Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 05 Juli 2010

Atonement Make Me Guilty

Pada hari Sabtu lalu saya menonton film lama berjudul Atonement. Film ini mengisahkan seorang novelis bernama Briony yang baru saja menyelesaikan novelnya yang ke-21 yang diberi judul Atonement. Ini adalah buku terakhirnya. Sejak terkena stroke dan kini tengah sekarat maka tidak mungkin buatnya untuk terus menulis. Di dalam bukunya Briony menceritakan tentang kakak perempuannya yang bernama Cecilia dan kekasihnya, Robbie yang tidak pernah bisa berkumpul lagi dan menikah seperti harapan mereka, karena baik Robbie maupun Cecilia meninggal selama perang dunia II. Briony merasa berhutang untuk membuat ending bahagia bagi kedua orang yang dicintainya itu. Jika dalam kehidupan nyata Cecilia dan Robbie tidak bisa memiliki akhir bahagia, maka di dalam bukunya, Briony sengaja memberi ending bahagia untuk Cecilia dan Robbie. Dalam kenyataan sebenarnya Robbie meninggal di Dunkirk pada 1 Juni 1940, satu hari sebelum evakuasi, sedang Cecilia meninggal pada 15 Oktober 1940 saat Jerman membom bendungan. Cecilia dan pengungsi lainnya meninggal karena tenggelam.

Briony sebenarnya merasa bersalah karena di awal masa remajanya ia memang sempat mencintai Robbie, tapi saat memergoki Cecilia dan Robbie tengah memadu kasih di perpustakaan, Briony yang terkejut lalu menuduh Robbie menodai sepupunya, Lola padahal yang menodai Lola bukan Robbie. Akhirnya Robbie pun dipenjara selama empat tahun. Setelah itu Robbie pergi berperang dan hanya sempat bertemu Cecilia lagi sebanyak satu kali dan dalam keadaan tergesa-gesa. Cecilia memberinya kartu pos bergambar rumah impian mereka yang akan mereka tempati setelah Robbie kembali dari perang dan menikahinya. Sayangnya hal itu tidak pernah terwujud.

Pada mulanya, saya membenci karakter Briony karena telah membuat Cecilia dan Robbie jadi tidak bisa bersatu. Tapi saat menelusuri lagi perasaan Briony dan kebingungannya antara perasaannya sendiri dengan persepsi kanak-kanaknya saat melihat pertengkaran Cecilia dan Robbie di depan air mancur dari jendela kamarnya, bagaimana ia keliru menafsirkan chemistry terpendam antara Cecilia dan Robbie, serta perasaan bersalahnya yang terus menghantuinya hingga ia tua yang pada akhirnya mendorong dia untuk menuliskan akhir bahagia buat Cecilia dan Robbie, meski cuma terjadi di dalam imajinasi yang dia tuangkan dalam novel terakhirnya, maka pada akhirnya Briony juga membuat saya merasa bersalah.
 
Salah satu resolusi saya tahun ini beberapa minggu menjelang tahun baru 2010 adalah menyelesaikan tulisan fiksi saya yang terbengkalai. Saya selalu merasa ide menulis saya memang mirip dengan meteor gemini. Munculnya di tengah malam hingga pagi hari, banyak dan cepat menghilang seperti juga hujan meteor gemini yang bisa menghasilkan 120 sampai 160 meteor per jam tapi tidak lagi terlihat begitu tersaput awan dan turun hujan. 
 
Saya mau menulis cerita tentang penderita bulimia nervosa, fiksi bergenre spionase berbalut romance (Ide ini muncul sewaktu saya membaca script La Femme Nikita), menulis tentang hantu usil tapi baik hati bernama Bella (Ide ini muncul saat saya menonton salah satu episode serial Supernatural), menulis tokoh tiga orang kakak beradik dengan latar belakang perusahaan furniture (kalau yang ini terinspirasi dari novel Tiga Orang Perempuan karangan Maria A. Sardjono), menulis tentang seorang pria yang berusaha bunuh diri tapi hanya ingin mati di suatu hari yang cerah (Saya belum menuliskan satu kalimat pun, cuma berencana memberinya judul Hari yang Cerah untuk Mati.), menulis tentang novelis bernama Cybele Anneke yang depresi dengan hidupnya (hanya saja tidak seekstrim Virginia Woolf) dan ... banyak lagi ide tulisan yang saya miliki yang sampai sekarang belum saya tulis, apalagi selesaikan. 
 
Seperti yang barusan saya katakan, Atonement membuat saya merasa bersalah. Briony membuat saya merasa bersalah. Briony tidak lagi memiliki waktu untuk menulis. Ia sekarat setelah terserang stroke tapi masih sempat menyelesaikan Atonement. Saya muda dan tidak sekarat tapi saya belum menerbitkan satu novel pun (meski mungkin cuma akan saya terbitkan di blog saya yang pengunjungnya lebih kurang hanya 20 orang per hari dengan pagerank yang drop dari 2 ke N/A dan herannya saat hari ini saya cek lagi sudah balik jadi 2 lagi); saya pemalas dan menipu diri sendiri. Saya tidak cukup rajin untuk menulis setiap hari, saya menipu diri sendiri dengan keyakinan hampa bahwa saya bisa mengubah dunia lewat tulisan saya. Bagaimana mungkin saya berpikir untuk mengubah dunia jika saya bahkan tidak punya cukup disiplin untuk mengubah diri sendiri? Atonement membuat saya merasa bersalah.

8 komentar:

wongmuntilan mengatakan...

Grace, ide-ide ceritamu hebat-hebat lho, dan unik-unik (seriously speaking nih). Setelah rasa bersalahnya reda, cepat nyalakan komputer, terus ketik ceritanya ya. Ide itu tidak selamanya segar, kalau dipendam lama-lama takutnya bisa kering. Semangat ya! Siapa tahu beberapa tahun mendatang aku sudah bisa beli bukumu di Gramedia ^^

alice in wonderland mengatakan...

terus terang waktu nonton film ini, aku benci banget ama Briony... sebel aja seenaknya nuduh padahal dia gak jelas ngliat... sedih aja ternyata ending yang ditampilkan merupakan ending novel karangan Brony...kukira itu cerita aselinya^^
Ditunggu ya karya2nya... jangan tenggelam dalam rasa bersala ;)

nadiafriza mengatakan...

menulis fiksi itu emang susah kok. sejauh ini saya baru berhasil bikin 1 cerpen. enakan nulis di blog hihi

semangat :)

Grace Receiver mengatakan...

@Santi: Thanks buat dukungannya.
@Alice: Thanks Alice.
@Nadiafriza: Thanks Nadia.

merry go round mengatakan...

Belum nonton filmnya.....

Semangat ya nulis novelnya.

Dan, umh, believe it or not ya, silent reader kamu tuh banyak tauuuu...makanya page rank nya nangkring di angka2 ;)

Sri Riyati mengatakan...

Menurutku tulisanmu ada bobotnya. Aku sering mikir, kalo ada orang yang nulis blog dengan bahasa chatting dan nggak jelas juntrungannya (kaya orang ngerumpi jali) itu dibilang "ringan" ato gak mutu ya? Soalnya slama ini sulit dibedakan sih, hehe. Tapi blogmu jelas bukan yang seperti itu. Sama sekali.

Ide ceritamu OK banget. Penasaran...penasaran...

Kata tmnku, cara memotivasi diri buat nulis adalah dengan masuk ke dalam cerita dan membayangkan kita sedang mendokumentasikan apa yang kita alami. Entah berhasil ato enggak, tapi selama ini tulisanku juga setengah, sepertiga, seperdelapan akar dua jadi. Alias gak pernah rampung. Ayo saling menyemangati aja ya!

~ jessie ~ mengatakan...

Aku setuju dengan kata Shanty. Ide-ide-mu unik! Ayo segera tuangkan! ;)

Grace Receiver mengatakan...

@merry go round: Thanks buat komentarnya @Ria: Thanks buat tips menulisnya @Jessie: Thanks sudah ikut berkomentar