Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 05 Oktober 2009

Tentang Che

Setelah saya menonton film dokumenter tentang Fidel Castro (dan tentu saja Che Guevara ikut disebut-sebut); saya merasa tertarik untuk mencaritahu lebih lanjut tentang Che; tapi karena kesibukan, hal itu pun terlupakan. Ketika akhirnya muncul film berjudul Che yang diangkat dari jurnal pribadi Che Guevara (Reminiscences of the Cuban Revolutionary War), saya pun menonton filmnya. Bahkan kemudian saya juga tanpa sengaja menemukan film The Motorcycle Diaries yang juga bercerita tentang Che dan juga diangkat dari jurnal pribadinya. Meski kedua film tersebut (Che dan The Motorcycle Diaries) diangkat dari jurnal pribadi Che Guevara, tapi keduanya bukanlah film dokumenter, sehingga timbul kesan bahwa film ini adalah fiksi; tapi sayangnya "fiksi" ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi. Mengapa saya katakan 'sayangnya'? Mari kita telusuri dari Che muda!

Che bernama lengkap Ernesto Guevara de la Serna el Fuser, masih berusia 23 tahun, mahasiswa kedokteran yang menyukai olahraga rugby dan memiliki penyakit asma. Ia berteman dengan Alberto Granado, seorang biochemist berusia 29 tahun. Keduanya berencana melakukan perjalanan sejauh 8000km selama 4 bulan dengan motor tua milik Granado yang dinamai La Poderosa. Granado berharap bisa menyelesaikan perjalanan sebelum ulangtahunnya yang ke-30 tiba.

Pada 13 Januari 1952, Ernesto dan Alberto mengunjungi kekasih Ernesto di Miramar, Argentina di km 601. Mereka tiba di Piedra de Aguila pada 29 Januari 1952 di km 1809. Ketika angin menerbangkan tenda mereka, keduanya terpaksa menuju ranch terdekat untuk mencari tempat bermalam. Lalu pada 31 Januari 1952 di km 2051 keduanya sampai di San Martin de Los Andes. Mereka bertemu Von Put Kamer yang oleh Ernesto didiagnosa memiliki penyakit tumor yang terlihat dari benjolan di tubuhnya.

Pada 3 Pebruari 1952 km 2270, mereka tiba di stasiun kereta api Barilochi dan asma Ernesto pun kambuh. Perjalanan mereka terus berlanjut hingga ke Danau Frias pada 15 Pebruari 1952 di km 2306, melewati jalanan bersalju dan medan yang berat. Mereka tiba di Temuco, Chile pada 18 Pebruari 1952 km 2772. Kisah tentang mereka dimuat di surat kabar Austral News sehingga mereka mendapat perbaikan motor gratis setelah menunjukkan berita tentang mereka. Sayangnya Ernesto lalu terlibat perkelahian dengan si mekanik sehingga harus melanjutkan perjalanan dengan terburu-buru sebelum motor Granado sempat dipasang rem. Alhasil mereka menabrak sapi dan terpaksa menumpang truk. Saat tiba di La Chile pada 26 Pebruari 1952 km 2940, keduanya bertemu Jasmin dan Daniela yang lalu memperkenalkan mereka pada penduduk lokal. Ernesto lalu diminta memeriksa seorang wanita tua bernama Nyonya Rosa. Ernesto demikian tergugah oleh penderitaan dan kemiskinan yang dialami wanita itu sehingga ia juga menyebutkannya dalam surat yang ditulisnya untuk ibunya. Granado pun terpaksa menjual motornya sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Pada 7 Maret 1952 km 3573 mereka tiba di Valparosa, Chile. Berkat uang yang dikirimkan keluarga, mereka pun dapat melanjutkan perjalanan dan tiba di gurun Atacoma pada 11 Maret 1952 km 4960. Keduanya terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka bertemu dengan sepasang suami-isteri yang terpaksa mengembara untuk mencari pekerjaan setelah tanah mereka diambil paksa dan mereka dilabeli komunis. Ernesto pun tergugah untuk menolong sehingga memberikan uang tanpa sepengetahuan Granado. Mengikuti suami-isteri tersebut, keduanya tiba di pertambangan Chuquicamato, Chile pada 15 Maret 1952 km 5122. Mereka menyaksikan sendiri pekerja tambang diangkut dengan truk dalam keadaan serba kekurangan, bahkan tanpa air minum. Melihat kemiskinan dan penderitaan mereka, Ernesto pun merasa marah tanpa mampu berbuat apa-apa. Ia menyebut para pekerja tambang itu sebagai orang yang "gelandangan di tanah air sendiri". Setelah menumpang truk, mereka melanjutkan perjalanan ke Peru.

Pada 2 April 1952 km 6932, keduanya tiba di Cuzco, Peru. Mereka bertemu Don Nestor yang menjadi tour guide mereka. Ernesto pun prihatin dengan orang-orang Inca yang hanya bisa berbahasa Quechua karena mereka tidak pernah punya kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah, tanpa pekerjaan dan tidak memiliki banyak uang. Sejak masa kanak-kanak mereka hanya diajarkan untuk membuat kerajinan tangan. Mereka juga diusir dari tanah mereka sendiri oleh para tuan tanah. Pada 5 April 1952 km 7014, Ernesto dan Granado tiba di Mochu Picchu, Peru. Ernesto pun sampai pada kesimpulan bahwa meskipun orang-orang Inca memiliki pengetahuan astronomi, matematika, dan operasi otak, tapi mereka tetap kalah oleh bubuk mesiu; revolusi tanpa senjata tidak akan berhasil.

Pada 12 Mei 1952 km 8198, mereka tiba di Lima, Peru. Mereka mencari Dr Hugo Pesce, seorang dokter yang menaruh perhatian besar pada para penderita lepra. Ernesto berkata bahwa Dr Pesce tidak saja memberi mereka pakaian, makanan, uang, tapi juga ide-ide. Bahkan membelikan mereka tiket kapal laut untuk mencapai rumah sakit lepra San Pablo dan bekerja sebagai sukarelawan. Dalam perjalanan, asma Ernesto kembali kambuh.

Pada 8 Juni 1952, keduanya tiba di San Pablo, Peru km 10223. Rumah sakit San Pablo terdiri atas dua bagian. Di utara ditempati oleh anggota tim medis, sedang di selatan didiami oleh para penderita lepra. Segera saja Ernesto dan Granado menjadi dekat dengan para dokter, perawat, sekaligus pasien di sana. Ernesto berhasil meyakinkan pasien bernama Silvia yang sebelumnya menolak dioperasi lengannya. Ernesto dan Granado yang sering melanggar peraturan suster kepala (tidak mau memakai sarung tangan saat melakukan kontak dengan pasien, bermain bola dengan pasien) menimbulkan kontroversi di San Pablo. Meski begitu, keduanya mendapatkan simpati dari semua penghuni San Pablo, baik tim medis maupun pasien. Sehari sebelum mereka meninggalkan San Pablo, Ernesto berulangtahun. Di akhir pesta ulangtahunnya, Ernesto nekat menyeberangi sungai yang memisahkan bagian utara dan selatan San Pablo dan bertekad merayakan ulangtahunnya dengan para pasien, tanpa mempedulikan larangan Granado yang khawatir asmanya kambuh. Tak heran Ernesto meninggalkan kesan mendalam bagi semua penghuni San Pablo. Mereka meninggalkan San Pablo dengan rakit.

Pada 26 Juli 1952 km 12425, mereka tiba di Caracas, venezuela. Ernesto dan Granado pun berpisah. Granado berencana akan bekerja di Cabo Blanco, sementara Ernesto masih belum tahu apa yang akan dikerjakannya.

Pada akhir film disebutkan bahwa perlu 8 tahun bagi Ernesto dan Granado untuk bertemu lagi. Pada 1960 Granado diundang untuk tinggal dan bekerja di Kuba. Undangan itu datang dari teman lamanya yang sekarang adalah "comandante" Ernesto Che Guevara. Che terlibat perlawanan demi idealismenya di Kongo dan Bolivia di mana ia lalu ditangkap dengan dukungan dari CIA dan terbunuh pada Oktober 1967. Sementara Granado tetap tinggal di Kuba dan mendirikan sekolah medis di Santiago. Dia tinggal di Havana dengan isterinya, Della, anak-anak dan cucu-cucunya.


Film ini diawali dengan gambaran Havana pada Mei 1964, Kuba pada Maret 1952, dan Meksiko pada Juli 1955 (di mana 20% orang Kuba adalah pengangguran, 1,5% tuan tanah mengendalikan 46% tanah. Separuh populasi tidak memiliki listrik, separuhnya tinggal di pondok, 37% buta huruf, dan angka kematian bayi meningkat). Lalu setting pun berpindah ke New York pada Desember 1964.

