Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 22 Mei 2009

Sundari


I dedicate this story to Herny Yahya, a fans of Schumi.

Jakarta, awal Juni 2006.
Sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat yang akan kutumpangi menuju Jogjakarta, kutekuri pertanyaan terakhir yang belum juga kuketahui jawabannya. Aku jadi kesal sendiri. Setiap kali aku mengisi teka-teki silang, tidak pernah dapat terisi penuh. Selalu saja ada satu atau dua pertanyaan yang tersisa. Tanpa sadar kugumamkan pertanyaan terakhir yang belum juga terjawab itu.

“Mogadishu terletak di negara…”

“Somalia”, tiba-tiba terdengar celetukan dari lelaki bule yang kebetulan duduk di sampingku.

Kuisikan jawaban Somalia di kotak-kotak teka-teki silang yang sedang kupegang dan ternyata jawabannya memang benar. Wah, bule ini pengetahuannya luas juga, batinku dalam hati. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum ramah.

“Terima kasih. Anda lancar berbahasa Indonesia, ya?”, tanyaku ingin tahu.

“Ya, dulu saya pernah punya teman orang Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia dari dia”, jawab si bule.

“Oh, begitu? Anda turis, ya? Mau berwisata ke mana?”, tanyaku lagi.

“Panggil saja saya Dwayne. Saya bukan turis. Saya ke Indonesia karena mau meliput tentang gempa di Jogjakarta. Saya wartawan.”, kata si bule sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.

“Oh, begitu. Nama saya Sundari. Saya kebetulan juga akan ke Jogjakarta, menengok nenek saya dari pihak ayah.”, ucapku sambil menyambut uluran tangannya.

“Nenek Anda juga korban gempa? Is she okay?”, tanya Dwayne, terdengar prihatin.

‘Nenek saya baik-baik saja. Dia kebetulan tidak tinggal dekat pusat gempa. Eternit rumah memang retak-retak tapi Beliau selamat”, ucapku menjelaskan.

Berikutnya aku dan Dwayne jadi mengobrol panjang-lebar. Kuceritakan padanya bahwa aku pergi ke Jogjakarta adalah dalam rangka menengok nenekku. Selama ini aku memang tinggal di Jepang selama beberapa bulan, dan sekarang aku tinggal dengan orang tuaku di Amerika. Kuceritakan pula tentang keluargaku, bahwa ayahku kini sedang menjalankan tugas sebagai duta besar Indonesia di Amerika. Sementara Dwayne bercerita padaku bahwa dia selama ini bekerja sebagai koresponden di beberapa koran dan majalah yang terbit di Amerika. Dia sudah tidak memiliki keluarga karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Memang dia masih memiliki paman dan bibi, tapi jarang sekali ditemuinya sebab mereka tinggal di negara bagian yang berbeda dengan tempat Dwayne menetap. Dia sendiri hampir selalu bepergian karena pekerjaannya menuntutnya seperti itu. Baru beberapa bulan ini, dia menetap di Washington DC. Tanpa direncanakan kami sudah seperti teman lama saja, bisa saling berbagi cerita dan pengalaman hidup.

Dia lalu meminta tolong padaku untuk menjadi penunjuk jalan selama dia berada di Indonesia. Dia harus meliput korban gempa di Bantul padahal dia sama sekali buta terhadap jalan-jalan di Jogjakarta. Aku menyanggupinya.

Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan kota kelahiranku porak-poranda akibat gempa berkekuatan 5,9 skala richter yang terjadi pada 27 Mei yang lalu itu. Banyak korban yang tewas masih simpang siur. Umumnya mereka meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Jogjakarta seolah lumpuh. Selain meluluhlantakkan lebih dari tiga ribu bangunan, jaringan telekomunikasi juga terputus.

Didorong oleh keprihatinan, aku, Dwayne, dan sejumlah relawan akhirnya memutuskan menggalang dana untuk membantu korban. Kami menyampaikan sendiri bantuan kami secara langsung. Hal ini adalah demi amannya karena bagaimana pun korupsi masih menjadi momok bangsa ini.

Setelah tugas Dwayne usai, sebelum berpisah, dia sempat menginformasikan padaku ada lowongan pekerjaan sebagai pembawa acara Voice of America untuk Indonesia. Iseng-iseng aku melamar dan ternyata aku diterima. Jadilah aku kini seorang presenter.

Aku dan Dwayne kini bersahabat. Di sela-sela kesibukan kami, aku dan Dwayne masih menyempatkan diri bertemu. Sedikit-banyak dia mengingatkanku akan Satoru. Mereka sama-sama cerdas, memiliki selera humor yang tinggi, berwawasan luas, serta pandai menciptakan suasana akrab dan nyaman. Perawakan Satoru memang lebih pendek dari Dwayne, meskipun untuk ukuran orang Asia dia termasuk tinggi. Mata Satoru sipit seperti kebanyakan orang Jepang, sedang mata Dwayne berwarna cokelat tua dan berkilat tajam. Meskipun secara fisik keduanya jelas berlainan, bagiku mereka tampak seperti satu orang.

Suzuka, awal Oktober 2003-2004.
Aku mengenal Satoru sekitar tiga tahun yang lalu. Waktu itu aku ikut rombongan tur dari Indonesia, menyambangi negeri sakura – Jepang untuk menyaksikan balap mobil Formula One, di sirkuit Suzuka.

Aku dan Satoru, kami kebetulan menempati tempat duduk di tribun yang sama. Aku dan dia sama-sama penggemar Michael Schumacher. Mulanya aku pikir semua orang Jepang hanya mengidolakan local hero mereka. Saat itu adalah Grand Prix Jepang tahun 2003. Kami sama-sama kecewa karena Michael Schumacher tidak menjadi juara karena hanya berhasil finish di urutan kedelapan, tertinggal 59,487 detik dari rekan satu timnya, Rubens Barichello yang memenangkan balapan dengan catatan waktu 1:25:11,743 detik.

Ketika aku, Satoru, dan penggemar Michael Schumacher lainnya membawa-bawa spanduk yang bertuliskan dukungan kami untuk pembalap Jerman tersebut, tanpa direncanakan, kami jadi berkenalan.

Waktu itu kesempatan Michael Schumacher untuk menjadi pemenang di Grand Prix Jepang memang kandas, tapi persahabatan antara aku dan Satoru baru saja tumbuh, dan lalu hingga tiga tahun berturut-turut, setiap kali Grand Prix Jepang, aku selalu menyempatkan diri mengunjungi Suzuka untuk menyaksikan Michael Schumacher berlomba dan tentu saja untuk bertemu Satoru lagi.

Setelah aku kembali ke Jakarta, aku dan Satoru tetap berhubungan melaui email dan SMS. Mulanya kami memang hanya saling menanyakan kabar masing-masing, lalu berbagi informasi dan berita seputar pembalap idola kami itu. Entah bagaimana, pembicaraan kami yang tadinya hanya seputar Michael Schumacher, lama-kelamaan berkembang menjadi pembicaraan pribadi. Aku bercerita tentang diriku dan Satoru bercerita tentang dirinya.

Satoru adalah seorang komikus. Suatu profesi yang terdengar nyeleneh (aneh sendiri) di telinga orang Jogja seperti aku. Aku hanya terbiasa mendengar profesi yang memang akrab di telingaku, seperti petani, profesi yang digeluti oleh mendiang kakekku, atau duta besar seperti profesi bapakku, atau juga model, profesi yang dulu ditekuni ibuku dan kini kutekuni, meski aku tahu hanya sementara saja. Dunia model memang penuh persaingan dan tidak abadi. Setelah umurku kian bertambah dan aku tidak lagi cantik dan muda, aku tahu itulah saatnya bagiku untuk pensiun. Setelah berhenti dari dunia model, aku tak tahu bidang baru apa yang akan kugeluti. Semuanya masih terasa samar dan membingungkan. Terus terang, aku memang merasa gamang dengan masa depanku. Kalau pun aku harus kuliah lagi, rasanya sudah terlambat untuk merintis karir di saat orang-orang seusiaku mungkin sudah menduduki posisi yang mapan.

Ketika Satoru bercerita tentang pekerjaannya sebagai seniman komik, aku benar-benar merasa tertarik. Di Jepang, seniman komik sepertinya lebih dihargai daripada di Indonesia. Tidak seperti orang Indonesia yang menganggap komik adalah bacaan untuk anak-anak dan remaja saja, di Jepang orang dewasa pun membaca komik. Dari Satoru, aku jadi tertarik pada manga – komik Jepang. Tadinya aku memang hanya membaca buku-buku komik karyanya saja, itu pun diterjemahkan sendiri oleh Satoru dari huruf-huruf kanji yang sangat asing bagiku, menjadi bahasa Inggris yang memang kukuasai. Lama-kelamaan aku jadi tertarik untuk belajar membuat komik juga. Satoru benar-benar banyak membantuku.

Aku yang tadinya sama sekali tak tahu apa-apa tentang komik, kini bisa dibilang pengetahuanku cukup lumayan. Dari dia, aku belajar menggambar dan membuat komik. Dari sekedar iseng-iseng, ternyata bakatku yang terpendam berhasil tergali berkat dorongan dan dukungan Satoru. Komik pertamaku berhasil terjual di sebuah situs komik internasional. Ketika terakhir kali aku berada di Jepang cukup lama, sekitar tiga bulan, aku dan Satoru berkolaborasi membuat komik bersama yang dicetak dwi bahasa, bahasa Jepang dan bahasa Inggris.

Satoru memang mentor yang hebat. Dia berjasa besar dalam hidupku. Selama ini, aku merasa hanya dapat mengandalkan dunia model sebagai mata pencaharianku. Tak kukira, aku ternyata dapat juga berkarya di lahan yang berbeda. Perlahan, aku jadi lebih percaya diri dalam menghadapi kehidupan yang terbentang di depanku. Meski aku bukanlah komikus terkenal, tapi aku ternyata bisa juga mencari pendapatan di luar dunia model. Bagiku hal ini sangat berarti.

Orang tuaku memang tidak kekurangan dan berhubung aku adalah anak tunggal di keluarga intiku, aku benar-benar dilimpahi dengan kasih sayang dan materi yang cukup dari ibu-bapakku, tapi tetap saja aku ingin berpijak dengan kedua kakiku tanpa pertolongan orang tuaku. Dalam hal ini aku sering merasa minder dengan teman-teman sekolahku dulu. Banyak dari mereka yang telah menjadi orang hebat. Ada yang menjadi dokter, pengacara, arsitek, entah apalagi; sementara aku bahkan rasanya tak sanggup jika harus menjalani lagi hari-hari sebagai mahasiswi.

Aku memang sempat mengenyam pendidikan di fakultas sastra Inggris, tapi setelah lulus, aku rasanya tidak betah memaksakan diri bekerja sebagai guru atau pun penerjemah, maka aku akhirnya memutuskan untuk menekuni karir sebagai model. Meski aku kini termasuk salah satu model papan atas di Indonesia, tapi tetap saja aku tahu, beberapa tahun lagi posisiku pasti akan tergantikan oleh pendatang baru yang lebih belia dan segar. Hal ini sudah hukum alam.
***

Pada tahun 2004, aku mengunjungi Jepang untuk kedua kalinya. Satoru sendiri yang menyempatkan diri menjemputku di airport. Aku sengaja datang beberapa hari lebih awal sebelum Grand Prix Jepang dimulai agar aku punya lebih banyak waktu melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata di Jepang.

Aku menginap di salah satu hotel di Nagoya, kota dengan jumlah penduduk terbesar keempat di Jepang. Ini atas rekomendasi dari Satoru karena dia juga tinggal di Nagoya. Kami harus menempuh jarak sekitar 48 km untuk mencapai sirkuit Suzuka. Satoru sudah berjanji untuk menjemput dan mengantarku pulang ke sirkuit sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah transportasi. Dia juga yang mengurus tiketku. Menurut Satoru, tiket masih banyak tersedia hingga Grand Prix berlangsung.

Setelah aku beristirahat sebentar di hotel tempatku menginap, dia membawaku mengelilingi berbagai tempat wisata terkenal di Jepang. Kami mengunjungi Istana Nagoya. Istana ini dibangun pada tahun 1525 dan dibangun ulang pada tahun 1959. Keluarga Tokugawa-Owari telah mendiami istana ini selama 17 generasi. Di atas atap menara utamanya terdapat dua ekor ikan legenda berkepala harimau, terbuat dari emas murni dan disebut shachi. Aku bahkan tak bisa mengingat semua detil yang diceritakan Satoru. Dia punya banyak cerita untuk semua tempat yang kami kunjungi, tapi yang menjadi favoritku tentu saja wisata kulinernya, karena aku memang doyan makan. Selama di sini, kumanjakan diriku dengan mencoba pelbagai jenis makanan khas setempat, termasuk juga makanan musiman yang biasanya tidak dikonsumsi karena belum musimnya.

Kami makan di gerai tempura, mencicipi gyudon, nasi dengan irisan daging sapi rebus. Dia menawariku wasabi. Aku mengangguk saja karena tadinya aku bahkan tak tahu wasabi itu apa. Ternyata sambal hijau yang pedasnya minta ampun, benar-benar tak cocok dengan lidah Jawaku yang terbiasa dengan masakan yang serba manis. Satoru memang senang mengerjai orang. Bahkan sempat-sempatnya dia menyuruhku menjajal minum sake yang bagiku sama sekali tidak bisa diminum, tapi aku menyukai ramen dan yakisoba karena aku memang penggemar mie.

Di sela-sela kebersamaan kami, aku bisa merasakan hati kami bertaut. Memang tak ada kata-kata cinta yang terucap. Kami malah bicara panjang-lebar dan melantur, tentang latihan bebas yang batal kami saksikan, karena memang ditiadakan akibat topan. Sepertinya topan adalah hal yang biasa di sini. Kami juga bicara tentang Michael Schumacher, yang saat kualifikasi berhasil mendapat pole position dengan catatan waktu 1:33,542 detik. Itu artinya Michael Schumacher akan membalap dari grid pertama. Kami merayakan keberhasilan Michael meraih pole dengan berbelanja di Mei-eki, pusat perbelanjaan bawah tanah yang luas dan ramai di kawasan stasiun JR Nagoya. Memang tak banyak yang kami beli. Sebagian besar hanya melihat-lihat saja dan mengelilingi toko demi toko, tapi aku bahagia.

Satoru memang menyenangkan. Aku senang mendengar celotehnya, baik tentang komik yang tengah dikerjakannya, kehidupan masyarakat Jepang, teknologi, bahkan tentang kereta bawah tanah. Semua terdengar bak musik merdu di telingaku. Rasanya aku jatuh cinta padanya. Apakah dia juga cinta padaku? Rasanya sih begitu, buktinya dengan tekun dia menyimak ceritaku tentang gudeg Jogja, sate kelinci di Kaliurang, dan sego abang Njirak Gunung Kidul sampai dia penasaran setengah mati ingin tahu rasanya, juga tentang diriku yang iseng-iseng belajar membatik di museum tekstil, entah apa lagi yang kuceritakan padanya. Semua hal terasa indah.

Malam itu, saat dia mengantarku kembali ke hotel, dia menatapku lama sekali, tapi tidak mengucapkan apa-apa. Kami sudah bicara banyak sekali hari itu. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Sekarang giliran hati kami yang bicara. Bisa kurasakan pipiku bersemu merah ketika kurasakan mata sipit Satoru terus memandangiku, seolah dia enggan berpisah denganku. Setelah beberapa lama, dia baru bersuara lagi. Dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang yang kupikir artinya dia mengucapkan selamat malam. Sebelum aku sempat menyahut, dia membalikkan tubuhnya lalu dengan tergesa-gesa meninggalkanku tanpa menoleh lagi. Sikapnya benar-benar membuatku heran.

Sepanjang malam aku terus memikirkan dia hingga aku baru jatuh tertidur saat hari telah menjelang pagi. Akibatnya aku bangun kesiangan. Ketika aku telah selesai mandi dan turun ke lantai dasar untuk sarapan di restoran hotel, aku tahu dari resepsionis kalau Satoru sudah meneleponku tiga kali sejak pagi. Dia tidak meninggalkan pesan apa pun, tapi meminta resepsionis memberitahuku bahwa dia telah meneleponku beberapa kali.

Sepanjang makan siang, aku masih melamunkan Satoru. Mendadak aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya jika nanti aku bertemu dengannya. Apa aku harus balik meneleponnya? Akhirnya kuputuskan menghubunginya setelah selesai sarapan. Berpikir seperti itu, hatiku jadi lebih tenang, maka kuhabiskan makan siangku dengan pikiran lebih jernih. Aku sendiri bingung dengan diriku. Mengapa aku harus mempertanyakan sikap Satoru semalam, lalu menjadi kalut sendiri? Mungkinkah kami saling jatuh cinta hanya dalam dua kali kesempatan aku mengunjungi Jepang?
***

Sesuai janjinya, Satoru menjemputku dari hotel tempatku menginap, lalu kami menuju sirkuit Suzuka untuk menyaksikan seri ke-17 balap mobil Formula One. Jumlah penonton yang memadati sirkuit saat hari balapan mencapai 156.000 penonton. Dapat dibayangkan betapa riuh-rendah suasana saat itu. Aku dan Satoru adalah dua di antara 156.000 orang itu.

