Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 31 Mei 2008

Belajar tentang Hidup dari Formula One

Belajar tentang Hidup dari Formula One
Oleh: Selvia Lusman


Formula One bagi saya bukan saja sebuah tontonan yang memberikan hiburan, tapi para pelaku di olahraga ini juga inspiratif dan sedikit-banyak ada sesuatu yang dapat dipetik dan dipelajari. Berikut adalah hal-hal yang dapat kita pelajari dari Formula One:

1. Membungkam Kritik Dengan Berprestasi

Yang saya maksud adalah: belajarlah dari pria yang satu ini, ketika ia masuk ke Formula One hanya dengan berbekal super licence, tidak sedikit komentar miring menerpanya, ada pembalap yang mengecam, ada pula yang meragukan kemampuannya, meremehkan minimnya pengalaman membalapnya, bahkan karena ia tidak melewati F3000 atau Indy Car sebelum masuk ke Formula One, ia dianggap dapat membahayakan pembalap lain dalam lintasan, karena dianggap belum becus mengendarai mobil F1.

Tapi apa yang terjadi? hanya dengan berbekal super-licence, tanpa pengalaman balap di F3000 atau Indy Car, ia memperoleh 1 poin di balapan pertamanya di tim Sauber. Ketika orang-orang tidak mau mengakui prestasinya dan bilang ini cuma kebetulan, toh ternyata, malah ia yang direkrut membalap di tim Mclaren, bukan rekan setimnya, Nick Heidfeld yang telah lebih dulu masuk ke F1, yang notabene harusnya lebih berpengalaman dari dia.

Ketika akhirnya dia memenangkan grand prix untuk pertama kalinya, saya memakai nama mobilnya sebagai salah satu ID email saya, untuk mengenang aksinya di atas lintasan yang luar biasa. Anda tahu siapa orang ini, bukan? Siapa lagi kalau bukan KIMI RAIKKONEN.

2. Tidak/Pantang Menyerah

Kimi Raikkonen adalah nama yang langsung melintas di otak saya sebagai role model pembalap yang pantang menyerah. Bukan saja karena perjuangannya untuk merebut gelar juara dunia 2007 yang demikiah gigih, tapi juga karena mental bajanya saat menghadapi masa-masa sulit. GP Monaco kemarin jelas membuktikan hal itu. Start Kimi terhitung buruk karena masalah ban, terkena drive through penalty, harus melakukan pit stop tambahan untuk mengganti nose, hingga gagal mendulang poin setelah menabrak mobil Adrian Sutil. Meski begitu, ia tetap optimis menyongsong seri balapan selanjutnya walau ada juga fansnya yang meributkan posisinya di klasemen, yang sekarang hanya berada di urutan kedua.

3. Berhenti Menyalahkan (Keadaan/Orang Lain)

Ketika kita dalam situasi terpuruk, hal termudah yang sering kita lakukan biasanya adalah menyalahkan situasi, atau menyalahkan orang lain sebagai biang keladinya. Ini memang manusiawi. Tapi kalau terus-menerus seperti ini, akibatnya kita akan terus menyesali diri dan kalau sudah demikian, kita akan cenderung menjadi orang yang negatif. Lagi-lagi saya harus memakai Kimi dan kejadian GP Monaco kemarin sebagai contoh. Kimi tidak menyalahkan timnya padahal ia menerima hukuman drive through penalty. Ia hanya berkata bahwa dirinya melakukan kesalahan dan mereka (Kimi dan timnya) melakukan kesalahan bersama. Pilihan kata ‘bersama’ yang ia pakai cukup menyiratkan hal ini.

4. Tahan Terhadap Tekanan

Dengan jumlah jam kerja yang berat, semua mekanik, termasuk juga engineer, mereka harus tahan terhadap tekanan pekerjaan. Dengan beban tugas yang cukup untuk memicu stres, mereka harus memiliki kualitas yang satu ini.

Tidak hanya mereka, pembalap pun harus tahan tekanan, ketika mereka tengah berlomba memperebutkan posisi, mereka harus adu balap, sekaligus adu mental. Tanpa kemampuan menerima tekanan, seorang pembalap akan mudah membuat kesalahan, dengan demikian merugikan dirinya sendiri, karena catatan waktunya akan melambat. Jadi kesimpulannya jelas: pekerja di Formula One haruslah orang yang pressure resistance – wajib tahan terhadap tekanan.

