Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 06 Agustus 2010

Paul Haggis, Robert Moresco dan Crash

Sebuah film untuk dapat diwujudkan sebagai karya yang siap dinikmati oleh penonton, pertama-tama memerlukan script atau skenario. Meski peran penulis script berjasa sekali dalam pembuatan sebuah film, tapi kadang kita lebih fokus pada aktor dan aktris yang memerankan scene demi scene dalam film daripada orang-orang di balik layar yang kerap terlupakan. Padahal tanpa adanya penulis script, mustahil sebuah film dapat diproduksi. Berikut adalah scene kesukaan saya dalam film Crash dan orang-orang yang berjasa menciptakan script-nya: 

Crash (2004) oleh Paul Haggis dan Robert Moresco.  
Saya merasa film ini adalah satu dari segelintir film yang berbicara tentang rasisme dengan pengungkapan paling jujur dan tidak cengeng. Saya juga menyukai The Pianist yang bicara tentang bagaimana orang-orang Yahudi mengalami diskriminasi selama perang, tapi Crash menjadi istimewa (buat saya) karena bertutur dengan lugas bahwa diakui atau pun tidak, setiap orang pasti punya sedikit perasaan rasis di dalam dirinya. Mungkin tidak seekstrim klux klux klan terhadap kulit hitam atau Al Qaeda terhadap kulit putih, tapi di dalam diri manusia pasti punya perasaan rasis meski cuma sedikit. Contoh yang paling mudah, kita mungkin merasa lebih mudah akrab dengan orang yang segolongan dengan kita. Orang Jawa dengan orang yang juga bisa berbahasa Jawa, sesama orang Batak mungkin merasakan kebersamaan saat menggunakan kata horas dan lain sebagainya. Kadang nasionalisme pun mungkin merupakan perpanjangan tangan dari rasisme. Garis antara nasionalisme dan rasisme kadang terasa sangat samar. Tapi film ini tidak bermaksud menggurui, hanya menyingkapkan dengan apa adanya, bahwa manusia yang tadinya mengira dirinya bukan rasis, pada kenyataannya secara mental dan pola berpikir ia sebenarnya rasis, dan orang yang tadinya rasis pada akhirnya merubah cara pandangnya, karena sebenarnya di mata Tuhan, semua manusia sama derajatnya. Manusia saja yang menciptakan strata dan merasa lebih eksklusif di banding manusia lainnya. 

Berikut bagian cerita yang menurut saya sangat menyentuh dari film ini:
  • Scene saat Daniel bercerita pada anaknya, Lara bahwa ia memiliki jubah tak terlihat yang membuatnya kebal terhadap peluru untuk membuat Lara tidak lagi ketakutan. Daniel dan keluarganya memang tinggal di daerah yang rawan kejahatan. Lara baru saja mendengar suara tembakan dan ia bersembunyi di bawah tempat tidur. Daniel berpura-pura memakaikan jubah anti peluru yang tak terlihat kepada Lara. Daniel sempat mendapat panggilan untuk memperbaiki pintu di toko milik Farhad, orang Persia yang mengalami aksi rasisme setelah kejadian 911. Pintu di toko Farhad mendapat grafiti berbau rasisme. Daniel menyarankan Farhad untuk mengganti pintunya, tapi Farhad menolak. Saat toko milik Farhad dirusak dan asuransi menolak memberi ganti rugi, Farhad lalu bermaksud menembak Daniel. Lara yang mengetahui ayahnya tidak memakai "jubah anti peluru" lalu bermaksud menolong ayahnya dengan menerjang peluru. Lara tidak terluka karena peluru yang ada di dalam pistol Farhad memang peluru kosong. Sebelumnya Farhad meminta Dori, anak perempuannya untuk membeli pistol untuk keamanan tapi Dori sengaja memilih peluru kosong tanpa sepengetahuan ayahnya. Baik Daniel maupun Farhad tidak tahu bahwa peluru di pistol Farhad adalah peluru kosong. Melihat Lara tidak terluka, Daniel dan Farhad pun terpulihkan imannya karena mengira kejadian itu adalah keajaiban.   
  • Scene saat polisi bernama John Ryan menolong wanita kulit hitam bernama Christine. Beberapa waktu sebelumnya Ryan menghentikan mobil yang ditumpangi Christine dan suaminya, Cameron saat mereka pulang dari sebuah pesta. Saat pemeriksaan, Ryan sengaja melecehkan Christine sebagai pelampiasan kemarahannya karena ayahnya yang sakit-sakitan tidak ditangani dengan serius perawatannya dan kebetulan orang yang menangani perawatan ayahnya juga wanita berkulit hitam. Christine yang terjepit di bawah mobilnya saat mengalami kecelakaan menolak untuk ditolong setelah mengenali Ryan sebagai oknum polisi yang pernah melecehkannya. Ryan yang merasa menyesal mencoba meyakinkan Christine bahwa ia benar-benar berniat menolongnya dan Christine akhirnya berhasil diselamatkan sebelum mobilnya meledak.
Sebenarnya masih ada beberapa scene yang saya sukai, tapi akan lebih mengasyikkan untuk menonton langsung filmnya daripada membaca potongan plot di tulisan ini, jadi saya akan langsung membicarakan kedua orang yang menulis script-nya:


Robert Moresco (kiri) dan Paul Haggis (kanan) saat menerima penghargaan.


Paul Haggis
Paul Haggis lahir pada 10 Maret 1953 di London, Ontario, Kanada, anak dari Edward H. Haggis dan Mary Yvonne. Istrinya bernama Deborah Rennard , aktris sekaligus penyanyi. Paul memulai kariernya sebagai penulis untuk program televisi, di antaranya The Love Boat, One Day at A Time, Diff'rent Strokes, dan The Facts of life. Lewat The Facts of life, Haggis memulai debutnya sebagai produser. Haggis juga menjadi eksekutif produser di serial Michael Hayes dan Family Law. Haggis membaca dua buah cerita pendek yang ditulis oleh Jerry Boyd. Tertarik dengan cerita pendek yang dibacanya, Haggis lalu mengubahnya menjadi skenario film Million Dollar Baby. Film ini menerima empat penghargaan di Academy Award. Baca biografi Paul Haggis selengkapnya di sini.


Robert Moresco
Robert Moresco juga dikenal dengan nama Bobby Moresco, Bob Moresco, dan Nathaniel Ryan. Saya kesulitan mencari biografi dari Robert Moresco, tapi silakan baca sisi lain dari seorang Bobby Moresco di sini.

* Gambar dipinjam dari sini.

7 komentar:

Yudie mengatakan...

nice info..!

salam..

Grace Receiver mengatakan...

@Yudie: Thanks atas kunjungannya :-)

usagi mengatakan...

hai grace
have a nice weekend...
aku belum pernah nonton ....
bisa jadi referensi buat tontonan di akhir pekan..

wongmuntilan mengatakan...

Selvia (sekarang udah tahu namanya bukan Grace, hehe...), I also love this movie... four thumbs up pokoknya... !!! Kadang film yang menang Oscar aneh-aneh, tapi film ini memang beneran layak dapet Oscar ^^

Grace Receiver mengatakan...

@usagi: Selamat nonton. @Santi: Setuju banget. Akting Brendan Fraser juga lumayan padahal kalau dilihat aktingnya di George of The Jungle ngga nyangka Fraser bisa berakting serius juga. Hehe..

alice in wonderland mengatakan...

halo... maaf baru bisa berkunjung sekarang. oya, ini film lama ya, masih ada gak ya vcd-nya. Btw, aku paling seneng film "jujur" kayak gini, daripada mengaku tidak rasis tapi sebenernya rasis. Tampaknya kita udah gak bisa bicara nasionalisme pada perayaan tgl 17 agustus nanti karena menurutku toleransi terhadap perbedaan menjadi hal yang langka.

Grace Receiver mengatakan...

@Alice: Sorry juga moderasi komentarnya lama. Baru sekarang sempat buka blogger. Crash film lama jadi seharusnya sih sudah ada VCD-nya. Met nonton.