Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 11 Maret 2010

Review Film Whiteout

Review ini adalah tag dari A.B.Satria Tataka.

Film dibuka dengan scene musim dingin tahun 1957 di sebuah kabin pesawat. Sekelompok tentara Rusia yang berada di dalam pesawat lalu terlibat baku-tembak sehingga pesawat pun jatuh dan meledak. Scene lalu berganti setting ke Antartika di mana Delfy (Columbus Short) yang berprofesi sebagai pilot menemukan bangkai pesawat yang jatuh di awal film. Delfy lalu melaporkan pada Carrie Stetko (Kate Beckinsale) yang bertugas sebagai marshal. Di dekat bangkai pesawat tsb juga ditemukan sesosok mayat yang kemudian diidentifikasi bernama Anton Weiss (Marc James Beauchamp) yang bertugas di Vostok base. Carrie lalu dihubungi oleh John Mooney (Steve Lucescu) yang memintanya datang ke Vostok base tapi menolak memberi keterangan lebih lanjut sampai Carrie tiba di base. Carrie pun menyanggupi.

Saat tiba di Voltok base di bawah cuaca dingin hingga mencapai suhu - 65 C, Carrie tiba di base hanya untuk mendapati Mooney yang telah tewas tergorok. Carrie bahkan diserang oleh pembunuh Mooney yang wajahnya tertutup sehingga tidak dapat dikenali. Dengan susah payah Carrie berhasil kabur dan kembali ke tempatnya bertugas, tapi Carrie harus merelakan kedua jarinya diamputasi karena saat melarikan diri dari penyerangnya sarung tangan Carrie tanpa sengaja terlepas dan jari-jarinya sempat melekat pada es yang menimbulkan infeksi dan membusuk.

Untuk membantu penyelidikan, pemerintah mengutus Robert Pryce (Gabriel Macht). Carrie yang sebelumnya pernah dikhianati oleh rekan kerjanya dan terpaksa menembaknya mati tidak langsung memercayai Pryce. Bertiga dengan Delfy, mereka lalu mencari koordinat dari tempat jatuhnya pesawat. Carrie terperosok ke salju dan jatuh ke bangkai pesawat yang terbenam salju. Delfy dan Pryce yang mencoba menolong Carrie, lalu meneliti pesawat tsb yang ternyata penuh mayat.

Belum sempat keluar dari badan pesawat, salju tiba-tiba longsor sehingga mereka terperangkap di dalam. Beruntung Pryce menemukan peledak. Setelah melontarkan peledak, mereka merangkak ke permukaan dan berhasil selamat. Rubin (Jesse Todd), satu-satunya yang tersisa dari Vostok base berusaha memberitahu Carrie. Di tengah ketakutannya Rubin melarikan diri sebelum sempat menginformasikan apa pun pada Carrie. Rubin justru terbunuh. Carrie pun kembali harus berhadapan dengan penyerangnya dan berhasil menangkapnya.

Sementara itu cuaca di Antartika kian bertambah buruk sehingga dilakukan evakuasi. Di tengah-tengah evakuasi, Russell Haden (Alex O'Loughlin), si pembunuh berhasil meloloskan diri dan mencoba lari dengan helikopter. Carrie pun mengejar Haden, sementara Pryce mencari Dr. John Fury (Tom Skerritt) untuk menolong Delfy yang ditikam Haden. Di tengah cuaca buruk Haden pun diterbangkan angin dan dapat dipastikan tewas. Carrie yang merasakan keganjilan lalu menyelidiki mayat-mayat yang ditemukannya. Di salah satu mayat, Carrie menemukan sekantung penuh berlian yang belum diasah. Saat masih merenungkan penemuannya, Carrie dikejutkan oleh Dr. John Fury yang sudah berdiri di belakangnya. Menjadi jelaslah bahwa John yang menjadi rekan Haden. Masih terpana, Carrie membiarkan John melihat aurora australisnya yang terakhir sebelum ditelan oleh cuaca buruk.

Film berakhir dengan scene Carrie mengirimkan email untuk minta dipindahtugaskan dari Antartika. Ia lalu keluar dari kantornya di mana Pryce dan Delfy tengah bermain bowling. Carrie lalu menuju keluar dan menyaksikan aurora di langit Antartika. Ia teringat John, lalu segera berbalik untuk kembali ke dalam.

Detil kecil tapi krusial yang saya sukai dari film ini adalah keterangan suhu yang dicantumkan di antara setting yang satu dengan yang lainnya. Daripada cuma membuat scene orang-orang yang menggigil kedinginan, mencantumkan suhu rasanya lebih efektif untuk menggambarkan betapa dingin suhu di Antartika. Plot dalam film ini berjalan lambat dan rapi. Meski ketegangan dalam film ini tidak luar biasa, tapi saya suka plotnya yang teratur dan tidak berceceran. Saya rasa hal ini adalah bagian terbaik dalam film ini. Dialog berikut adalah yang paling lucu yang bisa saya temukan dalam film ini (berhubung film ini memang bukan film komedi):

Carrie: How does ex-military wind up down here working for the U.N.?
Pryce: It was an open post. So really, how does a U.S. Marshal like you end up in Antarctica?
Carrie: Open post.

Film ini diadapatasi dari novel grafis karya Greg Rucka dan Steve Lieber.

Tidak ada komentar: