Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 01 April 2011

Dear Alf

Dear Alf,

Ini adalah untuk pertama kalinya aku menyebutkan dirimu. Tadinya kamu hanya terkubur di lubuk batinku yang terdalam. Tak kubiarkan sosokmu muncul di permukaan. Kamu hanya ada dalam ingatan dan lamunan. Tapi kuputuskan aku akan menuliskan tentang kamu, meski kamu tidak akan pernah membaca tulisanku ini dan tidak akan tahu apa yang kupikirkan dan rasakan tentang kamu.

Mulanya hadirmu, Alf tidak pernah terasa istimewa bagiku. Bagiku caramu bicara selalu membuatku tak sabar. Aku memang bukan orang yang sabar, Alf. Kamu selalu lamban. Aku tidak sabar menunggumu selesai bicara, menuntaskan maksud yang hendak kamu sampaikan, mengakhiri kalimatmu. Tapi bukan berarti aku tidak suka bicara padamu, Alf. Aku juga tidak keberatan jika kamu bicara berlama-lama. Kamu mungkin berpikir aku bukan pendengar yang baik. Aku seolah tak peduli pada kata-katamu. Kadang aku menunduk, kadang aku bicara pada orang lain, kadang aku sibuk dengan diriku sendiri. Tapi aku bukannya tak mendengar, Alf. Kalau kamu bicara padaku, hanya padaku saja, Alf, kamu akan dapatkan seluruh perhatianku. Tapi tentu saja hal ini tak pernah kuutarakan padamu. Hanya kuceritakan pada hatiku. Tidak pada siapa pun. Bahkan tidak pada sahabat terbaikku. Aku tidak ingin dia menggodaku jika kukatakan padanya apa yang kurasakan tentang kamu.

Bicaramu, Alf memang tidak gagap atau terbata-bata seperti Raja George VI dalam The King’s Speech yang diperankan dengan apik oleh Colin Firth. Tak heran film ini meraih beberapa penghargaan sekaligus di Academy Award. Aku tidak tahu apakah kamu suka film. Kita tidak pernah punya kesempatan bicara hingga sejauh itu. Oh, tapi dalam ladang fantasiku, Alf; tahukah kamu? Kita bicara panjang sekali dan lama.

Ingatkah kamu, Alf saat pertama kalinya kamu sadar bahwa aku ternyata menyimak bicaramu? Kamu sedikit terkejut karena kamu tak menyangka bahwa aku akan menanyakan sesuatu tentang pernyataan yang barusan kamu katakan. Sejak saat itu kamu sepertinya setengah berharap aku bertanya lagi padamu hingga kita punya kesempatan bicara. Sesuatu yang wajar dan biasa hingga orang-orang tak akan curiga jika kita menikmati pembicaraan kita.

Aku tidak tahu apakah itu yang kuharapkan atau memang begitulah yang kamu rasakan. Aku ingat kamu tersenyum, terlihat senang dan merasa surprise saat kamu menemukan aku di pesta sahabat kita. Kamu tidak mengira aku akan berada di sana. Kamu benar, Alf. Aku memang introvert dan tidak suka berada di kerumunan orang. Itu sebabnya aku tidak akan kamu temukan di antara kumpulan teman-teman kita yang sibuk bicara. 

Meski aku tidak balas tersenyum padamu, Alf, itu bukan karena aku tidak senang melihatmu. Aku senang melihat kamu dan senyummu. Terlebih aku tahu, sekali itu senyuman itu khusus kau tujukan padaku. Tapi aku memilih untuk tidak tersenyum, Alf karena aku tidak ingin seorang pun tahu apa yang kurasakan saat itu. Mungkin aku panik, Alf karena kemudian kamu duduk di sebelahku dan sepertinya kamu senang karena sahabat kita memilihkan bangku tepat di sebelahku. Hatiku gaduh, Alf. Aku tidak ingin seorang pun tahu. Itu sebabnya aku tidak membalas senyummu.

Aku juga diam-diam senang, Alf meski juga jengah, karena kali ini aku merasakan betapa dekatnya aku dan kamu. Saat salah satu sahabatku memintamu pindah bangku dan kamu terlihat agak jengkel, aku hampir yakin, Alf bahwa rasa itu kau pendam juga untukku. Tapi waktu berlalu, Alf dan kamu sibuk dengan duniamu. Aku juga sibuk dengan duniaku. Kita kini jarang bertemu. Keyakinanku rapuh, Alf. Mungkin senyum itu, sekalipun kau tujukan hanya padaku tidaklah seperti yang kupikirkan dulu.

Diam-diam kamu memutuskan membantuku. Hal yang kuhargai tapi juga membuatku dimusuhi teman-teman yang lain. Kau seolah menjadikan dirimu repot demi aku. Tidakkah kamu katakan pada mereka, Alf? Aku tidak pernah minta bantuanmu. Aku tidak bermaksud memanfaatkan kamu. Aku bisa mengurus diriku sendiri. 

Aku sadar bicaraku kadang membuatmu tertekan. Aku selalu mengharap jawaban dan reaksi yang cepat. Bukankah kau sendiri tahu aku memang tidak sabaran? Maaf, jika aku tanpa sadar membuatmu gusar. Saat kau tatap aku karena khawatir kegusaranmu membuatku tak senang, aku masih juga mengira bahwa kekhawatiranmu itu karena kamu memang peduli padaku. Buatku itu tidak cukup, Alf. Jika kamu peduli hanya pada perasaanku saja, Alf dan bukan pada perasaan orang lain juga, barulah kuyakini kamu memang diperuntukkan untukku. Tapi jika kau khawatirkan aku hanya karena kebaikanmu belaka. Aku tidak butuh itu, Alf. 

Aku masih mengingat betapa setiap hal yang bagiku tidak penting benar dan harusnya bisa kau sampaikan hanya dengan mengirim pesan ke ponselku, tapi kamu memutuskan untuk meneleponku. Lagi-lagi aku terganggu dengan cara bicaramu yang lamban. Belakangan aku curiga, jangan-jangan kamu memang sengaja berlama-lama? Tapi aku tidak menyadarinya saat itu. Jadi kujawab secepatnya dan kamu pun tidak berusaha bicara lebih lama. Jadi aku kecewa. Apa kamu juga kecewa? Atau ini lagi-lagi hanya aku yang tersesat di ladang fantasiku? Oh, Alf andai kamu tahu kuhabiskan malam-malamku dalam ladang fantasiku saat kamu dan aku bicara tidak lagi sebagai rekan belaka. Kamu bicara padaku, hanya padaku. Kamu peduli padaku, hanya padaku. Andai kita bisa tersesat bersama dalam ladang fantasiku dan kita tidak harus kembali pada realita.

Aku mengacaukan segalanya, Alf. Kita tidak lagi sering berjumpa. Aku hampir yakin kamu mencari aku. Apakah kamu akan mencari-cari alasan untuk menjumpaiku? Hanya menjumpaiku? Oh, ladang fantasiku, Alf membuat aku tidak bisa lagi menghadapi hari-hariku dengan efektif seperti sebelumnya. Aku tidak lagi mengerjakan apa-apa. Kuhabiskan waktuku hanya melamunkan kamu. Betapa bodoh! Betapa dungu! Sementara kamu mungkin hanya ramah padaku. Nyatanya kamu jenis orang yang ramah pada semua orang. Dan tadinya aku sempat mengira saat salah satu sahabatmu menyapaku dengan geli saat melihatku, kupikir kamu bercerita padanya bahwa diam-diam kau pendam rasa itu padaku, tak berani kau utarakan. Tololnya aku! Mungkin itu tak lebih dari ladang fantasiku yang sulur-sulur tanamannya menjerat dan memerangkapku, menipu, bahkan meracuni pikiranku.

Kucoba untuk tidak memikirkanmu, Alf tapi alangkah sukarnya. Aku masih juga terkenang akan hari-hari singkat yang pernah kita lalui bersama, meski hanya sepintas dan mungkin bagimu tiada artinya; seperti saat aku melintas di lobby dan kamu sedang melihat ke arah lain. Kupikir kau tak menyadari keberadaanku saat aku tidak menyapamu lebih dulu dan malah bicara pada yang lain. Ternyata tanpa melihatku, kamu tahu aku ada, dan kamu memilih menyapaku lebih dulu. Juga saat teman-teman mengajak kita makan malam bersama dan kamu tidak bisa memutuskan dengan cepat apakah akan mengiyakan tawaran mereka atau tidak. Begitu aku memprotes karena kamu masih juga berlama-lama memikirkannya, kamu serta-merta menyetujui dan tersenyum padaku. Mungkin kamu sadar betapa tak sabarnya aku dan kamu begitu saja setuju karena desakanku.

Aku masih mengingat setiap kali kamu tersenyum padaku seperti saat aku mempertanyakan pernyataan dan ide-idemu. Kamu seolah mengerti aku memang begitu. Aku mempertanyakan segala sesuatu dan semua orang. Kamu tidak tersinggung dan justru mengulas senyum tanpa sadar. Mungkin kamu menganggapku terlalu blak-blakan. 

Betapa senangnya aku saat kita akhirnya bisa bersua lagi, Alf. Terlebih kamu tersenyum lebih sering kali ini, seolah kamu gembira melihatku lagi. Seperti biasa kamu selalu menatapku dengan lembut, bicaramu pun penuh kelembutan, seolah aku boneka porselen yang bisa retak jika kau bersuara terlalu keras. Oh, jangan memperlakukanku demikian baik, Alf. Kamu membuatku makin sulit untuk tidak memikirkanmu. Meski begitu aku senang saat kamu seolah terlupa bahwa kita belum mengikat perjanjian macam apa pun. Kamu bicara seolah kamu memilikiku. 

Aku seorang feminis, Alf. Biasanya aku tak suka jika pria merasa memiliki wanitanya. Bagiku tiap individu adalah miliknya sendiri, bukan milik siapa pun. Tapi aku bahagia saat kamu tanpa sadar melarangku untuk mengerjakan hal lain selain menikmati kebersamaan kita yang selalu singkat. Kadang kamu juga keras kepala. Satu hal yang bagi orang lain mungkin mengganggu. Tapi di balik kelembutan sikapmu, kamu kukuh dalam pendirianmu dan kamu kadang tak ragu mendebat aku; meski selalu dibarengi oleh kelembutan yang tak pernah kau tanggalkan. Aku tidak serapuh itu, Alf. Bahkan saat kamu gusar pun, kemarahanmu tak pernah menakuti aku. Aku bahkan suka saat kamu tanpa sadar kehilangan rasa sabar. Sisi Alf yang ini jarang muncul, tapi sungguh Alf, aku menyukai segala hal tentangmu. Tidak melulu kebaikan dan kelembutanmu, tapi juga saat kamu tengah marah dan keras kepala. Kamu kadang merasa paling benar, tapi itu tidak membuatku balik membencimu. Bagiku kamu lucu dan sikapmu itu menggemaskan. Aku mengingat segala detil tentangmu dan menyimpannya dalam ingatan. 

Aku menyukai kepercayaan dirimu. Kamu memang hati-hati dan tidak pernah sembarangan, tapi kamu tidak kebingungan kapan harus bersikap tegas dan kapan harus melunak. Kamu tidak pernah ragu terhadap apa yang kamu anggap benar tapi aku senang saat kamu kadang bimbang saat bicara padaku, lagi-lagi kamu takut salah bicara dan melukai aku. Kau pilah kata-katamu jika kamu bermaksud mengoreksiku. Oh, Alf andai kita punya lebih banyak waktu untuk saling mengenal, kamu akan tahu bahwa aku bukanlah orang yang rentan terhadap kritik. Aku menyukai segala hal tentangmu, Alf hingga aku sangsi apakah akan ada sikap atau perkataanmu yang akan membuatku tersinggung atau terluka. Terlebih aku tahu, kamu selalu berusaha menjaga perasaanku. Bagaimana aku dapat menepis sosokmu jika kamu demikian melekat dalam ingatan? Mencoba untuk tidak memikirkanmu, Alf adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. 

Saat kukira akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari keberadaanmu yang demikian mempengaruhiku, kamu tiba-tiba muncul kembali, seolah kamu tidak mengijinkanku untuk melupakanmu. Apa kau tahu, Alf, aku telah beberapa kali mencoba menghindarimu, berusaha keras agar tidak bertemu kamu. Aku takut, Alf, jika ternyata tidak kau simpan rasa itu untukku dan kamu telah demikian memerangkapku dalam angan-angan semu, maka aku akan terluka. Aku tidak ingin terluka, Alf. Tahukah kamu, aku ingin sekali saja melalui hari tanpa harus berpikir tentang kamu? Nyatanya, kali ini kamu memutuskan untukku. Kamu tidak ingin aku berkata tidak terhadap keputusanmu. Kamu mencari aku dan aku memilih sembunyi. Mungkin aku bodoh, Alf. Aku ingin melihatmu lagi, tapi aku malah memutuskan untuk sebisa mungkin tidak bertemu denganmu. Aku tidak bisa memutuskan, apakah alasanmu mencari aku adalah untuk menawarkan persahabatan atau lebih dari itu? 

Mungkin aku salah menerka, tapi kurasa aku bukan satu-satunya yang menginginkanmu. Kupikir beberapa sahabat kita juga menyukaimu dan menginginkan kamu. Seorang dari mereka tidak lagi tersenyum padaku. Mungkin seperti diriku, mereka juga mengira kau pendam rasa itu untukku. Tidakkah kau sadari, Alf, betapa tidak beruntungnya aku? Aku belum tentu memiliki hatimu, tapi sahabatku telah balik membenciku gara-gara kamu? Jadi, menghindari dan melupakanmu, Alf adalah hal paling waras yang bisa kukerjakan. Kamu sungguh membuatku gusar. Jika tak kau simpan rasa itu untukku, Alf, kau tak perlu sebaik itu padaku! Kau tak perlu memberikan secuil perhatian pun padaku! Jangan tersenyum padaku! Jangan peduli tentangku! Jangan bersikap seolah kau berhak atasku! Jangan memutuskan sesuatu untukku! Jangan memaksaku untuk terus mengingat kamu! Sebaliknya, Alf, jika hatimu memang kau tujukan padaku, kamu seharusnya memberitahu aku. Jangan membuatku selalu bertanya-tanya! Jangan beri aku alasan untuk meragukanmu! Bukankah Alf yang kutahu adalah Alf yang percaya diri? Ke manakah Alf itu? Aku tahu kamu tidak gegabah, tapi aku juga tahu kalau kamu tidak dungu. Mungkin kamu juga meragukan hatiku karena aku seolah tak peduli padamu, tapi kau laki-laki, Alf. Kamu yang seharusnya mengambil inisiatif memberitahuku lebih dulu apa yang kamu rasakan tentangku. Kebaikanmu meracuniku, Alf. Tak lagi meracuni pikiranku saja, tapi juga meracuni hatiku. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus mempertanyakan sikapmu. Semua pertanyaan ini membuatku lelah, Alf, membunuhku perlahan-lahan.

Entah mengapa alam semesta seolah mengatur kita untuk terus bertemu. Di saat aku mencoba sembunyi, di saat kamu mencoba mencariku dan tidak menemukanku, kita malah tanpa sengaja berpapasan, meski cuma sepintas. Kamu terkesiap saat melihatku, tak mengira akan melihatku. Aku juga tak mengira akan bertemu kamu justru di saat kuputuskan untuk melupakanmu. Aku tidak percaya pada takdir, Alf. Mungkin ini cuma kebetulan. Meski begitu, kini aku mulai berpikir, mungkin manusia memang bisa membuat keputusan, tapi pada akhirnya akan terdampar juga pada kenyataan bahwa tak semua hal bisa berjalan sesuai perencanaan. Aku dan kamu ditetapkan untuk bertemu. Tak seorang pun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sampai saat itu tiba, Alf, aku tidak ingin gusar padamu. Kegusaran yang bodoh dan kekanakan . Aku juga tak ingin terus tinggal di ladang fantasiku. Aku tidak ingin lagi mencaritahu, apakah kamu memang untukku. Aku menyerahkannya pada waktu. Bila waktu berpihak padaku, mungkin ia akan segera membukakan rahasia hatimu padaku. Meski begitu, Alf adalah tugasmu untuk mencaritahu apakah aku memang untukmu.

8 komentar:

Anonim mengatakan...

kurang panjang cel, lebih kayak poet aja. tapi benar2 menyentuh! thump up!
-mimi-

air mengatakan...

Alf... oh, Alf... jangan bikin bingung dong.... ^^.

Selvia Lusman mengatakan...

@Mimi aka Fung2: Thanks sudah mau baca. Memang sengaja ngga mau panjang2, takut yang baca vomit. Hehe... @air aka Herny: Hehe... Now it's your turn to finish your fiction.

AB.SatriaTataka mengatakan...

who the hell is alf? ;)

wongmuntilan mengatakan...

Bagus... mengingatkan saya pada masa-masa SMA, hehe... ^^
'Alf' zaman saya SMA juga gitu deh, bahasa Italinya 'nganyelake', ala iya ala nggak. Pas kuliah, baru deh saya nyadar, bahwa saya cuma naksir si 'Alf' yang ada dalam pikiran saya, bukan 'Alf yang sebenernya. Setelah itu, ya nggak naksir lagi ^^
Nice writing Selvia, keep it up ^^

Selvia Lusman mengatakan...

@Anton: Hehe... Alf itu karakter alien di serial tv jaman dulu @Santi: Thanks. Ternyata ada juga yang suka cerpen ini :-)

Ronny Dee mengatakan...

Mencoba menyimak kisah yang membuat penasaran...:)

Selvia Lusman mengatakan...

@Ronny: Thanks sudah mau baca :-)