Aku ingat saat itu cuaca hangat dan kering. Di akhir lap pertama Michael memimpin balapan dan tetap memimpin setelah masuk pit di lap ke-13, begitu juga di lap ke-26 setelah masuk pit lagi. Michael akhirnya memenangkan balapan di lap ke-53. Ini adalah kemenangannya yang ke-13 di musim ini.

Aku dan Satoru sangat gembira. Kegembiraannya bahkan lebih besar dari kegembiraanku. Hal ini dapat kumaklumi karena Takuma Sato, pembalap Jepang dari tim B.A.R. Honda berhasil finish dengan meraup poin di urutan ke-4.

Selesai menonton balapan, kami tidak langsung pulang. Tadinya aku ingin membeli tambahan oleh-oleh untuk beberapa orang temanku karena besok aku sudah akan kembali ke Jakarta, tapi entah mengapa rencana itu batal. Aku akhirnya mengunjungi apartemen Satoru. Jaraknya tak seberapa jauh dari hotel tempatku bermalam.

Sampai di apartemennya, dia memasakkan sukiyaki untukku. Sambil makan, kami membahas balapan hari ini. Sampai jauh malam, kami masih mengobrol, tapi tak sekali pun kami menyinggung tentang rencana kepulanganku esok pagi, seolah kami sama-sama tidak ingin diingatkan bahwa besok kami akan berpisah.

Saat malam semakin larut, aku berpamitan padanya untuk kembali ke hotel. Dia bersikeras untuk mengantarku. Dia memintaku menunggu sebentar. Sebelum aku sempat memprotes, dia sudah menghilang ke ruangan sebelah. Ketika dia muncul kembali, dia menghadiahiku tiga helai kimono.

Aku tahu dia mungkin merasa sungkan karena saat hari pertama aku tiba di Jepang, aku telah memberinya oleh-oleh tiga helai kemeja batik. Dia mungkin merasa harus memberikan tanda mata juga, sehingga dia memberiku kimono dengan jumlah yang sama dengan hadiah yang kuberikan untuknya.

Sekarang aku yang merasa sungkan. Dia sudah menemaniku selama aku tinggal di negaranya. Aku tahu dia sibuk, tapi dia tetap berbaik hati menyisihkan waktunya demi memanduku berwisata ke sekitar Nagoya. Dia juga sudah menjemput dan mengantarku pulang ke hotel selama beberapa hari aku tinggal di sini. Tadinya kemeja batik yang kuberikan padanya kumaksudkan sebagai ucapan terima kasihku karena dia sudah bersedia meluangkan waktunya untukku, bahkan mengawalku ke mana-mana.

Kini dia memberiku tiga helai kimono, sehingga aku merasa berhutang lagi padanya. Ketika kuutarakan rasa sungkanku, dia tersenyum seraya berkata, “Kapan-kapan kalau aku mengunjungi Indonesia, kau yang akan ganti menemaniku. Kau bisa membayar hutangmu dengan mentraktirku makan gudeg Jogja. Aku masih penasaran ingin tahu bagaimana rasanya.”

Aku tertawa mendengar lafalnya yang terdengar aneh saat dia mengucapkan kata gudeg, tapi aku terharu karena dia benar-benar menyimak semua ucapanku, bahkan mengingatnya. Aku berjanji akan ganti menemaninya jika dia berkunjung ke Jogjakarta. Ah, aku lupa menceritakan padanya bahwa selama ini aku menetap di Jakarta. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat kelahiranku itu semenjak aku merantau ke Jakarta.

“Ini namanya komon.”, kata Satoru sambil menunjuk ke salah satu kimono bermotif sederhana setelah tawaku berhenti. Kudengarkan penjelasannya dengan penuh perhatian. “Komon bisa dikenakan untuk menghadiri makan malam atau menonton pertunjukan di gedung.”, lanjut Satoru.

“Kalau yang ini namanya tsumugi. Ini untuk dikenakan sehari-hari di rumah, tapi boleh juga dipakai untuk jalan-jalan. Pada zaman dulu, tsumugi digunakan untuk bekerja di ladang.”, kata Satoru lagi. Kali ini dia menunjuk ke salah satu kimono yang terbuat dari tenunan benang sutera yang tebal dan kasar. Memang bukan sutera kualitas nomor satu, menurut Satoru ini memang disengaja agar tahan lama jika dipakai. “Sedang yang ini disebut yukata. Biasanya ini dipakai di musim panas.”, ujar Satoru sambil menunjuk kimono ketiga yang terbuat dari katun tipis, tanpa pelapis.

“Komon, tsumugi, yukata,” ulangku sambil menunjuk ketiga helai kimono itu bergantian. Satoru tersenyum melihatku melafalkan ketiga kata yang baru saja kupelajari itu.

Aku tidak tahu apakah semua pria Jepang secerdas dia. Satoru sepertinya sangat menyukai sejarah dan bangga akan tradisi bangsanya. Dia bisa menceritakan banyak hal tentang budaya Jepang dengan fasih. Pengetahuannya membuatku minder. Aku sendiri belum tentu bisa sefasih dia jika harus bercerita tentang Indonesia padanya. Jangankan keseluruhan Indonesia yang memiliki banyak provinsi, membicarakan tentang Jogjakarta saja pun, aku tidak yakin bisa sefasih dia.

Aku masih ingat saat dia menceritakan tentang Istana Nagoya padaku. Dia bisa menceritakan setiap detilnya secara terperinci. Aku saja tidak yakin bisa bercerita tentang Keraton Jogja selancar saat dia bercerita tentang Istana Nagoya.

Sebelum dia benar-benar mengunjungi Jogja, sepertinya aku harus belajar banyak tentang tempat-tempat wisata di kota kelahiranku itu dan menghafal detil-detil bersejarahnya agar aku tidak terlihat terlalu bodoh di mata dia. Tapi, kapan tepatnya dia akan mengunjungi Jogja? Apakah ucapannya tadi hanya sekedar basa-basi atau dia memang serius ingin menemuiku lagi? Aku tidak dapat menebaknya. Besok kami sudah akan berpisah. Aku bahkan tidak berani berharap banyak.

Dia mengantarku balik ke hotel sampai ke depan kamarku. Dia mengucapkan selamat malam dengan mata muram, seolah dia enggan berpisah denganku. “Selamat malam,” sahutku. Aku sendiri enggan berpisah dengannya, tapi bagaimana pun besok aku harus kembali ke Jakarta. Aku perlu istirahat karena di pesawat, aku tidak yakin aku bisa tidur.

Satoru tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup kedua belah pipiku bergantian. Aku tidak bisa bersuara karena terkejut dengan sikapnya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Biasanya dia hanya mengucapkan selamat malam, lalu berlalu dari hadapanku. Apakah makna kecupannya? Sekedar tanda persahabatan atau lebih dari itu? Aku tidak berani menerkanya. Aku takut akan kecewa jika aku salah menebak.

Aku masih termangu kebingungan. Dia berpamitan padaku, tapi aku tidak menjawab. Haruskah aku balik mengecup pipinya? Apakah itu bagian dari budaya Jepang jika ingin mengucapkan selamat tinggal pada seorang teman akrab? Tapi akrabkah kami? Kebersamaan kami selama beberapa hari ini memang terasa akrab, tapi bisakah karena hal itu dia kusebut sebagai teman karibku?

Aku tidak tahu apakah kami berteman karena sejujurnya kurasakan, caranya memandangiku adalah tatapan seorang pria pada wanita yang disukainya, bukan tatapan seorang kawan akrab. Atau aku yang salah mengartikan sikapnya? Dia sudah berlalu tapi aku tidak menyadarinya.

Ketika akhirnya aku tersadar, aku masuk ke dalam kamarku. Sambil berbaring di peraduan, meski mataku terpejam, tapi benakku masih penuh dengan bayangan Satoru.
***

Hari ini aku bangun terlalu pagi. Karena khawatir tertinggal pesawat, begitu membuka mata, aku langsung menendang selimut dan turun dari tempat tidur. Kunyalakan lampu kamar dan kupadamkan lampu tidur yang lebih temaram. Kusibakkan tirai jendela dan mengamati sejenak pemandangan di luar. Tak sampai lima menit, aku sudah beranjak menuju kamar mandi. Aku tidak bisa berlama-lama. Sebentar lagi aku harus check out.

Kali ini aku tidak berendam di bath tub. Kunyalakan kran air dan berdiri di bawah pancuran. Setelah tubuhku cukup basah, aku mulai menyabuni kulitku. Sambil mandi, pikiranku lari kembali pada kejadian semalam saat Satoru mengecup kedua belah pipiku. Aku masih bertanya-tanya apa maksud tindakannya.

Keluar dari kamar mandi, kukeringkan tubuhku dengan handuk, lalu mulai berpakaian. Dengan cepat kukemasi barang-barangku dan memasukkannya ke dalam travel bag. Pasport dan tiket pesawat kutarik dari dasar travel bag dan kupindahkan ke tas tangan. Setelah kupastikan tak ada barang-barangku yang tertinggal, aku turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift.

Sampai di lobby, aku langsung menghampiri resepsionis yang berjaga di meja depan. Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan mengembalikan kunci kamar yang kutempati, aku duduk di salah satu bangku di restoran hotel dan memesan secangkir kopi. Aku sedang tidak ingin sarapan. Pagi ini aku tidak berselera menyantap makanan apa pun.

Mataku nyalang mengawasi pintu masuk. Satoru belum juga datang. Beberapa jam lagi aku sudah akan berada di pesawat yang akan membawaku meninggalkan Jepang. Apa dia tidak ingin datang lebih awal untuk menghabiskan sisa waktu yang akan segera berakhir ini bersamaku? Sampai pesanan kopiku tiba, Satoru belum juga muncul. Kuraih gula di atas meja dan kutaburkan ke dalam cangkir kopiku. Dengan tidak bersemangat kuaduk perlahan kopiku. Sambil mendesah, kulirik arloji yang melingkari pergelangan tanganku, lalu mataku kembali menatap pintu masuk. Sejak tadi hanya terlihat door man yang berjaga di samping pintu. Hari memang masih sangat pagi.

Ketika kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, baru kusadari aku satu-satunya tamu yang duduk di sini. Selebihnya hanya ada staf hotel yang lalu-lalang menata meja dan membersihkan lantai dengan penyedot debu. Tiba-tiba saja aku merasa sendirian. Kuteguk kopiku lamat-lamat, lalu kuletakkan lagi cangkir kopiku ke atas piring kecil yang mengalasinya.

Aku berharap Satoru lekas datang agar aku tak perlu berlama-lama menunggunya di sini. Aku rasanya sudah menunggu berabad-abad. Saat akhirnya dia muncul, kopiku sudah dingin sejak tadi dan sudah hampir tandas kuminum. Aku langsung meloncat berdiri dari kursiku begitu dia melewati pintu. Kuserukan namanya dan dia langsung menghampiriku dengan senyum lebar mengembang di wajahnya. Mendadak semua perasaan tertekanku sirna.

“Maaf, aku sudah membuatmu menunggu.”, ujarnya begitu kami sudah berdiri berhadapan.

“Kau sudah sarapan?”, tanyaku sambil kembali menempati kursiku.

Dia menggelengkan kepalanya, lalu duduk di depanku. Diangsurkannya kotak kue dari karton yang dibawanya ke arahku.

“Apa ini?”, tanyaku heran.

“Aku membawakanmu bekal.”, sahutnya. Dia memanggil pelayan yang kebetulan melintas di dekat kami, lalu memesan kopi.

Kubuka kotak kue yang dia berikan padaku. Di dalamnya ada beberapa jenis kue yang terbuat dari kacang merah. Aku mengenali dorayaki karena pada hari pertama aku tiba di sini, itu makanan pertama yang ingin kuketahui rasanya. “Ini namanya apa?”, tanyaku pada Satoru.

“Anpan,” sahut Satoru. Dia meraih tanganku, memeganginya selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Apa kau pernah berpikir untuk menetap di sini?”

“Tinggal di Nagoya?”, tanyaku, merasa heran dengan pertanyaannya.

Dia mengangguk, lalu melepaskan tanganku. Pelayan baru saja tiba. Satoru mengambil gula dan krim, lalu menaburkannya ke dalam cangkir kopinya. Aku diam membisu, tak tahu harus menjawab apa. Apa maksud pertanyaannya? Apa dia ingin mencegahku pergi?

“Aku ingin mengunjungi negaramu.”, kata Satoru setelah melihatku terdiam. Kuanggukkan kepalaku seraya tersenyum. Aku lega pembicaraan kami sudah berganti topik. Aku baru dua kali berkunjung ke negaranya, bagaimana mungkin dia memintaku untuk menetap di sini?

“Jadi, apa yang pertama kali akan kau lakukan begitu tiba di rumah?”, tanya Satoru lagi.

“Ehm, coba kupikir dulu… Mungkin aku akan berdiri di depan cermin, lalu mencoba satu per satu kimono yang kau berikan padaku.”, sahutku sambil tersenyum.

Kami tertawa bersama, merasa nyaman dengan kedekatan kami.
***


Jakarta, awal Oktober 2006.
Kulambaikan tanganku begitu mataku menangkap sosok Satoru. Aku langsung mengenalinya meski kami selama hampir setahun tidak bertemu. Selama ini kami memang saling mengirim kabar dan juga menelepon, tapi jika kami tidak bersama, semua hal tadi rasanya tidak memadai.

Aku masih ingat terakhir kali aku berada di negaranya. Ketika tiba waktunya bagiku untuk memasuki pesawat yang akan membawaku pulang, Satoru tiba-tiba saja menyatakan perasaannya padaku dan sejak saat itu, aku resmi menjadi kekasihnya. Hubungan kami makin meningkat ketika beberapa bulan yang lalu, ia mengirimiku cincin pertunangan. Bisa kubayangkan masa depanku kelak. Aku sendiri tidak pernah mengira nama belakangku kelak akan berubah, dilekati oleh nama belakang Satoru. Minggu lalu, saat ia meneleponku, ia bertanya lagi tentang kesediaanku menetap di Jepang. Aku sudah mengiyakan permintaannya. Aku setuju tinggal di apartemennya asalkan aku mendapatkan kamar terpisah selama kami belum resmi menikah. Dia setuju dengan syaratku.

Kedatangannya kali ini tidak sekedar untuk memenuhi janjinya padaku untuk berkunjung ke Indonesia, tapi juga untuk menjemputku. Aku akan pindah ke Jepang. Kami akan bersama-sama mengurus pernikahan kami. Aku sudah memberitahu orangtuaku dan mereka setuju saja selama aku yakin dengan pilihanku. Satoru sendiri belum sempat memberitahu orangtuanya. Kelihatannya hubungan mereka tidak terlalu baik. Dia sudah mengisyaratkan padaku bahwa dia akan mengenalkanku pada keluarganya di saat-saat terakhir menjelang pernikahan kami, agar orangtuanya tidak memiliki kesempatan untuk menolak atau pun merasa keberatan. Ketika kutanyakan alasan mengapa dia merasa yakin orangtuanya akan menentang pernikahan kami, dia menjawab bahwa dalam segala hal yang sudah dia putuskan, dia hampir selalu berselisih pendapat dengan orangtuanya. Nada suaranya yang terdengar enggan saat menjawab pertanyaanku membuatku urung untuk bertanya lebih jauh.

Sejujurnya, harus kuakui bahwa aku tidak benar-benar mengenalnya. Sebelumnya, aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama, tapi sejak awal kami bertemu, entah mengapa aku sudah merasa nyaman menghabiskan waktu bersamanya. Aku sadar tidak akan ada pernikahan yang sempurna, tapi aku tahu kami saling mencintai. Aku yakin segala perbedaan kultur tidak akan menjadi halangan bagi kami. Aku percaya cinta itu universal, latar belakang budaya seharusnya tidak akan menjadi masalah. Untung saja aku mempunyai orang tua yang begitu penuh pengertian dan mendukungku sebab sedikit-banyak ada kegentaran yang menjalari hatiku. Selama ini aku hanya mengenal Satoru lewat pembicaraan kami, baik secara lisan melalui telepon dan beberapa kali kesempatan selama aku mengunjungi negaranya, selebihnya aku hanya mengenalnya lewat pesan-pesan yang ia tinggalkan padaku melalui email dan SMS. Cukupkah hal itu kujadikan acuan bahwa aku sungguh-sungguh mengenalnya? Ada kegamangan merambati hatiku. Semoga saja keputusanku untuk menikahinya bukanlah hal yang gegabah. Mungkin aku memang naïf, aku hanya tahu bahwa kami saling mencintai dan aku percaya Satoru akan membahagiakanku semampu yang dia bisa, seperti juga aku akan berusaha semampuku untuk membuatnya bahagia.

Kukibaskan segala kekhawatiranku. Kami kini sudah berdiri berhadapan.Kubiarkan dia memelukku, menuntaskan kerinduan kami. Kecemasanku pun raib begitu saja. Kukenali rasa nyaman dan kedekatan di antara kami setiap kali aku berada di hadapannya. Dia mengecup keningku, lalu kami berjalan beriringan meninggalkan bandara.

