Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 07 Desember 2009

Review Film My Sister's Keeper

Gambar dipinjam dari sini

Film ini dibuka dengan narasi dari Anna Fitzgerald (Abigail Breslin) yang menceritakan bahwa kelahirannya di dunia ini berbeda dengan kebanyakan orang. Ia dilahirkan ke dunia ini dengan tujuan khusus untuk menjadi donor bagi kakak perempuannya, Kate Fitzgerald (Sofia Vassilieva) yang sejak kecil diketahui menderita leukimia. Sebelum Anna dilahirkan, dokter yang merawat Kate menyarankan pada Sara (Cameron Diaz) dan Brian Fitzgerald (Jason Patric), orang tua Kate agar Sara melahirkan lagi. Saudara kandung Kate yang akan dilahirkan Sara akan menjadi donor yang cocok baginya ketimbang harus menanti donor yang tepat tanpa tahu kapan akan mendapatkannya. Setelah Sara dan Brian menyetujui usul dokter, Sara pun mengandung dan melahirkan Anna.

Sejak awal kehidupannya, dokter telah memanipulasi agar Anna bisa menjadi donor yang cocok bagi saudara perempuannya. Untuk sejangka waktu, sepertinya rencana Brian dan Sara untuk menyelamatkan Kate dapat berjalan lancar, tapi setelah penyakit Kate semakin parah, maka timbul masalah di antara mereka. Kate sebenarnya merasa bersalah. Karena dirinya, sejak kecil kedua saudara kandungnya harus tersisih dari perhatian orang tua mereka. Jesse (Evan Ellingson) sewaktu kecil harus tinggal terpisah dari Brian dan Sara yang harus fokus merawat Kate sehingga terpaksa menitipkan Jesse. Anna pun sejak kecil terpaksa berulangkali menjalani serangkaian test untuk memastikan bahwa dirinya adalah donor yang cocok bagi Kate.

Menderita terlalu lama sejak masih sangat kecil, Kate sebenarnya lelah dan terkadang ia juga marah karena harus menjalani nasib sebagai penderita leukimia. Sebagai remaja normal, Kate pun ingin menjalani kehidupan seperti teman-teman sebayanya, sayangnya hal itu tidak dapat terwujud. Kate hanya dapat berada di rumah saja karena kemoterapi yang dijalaninya, rambut Kate pun luruh dan botak hingga ia malu keluar rumah, tapi berkat dukungan ibunya yang menggunduli rambutnya agar puterinya tidak minder, Kate pun diyakinkan untuk menjalani hidup senormal mungkin. Sayangnya keadaan ini tidak berlangsung lama. Kate harus dirawat di rumah sakit.

Tak tega melihat puterinya selalu terkurung di rumah sakit, Brian membawa Kate piknik bersama ke pantai bersama Jesse dan Anna. Sara pun bertengkar dengan Brian karena Sara khawatir sinar matahari akan membuat penyakit Kate makin parah. Perlahan tapi pasti, Kate bisa merasakan keluarganya terpecah akibat penyakitnya. Kate pun meminta Anna menemui pengacara dan berpura-pura keberatan menjadi donor untuk operasi Kate. Hal ini tidak diketahui oleh orang tua mereka.

Saat persidangan, Jesse yang akhirnya memberitahu semua orang bahwa Kate tidak ingin berjuang lagi melawan leukimia yang dideritanya. Ia telah cukup menikmati kasih sayang orang tua dan kedua saudara kandungnya. Terlebih setelah kekasih Kate yang juga penderita kanker meninggal akibat penyakit yang menggerogotinya. Tapi Sara yang tidak juga bisa merelakan Kate bersikeras agar Kate tetap dioperasi. Tapi takdir berkata lain. Sebelum operasi sempat dilakukan, Kate pun meninggal.

Sepeninggal Kate, keluarga Fitzgerald pun melanjutkan hidupnya. Sara kembali bekerja, Brian pun demikian. Jesse dan Anna kembali ke sekolah bahkan mendapatkan beasiswa seni. Meski sibuk dengan aktivitas masing-masing, tapi saat hari ulang tahun Kate, mereka selalu piknik bersama di tempat yang sama setiap tahunnya di tempat favorit Kate semasa hidupnya.

Jujur saja, saat pertama kali membaca sinopsis film ini, saya tidak terlalu tertarik menontonnya. Saya bukanlah penggemar film drama melankolis yang banyak menguras air mata, tapi berhubung sutradara film ini adalah Nick Cassavetes yang juga menyutradarai The Notebook, saya mencoba memberi kesempatan bagi film ini. Setelah menontonnya, ternyata film ini tidak terlalu cengeng meski plotnya cukup menyentuh perasaan. Apalagi akting Cameron Diaz di film ini terasa berbeda berhubung Diaz lebih dikenal dalam film bergenre komedi romantis dan action (sebagai salah satu angel di Charlie's Angels). Secara keseluruhan, film yang diangkat dari novel karangan Jodi Picoult dengan judul yang sama ini layak untuk ditonton.

Tidak ada komentar: