Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 01 Januari 2010

Mereka Membunuhnya Atas Nama Cinta

Sinopsis :
Saat tengah berkunjung ke sebuah perpustakaan, Emma, seorang gadis dengan kemampuan ESP (indera keenam), perhatiannya tercuri oleh seorang pemuda tampan bermata muram yang selalu muncul di perpustakaan setiap hari Selasa. Bermula dari rasa ingin tahu, Emma memakai kemampuan ESP-nya untuk mencaritahu tentang pemuda itu, ketika pada hari-hari Selasa berikutnya, ia tidak lagi melihat pria itu. Di lain hari, ia tanpa sengaja ‘melihat’ gadis pengunjung kafe di tempatnya bekerja ditikam oleh orang tak dikenal.

Emma tahu ada kaitan erat antara gadis yang ditikam itu dengan pemuda tampan yang dilihatnya di perpustakaan. Selain itu, masih ada dua orang anak laki-laki kembar yang pandai bermain biola dan seorang gadis kecil. Mereka semua saling berkaitan. Berbekal kemampuan ESP-nya, Emma berusaha menguak apa yang sebenarnya terjadi, tanpa sadar ia sudah terlibat. Tak pernah terbersit dalam benak Emma, ia akan menemukan rahasia gelap sebuah keluarga.

Emma :
Lagi-lagi aku melihat pria tampan itu lagi. Seperti biasa ia duduk di depanku, di seberang kanan dari tempat aku menekuri bukuku saat ini. Bahunya yang kokoh membuatnya kian menarik untuk diamati. Ia selalu duduk membelakangiku. Dari sini, aku hanya dapat melihat punggung, bahu, dan bagian belakang kepalanya saja.

Sekitar setengah jam lagi ia akan meninggalkan perpustakaan ini. Ia akan melewati mejaku, mengembalikan buku di raknya, dan berlalu. Pada saat itu biasanya, aku akan berpura-pura asyik dengan buku yang kupegang sejak tadi. Padahal diam-diam aku tidak pernah benar-benar membaca.

Aku tidak pernah tahu siapa nama pria itu, dan terlalu malu untuk mengambil inisiatif memperkenalkan diri lebih dulu. Lagipula ia ke perpustakaan memang benar-benar untuk membaca, bukan untuk mencari teman, bukan pula untuk membunuh waktu, atau menunggu hingga mata kuliah dimulai seperti yang kulakukan.

Tiba-tiba pria itu berdiri, dengan gerakan cepat ia membenahi catatan dan pulpennya, ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan ke arahku. Kali ini aku tak sempat menunduk. Ia melewati mejaku tanpa berkata apa-apa. Ia menghilang di balik rak di sebelah kanan, lalu tak lama ia muncul lagi, berjalan ke pintu keluar, dan menghilang dari pandanganku. Kali ini aku beruntung bisa menatap wajah tampannya agak lama beberapa detik. Dari beberapa detik itu, dapat kutangkap matanya yang kecoklatan terlihat muram. Aku jadi ingin tahu apa yang membuatnya seperti itu. Hidup macam apa yang dijalaninya?

Tanpa sadar, tanganku telah bergerak-gerak membuat sketsa wajah tampan pria itu. Rambutnya yang halus, matanya yang tampak muram, alisnya yang tebal, dan garis-garis wajahnya yang tegas, seolah aku telah menatapnya cukup lama dan bukannya beberapa detik saja.
***

Hans :
Setelah kutinggalkan perpustakaan, aku menyebrang jalan menuju rumah Yola, murid yang harus kuajar hari ini. Setiap Selasa aku memang mengajar Yola bermain biola. Dia termasuk salah satu muridku yang paling pintar. Usianya memang baru dua belas tahun, tapi bakatnya benar-benar luar biasa. Ia tidak saja bermain biola dengan sangat memukau, tapi juga dengan sepenuh perasaannya. Ia mengungguli murid-muridku yang lain, yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.

Yola tidak sekedar bermain biola, tapi seolah-olah ia mencurahkan isi hatinya lewat gesekan biolanya. Ia selalu bermain dengan sepenuh hati, meresapi tiap nada yang diciptakannya lewat gerakan tangannya, menggesek biolanya dengan gerakan mantap dan percaya diri.

Setiap kali aku melihat Yola bermain biola, ingatanku selalu lari pada sosok kakakku, Karel. Karel hanya lima belas menit lebih tua dariku; dan sebagai saudara kembar identiknya, wajahku dan Karel sama persis, tapi sifat kami demikian berlainan, begitu pula dengan cara kami bermain biola.

Cara Karel bermain biola persis sama dengan cara Yola menggesek biolanya. Mereka adalah pemain biola alamiah. Mereka tak pernah menghiraukan teknik atau ketepatan, tapi ketika mereka menggesekkan biolanya, setiap nada seolah bernyawa, melantunkan suaranya ke udara.

Berbeda denganku! – meski aku juga berbakat, aku selalu bermain dengan hati-hati, memastikan tak ada nada yang salah kumainkan. Dan meski aku juga bermain biola dengan sangat baik, aku lebih sering mengkhawatirkan permainanku, daripada menikmatinya.

Pada dasarnya, aku memang selalu ingin sempurna,. Aku tak ingin permainan biolaku terdengar tak sempurna. Sebagai akibatnya, aku malah menjadi orang terakhir yang bisa menikmati permainan biolaku. Aku lebih peduli akan penilaian orang, guru biolaku, atau penonton yang mendengarku bermain. Aku tidak seperti Karel yang bisa bebas dari tekanan dan bermain biola lepas tanpa beban – tanpa kekhawatiran kalau-kalau aku salah memainkan nada, hingga alunan biolaku terdengar sumbang.

Karel bahkan lebih berbakat daripada Yola, waktu itu usianya baru saja menginjak sepuluh tahun. Kalau saja Karel sekarang masih hidup, ia tentu sudah semakin hebat. Permainan biolanya mungkin bisa saja menyamai pemain biola profesional. Ketika kecil saja ia demikian luar biasa, apalagi sekarang? Tapi … Karel hanya sempat hidup selama sepuluh tahun.

Aku hanya tahu sebuah kelainan jantung telah merenggut nyawanya. Padahal dia masih demikian muda. Memang sejak dulu, Karel selalu sakit-sakitan. Tapi aku tak pernah mengira bahwa penyakitnya ternyata berbahaya.

Aku yang waktu itu juga masih berusia sepuluh tahun, tak pernah punya bayangan apa-apa soal penyakit Karel. Yang kutahu ia memang lebih lemah fisiknya daripada aku. Jangankan berlari, berjalan menyusuri lorong rumah kami yang memang luas itu saja sudah membuatnya tersengal-sengal. Wajahnya akan menjadi pucat, dan ia menjadi sangat kelelahan.

Karel sering pula dirawat di rumah sakit beberapa kali. Ia sangat tak betah ditempatkan di sana. Ia selalu bertanya kapan ia akan sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia selalu meminta dibawakan biolanya, tapi kakek dan nenekku tak pernah mengabulkan permintaannya. Dengan alasan, Karel harus banyak beristirahat, setiap kali sakit, Karel selalu dipisahkan dari biolanya.

Aku tahu Karel sangat tersiksa karena penyakitnya, tapi aku juga tahu, baginya kehilangan kesempatan berlatih bermain biola jauh lebih menyiksa daripada penyakit yang dideritanya.

Meski hatiku sedih melihat Karel terbaring lemah di ranjang rumah sakit, melihatnya murung karena tidak bisa menyentuh biola kesayangannya, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menolongnya.

Di rumah, kakek dan nenek yang berkuasa. Kami memang tidak punya siapa-siapa lagi. Kami tidak pernah punya ibu. Ibu kami meninggal ketika melahirkanku dan Karel. Waktu kami kecil, kami mengira ayah kami juga sudah meninggal.

Baru ketika aku cukup dewasa untuk mengerti, aku baru tahu, kalau ayahku sebenarnya adalah juga kakekku. Aku dan Karel lahir dari hasil incest antara kakekku – yang juga ayahku, - dengan ibuku, yang adalah anak perempuannya sendiri.

Ibu kami baru berusia lima belas tahun ketika melahirkan kami. Ia adalah korban dari kebejatan ayahnya sendiri. Ayahnya, yang juga adalah ayahku – kakekku,- memperkosanya ketika ia baru berusia empat belas tahunan, dan tragisnya, dengan sepengetahuan nenekku, yang adalah ibu dari ibuku – yang seharusnya bisa melindungi anaknya – tapi malah membiarkan putri kandungnya sendiri dirusak, dihancurkan masa remajanya, hingga meninggal dengan menanggung aib.

Aib itu berwujud aku dan Karel. Aku rasa mereka – ibuku dan Karel - kini jauh lebih berbahagia daripada aku. Mereka kini telah lepas dari penderitaan, lepas dari rasa sakit, lepas dari malu, dari rahasia gelap masa silam yang masih harus kutanggung hingga kini.

Apa yang akan dikatakan orang jika tahu aku terlahir dari incest antara ibuku dan kakekku? Darah seorang pemerkosa mengalir juga di darahku. DNA yang sama, sel-sel yang sama ....

Tak pernah kukatakan pada siapa pun tentang ketakutanku yang terbesar. Semua kupendam sendiri dalam hati, terkubur di dasar hatiku, tanpa seorang pun yang tahu. Aku benar-benar tak ingin seorang pun tahu bahwa aku lahir dari perbuatan terkutuk – bahwa aku ini keturunan dari seorang pemerkosa, juga pembunuh!

Bukan hanya ibuku yang dibunuh, tapi Karel juga mereka bunuh! Euthanasia, kata itu selalu membuatku merasa dingin. Waktu aku kecil dulu, aku kira kata itu adalah nama obat yang akan menyembuhkan Karel, membuatnya lepas dari penyakitnya dan bisa membuatnya beraktifitas seperti layaknya anak-anak normal.

Tapi tak pernah kukira ternyata kata itu berarti hukuman mati buat Karel. Hukuman yang tak seharusnya ia terima. Memangnya Karel mau selalu sakit-sakitan? Kalau bisa memilih, ia pasti memilih menjadi anak yang sehat. Anak yang tak pernah menyusahkan kakek dan nenekku, yang tak perlu menghabiskan banyak uang untuk merawatnya, untuk membuatnya tetap bernyawa.