Pada Maret 1957, di Havana, Kuba, Che Guevara dan pasukannya bersembunyi di hutan. Che yang kembali terserang asma lalu menumpang di rumah Epifanio. Ia lalu bertemu Fidel Castro yang membagi pasukan menjadi 3 kelompok yang masing-masing dipimpin oleh Raul, Almeida, dan Jorge Satus.

Che sambil mengamalkan ilmu kedokterannya, ia memeriksa penduduk setempat dan merekrut pengikut untuk menjadi anak buahnya. Sesekali asmanya kambuh, tapi Che tetap memimpin pertempuran di kantong-kantong gerilya. Ia bahkan mengajarkan baca-tulis pada anak buahnya yang buta huruf.

Meski tidak selalu sependapat dengan Castro, tapi Che tetap loyal pada Castro. Ia dipercaya Castro untuk membentuk pasukan baru dan ia memberlakukan aturan kepada anak buahnya agar mereka menghormati petani, tidak memperbolehkan mereka menyentuh perkebunan, mengganggu petani dan keluarganya. Jika ada yang melanggar, mereka akan dihukum dengan kode etik revolusioner. Che pun mendapatkan banyak pengikut yang ingin bergabung dengan pasukannya meski pun kehidupan mereka berat. Mereka kadang sehari penuh tidak makan dan harus tidur di tanah di saat turun hujan.

Petualangan Che terus berlanjut. Mereka bahkan mengambil alih stasiun dan gereja. Film berakhir hingga setting beralih ke Havana pada 2 Januari 1959.

Dibandingkan The Motorcycle Diaries, scene demi scene dalam Che tidak terlalu saya gambarkan secara detil. Jujur saja, saya lebih suka Guevara dalam The Motorcycle Diaries yang idealis daripada Guevara dalam Che yang telah berubah menjadi revolusioner sekaligus komunis, sekalipun Guevara dalam Che tetap tergerak untuk memberantas buta huruf dan memakai ilmu kedokteran yang pernah ia kenyam untuk mengobati penduduk setempat dan anak buahnya yang luka dalam pertempuran dengan peralatan dan obat-obatan seadanya.

Saya tidak tahu banyak tentang politik, jangankan politik di Kuba, politik di Indonesia sendiri juga saya tidak terlalu tertarik untuk mengikutinya. Mungkin karena dalam benak saya sudah telanjur terbetik konsepsi bahwa politik itu cenderung kotor; tapi sejauh yang saya mengerti, sejak dulu hingga sekarang, komunisme itu salah. Terlepas dari benar atau salahnya melabeli seseorang/organisasi komunis atau pun kesalahpahaman yang mungkin terjadi (salah tuduh) mengatakan seseorang/organisasi sebagai komunis; dalam pemahaman saya komunisme adalah hal yang keliru. Karena itu, saya sangat menyayangkan bagaimana Guevara muda yang berempati pada orang-orang yang tertindas dan terusir dari tanahnya sendiri memilih komunisme sebagai cara untuk memperjuangkan visinya. Andai saja Guevara tidak sampai pada kesimpulan bahwa perjuangan tanpa senjata (dan komunisme) tidak akan berhasil, mungkinkah akhir hidupnya akan berbeda? Yang jelas, menyaksikan transformasi Che dalam kedua film tsb benar-benar membuat saya patah hati. Terlebih ketika saya teringat cuplikan dalam film dokumenter yang membuat saya tambah miris. Cuplikan itu berupa wawancara dengan anak kandung Guevara. Ketika ia mendapat pertanyaan apa yang dapat ia ingat tentang ayahnya, ia menjawab bahwa ia tidak memiliki kenangan apa pun tentang ayahnya karena sejak kecil ayahnya selalu bepergian sehingga ia tidak pernah punya kesempatan untuk mengenal ayahnya. Tidakkah ini memprihatinkan jika tidak dapat dikatakan ironis???

2 komentar:

Norman Guevara mengatakan...

apakah saya dpt meminjam film dokumenter nya?
email saya : normanbwb@yahoo.com

Grace Receiver mengatakan...

@Norman Guevara: Saya nonton film dokumenter Che Guevara bukan dari DVD, tapi di Metro TV dan sudah lama sekali. Kamu coba saja kirim surat pembaca ke Metro TV buat nayangin lagi film dokumenter tentang Che Guevara.