Aku sudah merencanakan banyak hal selama dia berada di Indonesia. Satoru menyukai budaya dan sejarah, jadi sudah kuputuskan untuk mengajaknya mendatangi semua museum yang ada di Jakarta, lalu mungkin tak ada salahnya jika aku mengantarnya ke TIM atau TMII agar ia tahu negaraku juga memiliki keragaman budaya. Setelah itu kami akan terbang ke Jogjakarta, melihat kota kelahiranku, sekaligus memperkenalkan Satoru pada kerabatku yang tinggal di Jogja dan meminta restu mereka. Aku sebenarnya risau dengan tanggapan nenekku. Salah satu sahabat baiknya dulu pernah dijadikan jugun ianfu secara paksa saat perang kemerdekaan. Apa yang akan dikatakan Beliau jika kini aku tiba-tiba datang dan berkata padanya bahwa aku akan menikahi seorang pria berkebangsaan Jepang? Ketika kurasakan eratnya lengan Satoru merengkuhku, pikiran yang menggangguku itu pun terlupakan.
***


Jogjakarta, awal Pebruari 2006.
Kuhentikan langkahku ketika kurasakan napasku mulai tersengal. Kuisyaratkan pada Satoru bahwa aku menunggu di bawah, sementara dia masih dengan penuh semangat menaiki anak-anak tangga untuk menjelajahi bangunan candi yang tersebar di kompleks candi Borobudur. Seperti yang sudah kuperkirakan, Satoru sangat antusias. Dia memang sangat menghargai sejarah dan budaya. Ketajaman otaknya berbanding seimbang dengan kekuatan fisiknya. Sejak tadi dia bersikeras untuk naik hingga ke anak tangga teratas dan berusaha mengabadikan setiap objek yang ada dengan kamera digitalnya. Aku sendiri sudah kelelahan. Kakiku terasa pegal dan peluh mulai mengucur, membasahi dahi dan punggungku. Kubiarkan Satoru meneruskan penjelajahannya. Aku memilih tempat yang agak teduh dan duduk di salah satu anak tangga sambil menunggu Satoru selesai dengan penjelajahannya.

Harus kuakui, kembali menjejakkan kaki ke kota kelahiranku memang menyenangkan. Selain aku bisa bertemu dengan kerabatku, aku juga bisa memanjakan lidahku dengan makanan lokal yang tak akan bisa kutemukan di tempat lain. Belum lagi mengunjungi tempat-tempat wisata yang dulu pernah begitu akrab selama masa kanak-kanak dan remajaku. Bukan cuma tempat yang bersejarah dan berbudaya tinggi seperti candi atau keraton, tapi juga yang berpemandangan indah seperti pantai Parangtritis dan lereng Merapi.

Seharian kemarin, aku dan Satoru sudah mendatangi berbagai museum yang ada di Jogja. Keraton Jogja saja memiliki beberapa museum, seperti museum lukisan, museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, museum batik hingga museum kereta. Dari hari pertama menginjakkan kakinya ke Jogja, Satoru selalu menenteng kamera digitalnya ke mana-mana, mengabadikan setiap objek yang ada. Kemarin dia menghabiskan banyak waktu untuk memotret koleksi gamelan dan kereta kuda yang disimpan di museum. Dia tampak tertantang setelah mendengar penjelasan yang kuterjemahkan untuknya bahwa salah satu kereta kuda yang dipamerkan itu konon memiliki muatan magis, hingga siapa pun yang mencoba memotret kereta kuda itu, hasil jepretannya pasti tidak bagus. Ia menjepret kereta kuda itu hingga berulangkali. Aku hanya tersenyum saja saat dia berkata bahwa yang menyebabkan gambarnya buram adalah kurangnya penerangan di area kereta kuda itu ditempatkan, bukan karena kereta kuda itu memang memiliki semacam kekuatan magis.

Terus terang, aku sangat senang bisa kembali ke kotaku. Aku kini boleh bernapas lega karena kekhawatiranku ternyata tidak terbukti. Keluargaku, bahkan nenekku tidak merasa keberatan dengan hubungan kami. Aku benar-benar merasa bersyukur karena hidup sudah memperlakukanku demikian baik. Aku sudah menemukan pria yang kucintai dan mencintaiku. Memang di luar perkiraanku bahwa aku akan menikahi pria asing. Tadinya kupikir aku akan menikahi pria Jawa, sesama orang Jogja dan lalu menetap di kota kelahiranku ini, tapi ternyata nasib membawaku ke arah lain, tapi aku bahagia. Sangat bahagia, malah. Hidup memang baik, meski kadang bisa mengalir tanpa diduga. Berpikir seperti itu, tanpa sadar aku tersenyum. Senyum bahagia.
***


Nagoya, awal Pebruari 2006.
Kuamati sekali lagi cover dari komik yang kutulis bersama dengan Satoru. Sejak kepindahanku lebih kurang tiga bulan yang lalu, aku memang dengan serius belajar membuat komik dari Satoru. Dia bukan saja kekasih yang baik, tapi juga guru yang sabar. Dia mengajarku dari nol bagaimana cara menggambar, bercerita melalui strip-strip komik yang kami buat, dan banyak lagi. Ini baru kedua kalinya aku membuat komik. Komik pertamaku berhasil kujual di sebuah situs komik internasional. Meski Satoru memujiku dan mengatakan bahwa aku sangat berbakat, tapi aku yakin jika saja komik yang kini ada di tanganku hanya ditulis olehku saja, penerbit belum tentu akan mencetaknya. Berhubung nama Satoru memang sudah cukup dikenal sebagai salah satu komikus handal, komik karya kami berdua ini akhirnya bisa terbit juga, bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Memang teman Satoru yang bekerja di penerbitan turut berperan sehingga proses editingnya bisa dipercepat, maka tak heran jika mulai hari ini komik kami ini sudah mulai didistribusikan di Jepang.

Aku sendiri tidak merasa berat harus meninggalkan pekerjaan lamaku sebagai model. Aku juga tidak memiliki ambisi besar untuk menjadi komikus. Aku hanya menjalani hari-hariku, membiarkan hidup mengalir sewajarnya. Seminggu lagi aku akan resmi menjadi isteri Satoru. Dia sudah merencanakan untuk memberitahu orangtuanya tentang pernikahan kami, tepat sehari sebelum tanggal dilangsungkannya pernikahan. Aku tidak ingin memprotes apa yang sudah diaturnya. Aku hanya ingin mendampingi pria yang kucintai sepanjang sisa umurku. Kami toh tinggal terpisah dari orangtua Satoru. Bahkan sekali pun keluarganya merasa keberatan dengan pernikahan kami, itu tidak akan menghalangi rencana yang sudah kami buat. Restu dari kedua orang tuaku bagiku sudah cukup. Selama keluargaku tidak menentang pernikahan kami, bagiku itu sudah anugerah.

Dering telepon tiba-tiba saja memecah keheningan. Aku baru saja akan bangkit berdiri, tapi Satoru sudah mendahuluiku bangkit dari duduknya. “Biar aku saja,” ujarnya padaku, lalu berjalan menyeberangi ruangan. Aku bangkit berdiri dari tempatku duduk, lalu menengok sekilas ke atas meja kerja Satoru. Di atasnya bertebaran kertas gambar dengan strip-strip komik yang tengah dikerjakannya. Satoru memang sangat produktif. Dia tidak pernah kehabisan ide. Baru saja dia selesai membuat satu komik dan menyerahkannya pada penerbit, dia langsung mulai mengerjakan komik berikutnya. Semangatnya menulariku. Berdekatan dengannya, mau atau pun tidak, dia menggugahku untuk seproduktif dia. Sayangnya ideku tidak sebanyak dia. Kemarin aku sudah menggambar seharian untuk mengerjakan komikku yang ketiga. Hari ini aku berniat bermalas-malasan.

Setelah berbicara sekitar sepuluh menit, Satoru meletakkan telepon di tempatnya. Wajahnya terlihat serius. Dia menatapku ragu, menghela napas beberapa kali sebelum mulai bicara, “Orangtuaku meminta bertemu secepat mungkin. Mereka tidak mau mengatakan apa masalahnya. Besok aku terpaksa pulang ke kampung halamanku. Aku tidak bisa mengajakmu karena aku belum menceritakan tentang dirimu dan rencana pernikahan kita. Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu sendirian di sini, tapi aku tidak punya pilihan.”

“Jangan khawatirkan aku! Aku akan baik-baik saja. Kau pulang saja, rundingkan masalahnya dengan baik. Aku akan menunggu di sini, tapi kau jangan pergi lebih dari seminggu. Aku kan tidak mungkin menikah sendirian, tanpa pengantin prianya,” sahutku sambil tersenyum.

Dia balas tersenyum, lalu mengelus lembut rambutku. “Aku janji akan segera pulang begitu urusanku selesai. Aku akan membawa orangtuaku ke sini supaya kau bisa berkenalan dengan mereka.” Aku mengangguk. Dia mengecup keningku sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Aku percaya padanya, percaya nasib baik dan hidup berpihak padaku. Tak sekalipun terlintas dalam benakku bahwa keadaan bisa berbalik memusuhiku. Keesokan harinya saat Satoru berpamitan padaku untuk menemui orangtuanya di Sapporo, aku masih merasa berdebar-debar sekaligus senang menantikan tibanya hari pernikahan kami. Bahkan ketika dia meneleponku begitu dia tiba di rumah orangtuanya, kami masih tertawa. Tak pernah terbersit dalam benakku bahwa beberapa hari kemudian, keadaannya berubah begitu bertolak belakang.

Dia kembali di saat aku tengah berbelanja. Ketika aku masuk ke dalam rumah, kudapati Satoru tengah termenung dengan wajah murung di ruang tamu. Dia kelihatan kuyu dan tidak bersemangat. Travel bag-nya pun masih tergeletak di lantai dan belum dibenahi. Ketika dia melihatku, dia sama sekali tidak tersenyum. Dia bahkan tidak berani menatap mataku. Dengan heran aku menyusul duduk di seberangnya.

“Kau sakit?”, tanyaku heran. Mendengar pertanyaanku, dia memberanikan diri menatapku. Dia menggeleng pelan, menarik napas beberapa kali dan menghembuskannya. Dia sepertinya tengah menanggung beban yang berat yang tak bisa ditanggalkannya. “Ayumi yang sakit,” sahutnya dengan suara nyaris tak terdengar.

“Ayumi? Dia siapa?”, tanyaku, kian heran dengan jawaban Satoru.

“Dia puteri tunggal sahabat ayahku,” sahutnya. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, dia sudah mendahuluiku bicara, “Sewaktu perang Pasifik, ayahku dan ayah Ayumi sama-sama ikut wajib militer. Dalam suatu pertempuran, ayahku terluka parah. Ayahku pasti tewas jika ayah Ayumi tidak bersikeras membawa ayahku kembali ke barak. Dia menolak permintaan ayahku untuk membiarkannya mati. Singkat cerita, ayahku berhutang nyawa pada ayah Ayumi. Mereka sudah seperti saudara kandung. Saat ini, Ayumi sakit parah. Dia menderita leukimia. Dokter sudah memvonis bahwa usia ayumi hanya tinggal beberapa tahun saja.”

“Lalu apa hubungannya denganmu? Orangtuamu memanggilmu pulang karena masalah ini?”, selaku tak sabar. Entah mengapa tiba-tiba saja aku dikepung oleh rasa dingin yang menjalari hatiku. Ada sesuatu dalam nada bicara Satoru yang membuatku merasa gelisah. Dia berbicara seolah kami akan berpisah untuk selamanya, mendadak aku merasa takut kehilangan dia.

“Ayumi adalah satu-satunya keturunan mereka. Kalau dia meninggal, tidak ada lagi yang tersisa. Orangtuanya sudah renta dan mereka tidak mungkin punya anak lagi. Ayumi belum menikah dan belum punya anak. Mereka tidak memiliki cucu. Keadaan Ayumi yang sakit-sakitan membuatnya sulit untuk membina rumah tangga. Pria yang mendekatinya setelah mengetahui penyakitnya, memilih untuk meninggalkan dia. Ayahku memintaku untuk menikahi dia dan memberikan cucu untuk sahabat ayahku itu, sekedar untuk menyambung keturunan mereka agar tidak terputus. Setelah melahirkan anak, Ayumi pun bersedia diceraikan. Kedua orangtua Ayumi sendiri sudah memohon padaku untuk menikahi puteri mereka. Aku tidak kuasa menolak. Maafkan aku, Sundari.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku ingin memprotes tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Kutatap Satoru yang kini tengah menatapku lesu. Matanya tampak berkaca-kaca. Aku ingin menangis tapi tak ada air mata yang luruh. Aku masih terkejut dengan perkataan Satoru barusan. Hari-hari berikutnya semua terasa bagaikan mimpi. Aku menelepon orangtuaku, memberitahu mereka bahwa aku tidak jadi menikah. Untungnya orangtuaku penuh pengertian. Mereka tidak mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Mereka pula yang menelepon seluruh kolega dan kerabatku yang sudah telanjur menerima undangan pernikahanku, memberitahukan pada mereka bahwa pernikahanku batal dilangsungkan.

Aku berusaha berlapang dada meski hatiku hancur. Persiapan pernikahan kami sudah begitu matang, jadi kuminta Satoru tetap menikah beberapa hari setelah ia memberitahuku tentang Ayumi, yang berbeda hanyalah mempelai perempuannya. Tadinya Satoru dan Sundari, kini berubah menjadi Satoru dan Ayumi. Aku tidak sampai hati mencemburui wanita yang sedang sekarat, berjuang melawan penyakitnya. Kurelakan kekasihku menjadi milik wanita lain.

Satoru tampak jelas masih mengharapkanku. Dia mengulangi lagi perkataannya beberapa kali, bahwa dia akan kembali padaku begitu Ayumi melahirkan seorang anak. Dia memintaku untuk menunggunya. Ucapannya membuatku semakin sedih. Aku tidak mungkin tega mengambil lagi Satoru dari sisi Ayumi. Pria mana yang akan mencintainya jika bukan Satoru?

“Aku tidak ingin kau kembali padaku. Aku tidak akan menunggumu. Kau harus belajar mencintai Ayumi, memberikan anak untuknya, cucu untuk kedua orangtuanya. Setelah dia melahirkan anak kalian, kau harus tetap menjaganya, terus mencintainya hingga akhir hayatmu. Bahkan seandainya dia meninggal pun, aku tidak akan kembali padamu. Kau akan merawat anak kalian. Jika kau ingin menikah lagi, kau harus mencarikan ibu yang menyayangi anakmu seperti anaknya sendiri, yang jelas wanita itu bukan aku.”, tolakku tegas.

Begitu aku mendapat visa, aku langsung menyusul orangtuaku ke Amerika. Mungkin karena ayahku adalah seorang duta besar yang masih bertugas di negara adidaya itu, aku bisa mendapatkan visa dalam waktu singkat. Saat ini, aku tidak sanggup kembali ke Jakarta. Terlalu banyak kenanganku bersamanya. Aku mengunjungi semua museum bersamanya, menghadiri pameran lukisan, menyusuri jalan-jalan di Jakarta, tertawa bersama. Aku bahkan tidak bisa kembali ke kota kelahiranku. Di sana aku juga banyak merangkai kenangan bersamanya. Kembali tinggal bersama orangtuaku sepertinya lebih masuk akal. Aku ingin mengobati dulu luka hatiku sebelum mengumpulkan keberanian menjejakkan kembali kakiku, pulang ke tanah air.

Tiga bulan kemudian, pada akhir bulan Mei, ketika aku mendapat kabar Jogjakarta tiba-tiba saja dilanda gempa, mau atau pun tidak, aku harus kembali ke kota kelahiranku itu. Ayahku sangat mencemaskan keadaan ibunya, tapi ia tidak bisa meninggalkan tugasnya di Amerika untuk kembali ke tanah air, maka terpaksalah aku menggantikan ayahku pulang ke Jogjakarta untuk menengok nenekku. Apalagi aku toh selama tinggal di negara Paman Sam ini tidak memiliki tanggung jawab apapun. Aku hanya meneruskan pengerjaan komikku yang sempat tak tersentuh selama lebih dari dua bulan. Itu pun lebih sebagai terapi bagiku agar aku punya kesibukan dan tidak terus-menerus memikirkan Satoru. Beberapa hari berikutnya, aku sudah terbang pulang ke tanah air. Belakangan nenekku kuketahui baik-baik saja, meski begitu, aku tetap menunaikan permintaan ayahku untuk menengok nenekku dan melihat keadaan Beliau.

Pada awal bulan Juni, aku sudah berada di Jakarta. Tanpa beristirahat, aku langsung memesan tiket pesawat, penerbangan pertama menuju Jogjakarta. Untuk mengalihkan perhatianku agar tidak terkenang akan Satoru, aku sengaja membeli surat kabar yang terbit hari itu dan menyibukkan diriku dengan membaca isinya selama aku menunggu waktu keberangkatan. Setelah selesai membaca, mataku tertumbuk pada kotak-kotak teka-teki silang di lembar terakhir surat kabar yang kubeli. Kuambil pulpen dari tasku dan mulai mengisi teka-teki silang itu. Ketika aku sampai pada pertanyaan terakhir, tanpa sadar kubaca dengan lantang karena aku masih juga tidak tahu apa jawabannya, “Mogadishu terletak di negara…”

“Somalia,” suara seorang pria menimpali suaraku.
***


Washington DC, awal Oktober 2006.
“Sundari,” suara Dwayne menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Aku tersenyum ke arahnya sementara dia berjalan menuju ke meja tempatku duduk di Ruth’s Chris Steak House. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan jeans. Meski penampilannya terkesan santai, dia tetap kelihatan rapi. Kututup majalah yang sejak tadi kupandangi. Halaman iklannya menyebutkan perjalanan wisata ke Jepang sehingga tanpa sadar ingatanku kembali lari ke masa lalu.

Aku melamunkan Satoru lagi, saat pertama kali kami berkenalan, perpisahanku dengannya, hingga ke perkenalanku dengan Dwayne di Jakarta empat bulan yang lalu. Untung saja aku berkenalan dengannya, sehingga aku bisa mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Menjadi presenter VOA Indonesia jelas lebih menyenangkan daripada membuat komik. Selain pengalamanku bertambah, menjadi presenter tidak ada hubungannya dengan Satoru. Aku sebenarnya ingin melupakan dia, tapi dia terus mengirimiku email, menceritakan tentang pekerjaannya, hingga ke hidup pernikahannya dengan Ayumi. Tak sekali pun aku membalas email-nya, tapi Satoru tidak pernah jera. Dia bahkan mengirimiku puisi tentang kerinduan pohon maple akan musim gugur, secara tersirat dia memberitahuku bahwa aku masih dicintainya dan dia merindukanku meski tahu aku tidak bisa dimilikinya.

Semua tentang Satoru membuatku sedih, bahkan mengerjakan komik pun mengingatkanku padanya, karena dia yang mengajariku menggambar strip-strip komik. Jika saja tak ada Dwayne, aku mungkin akan terus berlarut-larut dalam kesedihan akibat patah hati.

“Maaf, aku terlambat.”, ujarnya setelah dia mengambil tempat di depanku. Kugelengkan kepalaku, “Kau tidak terlambat, aku yang datang terlalu awal.”, sahutku.

“Kau sudah memesan?”, tanyanya. Lagi-lagi aku menggeleng.

“Kau saja yang memesan.”, pintaku.

“Baiklah, akan kupesankan yang paling enak.”, sahut Dwayne sambil menjelingkan matanya. Mau tak mau aku tersenyum melihat sikapnya yang jenaka. Dia memberi isyarat pada pelayan yang lalu menghampiri kami sambil membawa daftar menu. Dwayne menelitinya sejenak, lalu memesan untuk kami. Setelah pelayan itu pergi, dia menatapku lekat-lekat hingga aku merasa jengah.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”, tanyaku risih.

“Matamu terlihat sedih. Kau sedang punya masalah?”, dia balik bertanya.
Aku tersenyum untuk menutupi rasa canggungku. Aku di depannya bagaikan buku yang terbuka. Dia benar-benar pengamat yang jeli. Entah karena pekerjaannya sebagai wartawan atau karena dia memang peka dan penuh perhatian.

“Aku tidak mengerti mengapa aku mau menceritakan ini padamu. Tiga tahun yang lalu, aku berkenalan dengan seorang pria. Kami hanya bertemu beberapa kali, tapi kami saling jatuh cinta. Kami lalu memutuskan untuk menikah. Aku bahkan telah memutuskan untuk menetap di Jepang agar aku bisa mendampinginya. Seminggu sebelum pernikahan, orangtuanya memanggilnya pulang. Beberapa hari kemudian setelah dia kembali dari mengunjungi orangtuanya, dia membatalkan pernikahan kami. Itu sudah delapan bulan yang lalu, tapi aku masih mencintainya. Aku tidak bisa melupakannya. Tadi saat aku menunggumu, aku membaca majalah ini. Di dalamnya ada iklan perjalanan wisata ke Jepang. Diskon 10% jika kau memesan tiketnya sekarang. Aku jadi teringat dia lagi.”, kutundukkan mataku yang mulai berkaca-kaca. Aku tidak ingin air mataku menitik dan terlihat oleh Dwayne. Aku tidak ingin dia menganggapku cengeng.

“Apa yang terjadi?”, tanyanya ketika melihatku tak lagi bersuara.

“Sewaktu perang Pasifik, ayahnya berutang nyawa pada seseorang. Orang ini menyelamatkan dia dalam suatu pertempuran. Berpuluh tahun kemudian, orang ini datang pada pria yang kucintai, memohon padanya untuk menikahi puterinya yang sekarat karena leukimia. Dia tidak tega menolak.”

“Mengapa kau membuang-buang waktumu terus memikirkan dia?”, tanya Dwayne dengan nada gemas.

“Dia masih mengharapkanku kembali padanya.”, sahutku lirih. Aku masih menunduk. Setetes air mata sudah jatuh di pipiku, tapi aku tak berani mengusapnya karena aku tidak ingin pria yang duduk di depanku ini tahu aku tengah menangisi Satoru.

“Jadi pria Jepang ini mengharapkanmu mau jadi semacam geisha baginya?”, tanya Dwayne dengan nada kesal.

“Kau tidak mengerti. Satoru tidak seperti itu. Dia juga belum melupakanku. Dia tidak ingin menikahi Ayumi, tapi karena orangtua perempuan itu memohon padanya, dia merasa iba dan terpaksa mengabulkan keinginan mereka. Dia pria paling lembut yang pernah aku kenal. Itu sebabnya dia tidak bisa menolak. Dia sama menderitanya seperti aku. Aku tahu persis dia juga masih mencintaiku.”, tanpa sadar kuangkat kepalaku dan kutentang mata Dwayne. Kini dia tahu aku menangis, tapi dia tidak terlihat terkejut. Mungkin sejak tadi, dia sudah tahu kalau aku menangis.

“Menurutku dia pria yang bodoh. Cinta kadang harus egois. Kalau dia benar mencintaimu, dia seharusnya dengan tegas bisa menolak. Caranya menunjukkan rasa cintanya padamu benar-benar aneh. Dia memilih untuk menikahi perempuan sekarat daripada memilih menikahimu? Kalau semua orangtua dari perempuan sekarat datang padanya dan memintanya untuk menikah dengan puterinya, apa dia akan menikahi mereka semua?”, tukas Dwayne dengan nada gusar.

“Kau memang tidak mengerti, tapi aku memahami Satoru, memahami keputusannya. Aku orang Jawa, jadi…”

“Right! You’re Javanese and he’s Japanese, because Javanese and Japanese have similar sound, then you think he should be your match?”, dengus Dwayne sinis.

“Bukan itu maksudku! Aku orang Jawa, dan sebagai orang Jawa aku dituntut untuk punya rasa tenggang rasa terhadap sesama. Jadi…”

“Kau chauvinist, Sundari. Kau mengatasnamakan suku untuk membenarkan tindakan bodoh kalian.”, protes Dwayne.

“Aku bukan chauvinist!”, seruku kesal. Mengapa sulit sekali baginya untuk mengerti? Tidak bisakah dia hanya berempati tanpa harus menghakimi hubunganku dengan Satoru dulu?

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu gusar tapi pria Jepang ini benar-benar membuatku kesal. Dia memperlakukanmu begitu buruk, tapi kau malah membelanya. Aku tidak tahu siapa yang membuatku lebih jengkel, kau atau mantan kekasihmu itu.”, sahut Dwayne sambil tersenyum. Dia mengangkat alisnya tinggi-tinggi seolah dia benar-benar kewalahan dengan sikapku.

“Sudahlah, kita ke mari bukan untuk membicarakan tentang masa laluku kan?”, ujarku sambil menjelingkan mata dan memberinya tatapan ‘bukan aku satu-satunya orang yang merasa jengkel di ruangan ini.’

Dia terbahak, lalu berujar, “Reuters menawariku untuk meliput di Irak. Aku tadinya belum tahu akan menerima tawaran itu atau tidak karena memang bukan aku yang akan memutuskan, tapi kau, tapi karena kau masih belum melupakan pria Jepang itu, aku rasanya akan berangkat ke Irak juga.”

“Apa hubungannya antara aku belum melupakan Satoru dengan kau meliput ke Irak?”, tanyaku bingung.

“Sangat berhubungan. Aku tadinya mau melamarmu. Kalau kau menerima pinanganku, aku akan menolak tawaran Reuters dan tetap menjadi koresponden seperti biasa, tapi karena kau belum melupakan kisah cintamu dengan pria Jepang itu, aku rasa kau tidak akan menikahi siapa-siapa dalam waktu dekat. Sudah kuputuskan. Aku akan menerima tawaran Reuters dan meliput perang bodoh di Irak,” ujar Dwayne sambil kembali tersenyum konyol. Pria satu ini membicarakan masalah serius pun selalu dengan ekspresi kocak, seolah yang dia bicarakan bukanlah hal yang penting.

