Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 09 April 2010

Review Film The Lovely Bones

Review ini adalah tag dari Jessie Monika.

Film ini diadaptasi dari novel karangan Alice Sebold dengan judul yang sama. Bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ronan), gadis berusia empat belas tahun yang memiliki hobi fotografi yang dinodai dan dibunuh oleh George Harvey (Stanley Tucci), tetangganya yang pedofilia, sekaligus pembunuh berantai. Mayat Susie lalu dimasukkan ke dalam brankas besi dan dibuang ke tempat pembuangan barang-barang rongsokan. Apa yang dipikirkan dan dirasakan Susie setelah meninggal selama mengamati orang-orang yang dikenalnya di bumi, inilah yang menjadi sentral dalam film ini.

Saya lebih dulu membaca novelnya, baru menyaksikan filmnya. Untung saja film ini tidak sesuram plot dalam novelnya. Bagian saat Susie dinodai oleh George Harvey diperhalus. Plot perselingkuhan antara Abigail Salmon (Rachel Weisz), ibu Susie dengan detektif Len Fenerman (Michael Imperioli) dihilangkan dalam film ini, begitu juga bagian saat Ruana Singh (Anna George) menyarankan agar Jack Salmon (Mark Wahlberg) , ayah Susie diam-diam mencari dan membunuh pembunuh Susie. Gambaran akhirat dalam filmnya juga tidak tergambar sama persis dengan novelnya. Saya menyayangkan bagian saat Susie bertemu lagi dengan anjingnya yang mati di akhirat karena ini adalah bagian kesukaan saya.

Jika menonton film ini tanpa lebih dulu membaca novelnya , penonton pasti tidak bisa menangkap jalan ceritanya. Misalnya scene saat Jack memetik bunga geranium mati dari tangkainya di halaman rumah George Harvey dan di saat yang sama Susie juga tengah memungut geranium di akhirat. Geranium mati di tangan Jack lalu berkembang dan berwarna merah lagi, sebelum akhirnya kembali layu. Saya bertaruh, orang yang menonton film ini tanpa membaca novelnya pasti tidak dapat menangkap maksud dari scene ini. Scene ini digambarkan demikian dalam novelnya: Aku memusatkan perhatianku dengan kuat ke bunga geranium mati yang ada dalam lingkup pandangannya. Aku berpikir, kalau aku mampu membuatnya mekar maka ayahku akan memperoleh jawaban. Di akhirat, bunga ini akan mekar, di sana kelopak bunga geranium terbang dalam pusaran hingga ke pinggangku. Di bumi hal itu tidak terjadi.

Scene paling menyentuh dalam film ini adalah saat Jack menyalakan lilin di atas botol dan menaruhnya di dekat jendela kamar Susie. Scene lainnya yang menyentuh adalah saat Abigail akhirnya berhasil menguatkan hati untuk memasuki kamar Susie dan mengucapkan "Aku mencintaimu, Susie" pada udara kosong dan berharap Susie dapat mendengarnya. Bagian yang agak cerah dalam film ini justru scene yang mengekspos Susan Sarandon yang memerankan Grandma Lynn. Susan terlihat lebih muda dan bahkan terlihat lebih cantik dari Rachel Weisz.

Film ini diawali dan diakhiri dengan kalimat yang sama persis dengan novelnya: "Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas saat dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973. ", "Kudoakan kalian semua panjang umur dan hidup bahagia."

2 komentar:

jc mengatakan...

Baiklah, saya akan BACA sekaligus NONTON filmnya. ;)
Harus baca dulu kan yah biar ngerti filmnya? Hehehehe... But i think it's worthed deh.. ;)

Oiya, maap baru mampir ;( Kerjaan lagi gila-gilaan dan saya hampir kehilangan waktu dengan anak saya ;((

Grace Receiver mengatakan...

@jc: Hehe... Kapan pun mampirnya, tetap diterima dengan senang hati. Enjoy your great moments with your kid :-)