Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 22 Februari 2011

Review Film The Green Hornet

Film yang diadaptasi dari program radio, komik, dan film seri ini dibuka dengan scene Britt kecil yang dimarahi oleh ayahnya, James Reid (Tom Wilkinson) yang lalu memutus kepala mainan super hero kesukaannya. Scene lalu berganti ke masa saat Britt (Seth Rogen) dewasa yang senang berpesta terkejut saat mengetahui ayahnya meninggal karena sengatan lebah. Britt yang sejak kecil tidak dekat dengan ayahnya merasa kesal karena di tempat ayahnya dimakamkan dibangun patung besar berbentuk ayahnya yang sedang berdiri. Britt langsung memecat semua orang yang bekerja dengan ayahnya, tapi saat ia bangun dan kopi kesukaannya ternyata berubah menjadi kopi yang tidak enak untuk diminum, Britt pun berubah pikiran dan mempekerjakan lagi Kato (Jay Chou).

Kato adalah bawahan ayahnya selama masih hidup. Ia yang merancang mesin pembuat kopi, sehingga setiap pagi Britt dan ayahnya biasa minum kopi dari mesin pembuat kopi yang didesain Kato, lengkap dengan hiasan daun mint dari susu di permukaan kopinya. Tidak hanya itu, Kato yang ternyata jenius juga merancang mobil untuk ayahnya yang tidak saja tahan peluru, tapi permukaan kaca yang tertembak bisa kembali utuh tanpa guratan. Kato juga membuat ban mobil yang kempes setelah tertembak bisa utuh kembali.

Britt dan Kato pun segera menjadi teman akrab karena keduanya tidak menyukai James, ayah Britt. Mereka lalu bermaksud membalas dendam; maka Britt dan Kato pun pergi ke kuburan James dan mencuri kepala patungnya. Kato menunggu di mobil sementara Britt yang saat akan masuk ke dalam mobil melihat berandalan yang mengganggu orang tergerak untuk membantu. Sayangnya karena Britt memang bukan super hero, ia malah dikeroyok. Beruntung Kato segera menolongnya. Mereka lalu melarikan diri sementara di belakang mereka polisi mengejar dengan mobil. Kato lalu memakai teknologi di mobil yang ia kendarai untuk menyingkirkan mobil polisi dari jalan hingga terbalik.

Britt yang mewarisi koran The Daily Sentinel lalu mempekerjakan Lenore Case (Cameron Diaz) untuk melakukan riset seputar kejahatan di kota itu. Britt juga memakai korannya untuk menulis tentang dirinya yang menyamar sebagai The Green Hornet, nama ini adalah usulan dari Kato. Sebelumnya Britt mengusulkan The Green Bee karena ayahnya meninggal disengat lebah. Berhubung nama ini dianggap payah, maka gambar lebah berwarna hijau hanya dijadikan icon tokoh penjahat ini.

Sesuai hasil riset dari Lenore, mereka lalu membunuh para pengedar narkoba dan meledakkan laboratorium tempat narkoba itu dibuat. Perbuatan mereka pun mengusik Benjamin Chudnofsky (Christoph Waltz), mafia Rusia yang berang karena usahanya memproduksi narkoba dipersulit oleh The Green Hornet. Chudnofsky yang lalu berganti nama menjadi Bloodnofsky untuk menakuti musuh-musuhnya menjebak The Green Hornet dan Kato sehingga mobil mereka dikubur di dalam tanah. Beruntung teknologi yang diciptakan Kato membuat mereka selamat. Bloodnofsky juga mengirim banyak utusannya untuk mengacau dan membunuhi orang-orang yang tidak bersalah dan mengkambinghitamkan The Green Hornet. 

Belakangan Britt baru mengetahui bahwa ayahnya ternyata tidak seburuk yang ia kira. Ayahnya dibunuh oleh jaksa wilayah Frank Scanlon (David Harbour) karena mengetahui skandal kejahatan yang dilakukan Scanlon dan bukan karena disengat lebah. The Green Hornet pun diburu oleh dua pihak: Bloodnofsky dan kroninya dan polisi yang dikerahkan Scanlon. Di akhir cerita The Green Hornet dan Kato berhasil membunuh Bloodnofsky dan Scanlon sekaligus. Bahkan untuk mempertahankan popularitas The Green Hornet, Britt meminta Kato untuk berpura-pura ingin membunuhnya saat konferensi pers digelar.

Khas film yang diadaptasi dari komik, scene action di film ini terasa sangat komik. Jadi jangan heran jika film ini terasa tidak masuk akal. Misalnya saja scene saat mobil yang ditumpangi The Green Hornet dan Kato meluncur jatuh dari gedung bertingkat, mobil itu bisa disulap menjadi bangku yang dilengkapi parasut, sehingga mereka bisa selamat. Jika Anda bukan pecinta komik, saya tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini. Mungkin Anda akan mengerutkan dahi di sepanjang film. Dari sisi komedi, film ini juga tidak lucu. Sisi parodi yang coba ditampilkan terasa kabur karena tertutup tingkah The Green Hornet dan Kato yang sangat komik. Ya, yang saya maksud dengan sangat komik adalah sangat tidak masuk akal.

* Gambar dipinjam dari Wikipedia.

2 komentar:

AB.SatriaTataka mengatakan...

Buat gw, trade mark setiap film green hornet identik (mustinya) dengan jagoan yang bisa bergerak lebih cepat dari siapapun, terutama pada adegan fights. Walo dalam keadaan di slow-motion kan ia tetap bergerak melebihi kecepatan gerak siapapun, Ini ciri khas green hornet.

Selvia Lusman mengatakan...

@Anton: Wah, baru tahu. Maklum baru kali ini nonton The Green Hornet, belum pernah nonton versi2 terdahulunya.