“Kau cuma bercanda kan, Dwayne?”, sergahku, tiba-tiba saja aku merasa lebih kesal dari sebelumnya, tapi juga merasa sangat cemas.

“Aku tahu kita baru berkenalan sebentar, tapi aku menginginkanmu. Berhubung kau tidak menginginkanku, aku lebih baik menyingkir ke Irak dan meliput perang di sana. Rasanya itu lebih masuk akal daripada aku tetap di sini, mencoba mendapatkan cintamu sementara kau masih memuja pria Jepang itu.”

“Namanya Satoru. Kenapa kau terus-menerus menyebutnya pria Jepang? Apa kau rasis?”, sungutku kesal.

“Maaf, tapi aku sangat cemburu padanya. Mengapa bukan aku yang bertemu kau lebih dulu?”, ujar Dwayne sambil meraih kedua tanganku dan mengecup lembut punggung tanganku.

“Apa yang kau lakukan?”, tanyaku sambil menarik kedua tanganku secepat kilat.

“Apa kau tidak lihat? Aku sedang mencoba merayumu agar kau mau menjadi isteriku.”, sahutnya sambil tersenyum. Pandangan matanya yang melembut nyaris membuatku mabuk.

“Kenapa kau selalu bercanda?”, kuajukan pertanyaan itu untuk mengusir rasa canggung yang merambati hatiku. Apakah aku mulai mencintainya? Perasaan seperti ini juga mulai kurasakan terhadap Satoru saat kunjungan keduaku ke Jepang dulu. Mungkinkah aku mencintai dua orang pria pada saat yang bersamaan?

“Pria seusiaku sudah cukup umur untuk berhenti bermain-main. Aku ingin berumahtangga. Kalau pun saat ini kau belum melupakan dia, setidaknya berjanjilah padaku bahwa kau mau melupakannya dan memulai lembaran baru denganku. Jika kau bisa menjanjikanku hal itu, aku akan mengurungkan niatku untuk pergi ke Irak,” sahut Dwayne sambil menatap mataku lekat-lekat. Kali ini dia kelihatan serius.

“Maafkan aku, Dwayne. Sudah kuputuskan aku tidak akan menikah. Aku tidak berani melakukannya sekali lagi,” tolakku. Tanpa sadar kugelengkan kepalaku beberapa kali. Aku masih sangat mencintai Satoru. Tidak adil untuk Dwayne jika aku setuju menjalin hubungan dengannya sementara hatiku masih menjadi milik Satoru.

“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke Irak untuk mengobati patah hatiku,” sahutnya masih juga bercanda. Ia terbahak sendiri, menertawakan leluconnya.

“Sebaiknya kau jangan pergi ke sana! Aku tidak ingin kau terbunuh.”, cegahku panik.

Dia menaikkan alisnya lagi mendengar perkataanku, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Sundari, kau benar-benar membuatku patah hati. Kau mencemaskan keselamatanku, tapi tidak ingin bersamaku. Jangan khawatirkan aku! Kalau memang sudah waktuku untuk meninggalkan dunia, meski bukan di Irak pun aku akan tetap mati juga, tapi kalau bisa aku ingin menyantap dulu steak kesukaanku. Aku pasti akan mati bahagia.”

“Dwayne, perkara hidup atau mati itu bukan lelucon!”, sungutku kesal. Kupukul lengannya agar dia tahu aku serius, tapi dia malah tertawa terpingkal-pingkal ketika menyadari betapa cemasnya aku.

“Poor Sundari. You love me, don’t you? Itu dia pesanan kita sudah datang. Steak paling lezat di DC. Aku rela mati setelah makan ini,” ujar Dwayne dengan nada ringan sambil mulai memotong-motong makanan yang barusan diantarkan pelayan.

“Dwayne…”, aku masih berusaha agar dia berubah pikiran, tapi dia tidak menggubrisku.

“Cicipi steaknya! Aku akan mencuri makananmu kalau kau tidak segera makan.”, sahutnya sambil menusuk sepotong daging dari piringku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Aku cuma bisa menghela napas. Itu adalah terakhir kali aku melihatnya. Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Irak. Begitu tiba di Bagdad, dia meneleponku dari hotel Palestine tempatnya menginap. Aku sangat senang mendengar suaranya, tapi kami tidak bisa bicara berlama-lama. Kudengar temannya memanggilnya. Mereka harus bergegas ke pusat kota untuk mencari berita. Sejak itu dia semakin jarang meneleponku. Sepertinya dia benar-benar sibuk. Aku terus mendoakan keselamatannya dan aku benar-benar lega setiap kali aku membaca tulisannya karena kutahu itu berarti dia masih hidup.
***


Washington DC, akhir Juli 2007.
Sepanjang akhir pekan ini, kusibukkan diriku dengan berbagai kegiatan. Aku menata ulang apartemen yang kutinggali, membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja dan meletakkannya di lemari buku. Buku-buku yang belum sempat kubaca kutumpuk rapi dekat sofa karena biasanya di situlah aku menghabiskan waktuku untuk membaca. Aku memaksakan diri pergi berbelanja. Rasanya sudah lama sekali aku mengurung diriku. Selama ini aku keluar rumah hanya untuk pergi bekerja. Untuk membeli keperluan sehari-hari, biasanya aku mengunjungi toko terdekat, lalu segera pulang dan kembali mengunci diri di dalam apartemenku.

Tidak terasa sebulan telah berlalu sejak aku menghadiri pemakaman Dwayne. Sahabatku itu meninggal kira-kira sebulan yang lalu saat bertugas di Irak. Dia tewas dihantam bom jalanan di dekat kota Khalis di bagian utara Bagdad. Waktu itu Dwayne tengah meliput kekerasan yang semakin meningkat di Diyala, saat Alqaida dan Sunni bertempur dengan Amerika Serikat dan Irak.

Sejak dulu aku tidak pernah mengerti apa itu politik. Aku juga tidak sepenuhnya memahami apa yang ditulis Dwayne, yang kutahu dia tidak pernah berpihak pada siapa pun selain dari mereka yang menjadi korban. Dia mengutuk perang yang dia liput dan melaporkannya kepada dunia, memberitahu bahwa di bagian dunia yang lain, banyak orang tewas karena terjebak dalam baku tembak, serangan misil, roket nyasar, bom, dan kebencian. Aku merasa diriku naïf, karena sampai sekarang pun, aku masih juga tidak paham, mengapa kemanusiaan segera terlupakan begitu berhadapan dengan perbedaan ideologi? Nyawa manusia pun seolah tidak berarti lagi.

Jika saat ini Dwayne masih hidup dan aku masih punya kesempatan untuk bertanya padanya, mungkin dia bisa memberiku jawabannya. Sampai saat ini pun aku masih belum bisa melupakan sahabatku itu. Kehilangan dia, entah mengapa terasa lebih menyakitkan daripada perpisahanku dengan Satoru. Mungkin karena aku tahu, Satoru masih bisa mengusahakan kebahagiaannya, sementara waktu Dwayne sudah habis. Aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Meski begitu, aku tidak akan melupakannya. Dia mengajariku bahwa di dalam hidup, yang paling penting adalah melewatkan waktu bersama orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku tidak tahu apakah aku akan bisa mencintai seseorang lagi, tapi aku berjanji pada diriku sendiri, seandainya kelak aku jatuh cinta lagi, tidak akan kubebani diriku dengan ketakutan akan kehilangan orang yang kucintai. Sementara itu, sambil kujalani hari-hariku, akan kuajari manusia di sekelilingku agar mereka lebih menghargai kemanusiaan dan tidak menukarnya dengan pemujaan berlebihan terhadap ideologi apa pun. Setidaknya ini yang dapat kulakukan untuk Dwayne agar dia tidak mati sia-sia.
TAMAT


Catatan: CPJ (Committee to Protect Journalists) dalam laporan tahunannya (2007) berjudul “Attacks on the Press” menyebutkan bahwa sedikitnya 65 wartawan dari seluruh dunia tewas saat menjalankan tugas dan hampir setengah dari mereka tewas di Irak. Sejak serbuan ke Irak pada Maret 2003, 125 wartawan dan 49 tenaga pendukung tewas.

3 komentar:

amir_breeze mengatakan...

Ini, setiap Rabu ada cerber baru di blog CANTIK SELAMANYA. Bagus deh.

Judulnya Nita Si Sekretaris.

Lihat dulu dari episode satu, dua, tiga, baru keempat.

Luar biasa, deh!

Grace Receiver mengatakan...

thanks buat infonya :-)

air mengatakan...

He... he... baru tahu kalau cerber u ditampilin di sini. I wait your next cerber deh ....