Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 27 Maret 2010

Review Film Hachi: A Dog's Story (dan kontroversinya)

Review ini adalah tag dari Herny S. Yahya.

Sebuah Kontroversi: Apakah Hachiko Harus Dikuburkan?
Usai menonton film ini, saya menyempatkan diri untuk mencari keterangan dan gambar Hachiko yang asli, dengan kata kunci "the real hachiko" dan saya menemukan sebuah blog yang memposting bahwa Hachiko setelah mati, ternyata tidak dikuburkan di samping makam tuannya, tapi malah dipamerkan di sebuah museum. Hal ini menimbulkan kemarahan beberapa orang yang membaca postingan itu karena mereka beranggapan bahwa Hachiko berhak atas penguburan yang layak, karenanya muncul petisi online yang menuntut agar Hachiko dikuburkan. Kisah Hachiko yang asli dapat Anda baca di Wikipedia.

Film Hachiko, A Dog's Story dibuka dengan scene Ronnie (Kevin DeCoste), cucu dari Parker Wilson (Richard Gere) yang maju ke depan kelas untuk membicarakan tentang pahlawan dalam hidupnya. Berbeda dengan teman sekelasnya yang menjadikan Colombus sebagai pahlawannya, Ronnie justru menjadikan Hachiko, anjing almarhum kakeknya sebagai pahlawan. Film pun bergerak mundur ke masa Parker dan Hachi masih hidup.

Parker menemukan Hachi yang masih seekor anak anjing di sebuah stasiun. Dari temannya, Ken (Cary-Hiroyuki Tagawa) yang adalah orang Jepang, Parker mengetahui bahwa Hachi adalah anjing bangsawan Akita. Parker tadinya tidak bermaksud memelihara Hachi, tapi ingin mengembalikan kepada pemiliknya. Berhubung pemilik Hachi tidak juga datang untuk mengklaim anjingnya, maka Cate (Joan Allen), isteri Parker yang tadinya tidak setuju jika Parker memelihara Hachi luluh juga saat melihat betapa Parker dan Hachi saling menyayangi. Karena sayangnya pada Hachi, Parker bahkan berbagi popcorn dalam mangkuk yang sama sambil menonton football di televisi. Parker juga berujar bahwa Hachi menyukai yankee. Setelah menjadi anjing dewasa, Hachi selalu mengantar Parker bekerja hingga ke stasiun. Hachi juga selalu menjemput Parker ke stasiun sepulang kerja.

Hachi adalah anjing Akita yang dipelihara bukan sebagai anjing hias, karena itu Hachi selalu menolak jika disuruh mengambil bola yang dilempar, tapi suatu hari Hachi tiba-tiba mau bermain lempar bola dengan Parker yang dengan sangat gembira memberitahu penjual hotdog dan kopi yang berjualan di stasiun bahwa itu adalah untuk pertama kalinya Hachi bermain tangkap bola dengannya. Malang hari itu Parker terserang stroke di saat mengajar mata kuliah musik dan Parker pun meninggal. Hachi yang setia terus menunggu Parker di stasiun selama sembilan tahun. Hachi tidak pernah tinggal di rumah lagi. Selama sembilan tahun, Hachi hidup di stasiun dan terus menunggu tuannya yang tidak pernah kembali. Kisah tentang Hachi lalu dimuat di koran dan Hachi hidup dari donasi orang-orang yang tergerak dengan kisah anjing setia ini. Sembilan tahun kemudian Hachi mati.

Di akhir film, Ronnie berujar bahwa lewat kisah Hachi, ia merasa mengenal kakeknya, Parker. Sewaktu Parker meninggal, Ronnie memang masih bayi, sehingga ia tidak punya kesempatan untuk mengenal kakeknya. Ronnie juga memelihara anak anjing yang mirip Hachi dan dinamai Hachi pula.

Di awal film, saya dibawa terpingkal-pingkal dengan tingkah Hachi yang lucu dan menggemaskan, lalu di sepanjang sisa film, sejak scene Parker terserang stroke dan meninggal, saya terus menangis hingga scene terakhir. Air mata saya terus berlinangan dan saya menghabiskan banyak sekali tisu. Bahkan saat saya menuliskan sinopsis film ini pun mata saya mulai berkaca-kaca.

Film ini baik ditonton untuk seluruh keluarga. Pesan moral dalam film ini adalah tentang kesetiaan yang ditunjukkan Hachi pada Parker. Teman saya yang menonton film ini lebih dulu mengaku bahwa ia makin sayang pada anjing peliharaannya. Saya juga setuju bahwa film ini sangat menyentuh, bukan melulu karena film ini diadaptasi dari kisah nyata, tapi karena pesan moralnya yang sangat mengena. Jika anjing saja bisa menunjukkan kesetiaan yang luar biasa pada tuannya, masakan kita yang manusia tidak bisa setia pada TUHAN, TUAN kita yang sejati? Selain itu tentu saja kita perlu setia pada pasangan, negara, dan lain-lain. Jika manusia tidak bisa setia, tidakkah itu berarti ia lebih rendah daripada anjing???

4 komentar:

jc mengatakan...

Aku pernah baca versi aslinya.. sayang juga ya filmnya yg mainin bule bukan orang jepang asli hehehe.

Baiklah kalau aku nonton nanti aku akan sedia tissue banyak2 ;)

Grace Receiver mengatakan...

@jc: Ya, tapi Richard Gere sih, jadi gpp juga. Hehe...

alice in wonderland mengatakan...

jadi pengen nonton neh... bagusan mana ama marley and me?
btw lam kenal ya...

Grace Receiver mengatakan...

@alice in wonderland: Kalau soal bagus sih sesuai selera. Kalau Marley and Me lucu awalnya, belakangnya baru sedih sedikit, tapi kalau Hachiko setengah film lucu, setengah film terakhir sedih sekali.