Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 18 Februari 2010

Review Buku The Lovely Bones

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Herny S. Yahya yang telah menghadiahi saya novel ini.

Novel ini diterbitkan di Indonesia dengan judul Tulang-tulang yang Cantik oleh Penerbit Gramedia. Bercerita tentang Susie Salmon yang dinodai dan dibunuh oleh tetangganya George Harvey, seorang pembunuh berantai yang tinggal di dekat rumahnya. Pada saat dibunuh usia Susie baru empat belas tahun. Setelah dimutilasi, Mr Harvey lalu menguburkan potongan-potongan tubuh Susie di ladang jagung dekat rumahnya. Saat anjing tetangganya menemukan potongan sikunya, pembunuhnya memindahkan potongan tubuhnya ke dalam lemari besi bekas dan membuangnya ke lubang pembuangan, tempat barang-barang rongsokan dibuang.

Ray Singh, teman sekolah Susie yang memberinya surat cinta dinyatakan sebagai terdakwa; tapi karena memiliki alibi yang kuat, polisi tidak dapat menahan Ray. Saat membantu Mr Harvey mendirikan tenda pengantin, ayah Susie, Jack Salmon mencurigainya sebagai pria yang membunuh anaknya. Saat menemui Ray, Jack bertemu dengan Ruana, ibu Ray yang lalu menganjurinya untuk mencari pembunuh Susie dan membunuhnya secara diam-diam jika sudah benar-benar yakin. Maka saat tengah malam, Jack pun bangun dan melangkah ke ladang jagung dengan tongkat baseball.

Jack yang berada di dalam kegelapan mengira Clarissa (teman Susie) sebagai Mr Harvey dan mencoba menyerangnya. Clarissa yang pergi ke ladang jagung untuk bertemu kekasihnya, Bryan urung diserang Jack. Bryan menolongnya dan memukuli ayah Susie dengan tongkat baseball hingga terpaksa dirawat di rumah sakit. Sementara itu, ibu Susie yang tidak tahan dengan kenyataan bahwa anaknya terbunuh tanpa pernah ditemukan jasadnya mengalihkan rasa dukanya dengan berselingkuh dengan Len Fenerman, detektif yang ditugasi untuk menyelidiki kasus pembunuhan Susie.

Di akhirat, Susie berkenalan dengan Holly pada hari ketiga yang lalu menjadi teman sekamarnya. Mereka memiliki pembimbing bernama Franny yang mati ditembak. Hingga bertahun-tahun Susie terus mengamati keluarganya. Ibunya lalu memutuskan untuk bekerja dan tinggal di kota lain, sehingga neneknya, Lynn memutuskan untuk tinggal bersama  ayahnya  untuk membantu mengurus kedua adiknya. Ayahnya yang setelah peristiwa pemukulan oleh Bryan di ladang jagung, tidak dapat berjalan secara normal dan bahkan terserang stroke hingga harus dirawat di rumah sakit. Barulah pada saat itu ibunya pulang ke rumah dan kembali tinggal bersama mereka. Adik perempuan Susie, Lindsey lalu menikah dengan Samuel. Sedang pembunuh Susie akhirnya meninggal di halte bis saat mengincar korban berikutnya. Mr Harvey tanpa sengaja tertimpa bongkahan salju sehingga meninggal seketika.

Saat saya menyelesaikan bab pertama novel ini, saya mengutuki Alice Sebold. Setahu saya, sebuah novel seharusnya berfungsi sebagai hiburan, tapi Sebold justru menulis novel yang membuat orang depresi. Saya juga tidak menyukai imajinasi dan gambaran Sebold tentang akhirat yang menggelikan, di mana Susie dan Holly melewatkan hari-harinya di akhirat dengan membaca majalah, di antaranya Seventeen dan Vogue. Di akhirat juga ada lapangan bola dan toko es krim. Setelah bab-bab suram dalam novel ini, satu-satunya bagian yang agak lucu adalah saat Buckley menirukan Grandma Lynn mencubit-cubit pipinya karena tidak sempat memakai pemerah pipi. Sedang bagian yang saya sukai dari novel ini adalah saat Holiday, anjing Susie mati dan lalu bertemu Susie di akhirat. Kelebihan Sebold, ia sepertinya tahu banyak tentang tanaman, karena sepanjang membaca novel ini, saya banyak menemukan nama-nama pohon, bunga dan semak.

4 komentar:

Fanda mengatakan...

Wah kayaknya ini novel ga enak dibaca ya? Maunya bikin thriller tp kok rada aneh juga

jc mengatakan...

kayaknya saya lebih tertarik baca yang First Love deh ketimbang yang ini... hehehehehe

Grace Receiver mengatakan...

@JC & Fanda: Ya, saya bacanya pengen cepat selesai. Ceritanya muram sekali.

air mengatakan...

he2 maybe Sebold seorang botanist jd maybe lebih baik Sebold bikin buku panduan tentang merawat tanaman aja ya daripada bikin novel?