Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 26 Juni 2010

Dua Gerumbul Harapan


Cerita pendek ini terinspirasi dari wanita-wanita terkenal di sepanjang sejarah yang memutuskan untuk tidak menikah demi tujuan yang lebih baik; salah satu di antaranya adalah Florence Nightingale.

      Dua minggu lalu aku menanam dua gerumbul bunga lavender. Dan sejak itu setiap pagi aku bangun dengan semangat baru untuk menyiram lavender kesayanganku. Setiap gerumbul lavenderku mempresentasikan harapanku: untuk hidup yang lebih baik, dan untuk pengalaman hidup yang lebih menarik. 
      Setiap pagi aku berharap lavenderku akan mulai berbunga. Tapi pagi ini lavenderku belum juga berbunga, malah sepertinya tanaman bungaku itu tambah layu dari hari ke hari, padahal sudah tiap hari kusiram.
      Akhirnya kuberikan dua gerumbul lavenderku yang tak kunjung berbunga itu pada sahabatku. Ia memang dari dulu suka berkebun dan lebih bisa menghargai setiap helai daun-daun lavender itu daripada aku.
      Memberikan dua gerumbul daun lavender yang hampir layu kepada sahabatku, bagiku adalah seperti memberikan sebagian dari harapanku agar bisa terwujud di tangan orang yang kupercaya.
      Aku hidup di dunia ini tidak sendirian. Aku memerlukan orang-orang yang memahamiku, bahkan bisa memberi dukungan, perhatian, dan kualitas terbaik yang mereka miliki agar aku juga dapat mengeluarkan kualitas terbaikku untuk membuat mereka menjadi orang-orang yang lebih berbahagia, lebih baik, dan lebih berjiwa.
      Sebagian orang yang kurang beruntung mencari dukungan, perhatian, dan cinta di tempat-tempat yang salah, atau menggantungkan diri mereka secara emosional pada orang yang salah. Mungkin kedengarannya keji, tapi aku bersyukur, sampai sejauh ini aku bukanlah salah satu orang yang tidak beruntung itu.
      Aku memiliki sahabat-sahabatku. Mereka telah membuktikan diri sebagai orang yang telah dan masih memberikan kontribusi terbaik mereka untuk membuatku menjadi orang yang lebih matang dan lebih menghargai hidup. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk hal ini.
      Di masa-masa suram atau di saat-saat paling ceria, mereka ada – melebihi ekspetasi banyak orang yang mendambakannya ada pada pasangan mereka – sementara sebagian orang masih mencari belahan jiwa – aku sadari dari saat paling awal belahan jiwaku adalah sahabat-sahabat terbaikku – mereka ada bagiku – sehingga aku tidak perlu merasa harus lebih baik atau harus berubah supaya aku bisa mendapatkan cinta yang tak melulu semegah yang bisa diharapkan wanita.
* * *
      Sambil tersenyum, aku bisa membayangkan diriku menjadi wanita tua yang cerdas seperti Miss Marple (karakter dalam novel Agatha Christie), yang mungkin kelak seperti kebanyakan wanita tua mengeluh tentang rematik dan sakit tulang, lalu di saat aku paling kesepian, aku mungkin mengharapkan seandainya masa mudaku dapat kembali diulang, aku mungkin akan seperti sebagian dari orang-orang yang tak beruntung itu, mulai mencari-cari cinta di tempat atau pada orang yang salah.
      Tak lama senyum lain pun menyembul lagi ketika kusadari, ketika wanita itu mendapatkan satu hari di mana ia sangat sehat – tanpa rematik dan sakit tulangnya, bisa kulihat dengan jelas – sedikitpun tanpa keburaman – wanita tua itu – jika bisa mendapatkan kembali masa mudanya, ia tetap akan memilih pilihan yang sama, ia tetap akan memilih menjadi tua sendirian. Meski dengan kemirisan kusadari pula, wanita tua itu mungkin pada akhirnya akan benar-benar sendirian ketika sahabat-sahabat terbaiknya menjelang ajal lebih dulu – atau sebaliknya ketika wanita tua itu terpaksa harus meninggalkan sahabat-sahabat terbaiknya lebih dulu.
      Kali ini senyum miris yang tersembul – Chairil Anwar jelas benar. Hidup memang hanya menunda kekalahan. Semoga hidup tak melulu menyisakan ironi, ada secercah harapan di setiap hari yang baru – bukankah itu sebabnya mengapa setiap orang bangun dari tidur semalam? – Karena ada aktivitas yang harus dijalani – yang membuatnya bisa menggapai harapan itu – yang kadang memang terlihat amat samar – bahkan getas.
      Kali ini senyuman manis. Ada harapan, ada perubahan. Tiada yang pernah tahu, aku kini, akan menjadi wanita tua yang bagaimana, mungkin pula tidak akan pernah ada wanita tua! Mungkin aku akan mati muda seperti Chairil Anwar; meski aku yakin - Kalaupun aku mati muda – tak mungkin karena sipilis atau TBC.
* * *
      Aku menanam mawar untuk menggantikan lavender-lavenderku. Aku bukan orang yang sabar; jadi kupilih mawar-mawar yang memang telah berbunga untuk kutanam. Kusaksikan satu per satu, mawar itu mekar kian merekah – lalu luruh satu-satu kelopaknya, menjadi kuning dan layu.
      Ketika semua kuntum mawar itu telah gugur; aku kini hanya menanam daun-daun mawar. Dan aku kini jadi lebih menghargai daun-daun mawar itu daripada bunganya. Ia demikian sehat untuk terus eksis melekat di setiap tangkainya. Dari hijau tua, ia memang bisa menguning tapi ia bertahan di tangkainya tanpa mau luruh. Seakan ia menungguku mencabutnya.
      Daun mawar yang layu sangat rapuh. Hanya dengan menjentikkan sebuah jari ke daun kuningnya daun mawar itu luruh ke tanah. Tapi kuhargai kesetiaannya, ia tak mau luruh begitu saja, ia bertahan di tangkainya hingga aku memutuskan untuk menyentuhnya agar luruh.
      Lalu tak lama, ada tunas baru yang mungil, lalu tak lama ada daun-daun hijau muda yang baru. daun-daun mawar itu tak pernah membuatku bosan. Hari ini ia hijau muda, sebentar ia hijau tua. Sebentar ia hijau dan kuning bersamaan, lalu ia menjadi kuning indah, menantikanku menyentuhnya luruh, lalu besok ia hijau muda lagi. Kuhargai mereka, daun-daun mawar itu melebihi bunga-bunganya yang membosankan dan gampang ditebak. Bunga-bunga itu hanya kuncup, perlahan mekar, lalu luruh. Aku tidak bisa meminta mereka menunggu agar jangan luruh dulu, hanya dengan sedikit angin yang agak kencang, mereka langsung melayang jatuh. Melihat mereka luruh tanpa menungguku memberi izin mereka luruh, membuatku merasa dikhianati. Aku menyirami mereka setiap hari, apa hak mereka luruh tanpa seizinku?
* * *
      Daun-daun mawar itu mirip sahabat-sahabat terbaikku. Mereka menyayangiku dan mau tetap berbagian dalam setiap fase hidupku. Tak peduli warna mereka seperti apa, mereka setiap kali selalu di tempatnya, di antara tangkai-tangkai berduri itu.
      Duri-duri pada mawar itu bagai kesulitan-kesulitan hidupku. Hidup memang tak selalu mulus seperti aspal jalan tol. Tapi aku tahu aku tidak sendiri. Tentu saja, ada Tuhan yang membuatku tak pernah sendirian. Tapi Ia tak kelihatan. Ia tak kasat mata. Sahabat-sahabatku bagai utusan Tuhan bagiku, membuat hidupku lebih bewarna, seperti daun-daun mawarku.
      Bunga-bunga mawar itu sendiri mungkin adalah kawan-kawan lamaku. Seperti teman-teman waktu zaman sekolah, sebelum aku bekerja seperti sekarang. Mereka memang pernah ada, pernah sangat akrab, tapi hanya selintasan. Tak terdengar lagi kabar mereka, tak lagi bersua, tak ada lagi hubungannya denganku. Meski dirindukan, aku sadar mereka bukan orang-orang terpenting dalam hidupku dan tak seberapa kubutuhkan, seperti mereka menganggapku tak seberapa penting untuk dihubungi. Mungkin kedengarannya sedih, tapi sejujurnya mereka tidak menempati tempat yang berarti dalam hatiku.
* * *
      Hari ini aku membeli dua pot anggrek. Akan kuberikan sebuah di antaranya pada sahabatku. Aku memberitahu dia untuk mengambil anggreknya dan ia memberitahuku kabar lavenderku – Bukan! - lavendernya!
      Lavendernya belum berbunga, tapi daun-daun layu itu sudah tidak ada. Daun-daun baru yang segar tumbuh lebat. Aku senang mendengarnya. Di tangan sahabatku, dua gerumbul harapanku tumbuh kian segar dan lebat. Seberat apapun hidup akan menempa lavender-lavender yang dulunya milikku itu – ia akan berbunga suatu hari nanti – merefleksikan harapanku bersama sahabat-sahabat terbaikku – akan ada hari-hari yang bersinar jauh lebih indah daripada hari ini. Terima kasih, Tuhan!
* * *
      Sahabatku yang kedua juga mencoba menanam mawar. Kupilihkan segerumbul mawar dengan dua tangkainya yang telah berbunga demikian indah, meyakinkannya bahwa keputusan menanam mawar memang tepat.
      Tak lama mawar-mawar itu luruh dan karena sahabatku yang satu ini memang bukan orang yang senang berkebun, ia menelantarkan mawar itu didera ribuan tetes air hujan yang menyengat, menghujam dan menikam tiap helai daunnya yang membusuk, luruh, yang tersisa hanya dua tangkai kecoklatan yang sekarat.
      Menggunting tangkai kecoklatan itu, menempatkannya di tempat yang lebih laik, berusaha mengeringkan tanahnya yang amat lembap dan berair tak cukup untuk menyelamatkan tanaman mawar itu. Kerusakannya demikian parah.
      Mawar itu mengingatkanku akan beberapa orang yang kukenal – mereka bukan sahabatku – tapi aku mengenal mereka. Beberapa orang ini bagaikan mawar-mawar itu. Mereka pernah begitu indah tapi hidup yang mereka jalani kini berantakan – sama morat-maritnya seperti tanah berair yang becek di antara dua tangkai kecoklatan yang busuk itu.
      Kukenal beberapa orang yang memutuskan menikah muda karena mereka telah mengandung lebih dulu sebelum digelar pesta pernikahan. Hidup mereka kini lebih berat, mungkin sama beratnya dengan terpaan angin dan hujan lebat yang menghancurkan dua tangkai mawar terindah yang pernah dimiliki sahabatku. Sekali lagi, beberapa orang yang tidak beruntung itu, mereka berusaha mencari cinta, tapi menemukannya di tempat yang salah. Kusesali mereka seperti sahabatku menyesali kedua kuntum mawar yang telah raib itu. Duh, nestapa!
* * *
      Mengurus anggrek bagiku adalah sama sulitnya dengan mengerjakan soal-soal aljabar. Biar kutahu rumusnya; dalam pengerjaannya benar-benar mimpi buruk. Mengharapkan anggrekku tumbuh subur dan bertambah bunganya, bak mengharap matahari lupa terbit dari timur – ia malah muncul di barat.
      Sahabatku yang senang berkebun juga menyerah. Anggreknya memang sempat muncul tunas-tunas baru tapi cukup memusingkan mempertahankan anggrek itu tetap hidup. Lagipula satu gerumbul lavender pemberianku telah mati. Hidup memang getas tapi haruskah sebrutal itu merenggut kehidupan tanaman-tanaman kesayangan kami?
      Setidaknya, di atas tanah yang dulunya pernah tumbuh dua kuntum mawar paling indah, kini tumbuh tanaman liar yang kian subur. Ia ada dengan sendirinya, tak perlu disiram atau diperhatikan, menyeruak begitu saja, menyibak lapisan tanah, muncul ke permukaan, membentuk tiga gerumbul tanaman baru seolah menantang mentari.
      Hidup memang kadang rapuh – oh tapi kadang teramat kuat – sekuat daun-daun mawarku yang kini enggan menguning – perlu setidaknya beberapa hari sampai aku dapat menemukan satu-dua helai daun kuning. Daun-daun hijau muda nan rupawan memamerkan kesegarannya. Memandanginya menghibur hatiku, membuat pikiranku teralih dari anggrek layuku yang tak tahu terima kasih.
      Tiga gerumbul kecil tanaman liar yang tumbuh di sekeliling dua tangkai mawar kecoklatan yang telah mati itu juga menjadi penghiburan bagi sahabatku atas raibnya mawar-mawar yang pernah melekat di tangkai-tangkainya. Manusia memang seringkali kurang menghargai apa yang ada di genggaman tangannya. Tapi ketika apa yang dimilikinya lepas dari genggaman, barulah ia menyesalinya. Menyadari hal ini, mau tak mau aku dipaksa belajar menghargai setiap hal yang masih ada di genggaman tanganku, sekecil atau sebesar apa pun, seremeh atau sepenting apa pun, menggenggamnya hari ini, akankah menggenggamnya juga esok? Akan kugenggam persahabatanku erat-erat, tak ingin kubiarkan lepas.
* * *

3 komentar:

alice in wonderland mengatakan...

sangat berasa sex and the city banget nih... memang hidup itu pilihan, jangan terjebak dalam impian kehidupan yang dipandang normal oleh kebanyakan orang tapi kita sendiri tak bahagia. Sahabatku smapi saat ini masih merupakan soulmate-ku^^

merry go round mengatakan...

Baguuuss banget...Jadi pengen nangis bacanya. Setiap kisah bunga yang diceritakan pasti ada yang menggambarkan fase hidup saya. Saat saya menjalin kisah cinta yang bodoh sampai sahabat yang cuma selintasan.

Saya punya satu quotes untuk paragraf terakhir: you don't know what you're missing until you lose it :)

Grace Receiver mengatakan...

@Merry: Thanks. Quote kamu juga bagus. @Alice: Ya, sahabat kadang lebih mengerti kita dibanding yang lain.