan mesin penjawab telepon. Ia lalu memberitahu Linda bahwa Provinsi Diyala telah diserang. Berikutnya ia mencoba menghubungi FBI di Chicago. Dengan pensil yang ia temukan terkubur bersamanya, ia menuliskan nomornya di tutup peti. Ia sempat bicara dengan Harris dan menceritakan situasinya. Bermula saat  anak-anak melempari batu ke arah truk yang dikendarai olehnya dan teman-temannya. Dari belakang rumah lalu muncul orang-orang yang menembaki mereka. Ia sempat pingsan karena lemparan batu dan saat tersadar ia ternyata dikubur hidup-hidup di sebuah peti tanpa mengetahui di mana ia dikuburkan. Paul lalu meminta FBI melacak lokasinya melalui GPS. Sayangnya sambungan telepon tiba-tiba terputus.

Tak ingin menyerah, Paul lalu menghubungi CRT (Crestin, Roland, and Thomas), perusahaan yang mempekerjakannya. Ia lalu disambungkan ke Alan Davenport, direktur personal di CRT. Ia baru sempat memberitahu namanya dan asalnya saat sambungan telepon kembali putus. Paul lalu berteriak dan menangis lagi karena putus asa dengan situasinya. Tak lama ia menerima telepon dari Jabir, orang yang menculiknya dan meminta tebusan lima juta dollar sebelum pukul sembilan malam. Jika tidak mendapatkan uangnya maka Jabir akan membiarkan Paul terkubur hidup-hidup hingga tewas tanpa ada yang menemukan keberadaannya. 

Paul lalu menelepon Donna Mitchell, teman isterinya. Karena putus asa, ia sempat berteriak pada Donna yang karena marah malah menutup teleponnya. Ia pun berusaha menenangkan diri dan minta maaf pada Donna yang lalu memberitahunya nomor telepon Departemen Luar Negeri. Setelah tersambung, ia lagi-lagi merasa frustasi setelah diminta menunggu sebelum akhirnya disambungkan dengan Rebecca Browning yang ternyata tidak bisa memberikan bantuan nyata dan hanya memberi nomor telepon Daniel Brenner, komandan yang menangani grup pekerja yang disandera di Irak yang menurut Rebecca telah dibentuk sejak tahun 2004. Setelah tersambung ke Brenner, ia lalu diminta untuk menghemat baterai ponselnya dan korek apinya selama bantuan belum tiba. 

Penculiknya lalu kembali menelepon bahwa waktunya tinggal tersisa dua jam dan empat menit. Ia lalu diminta untuk membuat video yang menyatakan bahwa dirinya tengah diculik. Paul lalu memberitahu Jabir bahwa tak seorang pun akan membayar tebusan sebesar lima juta dollar hanya untuk sopir truk seperti dirinya. Penculiknya lalu menurunkan uang tebusan ke satu juta dollar. Sesuai arahan Jabir, ia lalu menemukan senter, pisau lipat, dan catatan yang harus dibacanya dalam video yang harus dibuatnya. Setelah menelepon rumahnya dan mendengar suara Shane, anak laki-lakinya di mesin penjawab telepon, ia lalu mendapat kekuatan baru dan mencoba mempelajari situasinya. Ia lalu berhasil mencaritahu nomor ponselnya.

Saat Brenner kembali menelepon, Paul sempat berdebat dengannya karena ia tidak juga mendapat pertolongan. Brenner mencoba meyakinkan Paul bahwa situasi yang dialaminya bukan untuk pertama kalinya terjadi dan meski jumlah keberhasilan mereka menemukan sandera yang diculik kecil, tapi masih ada yang diselamatkan, misalnya saja kasus penculikan Mark White, mahasiswa kedokteran berusia 26 tahun yang diculik tiga minggu sebelumnya. Paul lalu menuliskan nama Mark White di tutup peti untuk memberinya harapan. Brenner lalu memintanya untuk mencoba rileks agar kadar oksigen yang ia hirup tidak cepat habis. Sayangnya ia tidak bisa menuruti saran Brenner karena berikutnya penculiknya menelepon lagi dan memaksanya untuk membuat video penculikannya dengan ponsel yang ia pegang. Paul kembali berteriak frustasi.

Ia lalu meraih pil penenang yang terkubur bersamanya dan menelannya. Setelah menelepon ibunya, Maryanne  di panti jompo, ia lalu menangis lagi dan mengabaikan telepon yang masuk. Berikutnya ia mendapat pesan berupa video penculikan teman kerjanya, Pamela Lutti yang tengah ditodong senjata. Paul pun panik dan memohon pada Jabir untuk tidak membunuh temannya. Berikutnya ia tidak lagi mendengarkan saran Brenner dan langsung membuat video penculikannya dan mengirimnya ke Jabir.

Seakan penderitaannya tak cukup, mendadak muncul seekor ular dari lubang di peti tempatnya terbaring. Paul pun membasahi ular itu dengan minuman beralkohol dari botol yang terkubur bersamanya dan membakarnya dengan korek api. Api yang menjalar hampir membakarnya juga. Beruntung ia bisa memadamkannya dengan pasir yang masuk ke peti matinya. Ia lalu kembali menelepon isterinya, tapi lagi-lagi terhubung dengan mesin penjawab telepon. Saat memutar ulang video yang dikirim Jabir, ternyata penculiknya menembak temannya, Pamela tepat di kepalanya. Paul pun muntah saat menyadari temannya tewas terbunuh.

Saat kembali bicara dengan Brenner, mereka kembali berdebat. Belakangan saat anak buah Brenner menjatuhkan bom di lokasi di dekat tempatnya terkubur, Paul hampir saja terkubur saat pasir memasuki peti matinya. Ia mencoba menghalangi pasir masuk dengan kain. Berikutnya ia menerima telepon dari Alan Davenport dari CRT yang menuduhnya terlibat affair dengan Pamela dan merekam pembicaraan mereka. CRT menganggap Paul tidak lagi bekerja untuk perusahaan mereka sejak waktu ia diculik dan menolak bertanggungjawab serta tidak akan membayar uang asuransi untuk keluarganya. Brenner lalu menelepon Paul lagi dan memberitahunya bahwa mereka belum berhasil melacak lokasi Paul dikubur.

Merasa tak akan ada pertolongan yang datang, Paul lalu merekam video dirinya. Ia membuat pesan untuk isterinya dan anaknya. Jabir lalu menelepon lagi dan mengancamnya akan menciderai keluarganya. Paul dengan panik segera menelepon isterinya dan memperingatkannya untuk tidak kembali ke rumah karena Jabir ternyata mengetahui alamat rumahnya. Ia terpaksa mengikuti kemauan Jabir dan melukai dirinya dan membuat video penculikan lagi agar pihak kedutaan bersedia memberikan uang tebusan. Ia sempat membayangkan dirinya diselamatkan dan sempat bicara dengan Brenner lagi dan isterinya. Ia mengira hampir diselamatkan dan meyakinkan isterinya bahwa ia akan segera pulang. Sayangnya di akhir film saat pasir masuk dari lubang di peti mati Paul, Brenner ternyata tidak menemukan peti mati tempat Paul dikubur, tapi peti mati tempat Mark White dikubur.

Film ini terasa unik karena sepanjang film Ryan Reynolds adalah satu-satunya aktor di film ini dengan peti matinya yang menjadi satu-satunya setting di film ini. Jika sebelumnya Reynolds lebih sering bermain dalam film bergenre komedi romantis seperti Definitely, Maybe (2008) atau The Proposal (2009), maka film ini menjadi sebuah peralihan bagi Reynolds yang seolah ingin memberi pernyataan bahwa ia bisa berakting serius juga. Meski begitu, film ini adalah salah satu film yang berpotensi besar membuat penontonnya depresi, terutama sekali jika Anda adalah jenis orang yang menyukai happy ending. Chris Sparling, penulis skenarionya mungkin adalah jenis orang yang pahit atau bosan dengan happy ending atau malah jenius. Saya tidak tahu. Saya cuma tahu bahwa film ini membuat saya depresi karena membuat Ryan Reynolds terkubur hidup-hidup.

* Gambar dipinjam dari Wikipedia.

Tidak ada komentar: