Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 27 Mei 2010

Pecinta Film

Tulisan ini untuk Fung Fung yang pada satu windu yang lampau telah berbagi logam terakhirnya denganku untuk menyewa film favorit kami. Juga buat Herny yang kadang memberitahuku info film terbaru dan Helen yang menyukai karakter Rose dan Jack (Titanic) sepertiku dan untuk KALIAN, pecinta film seperti kami.  

Di keluarga saya, semua orang adalah pecinta film, meski selera kami berbeda satu sama lain. Ayah saya suka serial kungfu, sedang ibu saya suka film Bollywood. Adik saya lebih suka film horror Asia (Indonesia dan Thailand), nenek saya (dari ibu) suka sinetron. Itu sebabnya saya paling alergi duduk berdekatan dengan nenek saya saat ia sedang asyik nonton. Tanpa diminta Beliau pasti akan  menceritakan plot  sinetron yang dilihatnya dengan bahasa Jawa yang berapi-api. Saya sendiri lebih suka film Hollywood. Kalau pun kadangkala menonton film Hongkong atau Mandarin, biasanya yang bertema epik seperti Three Kingdoms atau Little Big Soldier.

Sekarang kedua orang tua saya sama-sama sibuk dan sudah tidak sempat menonton film lagi. Tapi waktu saya masih kecil, saat vcd dan dvd belum ada, ayah saya sering menyewa video film (serial kungfu) yang satu judul saja bisa lebih dari dua puluh video. Ibu saya lain lagi. Ibu biasanya mengajak saya ke bioskop dekat rumah yang hanya memutar film Indonesia dan India (waktu itu film barat masih jarang). Sejak kecil saya memang tidak suka film musikal, karena itu saya tidak terlalu menikmati acara menonton bersama ibu. Satu-satunya alasan mengapa saya mau saja diajak ibu untuk nonton, karena sepulang dari bioskop, ibu biasanya mengajak saya makan bakso. Ini momen yang saya sukai. Saya biasanya akan menuangkan banyak saus ke dalam mangkuk bakso saya sehingga kuahnya jadi mirip genangan darah.

Saat memasuki usia remaja, saya dan adik saya sering bertengkar memperebutkan tv karena kami ingin menonton film di channel yang berbeda. Untungnya saat ini harga barang elektronik lebih terjangkau, sehingga bisa membeli tambahan tv. Jika tidak, jangan-jangan saya masih rebutan tv dengan adik saya?

Saat modernisasi kian berkembang dan vcd pun mulai dikenal, saya lalu menghabiskan semua uang saku saya untuk menyewa vcd film di rental di dekat rumah. Saat saya katakan semua uang saku saya, ini benar-benar semua. Dulu harga sewa vcd memang masih relatif murah. Cukup dengan lima ribu rupiah saya bisa menyewa tiga film. Tapi berhubung saya memang maniak film, seringnya saya harus patungan dengan teman saya untuk menyewa film yang kami inginkan. Bahkan uang logam terakhir pun dipakai juga. Pernah juga kurang beberapa ratus rupiah, tapi karena pemilik rentalnya mungkin menganggap kami penyewa teladan atau kasihan melihat wajah teman saya yang memelas saat teman saya bilang uang kami kurang, biasanya kami tetap pulang dengan sedikitnya enam judul film.

Tapi menyewa vcd film dengan patungan seperti itu bukannya tanpa masalah. Berhubung selera film saya dan teman saya tidak selalu sejalan, terkadang kami sama-sama kesal dengan pilihan satu sama lain. Misalnya saat dia memilih menyewa film Gladiator atau saat saya memilih menyewa film What's Eating Gilbert Grape. Saya tidak habis pikir, apa serunya menonton film tentang manusia yang dikoyak-koyak singa (atau macan?), sedang dia tidak paham mengapa saya bersikeras menyewa film cuma untuk melihat Leonardo Dicaprio berperan sebagai orang idiot (Arnie Grape). Sama seperti saya tidak memahami bahwa MUNGKIN dia menyukai akting Russell Crowe, dia juga tidak sadar betapa saya mengagumi akting Johnny Depp sejak 21 Jump Street dan di film ini Depp berperan sebagai kakak dari Arnie (Gilbert Grape).

Meski sering tidak kompak kalau memilih film bergenre drama, kami sama-sama kompak kalau memilih film bergenre thriller. Dulu saat Scream baru saja booming, film-film sejenis pun segera bermunculan. Kami biasanya menebak siapa pembunuh berantai yang identitasnya selalu tersembunyi di balik topeng dan menganggap film itu bagus kalau tebakan kami benar. Saya juga senang menghitung jumlah korban yang terbunuh sepanjang film. 

Pada saat itu, hal-hal lain dalam hidup seolah terlupakan. Sebelum berangkat kuliah atau sepulangnya dari kuliah, teman saya biasanya mampir untuk menonton vcd di rumah saya sebab belakangan ayahnya selalu marah-marah jika ia memutar vcd di rumahnya, takut tagihan listrik makin membengkak. Ibu saya juga sama. Berhubung kami hampir tiap hari selalu menonton film hampir seharian setiap kali ada di rumah, ibu saya juga kerap mengomel. Selain karena tagihan listrik yang membengkak, juga takut vcd player jadi rusak. Apalagi saat teman saya keranjingan serial Mulan, dia biasanya numpang nonton di rumah saya. Saat itu saya biasanya cuma menemani sambil membaca novel karena kebetulan saya tidak suka filmnya. 

Jika orang tua lain mulai mengkhawatirkan anak gadis mereka yang mulai tertarik dengan lawan jenis dan sering keluar rumah, orang tua kami hanya mengkhawatirkan tagihan listrik yang tinggi. Kami tidak sempat pacaran, terlalu sibuk nonton film. Lalu ketika teman saya melanjutkan pendidikannya di luar negeri dan menetap di sana setelah menikahi pria asing yang ditemuinya di sana, dia sepertinya sudah tidak terlalu terobsesi dengan film-film baru. Sedang saya masih bertahan dengan hobby lama saya. 

Belakangan saat dvd mulai menjamur menggantikan vcd, saya lebih sering membeli dvd. Saya biasanya titip pada ibu saya yang tiap Selasa punya jadwal belanja bersama adik saya. Jika budget belanja sedang minim, saya biasanya barter pinjam dengan Helen, adik sahabat saya. Jika saya lebih suka film barat, Helen lebih suka film Korea dan Mandarin. Tidak heran jika kakaknya (Herny) yang biasa jadi perantara barter kami jadi sering kami komplain. Saya biasanya protes, "Kenapa film Korea semua?" dan Helen juga protes, "Kenapa semuanya film barat?"

Pertanyaan yang mungkin melintas di benak Anda saat membaca tulisan ini, MENGAPA FILM? Saya merasa film mengajarkan saya lebih banyak dari sebuah buku. Saya tidak mengatakan bahwa film lebih penting daripada buku. Hanya saja, tidak semua orang memiliki kapasitas untuk membaca buku; tapi rasanya semua orang pasti pernah nonton film dan punya film favorit, paling tidak yang bisa ia akui sebagai film yang bagus. 

Ibu saya pernah menonton Forest Gump. Itu sebabnya ketika teman saya meminjami novelnya, ia tertarik untuk membacanya meski cuma sepintas. Ibu saya memang lebih sering membaca surat kabar daripada fiksi. Herny (sewaktu kami SMP) pernah tidak belajar untuk ulangan Sejarah, tapi ia mendapat nilai sempurna pada ujian kali itu. Sebab materi ulangan saat itu tentang G30S/PKI. Ia hanya menyaksikan film tentang G30S/PKI di TVRI yang dulu selalu diputar setiap tahun (Saya tidak tahu apakah sekarang masih diputar). 

Singkatnya, ditinjau dari kepraktisan, film merupakan media pembelajaran yang lebih mudah diserap. Jika Anda tidak menyukai buku, mungkinkah Anda menghabiskan waktu untuk membaca biografi seorang tokoh terkenal atau membaca novel yang sangat tebal? Tapi sekalipun Anda bukan pecinta film, mungkin secara tidak sengaja, Anda bisa  menonton film dokumenter selama beberapa menit atau menyaksikan film dengan kaliber Oscar. 

Tidak seperti sebuah buku, beberapa menit pertama dalam sebuah film sangat krusial. Terkadang karena opening yang cuma beberapa menit, seseorang bisa berubah pikiran dan akhirnya menonton hingga selesai atau sebaliknya, langsung mematikan TV atau berpindah channel. 

Film komedi bisa melepas stress, film drama bisa membantu Anda belajar tentang kehidupan, film perang bisa membawa Anda untuk lebih menghargai kemanusiaan, film epik bisa mengajarkan Anda heroisme, dan film dokumenter bisa menambah pengetahuan dan wawasan Anda. 

Untuk jenis film lainnya, saya tidak tahu persis apa manfaatnya, karena selain genre yang telah saya sebutkan di atas, genre lainnya bukanlah favorit saya.

* Gambar dipinjam dari sini.  

6 komentar:

echa mengatakan...

halohaaa...hehe, aku balik lgi..
mmm aga trbalik ye, aku suka buku :D dlu suka bgt film The Last Emperor, trus tiba2 skrg ad bukunya,lgsg beli,pgn bca, pgn mmaknai lbh dlm,hahah... Ya aku jg suka film Barat,trutama yg true story,crita perang, krtun disney, ato yg high tech kya avatar gt deh ama India jg tpi yg modern si, dlu wktu jaman msh pke Laser Disc yg piringannya guede, suka nyewa, msh SD tu,jdi filmnya kaya2 free willy gt..skrg ud jrg ntn, g tiap mggu, kcuali ad yg bgs. Eh ktularan drama Korea jg ding,hehehe..
aku link y blognya.tq.GBU :)

hsy mengatakan...

He2 kalo gue seh, apapun filmnya yang penting bagus, ga masalah, yang penting bisa nonton gratisan aja deh, he... he....

echa mengatakan...

tes2 grace, komenku sblumnya kok blm ad ye? awaiting moderation ya...ato error hiks :(

~ jessie ~ mengatakan...

Whooaaa.. bener-bener pecinta film ya, Sel hehehe.. tapi dalam sebuah film memang ada yg istimewa sih. Kamu kayaknya perlu aku kenalin dengan temenku yg mania movie jg sampe dia bela2in ke Hollywood utk ikutan workshop movie ;)
Tapi tertarik utk bikin film ga?

alice in wonderland mengatakan...

Aku juga pecinta film. Dulu waktu SD-SMP seneng banget ama film kungfu...biasanya sih numpang nonton di rumah temenku tapi lama2 dimarain karena ketahuan gak tidur siang ama ortu-ku.
Kalo sekarang hampir semua aku suka yang penting gak horor apalagi horor Indonesia. Aku suka film yangkayak LOTR atau Godfather...film2 tak terlupakan sepanjang jaman^^

Grace Receiver mengatakan...

@Echa: Thanks sudah singgah ke blog saya. Maaf komentarnya lama diterbitkannya karena saya memang tidak online setiap hari. Hehe... Sabar memang sebal ya? Saya dulu suka baca buku (sekarang juga masih suka, tapi tidak sesering dulu) soalnya takut mata saya tambah minus. @Alice: Ya, saya juga suka Godfather, tapi belum pernah baca novelnya, soalnya harga novel lebih mahal daripada harga harga DVD film sih. Hehe... @Jessie: Hehe... Belum terpikir buat bikin film. Mau sih kalau kapasitasnya ada. Berharap bisa nulis script film seperti Richard Linklater (Before Sunrise, Before Sunset). Cuma menceritakan tentang kejadian selama satu hari saja tapi bisa jadi film berdurasi lebih-kurang dua jam.