Ayahku yang kutahu memang penjahat, dan nenekku yang memang sejak dulu adalah kaki tangannya, mereka tega membunuh Karel, hanya karena Karel selalu merepotkan, selalu masuk rumah sakit, yang artinya lambat laun membuat mereka miskin. Mereka lebih mencintai pundi-pundi uang mereka daripada Karel! Mereka telah membunuh ibuku, lalu membunuh Karel juga! Mereka mencoba menipuku, mengatakan bahwa ini adalah hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk Karel, untuk melenyapkan rasa sakitnya, dan bahwa mereka melakukannya karena mereka mencintai Karel dan karena mereka tak tega melihat Karel selalu tersiksa dengan penyakitnya.

Semua alasan-alasan bodoh yang tak akan pernah kupercayai! Kalau Karel boleh memilih, ia pasti akan memilih untuk tetap hidup. Meski selalu sakit-sakitan, setidaknya ia masih bisa menggerakkan tangannya, memainkan biolanya, mengumandangkan suara musik yang demikian indah, yang membuatnya terhibur dan sejenak melupakan penyakitnya.

“Kak Hans, bagaimana permainan biola saya hari ini?”, suara Yola menyadarkanku dari lamunan.

Aku tersentak kaget, tapi hanya sekejap. Aku tersenyum ke arah Yola, “Bagus sekali! Setiap minggu, permainan biolamu semakin bagus.”, pujiku dengan tulus.Yola tersenyum senang. Meski ada kebanggaan terpancar dari kedua bola matanya, tak kutemukan sedikitpun kesan angkuh. Dan lagi-lagi, Yola mengingatkanku pada Karel! Karel juga selalu tersenyum jika ada orang yang memuji permainan biolanya. Tapi ia tidak pernah angkuh. Ia selalu rendah hati. Ia hanya mengucapkan terima kasih dengan sopan.Tanpa seijinku, lagi-lagi setitik kepedihan membersit di hatiku setiap kali kuingat saudara kembarku yang telah tiada itu. Ah, mengapa hidup harus demikian berat!!!
***

Emma:
Aku melihat gadis itu lagi. Ia selalu memesan secangkir kopi, lalu duduk di sudut ruangan. Ia biasanya melamun sambil melihat ke jendela di sebelahnya. Lalu setelah puas melamun, ia akan mereguk kopinya dalam satu tegukan saja, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu dengan gerakan tergesa-gesa dan sedikit kasar.

Aku juga tak mengerti apa yang membuatku peduli atau ingin tahu tentang gadis itu. Penampilannya sama sekali tidak menarik. Tubuhnya kecil dan ia tak terlalu tinggi, berambut pendek dan berponi. Ia berkulit pucat dan memakai setelan bernuansa coklat yang formal.

Gadis itu tiba-tiba menoleh dan tatapan kami bertumbukan. Ia mungkin merasa bahwa aku telah mengamatinya sejak tadi. Ia menunduk, meraih cangkir di meja, dan mereguknya dengan gerakan cepat. Tapi kali ini ia meletakkan cangkirnya perlahan-lahan, lalu dengan gerakan lambat ia berdiri, seolah tak yakin apa yang ingin dilakukannya.

Ia berjalan ke arahku, meneliti kue-kue basah dan roti, lalu menunjuk ke arah sepotong black forest berbentuk segitiga dan sederet croissant aneka rasa dengan gerakan kaku.

“Tolong, bungkuskan!”, ucapnya.

“Baik. Masing-masing satu potong saja?”
“Ya,” jawabnya pendek.

Kusebutkan harganya dan menerima uang yang ia angsurkan.

“Terima kasih,” kataku dengan nada riang seraya mengulurkan uang dan struk pembelian serta kantong plastik berisi kotak kue.

“Ya,” ia menyahut pendek dan berlalu.

Kusentuh uang yang tadi diulurkan gadis itu, lalu dengan terkejut ‘kulihat’ gadis itu di sebuah ruang tamu. Ia duduk di sofa berwarna cokelat. Ia sedang membaca. Ia bersandar pada sebuah bantalan sofa berukuran besar dan lagi-lagi berwarna cokelat.
Seseorang membunyikan bel pintu. Gadis itu menutup bukunya dan dengan gerakan cepat menuju pintu. Ia membukanya dengan tergesa-gesa tanpa mengintip lebih dulu siapa yang datang. Ia sepertinya memang tengah menantikan tamu itu.

Seseorang, entah pria atau wanita, mengeluarkan sebilah pisau besar, dan menikamkannya ke perutnya. Orang misterius itu lalu berlalu begitu saja. Gadis itu roboh ke lantai dengan posisi berlutut. Darah mengalir membasahi blusnya yang berwarna cokelat.
***
 
Kuletakkan uang yang tadi diulurkan gadis itu ke tempatnya. Aku setengah berlari ke luar kafe. Winda menatapku keheranan, tapi tak kuhiraukan. Mataku mencari-cari sosok gadis itu.
Aku berlari menyusuri deretan kafe, lalu aku berbalik dan mulai mencari gadis itu ke arah yang berlawanan, tapi usahaku sia-sia. Kuturuni eskalator sambil masih berlari, kupercepat lariku, dan keluar dari komplek perbelanjaan ini. Ia sudah menghilang. Gadis itu tak berhasil kususul. Ia keburu lenyap.

Dengan perasaan resah dan langkah gontai aku kembali ke lantai dua, ke kafe tempatku bekerja. Tak kuhiraukan pertanyaan Winda yang menuntut penjelasan dari tingkahku yang membingungkannya. Aku hanya dapat menghela nafas.

Aku tak dapat menolong gadis itu. Ia tak sempat kuperingatkan. Seseorang, entah siapa akan menikamnya. Ia akan terjatuh dengan luka tikaman di perutnya. Berlutut bersimbah darah di ruang tamunya. Semoga saja gadis itu tertolong dan tidak meninggal. Tanpa sadar aku mendesah.
***
 
Hans:
Kakek tiba-tiba saja terserang stroke – padahal sebelumnya ia selalu segar bugar dan tak pernah sakit. Ia kini dirawat di rumah sakit. Karena hal inilah maka aku hari ini tak sempat belajar di perpustakaan seperti biasa. Aku harus menjaga kakek sampai tiba giliran nenek menungguinya di kamar ini.
Meski di rumah sakit ada banyak perawat, tetap saja nenek lebih suka kalau kakek ditunggui dan ditemani oleh keluarga sendiri, daripada dipantau oleh perawat yang hanya sesekali memeriksa keadaan pasien. Karena itu aku kini duduk di samping kakek yang terbaring lemah. Mau tak mau ingatanku kembali lari pada sosok Karel yang dulu juga sering terbaring lemah di rumah sakit, sama seperti kakek yang kini terbaring tak berdaya. Sebersit kebencian kembali menyeruak di hatiku.

Meski telah kucoba untuk menepisnya, tetap saja aku masih menyisakan kemarahan pada kakek dan nenekku, terutama sekali pada sosok kakekku. Tak cukup ia memperkosa ibuku, hingga melahirkan kami – aku dan Karel,- ia juga harus membunuh Karel juga. Tidakkah kakek tahu betapa berat, hidup tanpa sosok ibu? Lalu ia membiarkan Karel meninggal dalam usia demikian muda. Hanya karena alasan biaya, mereka membiarkan dokter mencabut selang penunjang hidupnya. Padahal mereka sama sekali tidak miskin.

Aku tahu biaya perawatan dan berobat Karel memang cukup besar, tapi mereka masih mampu mengobati Karel kalau memang mau. Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka lebih senang membiarkan Karel mati!!!

Dalam kegusaranku, aku setengah berharap kakek mati saja. Tapi demi sebuah kesadaran muncul, aku segera meralat pikiranku. Aku tak mau menjadi seperti kakek! Aku bukan pembunuh! Meski di dalam pikiran sekalipun, aku tak mau menjadi sama jahatnya seperti kakek. Dan meski enggan kuakui, darah kakek juga mengalir di darahku. Darah pembunuh!

Aku setengah bergidik menyadari hal ini. Hatiku mencelos. Aku benar-benar takut kalau hatiku ternyata sama hitamnya dengan hati kakek. Aku takut sifat keji kakek menurun padaku, dan aku akan menjadi seperti dirinya. Seorang pembunuh sekaligus pemerkosa!

Tanpa sadar kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Ingin kuusir ketakutanku, tapi tetap saja pikiran-pikiran yang menggelisahkan ini tetap menghantui hari-hariku. Dengan setengah memaksakan diri, kualihkan pikiranku pada hal lain.

Kulirik arlojiku. Lima belas menit lagi nenek baru akan tiba di rumah sakit, menggantikanku menjaga kakek yang kini sedang tertidur pulas. Setelah nenek datang, aku akan langsung pergi mengajar Yola. Anak itu semakin pintar saja menggesekkan biolanya.

Tapi begitu teringat Yola, aku jadi teringat Karel lagi, lalu lagi-lagi aku teringat penyebab kematiannya. Ini benar-benar bagai lingkaran setan. Tanpa sadar aku mendesah. Aku menyerah! Betapa pun aku berusaha mengusir kebencianku pada kakek, tetap saja kebencian itu tidak sirna, malah sepertinya kian hari tumbuh kian subur. Entah sampai kapan, aku baru akan memaafkan kakek atas tindakannya mencabut nyawa Karel.
***
 
Emma:
Akhirnya aku berhasil mengetahui keadaan gadis itu. Ia ternyata tidak mati. Seorang tetangganya yang ingin meminjam mobil menemukan gadis itu terbaring tertelungkup di lantai. Gadis itu lalu dilarikan ke rumah sakit. Ia kini masih terbaring lemah di rumah sakit. Polisi juga telah berhasil mengidentifikasi pelakunya yang ternyata kekasihnya sendiri, yang ternyata pula telah beristri.
Kekasih gadis itu tak ingin hubungan gelapnya terbongkar oleh istrinya, karena gadis itu mengancam akan memberitahu istrinya. Itu sebabnya kekasih gadis itu kalap dan gelap mata, lalu berupaya menghabisi gadis itu. Demikian berita tentang gadis itu kubaca di surat kabar.

Polisi telah berhasil meringkus kekasih gadis itu. Tapi tak ada cukup bukti yang memberatkan – pisau yang dipakai untuk menikam gadis itu tidak diketemukan. Kekasih gadis itu kini hanya dijadikan tahanan dalam kota. Ia dibebaskan dengan sejumlah uang jaminan, tapi masih dalam pengawasan polisi.

Setelah kutahu gadis itu masih hidup, aku menjadi lega. Setidaknya ia masih hidup, meski kemarin lusa aku tak sempat memperingatkannya akan bahaya yang mengancam nyawanya. Karena itu, masih dengan perasaan senang, aku menyebrang jalan dari kampusku menuju perpustakaan nasional yang letaknya tepat di seberang kampus. Hari ini hari Selasa. Pria tampan itu pasti datang ke perpustakaan. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya lagi. Tapi, ternyata ia belum datang. Ini di luar kebiasaannya. Ia biasanya telah duduk di mejanya. Meja di seberang depan mejaku adalah tempat favoritnya. Ia selalu duduk di situ. Ia tak pernah mengganti kebiasaannya, sama seperti aku, yang juga selalu duduk di bangku yang sama.

Aku menunggu hingga bosan, tapi pria tampan itu tak pernah muncul. Akhirnya aku bangkit dari kursiku. Kuhampiri meja tempatnya biasa duduk. Kuletakkan kedua telapak tanganku di atas meja. Dengan kekuatan ESP-ku, aku mencoba merasakan keberadaannya. Tapi aneh, bukan pria tampan itu yang kulihat! Aku malah melihat dua anak laki-laki, yang rupanya kembar, karena wajah mereka mirip satu sama lain. Keduanya bermain biola. Anak laki-laki yang lebih kurus bermain biola dengan ekspresi riang dan penuh semangat, sedang kembarannya bermain dengan wajah serius penuh konsentrasi.
Dengan kecewa aku kembali ke mejaku. Kukembalikan ke rak, buku yang tadi kubaca selintasan. Kukemasi buku dan peralatan tulisku. Setelah itu aku keluar dari pintu di lantai ini, menuruni tangga ke lantai satu, kembali ke kampus.
***
 
Hans:
Kakek belum juga sembuh. Sudah seminggu berlalu dan kondisinya masih juga belum membaik. Seperti Karel, ternyata jantung kakek juga tidak berfungsi secara normal, selain juga karena penyakit hipertensi yang dideritanya. Maka mau atau pun tidak, hari ini aku kembali menunggui kakek di rumah sakit. Yang paling kubenci dari hal ini, rumah sakit selalu mengingatkanku akan Karel – maka aku tak kuasa menahan kemarahanku, yang lagi-lagi meluap setiap kali aku ingat euthanasia yang dipaksakan kakek terhadap Karel.
Apa kata kakek jika kini aku setuju dilakukan euthanasia terhadap dirinya? Apakah ia akan merasa dibunuh? Sama seperti diriku, Karel juga sama tidak tahunya bahwa kakek bisa tega mencabut nyawa Karel – cucunya sendiri – anak kandungnya sendiri – darah dagingnya!!!

Aku bangkit berdiri. Aku harus keluar dari ruangan ini – dari rumah sakit ini! Rasa marah yang terus-menerus berkecamuk di hatiku benar-benar membuatku lelah. Aku putus asa mencoba meredamnya. Aku bahkan tak ingin lagi mencoba menghalau kemarahan yang berkobar di dadaku.

Sebentar lagi nenek toh akan datang menggantikanku menjaga kakek! Kalau pun selama kutinggalkan ia sendirian di ranjangnya, kakek meninggal tiba-tiba – itu bukan urusanku! Setidaknya ia telah melewati tahun-tahun yang panjang selama enam puluh tahun lebih. Kalau ia memang harus mati hari ini, biarlah maut menjemputnya! Tidak ada yang mencabut nyawanya selain malaikat maut sendiri! Tidak seperti Karel! Ia baru saja sepuluh tahun – dan kakek bagai malaikat pencabut nyawa – memutus tali kehidupan dari diri Karel. Kalau pun kakek benar-benar mati hari ini, berarti ia memang telah ditakdirkan untuk meninggal sekarang.

Tak ada gunanya aku terus tinggal di rumah sakit ini berlama-lama! Aku tak mau melakukannya demi nenek – apalagi demi kakek – yang adalah ayah kandungku juga. Kakek tetap hidup atau langsung mati, aku tidak peduli!

Rasa sesak memenuhi dadaku. Meski terasa perih, sebuah kesadaran tiba-tiba menyelinap di hatiku. Aku ternyata merindukan Karel, kembaranku yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sia-sia aku mencoba mengingkari perasaanku! Percuma aku berusaha melupakan bayang-bayang Karel yang terbujur kaku di dalam peti mati, dengan sebuah biola diletakkan di samping jenazahnya.

Tanpa sadar sebutir air mata luruh dari pelupuk mataku. Betapa sengsaranya tak pernah mengenal ibu yang telah melahirkanku ke dunia! Lebih menyakitkan lagi melihat saudara kembarku sendiri, dibiarkan menjelang ajal dalam usia demikian muda. Bukan karena sudah waktunya bagi Karel untuk mati – tapi karena ayah kandungnya sendiri tak lagi menginginkan kehadirannya lagi. Kakek dan nenekku membiarkan Karel mati karena Karel selalu merepotkan! Ia selalu sakit-sakitan, selalu masuk rumah sakit, selalu mengeluarkan banyak biaya! Tapi itu bukan suatu alasan untuk membunuhnya! Tak ada satu pun alasan di dunia ini yang membuat mereka berhak membunuh Karel! Tidak ada!!!
***

Hans:

Setelah puas menangis sendirian di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi, aku akhirnya bangkit dari bangku panjang bercat putih yang telah setia menemaniku dari tadi. Kuputuskan kembali ke ruangan tempat kakek dirawat. Ia ternyata masih tertidur lelap di bawah pengaruh obat yang tadi diminumnya.

Kuamati wajah ayah kandungku itu lekat-lekat. Gurat kelelahan tak nampak pada wajah tuanya. Ia kelihatan damai dalam tidurnya. Kalau melihat dari raut wajahnya, siapa yang mengira bahwa wajah tua yang tak berdaya ini, juga adalah wajah seorang pembunuh?

“Hans”

Aku menoleh. Nenek ternyata telah datang.

“Aku pulang, Oma,” ucapku seraya keluar dari ruangan.

Nenek mengangguk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kutinggalkan rumah sakit ini.
***
 
Emma:
Aku lagi-lagi tak melihatnya hari ini. Pria tampan itu tak muncul lagi. Langsung kukemasi alat-alat tulis dan bukuku. Kulangkahkan kakiku menuju meja yang biasa ia duduki. Kuletakkan barang-barangku di mejanya, lalu menarik kursi dan duduk di kursi yang biasa ia duduki. Apa ia sakit? Aku bertanya-tanya dalam hati.

Kembali kuletakkan kedua telapak tanganku di meja. Seperti minggu lalu, kupakai kemampuan indera keenamku mencoba mencari pria tampan itu.

Hei, kenapa anak laki-laki kembar lagi yang kulihat? Kembaran anak laki-laki berwajah serius itu sedang sakit. Ia terbaring lemah di ranjang sebuah ruangan yang serba putih. Sepertinya itu sebuah ruangan di suatu rumah sakit.

Tak berapa lama, beberapa orang dewasa masuk ke ruangan itu. Seorang dokter, seorang perawat, dan sepasang manula. Siapakah mereka? Apa hubungan dengan pria tampan itu?

“Karel”, panggil pria tua itu kepada si anak laki-laki.

“Ya, Opa?”, si anak laki-laki menyahut dengan suara lemah.

“Sebentar lagi kau tak akan merasakan sakit lagi.”, kata pria tua itu lagi.

“Benarkah? Jadi Karel bisa berlatih biola lagi?”, suara anak laki-laki itu kini terdengar riang.

Pria tua itu tidak menjawab.

“Anda yakin tidak akan menyesali keputusan Anda melakukan euthanasia terhadap Karel?”, sang dokter angkat bicara.

“Ini yang terbaik untuk Karel. Kami semua sangat menyayanginya. Kami tak ingin Karel tersiksa dengan penyakitnya lebih lama lagi.”, sahut pria tua itu.

“Baiklah. Anda ingin saya yang melakukannya atau Anda sendiri?”, tanya sang dokter.

“Biar saya saja.”, kata pria tua itu.
***
 
Emma:
Anak laki-laki yang serius itu menangis terisak-isak. Tangisnya yang meledak membuat bahunya terguncang-guncang. Masih sambil menangis, bersama orang-orang dewasa lainnya, ia turut menaburkan bunga ke sebuah peti mati berukuran kecil. Sebuah foto dan karangan bunga yang diletakkan di samping peti mati itu memberitahuku siapa yang telah meninggal.

Kasihan sekali! Ternyata kembarannya telah meninggal, anak laki-laki yang tadi kulihat terbaring di ranjang rumah sakit, yang minggu lalu kulihat ia bermain biola dengan penuh semangat di samping kembarannya yang lebih serius, ternyata kini telah meninggal. Rasa iba menjalari hatiku.

Aku tak tahu yang kulihat ini kejadian di masa lalu atau di masa depan. Tapi, apa hubungan kedua anak laki-laki kembar itu dengan pria tampan yang biasa duduk di bangku ini? Aku masih tak melihat kaitannya. Dan aku kian tak mengerti ketika tak lama kemudian sosok pria tampan itu akhirnya terlihat. Ia sedang bermain biola bersama seorang gadis kecil berusia kira-kira dua belas tahun. Mereka dikelilingi oleh banyak orang. Sepertinya mereka bermain biola bersama dalam sebuah pesta ulang tahun. Tapi siapa yang berulang tahun?

Suara tepuk tangan membahana terdengar. Seorang gadis dengan gaun pesta berpotongan modern berjalan ke tengah ruangan. Ia menyalami pria tampan itu dan memeluk gadis kecil tadi. Ia lalu menoleh ke arah tamu-tamunya dan ternyata … gadis itu … gadis yang suka melamun di kafe tempatku bekerja, yang baru-baru ini ditikam oleh kekasihnya di apartemennya. Gadis dengan pakaian serba cokelat itu … Apa hubungannya dengan pria tampan itu?

Aku kebingungan sendiri dengan apa yang kulihat. Mengapa mereka saling mengenal? Kedua anak laki-laki kembar itu, si pria tampan, anak perempuan itu, mereka semua bermain biola, tapi mengapa mereka berkaitan dengan gadis yang ditikam itu? Aku makin tak mengerti. Siapakah mereka???
***
 
Hans:
Dari rumah sakit, aku langsung menuju rumah Yola. Sampai di depan pintu, ternyata Yola sendiri yang membukakan pintu.

“Kak Hans, Yola hari ini harus ke rumah sakit. Kita sekeluarga mau nengok kak Agustina. Kata mama, ada orang jahat yang nusuk kak Agustina pakai pisau.”, kata Yola dengan mimik sedih.

“Oh, tapi kak Agustina gak kenapa-napa, kan? Kak Agustina baik-baik aja?”, tanyaku kaget.

“Kata mama sudah lewat masa kritis. Kemarin Yola ga boleh ikut ke rumah sakit. Jadi hari ini Yola maksa mama anterin Yola liat kak Agustina. Hari ini Yola ga latihan biola sama kak Hans, boleh ya?”, tanya Yola setengah memelas.

“Boleh. Kita ganti besok saja, ya? . Kak Hans pulang dulu.”

“Ya, hati-hati di jalan ya, Kak?”

“Ya. Salam buat papa-mama Yola dan kak Agustina, dari kak Hans.”

“Baik, Kak. Dah ….”

“Dah, Yola.”, kulambaikan tanganku sebelum berlalu dari pintu rumah Yola. Sejenak aku ragu-ragu, lalu kuputuskan untuk pergi ke perpustakaan saja. Sudah dua minggu ini aku tak sempat ke perpustakaan.

Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan dan langsung menuju ke rak buku psikologi. Setelah kutemukan yang sesuai dengan keperluanku, kulangkahkan kakiku menuju ke meja favoritku. Tapi, hei, ternyata sudah ada yang mendudukinya. Seorang gadis cantik berambut panjang sebahu sedang duduk di kursi yang biasa kutempati. Tapi, anehnya ia tidak sedang membaca. Ia hanya meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja. Matanya nyalang menatap ke depan. Ia sepertinya sedang melamun.

Ketika kuamati wajahnya sekali lagi, kukenali wajahnya yang ternyata tak asing bagiku. Aku selalu melihatnya setiap Selasa. Ia selalu duduk di belakangku. Agak ke sebelah kiri, tepatnya. Ia selalu mencoret-coret sesuatu di buku catatannya, tapi kadang ia tampak sedang serius membaca. Tapi sekitar sebulan yang lalu, kupergoki ia tengah mengamati gerak-gerikku. Tapi aku pura-pura tidak tahu.

Kenapa ia tidak duduk di bangkunya sendiri? Aku bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan gadis itu? Orang yang melamun biasanya tidak seperti itu. Gadis itu tiba-tiba mendesah, lalu dengan sama tiba-tibanya ia menoleh ke arahku.

Mata kami bertumbukan. Ia terlihat terkejut melihatku berdiri tak seberapa jauh dari tempat ia duduk. Ia cepat-cepat bangun dari duduknya, mengemasi buku dan alat tulisnya.

“Maaf,” katanya padaku lalu berjalan ke arah tempatnya biasa duduk.

“Tidak apa-apa. Ini kan perpustakaan umum. Semua orang boleh duduk di mana pun yang ia suka.”, sahutku menenangkannya.

Ia tersenyum tapi tidak berkata apa-apa.

“Namaku Hans.”, kataku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan ke arahnya.

“Emma.”, ucapnya sambil menjabat tanganku.

Ia tersentak kaget tanpa sebab yang jelas.

“Kau adalah anak laki-laki itu,” desisnya lirih.

“Apa?”, aku bertanya keheranan.

“Kau anak laki-laki berwajah serius itu.”

“Siapa?”, aku tak yakin dengan pendengaranku.

“Apakah kembaranmu sudah meninggal?”

Pertanyaan gadis itu benar-benar mengagetkan. Dari mana ia tahu kalau aku dan Karel memang dilahirkan kembar? Mengapa ia bisa tahu tentang kami?

“Dari mana kau tahu kalau aku anak kembar?”

“Aku … punya indera keenam.”

“Benarkah?”

“Ya, aku mulanya tak tahu kalau anak laki-laki kembar yang bermain biola itu kau dan saudaramu.”

Aku memandang takjub kepada gadis yang baru saja kukenal itu.

“Kau tahu aku dan Karel bermain biola?”

“Ya, lalu ada gadis kecil berusia kira-kira dua belas tahun.”

“Ya, itu Yola. Dia muridku. Aku yang mengajarnya bermain biola.”

“Jadi, begitu! Lalu siapa gadis itu?”

“Gadis yang mana?”

“Kau dan muridmu, kalian bermain biola di pesta ulang tahunnya. Gadis itu ditikam dan sekarang ada di rumah sakit.”

“Agustina? Kau tahu tentang Agustina?”

“Namanya Agustina? Aku selalu melihat dia melamun di sudut ruangan di kafe tempat aku bekerja. Dia selalu memesan secangkir kopi dan duduk melamun sampai berjam-jam. Ia selalu memakai pakaian berwarna cokelat.”

“Dari mana kau tahu tentang kami?”

“Aku perhatikan kau sudah tiga kali hari Selasa tidak muncul di perpustakaan. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Gadis yang katamu bernama Agustina itu, sebelum ia ditikam, aku telah melihatnya lebih dulu. Ia sedang menunggu seseorang di ruang tamunya. Lalu bel pintu berbunyi, ia membukanya dengan tergesa-gesa. Seseorang menikamnya di perutnya. Aku tak sempat memperingatkan dia.”, Emma menjelaskan panjang lebar.

“Tapi kau tidak pernah bertemu Karel. Dari mana kau tahu tentang dia?”, tanyaku tak mengerti.

“Karel itu siapa?”, ia balik bertanya.

“Karel itu saudara kembarku. Dia memang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.”

“Oh, maaf. Aku telah membuatmu teringat dia lagi.”

“Tidak apa-apa. Setiap hari aku memang selalu ingat Karel.”

“Karel meninggal karena permintaan euthanasia, kan?”

“Kau tahu?”

“Ya, aku tahu. Siapa laki-laki tua itu?”

“Dia … kakekku.”

“Orang tuamu setuju dengan kakekmu?”

“Kami tidak punya orang tua. Ibuku juga sudah meninggal.”

“Maaf.”, Emma terdengar prihatin.

“Kenapa kau bisa tahu sebanyak ini?”

“Ya. Waktu kau tak lagi datang ke perpustakaan, aku duduk di tempat kau biasa duduk. Dengan kemampuan indera keenamku, aku melihat kau dan kembaranmu ketika kalian kecil. Kalian bermain biola. Aku melihat ketika Karel sakit. Aku mendengar pembicaraan dokter dan kakekmu tentang euthanasia terhadap Karel.”

“Jadi kau benar-benar melihat kami semua?”

“Ya. Aku juga melihatmu menangis ketika Karel meninggal.”

“Lalu Agustina?”, kualihkan topik pembicaraan kami.

“Aku penasaran kenapa ia selalu duduk melamun setelah memesan secangkir kopi. Jadi ketika ia terakhir kali berkunjung ke kafe tempat aku bekerja, aku heran ia kali ini membeli beberapa kue untuk dibawa pulang. Setelah ia keluar dari kafe, kucoba berkonsentrasi mencari tahu tentang dirinya dengan kemampuan ESP-ku. Aku lalu melihat Agustina ditikam. Jadi aku lari mengejarnya sampai ke pelataran parkir, tapi Agustina tak berhasil kutemukan.”

“Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kau bisa tahu tentang kami sebanyak ini.”

“Aku mulanya juga tidak tahu. Bukan kau yang kulihat, malah dua orang anak kembar sedang bermain biola. Sekarang aku tahu, itu kau dan Karel ketika masih kecil. Lalu aku melihat Karel sakit, juga ketika ia dimakamkan. Lalu aku melihatmu dan Yola bermain biola di pesta ulang tahun Agustina. Aku jadi bingung apa kaitan di antara kalian semua. Tapi kini aku mengerti.”

“Jadi … kau ini seorang cenayang?”

“Aku memang punya kemampuan ESP. Mulanya aku juga tidak bisa menerima kelebihan ini. Aku merasa aku ini orang yang aneh. Tapi sejak kusadari, kalau kemampuanku bisa dipakai untuk memperingatkan orang terhadap bahaya yang mengancam di depan, aku jadi lebih bisa memahami diriku sendiri.”

“Tadinya kupikir indera keenam itu cuma dongeng,” aku mengaku dengan jujur.

Emma tertawa. Suaranya halus tapi bernada riang dan entah mengapa, melihat Emma tertawa, untuk sejenak aku tak teringat pada Karel atau kakekku yang kubenci dan kemarahanku sendiri.
***
 
Emma:
“Jadi, kenapa tiap Selasa kau sudah tidak datang ke perpustakaan lagi?”, tanyaku pada Hans.


“Kakekku sakit. Aku menungguinya di rumah sakit.”, Hans menjawab dengan enggan.

“Kau menunggui kakekmu seharian?”, tanyaku lagi.

“Tidak. Kalau pagi aku kuliah. Setelah itu aku baru menunggui kakekku sampai sore. Nenekku dan aku bergantian menjaga kakek.”

“Kakekmu sakit apa?”

“Jantung, hipertensi, entah apa lagi.”, kata Hans pelan.

“Kuliahmu mengambil jurusan apa?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan begitu kusadari keengganan Hans berbicara tentang kakeknya.

“Jurusan psikologi.”

“O ya? Sekarang semester berapa?”

“Semester terakhir. Bagaimana kau sendiri?”, kali ini Hans yang bertanya.

“Aku baru semester lima, ambil jurusan sastra Inggris.”

“Kau sering ke perpustakaan ini?’, tanya Hans.

“Setiap hari. Aku malah belum pernah ke perpustakaan kampusku.”

“Memangnya kenapa?”, tanya Hans keheranan.

“Tidak apa-apa. Aku cuma suka saja dengan suasana perpustakaan di sini.”, kataku setengah berbohong.

Mana mungkin kukatakan pada Hans kalau alasanku selalu datang ke perpustakaan ini adalah untuk melihatnya? Lagipula kata Winda, perpustakaan di kampus kami buku-bukunya tidak lengkap, selain ruangannya juga sempit; jadi tidak semua pengunjung perpustakaan bisa mendapatkan tempat duduk.

“Kau hari ini tidak menjaga kakekmu, jadi kau bisa ke perpustakaan?”

“Aku tadi menunggui kakek beberapa jam. Tadinya aku harus mengajar Yola, tapi dia menengok Agustina ke rumah sakit. Jadi aku ke sini saja.”

“Oh, begitu. Kalau Yola tidak menengok Agustina, kau tidak bisa ke perpustakaan, ya?”, tanyaku pada Hans.

“Ya. Besok sebelum mengajar Yola, aku juga akan ke sini lagi.”

“Ngomong-ngomong, apa hubungan Yola dengan Agustina?”

“Oh, mereka saudara kandung. Selisih usia mereka memang cukup jauh. Agustina tinggal sendiri di apartemen karena kantor tempatnya bekerja memang jauh dari rumahnya.”, Hans menjelaskan.

“Jadi setiap Selasa dan Rabu kau mengajar Yola?”

“Tidak. Hanya setiap hari Selasa. Karena hari ini Yola menengok Agustina ke rumah sakit, aku baru akan mengajar dia besok.”

“Jadi kau ke perpustakaan hanya setiap hari Selasa?”

“Ya.”

“Tapi besok kau ke sini lagi, kan?”, tanyaku menegaskan.

Hans tersenyum. Mungkin ia berpikir, aku ini cerewet! Tanpa sadar, pipiku bersemu merah.

“Ya, besok aku ke sini lagi.”, janji Hans.
***
 
Hans:
Hari ini aku pulang kuliah sedikit lebih cepat. Salah satu dosenku berhalangan hadir karena istrinya melahirkan dan harus menunggui istrinya di rumah sakit. Asisten dosenku juga berhalangan hadir karena ia sedang menghadiri seminar di luar kota. Karena itu setelah beramai-ramai dengan teman-teman kuliahku yang lain menandatangani buku absen, aku langsung menuju rumah sakit untuk menggantikan nenek menjaga kakekku.

Ketika aku tiba di ruangan kakek dirawat, nenek sedang merajut. Nenekku memang senang merajut. Ia sepertinya tidak bisa melihat benang dan jarum menganggur. Meskipun ia cuma bisa merajut sweater dan syal, nenek tetap saja tak bergeming. Entah berapa banyak sweater dan syal yang dirajut untuk kakek dan aku. Padahal tinggal di Jakarta yang udaranya selalu panas, kami tidak seberapa memerlukan syal atau sweater. Bahkan di saat musim hujan pun, aku tidak seberapa kedinginan. Tapi nenek memang tidak peduli apakah aku dan kakek akan memakai syal dan sweater hasil rajutannya atau tidak. Ia tetap saja merajut setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu.

“Oma,” sapaku pada nenek.

“Hans, kamu pulang lebih cepat hari ini?”

“Ya. Dosen Hans berhalangan hadir.”

“Coba lihat ini! Bagus tidak? Ini untukmu!”, kata nenek sambil melilitkan sebuah syal berwarna pink tua ke leherku.

Aku cuma bisa tersenyum. Dasar nenek! Masa ia membuatkanku syal berwarna pink tua?

“Bagus tidak, Hans?”, tanya nenek lagi.

“Bagus, Oma. Tapi rasanya warna pink cocoknya untuk anak perempuan.”

“O ya? Benar juga ya?”, nenek tertawa berderai.

“Kalau begitu nanti Oma buatkan yang lain lagi. Kamu suka warna apa, Hans?”

“Biru muda, Oma.”

“Wah, di rumah cuma ada benang warna kuning. Berarti Oma harus belanja dulu.”

“Tidak usah repot, Oma.”, potongku cepat-cepat.

“Bagaimana kalau syal kuning? Kau suka warna kuning?”

“Ya, Oma,” sahutku cepat sebelum nenek kembali berubah pikiran.

Tak bisa kubayangkan bagaimana aku akan mengatur lemari pakaianku jika nenek memutuskan berbelanja benang. Pastinya bukan benang berwarna biru muda saja yang akan dibelinya, tapi semua warna benang di toko akan diborong nenek lalu tentu saja akan lebih banyak lagi syal dan sweater yang akan dibuat nenek untukku. Sekarang saja aku sudah kewalahan bagaimana menempatkan syal dan sweater yang tebal-tebal itu di lemari pakaianku yang tak seberapa besar.

Kulepaskan syal yang melilit di leherku. Pink tua! Dalam hati aku menggerutu. Tapi, hei, bukankah Emma suka warna pink? Ia memang tidak pernah bilang ia suka warna apa. Tapi semua yang dikenakannya serba pink. Ia hampir selalu mengenakan t-shirt, kemeja, atau blus berwarna atau bernuansa pink. Jepitan rambut yang ia pakai, buku catatannya, bahkan warna kuteksnya juga pink. Lebih baik kuberikan syal ini pada Emma saja.

“Hans, sekarang kau jaga Opa, ya? Oma mau belanja dulu. Rasanya sweater biru muda cocok untukmu.”, kata nenek mengejutkanku.

“Jangan, Oma! Hans suka warna kuning, kok. Kalau Oma merajut terus, nanti Oma tidak sempat istirahat. Kalau Oma juga jatuh sakit, Hans kan tidak bisa menjaga kalian berdua dalam waktu bersamaan. Belum lagi Hans masih harus kuliah dan mengajar les biola.”

“Tidak usah khawatir, Hans! Oma sehat kok. Bahkan mungkin lebih sehat dari kamu. Kamu pernah lihat Oma sakit? Tidak pernah, kan? Oma malah bakal jatuh sakit kalau tidak merajut,” kata nenek sambil tersenyum.

“Tapi Hans tidak ingin merepotkan Oma.”

“Oma tidak merasa repot. Merajut itu menyenangkan. Oma janji, paling telat hari Kamis pagi, sudah akan ada sweater baru untukmu,” janji nenek padaku.

“Terima kasih, Oma,” sahutku dengan suara pelan.

Nenek berlalu, meninggalkanku sendirian hanya dengan kakek yang tertidur lelap tanpa menyadari kehadiranku. Untunglah setiap kali giliranku menjaga kakek tiba, kakek selalu sedang tertidur. Aku memang malas berbicara dengannya. Sejak Karel meninggal, aku hampir tak pernah berbicara dengan kakek lebih dari dua kalimat. Jadi bisa disimpulkan, selama sepuluh tahun terakhir ini, aku dan kakek sudah seperti orang asing saja satu sama lain, saling tidak mempedulikan, bahkan saling menjauhi.

Aku sampai kini masih tidak bisa memaafkan kakek karena membohongiku dan Karel. Kakek telah berjanji padaku dan Karel, berjanji akan membuat Karel sembuh dari penyakitnya. Tapi kenyataannya kakek malah membuat Karel meninggal dengan menandatangani surat eksekusi euthanasia terhadap Karel. Kenapa kakek tega???

Dan kenapa nenek hanya bisa diam saja? Tak bisakah nenek melawan kakek? Mengapa ia hanya bisa diam? Hanya bisa merajut di sudut ruangan? Berpura-pura tidak ada yang terjadi? Ia bahkan tidak menangis ketika Karel meninggal, seperti juga kakek! Hanya aku yang menangisi kepergian Karel. Aku satu-satunya orang yang menangis untuk Karel ketika jenazahnya disemayamkan.

Aku menghela nafas. Kupandangi syal pink tua di tanganku. Lebih baik aku mengingat Emma, daripada mengingat perlakuan kakek-nenekku terhadap Karel! Aku tidak ingin terus-menerus terpuruk dalam sakit hati dan kemarahan. Emosi-emosi negatif ini benar-benar melelahkan, menguras tenaga, dan mengikis secuil kebahagiaanku yang tersisa. Aku selama ini hanya bisa bermain biola untuk melupakan semua rasa tertekanku. Aku tidak pernah bercerita pada siapa pun. Hanya pada udara, lewat gesekan biolaku.

Jadi kubayangkan Emma, rambutnya yang sebahu dijepit rapi. Ekspresi wajahnya selalu kelihatan riang. Suaranya pun selalu bernada gembira, meski suaranya rendah. Matanya yang bulat dan hitam selalu bercahaya. Caranya bicara juga sedikit kekanak-kanakan. Yola bahkan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan Emma.

Bukan karena postur tubuhnya, kalau aku berpendapat bahwa Emma lebih terlihat kekanak-kanakan daripada Yola. Yola juga selalu terlihat riang. Tapi Yola juga sama seperti aku, kami hanya berbicara seperlunya saja. Kami lebih suka bermain biola daripada mengobrol. Tapi Emma tidak seperti kami. Dengan cepat ia dapat akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya.

Pertanyaannya juga banyak sekali! Semua hal ia tanyakan! Ia mengingatkanku akan seorang anak kecil yang serba ingin tahu. Ia tak pernah kehabisan pertanyaan. Ceritanya juga banyak. Semua hal ia ceritakan padaku, padahal aku baru saja dikenalnya. Tanpa sadar, aku jadi tersenyum sendiri mengingatnya.
***
 
Hans:
Ketika giliran nenek untuk menjaga kakek, ia tiba sambil memamerkan segulung besar benang berwarna biru muda. Aku cuma bisa tersenyum. Di rumah, pasti nenek telah menyimpan persediaan benang yang cukup banyak untuk dijadikan sweater yang tebal. Ingat hal ini, kuurungkan niatku langsung menuju perpustakaan. Kuputuskan untuk pulang dulu ke rumah.


Setibanya di rumah, kubongkar isi lemari pakaianku dan mengeluarkan semua sweater dan syal yang dirajutkan nenek untukku. Sambil menghitung sweater-sweater itu, kumasukkan satu per satu ke dalam kantong. Semua sweater dan syal ini masih terlihat baru, karena belum ada satu pun yang dipakai. Kukemasi kantong-kantong berisi sweater dan syal itu. Kuletakkan di bagasi mobil tuaku. Aku akan memberikan syal dan sweater ini kepada Emma. Lebih baik kuberikan padanya, daripada dibiarkan menumpuk di lemari pakaianku.
***
 
Hans:
Ketika aku sampai di perpustakaan, kulihat Emma sedang mencoret-coret sesuatu di buku catatannya. Hei, itu kan sketsa wajahku!

“Emma,” panggilku.

Emma menoleh. Ia kelihatan terkejut. Dengan cepat ia menutup buku catatannya.

“Kau datang untuk membaca?”, tanyanya padaku.

“Tidak juga. Aku cuma ingin bertemu denganmu.”

“Benarkah?”, ia kelihatan senang dengan jawabanku.

“Ya. Hari ini perpustakaan ramai, ya?”

“Kalau jam segini memang ramai. Aku saja mau belajar tidak konsentrasi.”, keluh Emma.

“Ya, bangkuku juga diduduki orang.”, kataku sambil menunjuk bangku tempat aku biasa duduk. Emma tersenyum.

“Aku mau makan bakso saja, ah! Kau mau ikut?”, tanya Emma padaku.

“Boleh, aku memang belum sempat makan siang.”

“Kau hari ini mengajar Yola, kan? Masih sempat untuk makan siang?”

“Ya. Masih lama, kok.”

Kami berjalan keluar dari perpustakaan.

“Tunggu sebentar! Aku punya sesuatu untukmu.”, kataku pada Emma ketika kami sampai di tempat parkir.

“Apa yang mau kau berikan?”, tanya Emma penasaran.

“Nanti juga kau tahu!”, kulangkahkan kakiku menuju mobilku yang terparkir di bawah pohon kapuk.

“Ini untukmu!”, kataku seraya mengangsurkan kantong-kantong berisi syal dan sweater yang telah kukeluarkan dari bagasi.

“Terima kasih. Apa sih isinya? Kok banyak sekali?”, Emma mengaduk-ngaduk isi kantong plastik itu.

“Wah, syal! Hei, ada sweater juga! Aku hari ini tidak ulang tahun, kok kau memberiku banyak hadiah?”, tanya Emma.

“Anggap saja hadiah perkenalan!”

“Tapi banyak sekali! Terima kasih, ya?”, kata Emma.

“Aku yang berterima kasih.”, sahutku.

“Kenapa kau yang berterima kasih? Kan aku yang harusnya berterima kasih?”, protes Emma.

“Nenekku senang merajut syal dan sweater. Semuanya tidak pernah kupakai, jadi sebagian kuhadiahkan padamu, soalnya lemari pakaianku sudah tidak muat diisi lebih banyak sweater atau syal.”, kataku menjelaskan.

“Nenekmu tidak marah? Syal dan sweater ini kan dia buat untukmu! Masa kau berikan padaku?”

“Tidak apa-apa. Nenek cuma suka merajut. Dia tidak peduli mau diberikan kepada siapa.”

“Terima kasih. Eh, biar aku yang mentraktirmu! Kau kan sudah memberiku banyak sweater dan syal. Apalagi sweater buatan tangan. Kalau di mall, harganya mahal, lho!”, kata Emma lagi.

“Terserah kau saja!”, kataku.

“Aku titip di mobilmu dulu, ya?”, kata Emma sambil memasukkan kembali kantong-kantong itu ke bagasi mobilku.

“Ya. Tapi kita mau makan bakso di mana?”

“Oh, di belakang kampusku. Di sana baksonya enak. Rasa sapinya terasa, baksonya juga pakai caisim, tidak seperti bakso lain yang cuma pakai bawang goreng dan seledri.”, kata Emma setengah berpromosi.

“Wah, aku jadi lapar!”, kataku seraya tersenyum. Emma tertawa.

‘Ia kelihatan cantik sekali kalau tertawa’, batinku dalam hati.
***

Hans:
Kakek akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Setelah beberapa minggu terbaring di rumah sakit, kakek kini terlihat lebih kurus. Wajahnya yang keriput memang terlihat tanpa daya, tapi sorot mata kakek tetap terlihat keras. Satu hal yang baru hari ini kusadari. Itukah sebabnya aku enggan berbicara dengan kakek berlama-lama?

Kalau nenek tak pernah mengajarkan kami tentang kesopanan, mungkin aku dan Karel juga tidak akan menatap mata kakek setiap kali kami berbicara dengannya. Mata kakek dingin, tak ada kehangatan dan cinta yang masih bisa kutemukan dalam mata nenekku, meski kalau kucermati, mata nenek lebih pekat berlumur kesedihan yang berusaha ditutupinya daripada sedikit sorot kehangatan dan cinta yang terlihat samar.

Meski tanpa mengatakan apa-apa, dalam hati aku dan nenek setuju bahwa kakek bukanlah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Mungkin memang cuma imajinasiku, tapi aku juga menangkap siratan kekejaman dalam sorot mata kakekku. Inilah sebabnya, aku dan nenek setuju untuk mempekerjakan seorang perawat untuk mengurus kakek. Dengan begitu, aku dan nenek tak perlu berlama-lama di dekat kakek, tak perlu berbicara dengannya atau menatap matanya yang dingin, keji, dan tanpa cinta.

Aku lega, kini perawat itu yang menggantikan tugasku menunggui kakek. Karena hari ini hari Selasa, setelah selesai kuliah dan makan siang, aku bergegas menuju perpustakaan. Di teras, kulihat nenekku masih merajut sweater biru muda untukku. Ia tampak begitu serius dan asyik sendiri dengan dunianya. Kuputuskan untuk tidak mengusiknya, jadi kutinggalkan rumah tanpa berpamitan.
***

Hans:
Di perpustakaan, kulihat Emma sedang tekun belajar. Aku tersenyum sendiri ketika menyadari ia mengenakan syal pink tua pemberianku. Aku letakkan buku catatan dan alat tulisku ke meja tempat aku biasa belajar. Aku menuju rak terdekat dan mencari-cari buku psikologi. Setelah meneliti sekian judul buku, kupilih sebuah buku yang menarik rasa ingin tahuku, kuputari meja Emma sekali lagi, tapi ia tetap tak menyadari kehadiranku. Aku sebenarnya ingin menyapanya, tapi karena takut membuatnya terganggu dan membuyarkan konsentrasinya, akhirnya aku kembali ke mejaku dan lalu menarik kursi dan mulai sibuk membaca. Tak lama aku sudah larut dalam bacaanku, dan tak menyadari ketika Emma berjalan menghampiri mejaku.
“Hans,” panggil Emma.

Aku terkejut tahu-tahu Emma sudah berdiri di dekatku. Aku mendongak. Ia tersenyum geli melihatku kaget.

“Lusa Winda ulang tahun. Aku mau membeli kado untuknya. Kau mau menolongku membantu memilihkan kado untuk Winda?”, tanya Emma.

“Kau mau membelinya sekarang? Aku sedang membaca.”

“Tidak! Tentu saja tidak sekarang. Ini jadwal kuliahku. Kau punya waktu luang di luar jadwal kuliahku ini? Ini nomor ponselku. Kau hubungi aku begitu kau punya waktu. Oke?”, kata Emma sambil mengangsurkan secarik kertas berwarna merah muda dan menunjuk nomor yang tertera di kertas itu.

“Baiklah,” kataku.

“Terima kasih. Aku mau balik ke kampus dulu. Ada barangku yang tertinggal di loker,” kata Emma berpamitan.

“Ya.” Aku sebenarnya berharap ia mau tinggal lebih lama.

“Selamat membaca, Hans,” kata Emma riang.

“Terima kasih,” sahutku.

Ia tersenyum, lalu membalikkan badan. Dengan langkah riang ia berjalan keluar perpustakaan.

Tanpa sadar kugelengkan kepalaku. Segala tentang Emma selalu saja penuh keriangan. Caranya tersenyum, caranya berjalan, tawanya yang halus, matanya yang bercahaya, caranya bicara yang agak kekanakan, bahkan caranya bergerak dan membalikkan badan. Tak sekali pun kulihat ia murung. Berbanding terbalik denganku, aku tak pernah seriang Emma. Bahkan ketika Karel masih hidup pun, aku tak pernah benar-benar riang.

Aku bukanlah Karel yang selalu penuh semangat. Sejak kecil aku adalah anak yang serius. Aku pendiam dan tak banyak bicara. Sebenarnya Karel juga termasuk pendiam, tapi dibandingkan denganku, Karel memang lebih ceria. Ia lebih banyak tersenyum, sorot matanya penuh semangat hidup, padahal Karel selalu sakit-sakitan. Ia juga menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya lebih panjang daripada aku. Mungkin itu sebabnya setiap kali berhadapan denganku, orang lain sering kali jadi terdiam, kehabisan bahan pembicaraan, dan lalu kecanggungan akan merambat. Tapi Emma sepertinya tidak pernah kehabisan pertanyaan. Segala hal ia tanyakan.

Setelah ia puas dengan pertanyaannya, Emma akan bercerita tentang banyak hal. Mendengar ceritanya, mau tak mau aku jadi sering tersenyum. Kurasakan keriangan Emma menulariku. Di dekatnya aku jadi jarang memikirkan Karel, kakekku, dan kebencianku pada kakek.
***

Hans:
Aku baru saja tiba di rumah ketika telepon tiba-tiba berbunyi memecah keheningan. Kukunci kembali pintu depan. Suara telepon masih saja menjerit-jerit minta diangkat. Dengan agak heran, aku bergegas menuju ke meja tempat telepon itu diletakkan. Tak biasanya nenek membiarkan telepon berdering hingga demikian lama.
“Halo,” kuangkat telepon itu.

“Hans, kau sudah pulang?”, ternyata nenek yang meneleponku.

“Oma, di rumah tak ada orang, ya?”, aku balik bertanya.

“Ya, Oma dan Suster Hartini membawa Opa ke rumah sakit,” nenekku menjelaskan. Suster Hartini adalah perawat yang merawat kakekku.

“Opa kenapa lagi?’, tanyaku pada nenek.

“Opamu stroke lagi,” kata nenek dengan suara pelan.

“Kok bisa, Oma?”

“Oma tidak bisa menjelaskannya di telepon. Segeralah ke mari, Hans!”, kata nenekku dengan suara lirih, terdengar sangat letih.

“Baiklah, Hans ke rumah sakit sekarang.”

“Ya. Tolong bawakan benang dan jarum Oma, ya? Tadi Oma terburu-buru, tidak ingat membawanya. Oma mau melanjutkan merajut.”

“Ya, Oma. Pasti Hans bawakan.”

“Terima kasih, Hans.”

“Ya, Oma.”

Klik. Nenekku langsung menutup telepon, padahal aku masih ingin bertanya apa lagi yang dibutuhkan nenekku selain benang dan jarum rajutnya.

Setelah kuletakkan gagang telepon, aku berjalan menuju ke kamar nenekku. Sejak Karel meninggal, nenek lalu menempati kamar tidur Karel, sementara kakekku tetap tidur di ruang tidur utama di depan, di dekat ruang tamu. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak lagi menginjakkan kaki ke ruangan ini.

Memasuki lagi ruangan bekas kamar tidur Karel, ingatan akan masa kanak-kanakku ketika Karel masih hidup mengalir ke ingatanku demikian deras. Seperti pintu air yang dibiarkan terbuka lebar-lebar, segala hal tentang Karel terekam lagi di benakku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Kutemukan benang-benang dan jarum rajut nenek, sweater biru muda yang baru setengah jadi, dan kantong kertas tempat nenek menyimpan hasil rajutannya. Kuambil semua benda-benda itu lalu berbalik meninggalkan kamar nenek.
***

Hans:
Setibanya di rumah sakit, kucari nenekku di bangsal penyakit jantung, tapi tak kutemui. Akhirnya aku turun lagi ke lobi dan bertanya pada perawat yang berjaga, di mana kakekku kini dirawat. Tapi aku benar-benar terkejut ketika perawat itu menyatakan keprihatinannya padaku, lalu memberitahu bahwa kakekku sekitar setengah jam yang lalu telah meninggal dan jenazahnya kini diletakkan di kamar mayat. Ketika kutanyakan apa yang terjadi perawat itu menyarankanku untuk bertanya pada dokter yang menangani kakek untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap.
Tanpa membuang waktu, kucari nenekku di kamar jenazah. Kutemukan nenekku duduk di bangku panjang bercat putih di depan kamar jenazah. Ia duduk melamun dengan mata nyalang menatap ke depan.

“Oma,” sapaku pada nenek.

“Hans,” nenekku menoleh dan tersenyum.

“Oma, benarkah Opa sudah meninggal?”

“Ya. Ternyata tanpa sepengetahuan kita dan Suster Hartini, Opa memuntahkan kembali obat yang harus diminumnya.”

“Oma tahu dari mana?”

“Opa yang mengaku sendiri.”

“Buat apa Opa melakukan hal seperti itu?”

“Opa bilang dia sudah bosan minum obat.”

“Jadi penyakit Opa kambuh lagi?”

“Ya, lalu tadi siang Suster Hartini juga memergoki Opa memuntahkan lagi obatnya.”

“Kenapa Opa sebodoh itu?”

“Opa bukannya bodoh, Hans. Dia hanya bosan hidup dalam rasa bersalah sejak kematian Karel,” kata nenekku mengejutkan.

“Kalau Opa memang merasa bersalah, mengapa Opa tidak pernah meminta maaf?”

“Opa bukan jenis orang yang mau merendahkan diri, menyatakan maaf, apalagi mengakui kesalahannya,” kata nenekku pelan.

“Jadi daripada meminta maaf, Opa lebih suka bunuh diri perlahan-lahan dengan tidak meminum obatnya?”

“Opa orang yang kuat, sama seperti Karel. Penyakit tidak akan membunuh mereka dengan mudah.”

“Lalu apa yang membunuh Opa?”

“Ketika Suster Hartini melapor pada Oma, mengatakan kalau Opa memuntahkan obatnya lagi, Oma lalu bertengkar dengan Opa. Baru kali ini Oma berani melawan Opamu. Lalu Opa tiba-tiba stroke. Sebelum terserang stroke, Opa marah besar. Mungkin itu sebabnya hipertensinya kumat. Tapi ketika Opa dibawa ke mari, ia masih sadar, masih sempat menyumpahi Oma.”

“Lalu kenapa Opa tiba-tiba meninggal?”

“Ketika Opamu sadar, tidak ada lagi orang yang takut padanya, ia benar-benar berang. Ia mencoba turun dari tempat tidur, ingin mencekik Oma. Tekanan darahnya yang naik tinggi, stroke, itu semua menyebabkan jantungnya tidak tahan. Di tengah-tengah kemarahannya, jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.”, nenekku menjelaskan dengan suara pelan.

“Lalu kenapa Oma tiba-tiba berani melawan Opa?”

“Oma juga sudah lelah, Hans. Oma sudah bosan selalu diam,” kata nenekku dengan suara lirih.

“Tapi Oma tidak harus diam, kan? Mengapa baru sekarang Oma menentang Opa? Kenapa bukan dulu, ketika Oma tahu, Opa memutuskan euthanasia terhadap Karel?”, tanpa mauku suaraku juga berlumur kemarahan.

“Maafkan Oma, Hans. Tapi Oma lebih suka Karel meninggal daripada jika Karel hidup tapi dirusak oleh Opamu,” kata nenek mengejutkanku.

“Apa maksud Oma?”, tanyaku tak mengerti.

“Apa kau tidak bisa menebak? Opa seorang penderita pedofilia."

“Apa?”, aku kian terkejut.
“Oma dinikahkan dengan Opamu ketika Oma baru berusia lima belas tahun, sementara Opa waktu itu telah berusia empat puluh tahunan. Orang tua Oma memiliki hutang budi terhadap keluarga Opamu. Itu sebabnya Oma terpaksa menikah dengan Opamu. Opamu memang telah dijodohkan dengan banyak gadis, tapi Opamu menolak mereka semua. Kau tahu sebabnya, kan? Karena mereka semua gadis-gadis yang memang telah cukup umur untuk menikah. Opamu hanya tertarik pada anak-anak.”, nenek menjelaskan dengan suara parau.
“Oma!”, aku tak tega mendengar nada pedih di suara nenekku.

“Ya, Hans. Tebakanmu benar. Memang Oma telah memasuki usia remaja ketika menikah dengan Opa, tapi waktu itu usia Oma terhitung masih di bawah umur. Itu sebabnya Opa setuju menikah dengan Oma.”

“Oma tidak harus menceritakannya pada Hans,” kupotong cerita nenekku.

“Oma harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”, kata nenekku dengan suara tegas.

“Apa yang terjadi?”

“Oma mencoba mencintai Opa, lalu lahirlah ibumu. Ketika ibumu masih kecil, ia selalu lengket pada Oma, selalu dalam pengawasan Oma, sampai suatu ketika ibumu lalu memasuki usia remaja. Opa tak lagi bisa membendung hasrat seksualnya dan memperkosa ibumu tanpa sepengetahuan Oma. Oma baru tahu perbuatan Opamu ketika ibumu telah mengandung kau dan Karel. Pada saat itulah Oma baru tahu monster macam apa yang telah Oma nikahi.”, kata nenekku sambil terisak.

Kupeluk bahu nenekku. Ia berusaha menahan tangisnya tapi tak berhasil. Tak kukira nasib nenek ternyata begitu memilukan. Dalam hati aku menyesali kesalahpahamanku terhadap nenek. Selama ini aku mengira nenek juga sama tak pedulinya seperti kakek.

“Ketika Oma meminta cerai, keluarga Opamu menekan orang tua Oma. Oma terpaksa bertahan dengan Opamu. Pada saat itulah Oma baru tahu kalau kakekmu seorang penderita pedofilia. Lalu ibumu meninggal ketika melahirkanmu dan Karel. Kau tahu sisa ceritanya, kan?”

“Hans masih tak mengerti. Mengapa Oma setuju terhadap euthanasia Karel?”

“Suatu hari ketika Karel dirawat di rumah sakit, Oma mengantarmu ke sekolah. Jadi Opa yang menunggui Karel. Selesai mengantarmu ke sekolah, Oma langsung menuju ke rumah sakit. Saat itulah Oma memergoki Opa, sedang mencoba mencabuli Karel yang tengah tertidur lelap. Oma kalap. Oma pukul Opamu dengan vas bunga yang terletak di meja. Opamu marah. Dia memang tidak membalas memukul Oma, tapi dia mengancam akan membalas perbuatan Oma. Lalu ketika Opamu meminta dokter mengizinkan euthanasia terhadap Karel, Oma tahu itulah yang dimaksud Opa dengan membalas Oma.”

“Tapi kenapa Oma tidak menentangnya?”

“Oma tidak bisa, Hans! Opa mengancam akan mencabulimu juga. Oma tidak bisa menjaga Karel di rumah sakit dan menjagamu di rumah dalam waktu bersamaan. Oma juga tidak bisa bercerita pada siapa pun, orang tua Oma sendiri tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga besar Opamu adalah orang terpandang. Mereka dengan keras memperingatkan Oma untuk tidak bercerita pada siapa pun, bahkan mengancam mencelakai orang tua Oma.”

“Tapi aku dan Karel kan juga cucu buyut mereka! Kenapa mereka tega membiarkan Opa berlaku sewenang-wenang terhadap kami?”

“Mereka memang tidak bermoral, Hans. Mereka mungkin memiliki kekejaman dan kelainan jiwa yang sama dengan Opa,” nenekku menjelaskan dengan suara pelan.

“Jadi Oma mengorbankan Karel untuk menyelamatkan aku?”, aku bertanya dengan sedih.

“Ya, bisa dibilang begitu. Karel toh akan meninggal juga. Dokter meramalkan hidupnya paling lama tinggal setahun lagi. Waktu itu alat-alat kedokteran memang belum semodern sekarang. Oma lebih suka Karel meninggal dalam keadaan masih seperti ketika lahir. Oma tidak ingin Karel dirusak seperti ibumu. Oma tahu, setelah kau dewasa, Opa tidak akan tertarik lagi padamu. Setelah Karel meninggal, Oma menjagamu baik-baik, memastikan kau tumbuh dewasa tanpa dinodai oleh Opamu.”

“Jadi Oma juga membenci Opa seperti aku?”

“Ya. Oma senang Opa sekarang sudah meninggal.”

“Benarkah Oma senang?”

“Lega, mungkin itu kata yang lebih tepat. Kalau seseorang hidup dengan kanker yang menggerogoti dirinya selama bertahun-tahun, ia pasti akan lega jika kanker itu pada akhirnya hilang. Benar kan?”

“Oma sakit kanker?”, aku terkejut.

“Bukan, Hans! Opamu bagaikan kanker yang menggerogoti hidup Oma.”, kata nenekku menjelaskan.

“Hans takut menjadi seperti Opa.”, aku mengaku pada nenekku.

Nenek menoleh ke arahku. Ia tersenyum menenangkan.

“Anak bodoh! Kau bukan Opa! Kau bukan penderita pedofilia!”

“Tapi Hans sering mengharapkan Opa cepat mati, sama seperti Opa mengharapkan Karel mati.”, sahutku sedih.

“Oma juga sering mengharapkan Opa mati. Oma juga sangat membenci Opa, sama sepertimu. Sewaktu Opa masih hidup, Oma membencinya setengah mati. Tapi kini, Oma harus memaafkannya. Jangan biarkan kebencian membuat hidup kita makin pahit, Hans!”

“Mulai sekarang, Hans yang akan menjaga Oma. Apa Oma masih ingin merajut?”, kuulurkan kantong kertas berisi alat-alat merajut nenek.

Nenek tersenyum. Ia mengelus rambutku dengan lembut.

“Oma sekarang tidak perlu merajut lagi. Opamu kan sudah mati!”, kata nenekku.

“Apa hubungannya?”, tanyaku heran.

“Oma merajut untuk melupakan masalah Opa, sama seperti kau bermain biola untuk melupakan masalahmu.”

“Jadi begitu?”, aku baru mengerti.

“Ya, sekarang kita harus mengurus pemakaman Opa.”, kata nenekku sambil bangkit dari duduknya.

“Oma, di mana suster Hartini?”, tanyaku tiba-tiba teringat perawat yang dipekerjakan nenek untuk merawat kakekku.

“Dia sudah pulang ke rumahnya. Setelah tahu Opa meninggal, Oma memberinya pesangon dan memberhentikannya.”

“Kalau begitu, kita pulang sekarang?”, tanyaku.

“Ya, tapi kita harus menghubungi rumah duka,” sahut nenekku.

“Perlukah kita memberitahu keluarga besar Opa?”, tanyaku.

“Oma tidak tahu bagaimana cara menghubungi mereka. Kami sudah lama tidak saling berhubungan.”

“Kita pasang iklan kematian saja di surat kabar,” usulku.

“Boleh juga.”, sahut nenek.

Berdua kami beriringan meninggalkan rumah sakit.
***

Emma:
Aku sedang memegang salah satu sweater yang diberikan Hans ketika kekuatan ESP-ku tiba-tiba memperlihatkan padaku seorang wanita yang tengah merajut. Ia duduk di sebuah kursi sambil menunduk. Sepertinya yang kulihat itu nenek Hans. Kurasakan kesedihannya, kemarahannya, bahkan keputusasaannya. Aku jadi bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan nenek Hans sedih, marah, bahkan putus asa?

Kali ini kupusatkan seluruh perhatianku. Aku mencoba lebih berkonsentrasi dengan apa yang kulihat. Lalu tiba-tiba saja semuanya terlihat jelas; seolah aku melihat sebuah film. Hanya saja aku tahu semua yang kulihat itu benar-benar terjadi.

Akhirnya kupahami mengapa nenek Hans merasa sedih, marah, dan penyebab keputusasaannya. Kuketahui apa yang terjadi dengan puterinya, tentang Karel, Hans, semua hal yang mungkin merupakan hal yang tak pernah diceritakan Hans dan neneknya kepada siapa pun. Kini aku mengerti mengapa mata Hans seringkali berlumur duka yang dalam, sebuah kepahitan yang coba ditutupinya.

Demi kuketahui semua hal tentang Hans dan keluarganya, kurasakan rasa iba menjalari hatiku. Aku bersimpati atas nenek Hans yang bahkan belum pernah kutemui, juga pada ibu Hans dan Karel. Ternyata hidup Hans demikian berat. Dari masa kanak-kanaknya, Hans sudah harus menjalani hidup tanpa kehadiran ibu, bahkan ia kehilangan saudara kembarnya.

Dalam hati aku bertekad, tak akan kubiarkan Hans terus larut dalam kesedihan. Ia telah menderita demikian lama. Ia seharusnya berhenti menyiksa dirinya, berhenti tinggal dalam bayang-bayang masa lalunya, membuang semua kenangan buruk, dan lebih optimis memandang masa depan. Aku belum tahu bagaimana caranya, tapi akan kupastikan, entah bagaimana, Hans harus bahagia. Ia sudah mengalami banyak penderitaan dan kesedihan. Tak seharusnya ia terus berduka hingga hari ini. Seharusnya ada perbedaan dalam hidupnya yang sekarang. Ya, harus!!!
***

Hans:
Aku telah memasang iklan kematian kakek di surat-surat kabar terkenal ibukota, tapi tetap saja tak satu pun kerabat dari pihak kakek yang datang. Sepertinya kami memang telah hidup demikian menarik diri dari masyarakat, hingga yang menghadiri pemakaman kakek pun hanya segelintir orang saja. Bahkan tetangga terdekat saja pun tidak turut mengucapkan belasungkawa. Kami, aku dan nenekku memang tidak bisa menyalahkan mereka. Kami memang tidak mengenal tetangga-tetangga kami, demikian pula sebaliknya.

Jadi hanya ada aku, nenek, beberapa orang penggali kubur, ibu Yola, Emma dan temannya, Winda yang menghantar kakek ke peristirahatan terakhir. Kusyukuri pula Emma menawarkan diri untuk datang membantu, meski sebenarnya ia tak harus datang. Tapi Emma memaksa ikut menghadiri pemakaman kakek, bahkan meminta temannya, Winda menemaninya, sekadar untuk menambah jumlah orang yang menghadiri pemakaman kakek, yang memang disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya tanpa diiringi oleh tangis siapa pun.

Mau tak mau aku jadi teringat pemakaman Karel. Setidaknya aku menangis ketika Karel dimakamkan, sedangkan kakek, tak ada yang menangisi kepergiannya. Seperti kata nenekku, kehadiran kakek bagi kami, lebih mirip sel kanker yang menggerogoti kekuatan dan kebahagiaan kami. Tidak mungkin bagi seorang penderita kanker menangisi sel-sel kankernya yang mati; karena itu kami juga tak mungkin menangisi kepergian kakek.

Setelah sekian lama hidup dalam kebencian terhadap kakekku, kusadari bahwa perkataan nenekku memang benar. Tak ada gunanya terus membenci kakekku. Jadi kumaafkan dia atas semua kejahatan yang pernah ia lakukan terhadap ibuku, terhadap Karel, dan juga terhadap nenek dan diriku sendiri. Aku memaafkan kakek bukan karena kakek berhak menerima maafku, tapi lebih untuk diriku sendiri. Aku harus memaafkannya supaya aku juga dapat memaafkan diriku sendiri. Aku harus melupakan ketidakmampuanku menolong Karel atau nenek atau bahkan diriku sendiri. Dengan memaafkan kakek, aku sadar, ini berarti aku telah menolong diriku sendiri, untuk tidak terus-menerus terpuruk dalam bayang-bayang masa yang telah lewat. Aku percaya, setelah hari ini, segala sesuatunya akan lebih baik.
***

10 bulan kemudian...


Emma:

Saat ini aku dan Hans sedang berjalan-jalan di pantai. Maklum ini adalah malam pergantian tahun. Sejak tadi langit Jakarta yang gelap diterangi oleh berbagai cahaya warna-warni yang timbul dari kembang api yang disulut. Suara gemuruh petasan dan kembang api berbaur dengan suara terompet dan riuh-rendah pengunjung pantai yang lain.

“3, 2, 1, … Selamat Tahun Baru!!!”

Bersama-sama pengunjung pantai yang lain, aku dan Hans sama-sama menghitung mundur detik-detik terakhir di tahun ini. Suara terompet lagi, memekakkan telinga, lebih banyak kembang api lagi terlihat di udara. Langit benderang dengan cahaya hijau, merah, ditingkahi asap putih sisa kembang api yang terbakar.

“Emma,” Hans menarik lembut tanganku, berusaha menolongku dari desakan orang-orang di belakangku yang saling dorong.

Mendadak sebuah kilatan kejadian membayang di mataku. “3, 2, 1 … Selamat Tahun Baru!!!”, sebuah suara terdengar dari pesawat televisi, berbarengan dengan suara petasan yang menggelegar. Ternyata kejadian yang sedang kulihat ini adalah kejadian lima tahun mendatang. Hal ini kuketahui dari tahun yang disebutkan oleh penyiar televisi yang sedang kutonton.

Oh, ternyata aku sedang menonton televisi bersama Hans! Tunggu dulu! Sepertinya aku sedang mengandung karena perutku tampak besar sekali. Hans memeluk bahuku.

“Semoga anak kita tidak kaget,” kata Hans sambil mengelus perutku yang membuncit.

“Tidak, anak kita baik-baik saja, kok!”, kataku pada Hans.

Hans lalu tersenyum dan mencium keningku.

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Astaga, sepertinya yang kulihat itu diriku dan Hans di masa depan, lima tahun dari sekarang, juga di malam pergantian tahun! Sepertinya aku dan Hans sedang menonton televisi. Ternyata lima tahun dari sekarang aku akan mengandung anak Hans. Berarti … Hans akan menjadi suamiku??? Tanpa sadar, kugelengkan kepalaku lebih keras lagi.

Duar!!! Suara kembang api dan petasan menyatu di udara, membuyarkan lamunanku.

“Emma, aku mencintaimu!”, kata Hans tiba-tiba, lebih mengagetkan dari suara petasan.

“Apa?”, aku tak yakin dengan pendengaranku.

“Aku bilang, aku mencintaimu!”, kata Hans dengan suara lebih keras, bersaing dengan suara kembang api dan petasan yang terus-menerus terdengar. Kutatap Hans lekat-lekat. Ia tersenyum padaku. Kali ini aku terpana. Mungkinkah … penglihatanku itu benar...???

- TAMAT -

Selamat Tahun Baru 2010

Tidak ada komentar: