Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 22 Mei 2009

Seharusnya Kau Tahu

Sumber: Majalah Kawanku No.48/XXVI Tahun 1997

Kulangkahkan kakiku melintasi taman belakang, masuk ke kompleks pemakaman. Yah, dulu di sini Glen kecil dan aku, Clara kecil yang nakal sering bermain. Rumahku memang langsung menyambung dengan kompleks pemakaman. Aku dan Glen sering sekali menjelajah nisan demi nisan, mencabuti ilalang yang tumbuh sekaligus menggoyang-goyangkan dengan keras pohon kamboja yang banyak tumbuh di sekitar situ. Mengharap bunga-bunganya akan gugur. Dan kalau belum juga gugur Glen akan menendang pohon itu keras-keras sampai bunga-bunga kamboja itu luruh ke tanah.

Setahun yang silam nama Glen terukir di deretan nisan itu, tapi Glen tak pernah meninggalkan aku, Claranya yang tersayang. Entah ia tahu atau tidak kalau diam-diam aku mencintainya. Tapi seharusnya dia tahu.

Aku melangkah mendekati nisan Glen. Menggoyangkan dahan kamboja di sebelah nisannya dengan kencang. Tak berapa lama bunga-bunga kamboja itu pun luruh. Sedetik kemudian kurasakan Glen sudah berdiri di dekatku. Senyum konyolnya menghiasi wajah tampannya yang pucat.

“Bagaimana sekolah hari ini?”, tanyanya pura-pura.

“Kau pikir aku bisa kau bodohi? Kau kan yang membuat pulpenku melayang-layang di udara. Josh melihatnya; apa kau tahu itu? Untung saja dia itu sok tahu, enggak percaya sama hantu. Jadi ketika kubilang dia berhalusinasi karena stress abis ulangan Fisika, dia percaya aja.”, semburku sebal.

Glen langsung ngakak. Melihatnya begitu riang, kekesalanku langsung lenyap.

“Kumohon, Glen, jangan terlalu sering mengikutiku ke sekolah, orang-orang sudah mulai curiga. Rhea malah mengira aku sudah agak sinting karena menyebut-nyebut namamu.”

“Bagaimana kalau aku mencoba berbicara dengan Rhea?”

“Jangan, Glen! Rhea pasti melapor ke mama. Mama pasti akan mencoba memisahkan kita.”

“Tapi aku bosan sendiri. Tidak enak jadi hantu. Kadang-kadang aku berpikir lebih baik aku benar-benar meninggalkan dunia ini.”

“Glen! Kamu tega? Kamu janji akan terus menemaniku!”, seruku dengan marah.

“Maaf. Tapi kamu jangan lupa Clara, kelak kalau kamu sudah punya penggantiku, aku akan pergi.”, kata Glen sambil menatap tajam ke arahku.

“Aku tahu. Tapi kukira aku tidak akan pernah bisa menerima orang lain sebagai penggantimu, Glen.”

“Clara, harus ada orang yang menggantikan tempatku. Aku tidak bisa terus tinggal di bumi.”

“Kenapa harus pergi, Glen? Aku mau kamu selamanya di dekatku.”

“Itu tidak mungkin! Aku tidak mau terkatung di antara dua dunia.”

“Baiklah, tapi kau harus janji, Glen, jangan pergi sebelum aku menemukan orang yang dapat menggantikanmu.”

“Jangan khawatir, Clara!”, senyum Glen menenangkanku.


****


“Kemarin Joshua memintaku jadi pacarku, Glen.”, kataku pada Glen yang tengah duduk di atas meja perpustakaan.

“Itu bagus. Terima saja! Aku bisa cepat pergi, kan?”

“Tapi aku tidak mau kamu pergi, Glen! Kamu tidak boleh pergi!”

“Jangan sekali-sekali menahanku, Clara! Apa kamu enggak sadar persahabatan kita sudah seharusnya berhenti sejak aku mati?”

“Jangan katakan itu, Glen! Kamu jahat!”, seruku tertahan. Tanpa sadar kedua butir air mata meluncur jatuh di pipiku.

“Hushhh! Hana berjalan ke sini. Cepat hapus air matamu! Sebaiknya aku pergi.”, kata Glen panik lalu berjalan menembus dinding.

“Lagi ngapain kamu, Clara? Kok sendirian? Enggak sama Rhea?”

