Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 31 Januari 2011

32, But Still Feels Like 23

Hari ini saya berulang tahun ke-32. Ya, saya menyebutkan usia saya tanpa ragu. Tidak seperti sebagian orang yang memilih untuk menyembunyikan atau bahkan berbohong tentang umur mereka, saya lebih suka menjawab apa adanya. Ini tidak ada hubungannya dengan slogan “30 is the new 20” atau “Bagi wanita, 30 adalah 17 tahun yang kedua”, tapi lebih ke rasa syukur karena saya masih hidup. Tidak semua orang berhasil hidup lebih lama. Dua dari sepupu saya meninggal sebelum sempat melewati seperempat abad. Eks murid saya malah meninggal baru-baru ini sebelum melewati ulang tahunnya yang ke-17. Sebab itu, saya benar merasa beruntung masih bisa mencapai usia 32 tahun.

Sesuai judul postingan ini dan memang begitu adanya, saya memang masih merasa seperti 23 tahun. Bukan karena saya menolak untuk dianggap tua atau karena ingin terus menjalani hidup seperti saat berusia 23, tapi karena saat saya tilik kembali; saya hari ini ternyata masih sama dengan saya yang dulu saat masih berusia 23.

Pada usia 23, saya adalah pecinta film. Lucunya sebagian besar keputusan yang saya buat dalam hidup saya juga berhubungan dengan film yang saya tonton, entah benar atau tidak yang saya putuskan itu. Beberapa tahun sebelumnya, saat saya baru lulus SMU, saya sempat membuat orang tua saya (terutama ibu saya) pusing dengan pilihan jurusan yang ingin saya ambil saat memutuskan akan kuliah. Saya ingin mengambil sastera Spanyol (meski saya juga tidak tahu apakah ada jurusan seperti itu), karena yang jamak diambil orang biasanya adalah sastera Inggris. Ini karena saya terpengaruh novel yang saya baca, Butir-butir Waktu karangan Sidney Sheldon. Pada waktu itu saya berpikir, setelah lulus kuliah, saya akan bekerja di kedutaan sebagai penerjemah dan saya membayangkan diri saya akan menjadi sama kerennya dengan Nicole Kidman dalam film The Interpreter (2005). Untungnya pilihan saya langsung ditolak mentah-mentah oleh ibu saya. Kalau ditimbang-timbang lagi, jika saya benar memilih jurusan sastera Spanyol, saya mungkin akan menghabiskan tahun-tahun hidup saya untuk bekerja sebagai penerjemah script telenovela. Bukan berarti penerjemah script tidak cukup keren, hanya saja itu pilihan pekerjaan yang sepertinya tidak akan saya sukai. Maka setelah episode-episode kabur dalam hidup saya, saya malah memilih program diploma yang berhubungan dengan komputer. Tadinya saya malah mengira itu semacam kursus komputer belaka dan baru sadar setelah diharuskan membuat skripsi. Ya, saya memang bukan Angela Bennett, karakter yang dimainkan Sandra Bullock dalam The Net (1995). Bagaimana pun, bab itu sudah usai.

Pada usia 23, ibu saya mengharapkan saya bekerja di kantor seperti layaknya teman-teman saya. Beberapa kali mencoba menyenangkan ibu saya, saya memang berhasil diterima bekerja di kantor, tapi paling lama hanya sebulan saja. Bahkan sebelum melewati tiga bulan masa percobaan, saya sudah merasa tidak betah dan langsung mengundurkan diri dari pekerjaan yang tidak saya sukai. Saya harus melewati fase introspeksi yang sangat panjang dan baru menyadari bahwa saya memang tidak suka bekerja di balik meja. 

Saat mengingat-ingat lagi apa yang ingin saya lakukan sejak dulu, saya ternyata masih ingin menjadi guru. Masalahnya, saya tidak suka bangun pagi dan lebih suka memakai t-shirt dan jeans. Setahu saya semua guru biasanya harus memakai setelan resmi jika sedang mengajar di kelas. Untunglah salah satu teman saya menginformasikan lowongan sebagai guru di bimbingan belajar tempatnya bekerja. Jam kerja saya dimulai di siang hari dan persyaratan yang diperlukan tidak mengharuskan saya berpakaian resmi. Maka jadilah saya guru, sesuai dengan cita-cita saya sejak masih Taman Kanak-kanak. 

Cita-cita ini memang bermula saat saya masih berusia lima tahun. Satu dari antara tiga orang guru saya yang bernama Bu Maria memang merupakan guru paling sabar yang pernah saya kenal. Lalu saat SMP, Pak Daniel, guru PMP saya bercerita bahwa dia adalah satu-satunya di antara teman sekelasnya yang bercita-cita menjadi guru. Tanpa menghiraukan asumsi kebanyakan orang bahwa memilih bekerja sebagai guru tidak memberikan jaminan masa depan karena gaji yang rendah, ia memilih menjalani cita-citanya. Terinspirasi dari dua guru saya itu, saya juga memilih menjalani cita-cita saya meski beberapa teman saya menganggap saya menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi lebih sejahtera. Menurut mereka, profesi guru tidak memberikan kesempatan untuk menjadi kaya.

Setelah lebih dari satu windu berlalu, saya sadar saya bukanlah Erin Gruwell dalam Freedom Writers (2007) atau Ron Clark dalam The Ron Clark Story (TV 2006). Saya merasa inilah saatnya untuk beralih profesi. Meski belum jelas apa yang ingin saya lakukan berikutnya, tapi saya berharap bisa mengerjakan sesuatu yang memang saya sukai, mungkin yang ada hubungannya dengan hobi menulis saya. Seperti saat saya berusia 23, sekarang pun orang mengerutkan alis. Dari pekerjaan yang setidaknya memberikan pendapatan yang sudah jelas setiap bulannya, saya ingin melakukan hal lain yang sama sekali baru, dan lagi-lagi tanpa jaminan di masa depan dan finansial yang memadai. Sama seperti dulu, sulit bagi saya untuk menjelaskan apa yang berada di benak saya dengan mengandalkan plot Office Space (1999) sebagai analogi, kini pun sukar bagi saya membuat orang-orang di sekeliling saya mengerti. Meski begitu, sepuluh tahun dari sekarang, saya berharap bertambahnya usia tidak mengubah saya. Ya, saya cenderung idealis ketimbang realis. Ya, saya pemimpi! Tapi saya menjalani hidup dengan mengusahakan agar mimpi saya terwujud. Jadi, dulu atau pun sekarang, tidak akan ada penyesalan.

* Gambar dipinjam dari sini.

7 komentar:

rezKY p-RA-tama mengatakan...

wah,,,
semoga aja awet muda selalu
heheh

Theresia Hutapea mengatakan...

hepi bisssdaaeee!! hehe...may all of ur dream come true :D Gbu abundantly!

Selvia Lusman mengatakan...

@Rezky: Ya, saya mau ikutan Jack Sparrow cari youth of fountain biar awet muda. Hehe... @Echa: Thanks. May all of Echa's dreams come true too. Gbu too :-)

merry go round mengatakan...

Maaf telaaatt...
Tapi happy belated birthday yaaa :)

Semoga semua harapan dan cita-cita Selvia dapat terwujud. Amiiinn...

Hehehee, salut juga dengan pengalaman usia 23 Selvia yang sangat dipengaruhi film. Kalau saya mungkin lebih terpengaruh oleh lagu ;)

Grace Receiver mengatakan...

@Rossa: Thanks. Semoga semua harapan dan cita-cita kamu juga terwujud. Amin.

~ jessie ~ mengatakan...

Waaa...happy (belated) birthday, Selvia! Rupa-rupanya hari ultah kita cuma selisih 7 hari sajahhh...
Senang sekali bisa jadi pemimpi! ;)

Selvia Lusman mengatakan...

@Jessie: Thanks. Jadi kamu lahir 7 Pebruari? Happy belated Birthday to you too.