5. Melanjutkan Hidup

Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya gagal. Menyinggung masalah gagal, sejak Mika Hakkinen pensiun dari tim Mclaren, hingga kini Mclaren belum lagi mengantongi gelar juara dunia pembalap dan konstruktor. Meski banyak usaha telah dilakukan, dari merekrut Kimi Raikkonen, pembalap dengan label The Flying Finn dan The Iceman, karena Kimi memang pembalap cepat dan minim emosi, mendirikan TMC (Technologi Mclaren Centre) yang menelan biaya yang sangat besar, merekrut pembalap baru, Fernando Alonso dan Lewis Hamilton pada tahun 2007, tapi toh gagal!!!

Karena kegagalan mesin untuk terus bertahan hingga lap terakhir, selama bertahun-tahun Mclaren terus didera kegagalan. Kejadian mesin berasap, salah merekrut pembalap, kecelakaan dalam balapan, hingga penghapusan poin konstruktor karena dianggap mencuri data tim lawan, semuanya itu adalah rentetan kejadian yang membuat Mclaren terus berkubang dalam kegagalan. But show must go on, and life goes on – Pertunjukan harus tetap berlangsung, dan hidup berlanjut terus. Hidup ini terus berjalan, dan terlalu singkat untuk disia-siakan. Cuma meratapi kegagalan adalah hal yang bodoh. Langkah pintar yang harus kita lakukan sebenarnya simple saja : terus melanjutkan hidup.

6. Efisien

Efisien di sini bisa menyangkut berbagai hal, dari soal budget, cara kerja, sampai waktu. Tapi karena formula one adalah olahraga yang pada dasarnya bekejaran dengan waktu, maka efisien dalam penggunaan waktu itu sudah menjadi peraturan tak tertulis.

Penghamburan waktu adalah dosa besar. Para desainer mesin di Formula One melakukan riset mendalam agar putaran mesin di F1 bisa kian besar dari yang tadinya 19.000 rpm (putaran per menit), dan dianggap sudah cukup fenomenal, kini bisa mencapai 20.000 rpm, sampai-sampai FIA membatasi supaya tahun 2007 mesin mobil F1 hanya boleh mencapai 19.000 rpm saja, disebabkan pertimbangan keamanan dan keselamatan pembalap, setelah mengganti peraturan tahun 2006 dari mesin V12 ke V10 tak berhasil memperlamban mobil F1 di lintasan.

Perbedaan antara seorang pemenang dan pecundang di F1 seringkali hanya karena selisih waktu yang sangat tipis, bahkan tak sampai setengah kedipan mata, karena itu perlu efisien dalam penggunaan waktu, juga efisien dalam hal-hal lainnya.

7. Mendelegasikan Tugas

Hal yang satu ini adalah wajib bagi seorang bos tim, kepala aerodinamika, dan orang-orang dengan posisi penting di Formula One. Pekerjaan di Formula One terlalu kompleks dan beragam, tidak mungkin dikerjakan sendirian; karenanya mendelegasikan tugas adalah seni yang harus dikuasai di bisnis ini.

Charles Bernard Ecclestone sekali pernah berkata: “Delegation is the art of accepting the second one” – Delegasi adalah seni menerima orang terbaik kedua.

Ketika kita tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan satu pekerjaan sendirian, maka inilah saatnya untuk mendelegasikan tugas. Ini berarti kita perlu memilih orang yang tepat, yang memang kompeten menyelesaikan tugas tersebut, dengan risiko hasilnya mungkin tak sebaik seperti jika kita mengerjakannya sendiri. Seperti kata Ecclestone: “Delegation is the art of accepting the second one”

8. Uang Bukan Segalanya

Uang yang berlimpah tidak menjamin kesuksesan. Mclaren dengan TMC-nya, Toyota dengan dana yang tidak sedikit, berusaha untuk membeli kemenangan tapi tetap gagal !!! Justru tim Renault, dengan dana dan anggaran terbatas, yang malah merebut juara dunia konstruktor dan pembalap sekaligus pada tahun 2005-2006. Terbukti di Formula One, uang memang bukan segalanya!

Saya pribadi selalu menganggap Formula One adalah sebuah olahraga yang sangat inspiratif. Delapan hal di atas tidak cukup hanya untuk dikagumi. Delapan hal di atas seharusnya bisa kita terapkan dalam hidup kita masing-masing, dan yang lebih penting lagi, delapan hal di atas seharusnya lebih dari cukup untuk membuat Anda mencintai Formula One, atau bila Anda memang sudah mencintainya, Anda sekarang akan lebih menghargai keberadaannya.

Bila Anda sudah membaca artikel ini dan tetap belum mencintai F1, wah … apa benar Anda memang semembosankan ini ???

Tidak ada komentar: