Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 17 Juli 2010

Some Comfort

Dua minggu ini saya sakit flu agak parah dan akibat pengaruh obat flu yang saya minum, saya memang tidak lagi sakit kepala tapi tubuh saya jadi terasa seringan kapas dan saya berjalan seperti tidak menapak di tanah sehingga membuat saya merasa seperti arwah (setidaknya yang saya ketahui dari film Casper, arwah tidak menapak di tanah tapi melayang ringan seperti dandelion). Pada hari Jumat malam minggu lalu, masih dengan perasaan seperti arwah, saya menemani ibu saya menghadiri undangan makan malam dari seorang temannya yang berulangtahun ke-60. 
 
 Beberapa minggu ini saya merasa seringan dandelion

Sebenarnya saya malas menemani ibu saya tapi nada suaranya yang penuh harap membuat saya tidak sampai hati untuk menolak. Saya teringat bagaimana ibu saya biasanya memberikan saya rasa nyaman dan aman di saat saya memerlukannya. Jadi kalau saya bisa memberinya sedikit rasa nyaman dengan menemaninya ke undangan, saya akan melakukannya. 
 
Saya tadinya agak heran kenapa ibu memilih untuk mengajak saya tapi saya tidak bertanya lebih jauh. Saya asumsikan jika orang sudah mencapai umur melebihi setengah abad, orang tidak lagi memamerkan pasangan, jabatan, atau perhiasan tapi anak cucu. Dugaan saya ini sepertinya benar. Begitu tiba ibu saya langsung mengenalkan saya pada temannya dan tamu-tamu lain yang hadir juga memperkenalkan anak dan cucunya.
 
Saya dan ibu ditempatkan satu meja dengan dua orang keluarga. Saya tidak mengenal satu orang pun yang datang dan saya mulai merasa tertekan karena dua orang ibu setengah baya yang duduk satu meja dengan kami mengingatkan saya akan nenek Maude dalam novel Falling Angels karangan Tracy Chevalier yang oleh Maude dia gambarkan sebagai orang yang "berwajah masam seperti baru menelan tulang ikan". Dua orang ibu tersebut dalam persepsi saya memang berwajah masam seperti baru menelan tulang ikan, sementara anak-anak mereka (sepertinya yang mereka ajak adalah anak bungsu mereka karena usianya yang masih remaja) terlihat merengut seperti marmut kekenyangan wortel. Mungkin diam-diam mereka juga merasa tidak nyaman?

Ibu saya mencoba mengobrol dengan keluarga yang duduk di sebelah kanannya, sedang saya mati gaya. Jujur saja saya risih. Wanita setengah baya yang duduk di dekat saya itu memakai kaus you can see yang memperlihatkan sebagian dadanya. Saya menunduk terus dan ketika leher saya pegal, saya mendongak menatap langit-langit dan dinding sambil berusaha agar saya jangan sampai salah melihat ke arah (dada)nya lagi. Acara makan malam itu rasanya berlangsung berabad-abad. Sialnya itu bukan makan prasmanan tapi makan meja dan kami (terutama saya) harus menunggu hingga desert disajikan, baru bisa berpamitan, lengkap dengan frase klise bahwa "malam sudah larut".
 
Sampai di rumah, salah satu teman "drama queen" saya menelepon. Saya belum benar-benar sembuh dari flu dan baru saja melewati acara makan malam yang menekan perasaan; saat dia mengeluhkan tetangganya yang melakukan hajatan dan "berisik" hingga larut malam, saya masih bisa menimpali bahwa sebagian orang memang tidak punya cukup uang untuk menyewa gedung untuk melangsungkan acara (entah itu pernikahan atau acara syukuran). Usaha saya untuk membuatnya berempati pada orang-orang dengan budget pas-pasan tidak berhasil. Ia tetap menyalahkan tetangganya yang menurutnya tidak tahu aturan. Saya malas mendebat tapi dalam hati cukup kesal. Hanya karena saya sering insomnia, ia lalu menjadikan saya referensi sebagai orang yang perlu dihubungi saat dia tidak bisa tidur? Tiba-tiba saya teringat Vlad Tepes yang suka menyula rakyatnya dalam novel The Historian karangan Elizabeth Kostova. Kalau Vlad punya teman, akankah ia menyula temannya yang menurutnya menjengkelkan?

Saya membiarkan dia bicara melantur, dari mulai anaknya, suaminya, hingga ke topik yang paling saya benci: nasihat finansial tentang pentingnya menabung. Saya rasa semua orang juga tahu pentingnya menabung, tapi tidak berarti semua orang memiliki hobi menabung. Saat dia mulai menguliahi saya tentang manfaat menabung, lalu menyuruh saya untuk berhemat dan baik-baik menyimpan uang, mendadak saya jadi gusar. Kalau saya mendengarkannya di saat siang hari dan kondisi tubuh yang sehat, saya mungkin tidak ambil pusing. Tapi pada pukul sebelas malam dan saat saya belum sembuh dari flu, saya akhirnya meradang dan mengatakan padanya bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan dan tidak ada gunanya terlalu materialistis dan menitikberatkan segala sesuatunya pada uang. Setelah itu giliran saya yang melantur ke kasus Bank Century. Saya juga mengutip perkataan Kimi Raikkonen bahwa uang hanya membuat segala sesuatunya lebih mudah, tapi tidak menjamin kebahagiaan (saya tidak ingat apakah saya mengucapkannya di pikiran saya atau benar-benar mengulangi perkataan Kimi untuknya). Saya cuma ingat saya merasa kesal karena nada bicaranya seolah menuduh saya seorang shopaholic padahal saya tidak punya masalah keuangan seberat Rebecca Bloomwood dalam Confession of A Shopaholic.
 
Setelah perbincangan bodoh itu usai, saya jadi berpikir betapa anehnya cara manusia untuk mendapatkan rasa nyaman. Ibu saya mengharapkan sedikit rasa nyaman dengan meminta saya menemaninya ke acara makan malam, tapi saya justru kehilangan rasa nyaman selama acara tersebut. Teman saya yang tidak bisa tidur karena tetangganya yang berisik menelepon saya dan berharap mendapatkan sedikit rasa nyaman untuk melupakan kejengkelannya dan saya justru merasa kesal karena dia bicara tentang menyimpan uang. 

Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi hal-hal yang membuat saya nyaman justru berasal dari hal-hal kecil: secangkir kopi panas di saat hujan lebat dan suhu udara jadi agak dingin, bermain dengan anjing saya, membaca berita bahwa Kimi Raikkonen finish dengan poin, menangis bersama sahabat saya saat menonton film Hachiko atau tertawa bersamanya saat mencerna dialog film komedi, semua hal-hal sederhana dan menggelikan; bukan tabungan di bank, bukan pula anak sebagai jaminan ada yang mengurus saat hari tua. Saya tahu saya memang menggelikan, tapi pada dasarnya saya hanya ingin menyederhanakan beberapa hal di dalam hidup. Terlalu banyak ekspetasi bisa mencuil rasa nyaman dan saya tidak ingin itu terjadi pada saya.

* Gambar dipinjam dari sini.

7 komentar:

mylitleusagi mengatakan...

yipho...
nyaman di mata saya adalah..
pake jacket hijau,sepatu kets hijau,..duduk sendirian di jendela biskota, pasang headset,..dan membiarkan pikiran saya terbang jauh..(^_^)
best moment dah..

Grace Receiver mengatakan...

@mylitleusagi: Hehe... Warna kesukaan kamu pasti warna hijau ya?

alice in wonderland mengatakan...

nyaman? hujan deras, segelas teh panas, cemilan, dan sebuah film^^

Fanda mengatakan...

Hehe...lagi suntuk ya?
Tapi memang rasa nyaman bagi tiap orang beda2. Kalo mereka orang2 yg kita cintai, mungkin perlu sesekali berkorban perasaan agar membuat mereka nyaman. Asal jangan kita dijadiin waste-bin terus2an sih...hehehe...
Kalo dipikir2, mungkin cara kita mencari rasa aman juga menjengkelkan mereka. Saat mereka pengen ngobrol denganmu misalnya, eh kamu lagi asyik browsing berita ttg Kimi!

Btw, kok ga ada Kimi lagi di templatemu??

air mengatakan...

he2 hari paling menyebalkan, ya...?^^ Tapi kalo ketelek duri ikan pasti sangat menderita deh, coz gue paling sering ketelek duri ikan, he2.

Grace Receiver mengatakan...

@Alice: Hehe... Nonton film sambil nyemil memang asyik, tapi ngga harus nunggu hujan kan? @Fanda: Ya nih foto Kimi ngga saya pasang lagi. Belum ketemu foto yang ukurannya pas buat dipasang di header.

Grace Receiver mengatakan...

@Herny: Hehe... Ketelek tulang ikan memang paling ngga enak. Makanya kalo makan ikan, tulangnya jangan ditelen juga donk. Haha...