“Rhe enggak masuk. Udah dua hari dia sakit.”

“Aduh, kasihan, ya? Padahal minggu ini jadwal ulangan padat, ya?”

“Heeh, tapi kan bisa susulan.”

“Iya, sih! Josh titip salam ke kamu, Clara.”

“O ya?”

“Mau titip salam balik enggak?”

“Enggak usah, deh. Makasih.”

“Masih suka inget Glen, ya?’
“Enggak. Siapa bilang?”, elakku was-was.

“Kata Rhea kamu kadang suka ngomong sendiri sambil nyebut-nyebut nama Glen. Iya kan?”

“Sembarangan! Rhea bilang begitu?”

“Jangan marah, dong! Mungkin Rhea salah denger. Terus gimana dengan Josh?”

“Kenapa dengan Josh?”

“Enggak kamu tanggapi perhatiannya?”

“Hana, jangan mengusikku! Aku mau sendirian!”, seruku dengan marah, nyaris membentak.

“Maaf, baik aku pergi!”, kata Hana terkejut. Ia berbalik dan melangkah pergi.

Glen segera menghampiriku begitu Hana menjauh. Ia kelihatan marah.

“Berhentilah mempersulitku, Clara! Kau tahu cepat atau lambat aku harus pergi. Jangan coba-coba mencegahku! Sebaiknya kau terima saja Joshua!”

“Kenapa kau berkeras untuk pergi?”

“Aku sudah dapatkan teman seperjalanan. Namanya Meta. Dia meninggal minggu lalu, tertabrak truk.”

“Jadi setelah ketemu Meta, kau mau meninggalkanku, Glen?”, tuduhku dengan berang dan marah.

“Ya, dulu aku memang takut untuk pergi. Aku belum siap untuk mati. Tapi kini aku sudah tidak takut lagi. Aku mau pergi secepat mungkin dari dunia.”

“Glen, kau akan melupakanku?’

“Tidak, Clara! Tapi aku mau kau bergaul dengan teman-temanmu. Aku ini hantu, sejak awal dari kematianku, persahabatan kita sudah tidak wajar. Jadi ijinkan aku pergi!”

“Aku akan sedih kalau kamu pergi, Glen!”

“Kamu harus berhenti sedih untukku, Clara!”

“Aku enggak bisa.”

“Pasti bisa dan harus bisa. Joshua akan membantumu!”

“Kapan kamu mau pergi? Hari ini? Besok? Lusa?”
“Segera setelah kau terima Joshua.”

“Aku tidak mencintainya, Glen.”

“Aku tahu. Toh kau bisa bersahabat dengannya saja kalau kau tidak menyukainya, seperti kita dulu.”

“Baiklah. Tapi, Glen jangan mendadak begini! Tunggu ya sampai aku merasa benar-benar siap kau tinggalkan?”, pintaku mengiba.

“Sampai seberapa lama lagi? Sebulan?”

“Bagaimana kalau lima tahun lagi?”

“Itu terlalu lama, Clara. Dan aku yakin setelah masa lima tahun itu lewat, kau kembali akan mencegahku pergi. Iya kan?”, tuduh Glen dengan marah. Mata elangnya menghujam mataku dengan tajam. Sorot matanya dingin.

“Ini semua karena Meta, kan? Dia yang mendesakmu untuk pergi?”, tuduhku tak kalah marah.

“Jangan salahkan Meta! Jangan sekalipun!”

“Kenapa?”

“Dia itu pacarku.”

“Hah? Kau sudah jadi hantu masih bisa juga pacaran?”

“Tidak usah heran! Yang jelas aku harus benar-benar pergi.”

“Bagaimana kalau empat tahun lagi?”
“Tidak. Itu terlalu lama!”

“Tiga tahun, Glen?”

“Tidak! Sama sekali tidak!”

“Dua tahun?”

“Ini yang terakhir, Glen. Satu tahun lagi?”

“Juga tidak. Seperti kataku tadi, hanya sebulan saja!”

“Baik, sebulan. Tapi jangan coba-coba pergi sebelum masa satu bulan ini lewat! Aku tidak akan memaafkanmu, Glen kalau kau sampai pergi diam-diam, tanpa sepengetahuanku!”

“Aku bukan penipu, Clara! Jangan khawatir!”


****


Waktu sebulan cepat lewat. Kulalui sebulan itu hampir senantiasa bersama Glen. Kalau aku ke sekolah, ia ikut bersamaku. Ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, ke tiap sudut sekolah. Jarang sekali aku berada sendirian tanpanya.

Baik pagi, siang, sore ataupun malam Glen di dekatku. Ia menemaniku belajar, membuat peer, bahkan kalau aku pergi les piano, Glen ikut juga. seolah sebulan ini adalah kado perpisahan darinya untukku.

Joshua masih mencoba mendekatiku. Sekarang hampir tiap hari dia titip salam lewat Rhea atau lewat Hana, tapi dia tak pernah kugubris. Aku tidak mempedulikannya sama sekali. Meski Glen berulangkali menyarankan untuk menerimanya, aku tetap menolak.

Glen dan aku dalam hati sama-sama menyadari bahwa perpisahanku dengannya sungguh amat berat. Dan setiap hari aku semakin takut kehilangannya. Setiap fajar tiba aku semakin cepat akan kehilangan Glen. Kadang aku takut kalau pagi tiba, aku berharap malam tidak pernah jadi pagi. Dan ketika pagi tiba aku berharap malam tidak akan kunjung datang. Perasaanku sungguh tidak nyaman. Sebagian jiwaku tertawa karena Glen selalu di dekatku, tapi bagian hatiku yang lain galau dengan perpisahan kami yang kian mendekat.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu terlewati. Akhirnya saat yang paling kutakuti itu tiba. Glen harus pergi!!!

“Glen sebelum kau pergi, aku mau mengatakan sesuatu. Aku akan sangat menyesal kalau aku tidak mengatakannya. Kau mau mendengarkanku, bukan?”

“Tentu, Clara!”

“Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi hanya satu hal yang paling penting yang harus kau ketahui, Glen! Aku mencintaimu sejak kau masih hidup, sampai kini Glen, sampai kau kini jadi hantu dan akan pergi dariku.”

“Aku tahu. Kau juga harus tahu. Meta itu tidak pernah ada. Sama seperti perasaanmu padaku, aku mencintaimu sejak saat aku masih hidup. Aku ingin kau tahu tentang perasaanku yang satu ini.”

Dengan terkejut kutatap matanya. Raut wajah itu tersenyum. Di matanya kutemukan kejujuran dan cinta yang hangat.

“Kalau begitu kenapa pergi, Glen? Kenapa kau jodohkan aku dengan Joshua?”

“Clara, aku ini hantu, mana bisa kita bersatu? Tidak mungkin kau hidup tanpa pasangan sampai mati? Mamamu tidak akan setuju, Clara!”

“Aku tidak peduli, Glen! Aku ….”


“Clara, aku tahu cinta kita terlambat diucapkan. Semestinya kita ucapkan sejak dulu, sejak aku masih hidup! Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk mengetahuinya sekarang, Clara!”

“Glen, jangan pergi!”, pintaku dengan wajah yang kini berderai air mata.

“Selamat tinggal Clara!”, ucap Glen sambil tersenyum.

“Aku tidak akan menerima Joshua atau siapa pun. Tunggu sampai kelak aku mati, Glen”, seruku dengan sedih.

Glen hanya tersenyum. Wajah tampannya memudar. Ia tinggal setitik cahaya yang menghilang di kegelapan. Selamat jalan, Glen!


****


Kuakhiri cerpenku sampai di sini. Yah, inilah pembalasan dendamku pada Glen, mantan pacarku yang berkhianat dengan sepupuku, Meta. Kujadikan kalian tokoh-tokoh hantu! Aku puas sekarang! Kutepis air mataku yang berlinangan sejak tadi.

Kriiing. Dering telepon berbunyi dari ruang tamu.

“Clara, telepon dari Joshua!”

“Iya, Ma”, sahutku sambil bangkit dari kursi. Aku lalu berlari menuruni tangga setelah keluar kamar. Rumahku memang berloteng.

“Halo?”

“Ini Joshua.”

“Halo, Josh!”

“Hari ini ada acara enggak? Nonton yuk!”

“Boleh. Jemput, ya?”

“Ok, siap ya jam tujuh?”

“Beres!”, lalu kututup telepon. Klik.

Persetan dengan Glen, Meta, dan perselingkuhan mereka. Selamat datang Joshua. Mungkin kelak kamu jadi pacarku. Aku lalu berlari ke kamar, sibuk memilih baju.


SELESAI

Tidak ada komentar: