Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 25 April 2008

Keluarga Romanov

Diterjemahkan dari berbagai sumber

Keluarga Romanov


Nicholas & Alexandra Romanov

Nicholas dan Alexandra Romanov adalah tsar dan tsarista Rusia terakhir. Kehidupan probadi mereka memiliki daya tarik sepanjang 10 tahun terakhir ini. Kematian mereka pada tahun 1918 di Ekaterinburg oleh kaum Bolshevik semakin menambah daya tarik kisah mereka yang bukan main itu.

Nicholas dan Alexandra memiliki 5 orang anak yang cantik selama 23 tahun usia pernikahan mereka.

Pada halaman-halaman berikut, anda akan menemukan istilah OS atau NS setelah pencantuman tanggal.
*Old Style (OS) mengacu pada kalender Julian yang digunakan di kekaisaran Rusia. Saat memasuki abad 20, kalender ini mundur 13 hari di belakang kalender Gregorian, yang mengacu pada New Style (NS), dan digunakan di segala tempat lain di dunia. Setelah revolusi, para pemimpin Rusia yang baru mengubah penanggalan mereka menjadi kalender Gregorian.

Anastasia Nicolaievna Romanov adalah putri termuda Nicholas II dan Alexandra Romanov dari Rusia. Ia dilahirkan pada 5 Juni 1901 (menurut kalender Julian *) di istana Peterhof. Piere Gilliard, salah satu tutor Grand Duchess dan Tsarevitch menyebutnya “sangat lucu dan seperti seorang pelawak.” Selama masa kecilnya, Anastasia dianggap yang paling tomboi dari semua Grand Duchess; ia lebih suka memanjat pohon daripada belajar. Anastasia dapat berbicara dalam bahasa Rusia, Perancis, dan Inggris dengan fasih.

Misteri yang mengelilingi nasib Anastasia setelah revolusi Rusia pada tahun 1918 adalah salah satu misteri terbesar selama abad 20. Banyak kisah tentang dirinya dan baru-baru ini the 20th Century Fox Movie membuat film mengenai Anastasia dan menghidupkan kembali misteri ini di abad 21. Meski penemuan pada tahun 1990 atas keluarga yang tersisa di luar Ekaterinburg, Rusia di mana mereka tewas telah melepaskan cahaya kecil pada kisahnya. Para pakar dalam pengetesan DNA tidak setuju bahwa itu memang dia. Faktanya, Anastasia tetap hilang.

Bagaimanapun, pengetesan DNA telah sekali terbukti dan untuk semua wanita, Anna Anderson yang mengaku sebagai Anastasia, pada kenyataannya adalah seorang buruh tani berkebangsaan Polandia. Jika Anastasia yang asli dapat selamat dari eksekusi di ruang bawah tanah, sudah pasti dia tidak mungkin muncul sebagai Anna Anderson.

Anastasia menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat adik laki-lakinya, Alexei yang menderita penyakit hemofilia dan merupakan pewaris tahta Rusia gembira. Sebagai puteri termuda, segala hal yang dapat dikerjakan telah dikerjakan oleh ketiga kakak perempuannya, sehingga Anastasia menjadi ‘bayi’ yang mengerikan dan menggoreskan bagi dirinya sendiri sebuah tempat khusus sebagai badut keluarga. Beberapa kisah yang menghibur tentang hidupnya dan pelariannya yang ajaib menggambarkan dirinya di bawah usia 10 tahun ketika keluarganya menghilang. Ia baru saja menginjak usia 17 tahun ketika keluarganya dibunuh oleh kaum Bolshevik.

Meski ayahnya menguasai 1/6 belahan bumi dan merupakan salah satu pria terkaya pada zamannya, Anastasia dan kakak-kakak perempuannya tidak pernah memiliki kamar tidur sendiri. Keempat Grand Duchess itu berbagi sebuah kamar yang luas dan berangin dan tidur di tempat tidur gantung seperti milik tentara yang mudah dipindahkan saat keluarganya bepergian. Kenyataannya, gadis-gadis itu tidur di atas ranjang yang sama di pengasingan di Siberia setelah Nicholas II turun takhta.

Anastasia dan kakak-kakak perempuannya sangat disukai oleh semua orang yang bertemu dengan mereka. mereka lebih suka tidak dipanggil dengan gelar formal mereka dan menjadi malu ketika gelar itu dipakai. Gadis-gadis itu sangat akrab, juga dengan seluruh keluarga. Mereka memiliki kontak yang sangat terbatas dengan anak-anak seusia mereka, dan oleh karena itu mereka menjadi yang paling hijau untuk orang-orang seusia mereka. Meski Anastasia tidak memiliki kekasih, ia menghabiskan waktunya bersama kakak-kakak perempuannya dengan “menggoda” para pelaut yang dipekerjakan di yacht pribadi keluarga mereka, Standart.

Apalah arti sebuah nama

Anastasia dan kakak-kakak perempuannya tidak menyandang julukan Putri. Mereka lebih mengacu pada Grand Duchess yang dianggap lebih tinggi dari “Putri” Eropa. Salah satu dari Grand Duchess terakhir yang selamat dari revolusi adalah bibi kesayangan Anastasia, Olga Alexandrovna yang tinggal di Kanada, di atas tempat pangkas rambut. Para tetangganya terkejut ketika Ratu Elizabeth II dari Inggris mengundang wanita tua yang baik hati itu untuk minum teh bersama sang ratu selama perjalanan Ratu Elizabeth II pada tahun 1959.

TSAREVICH ALEXEI NICOLAIEVICH

Alexei, pewaris tahta Rusia yang lama ditunggu, dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1904 (penanggalan NS) di Peterhorf. Kelahirannya membawa kebahagiaan yang sangat besar bagi Nicholas dan Alexandra. Kekaisaran bergembira dengan menembakkan 301 meriam untuk menyambut kelahiran pewaris tahta. Matanya yang biru jernih dan rambut keritingnya yang indah menjadikannya sebagai seorang anak yang luar biasa tampan. Sayangnya anak ini mewarisi penyakit hemofilia dari ibunya. Penyakit yang menimbulkan bengkak dan memar yang berbahaya, jika tidak mematikan. Ia memiliki pengawal pribadi yang menemaninya setiap saat untuk mencegah kecelakaan dari hal-hal yang membahayakan hidupnya yang berharga.

Alexei bukan anak yang manja. Ia anak yang baik dan mempesonakan setiap orang yang bertemu dengannya.

Meskipun ia menderita penyakit yang mematikan, Alexei hidup melewati masa kecil yang dianggap sebagai saat yang paling berbahaya dalam kehidupan seorang penderita hemofilia. Ia mengalami penderitaan yang amat sangat bagi seorang anak yang usianya begitu muda. Pendarahan di dalam (internal bleeding) amat menyakitkan ketika terjadi pembengkakan darah di bawah kulit. Alexei tidak diberi pengobatan untuk meredakan sakitnya karena takut ia menjadi kecanduan. Dalam pendarahan yang benar-benar mengerikan itu, ia berkata pada ibunya bahwa ia siap menyambut ajalnya. Anehnya, pendarahan Alexei berhenti beberapa waktu (di depan keluarga kekaisaran), berkat doa seorang dukun bernama Rasputin setelah banyak dokter gagal meningkatkan kesehatan anak laki-laki itu.

Tubuh Alexei tidak didapati pada kuburan masal yang ditemukan pada awal tahun 1990. hal ini menimbulkan dugaan bahwa ia selamat dari pembantaian di bawah tanah pada malam di bulan Juli tahun 1918 itu. Namun hal itu tidak mungkin mengingat penyakit hemofilianya. Alexei yang tubuhnya mengalami pendarahan tidak akan selamat dari hujan peluru yang ditembakkan. Yang lebih mungkin, para pembunuh itu menyembunyikan kejahatan mereka, dengan menguburkan mayatnya terpisah dari yang lain.

TSAR NICHOLAS II

Nicholas Alexandrovich Romanov dilahirkan pada 18 Mei 1868 (penanggalan NS), merupakan anak dari Tsar Alexander III dan Tsarista Marie Fedorovna dari Rusia. Nicholas II menjadi kaisar dan memiliki kekuasaan tungal atas seluruh Rusia sebagai Tsar Moscow, Kiev, Vladimir, Novgorod, Kazan, Astrakhan, Polandia, Siberia, Tauric Chersonese, Georgia, Lord Pskov, Grand Duke Smolensk, Lithuania, Volhynia, Podolia, dan Finlandia, Pangeran Estonia, Livonia, Courland dan Semigalia, Samogotia, Bialostock, Karelia, Tver, Yougouria, Perm, Viatka, Bulgaria, dan negara-negara lain; Lord dan Grand Duke Novgorod, Tchernigov, Riazan, Polotsk, Rostov, Yaroslav, Belozero, Oudoria, Obdoria, Condia, Vitebsk, Mstislav, dan seluruh daerah di utara, Lord dan negara-negara berdaulat Iveria, Kartalinia, Kabardinia, dan propinsi-propinsi Armenia, Pangeran Kiroasia yang berdaulat dan Putra Gunung, Lord Turkestan, ahli waris Norwegia, Duke Schlewig Holstein, Storman, Ditmars, dan Oldenbourg pada 1 November 1894 (kalender NS) pada usia 26 tahun, menggantikan ayahnya yang mangkat, Tsar Alexander III. Ia tidak dimahkotai sebagai Tsar di Moskow hingga bulan Mei 1896, setelah 12 bulan masa berkabung.

Sebelum Alexander III wafat, ia memberi izin atas pernikahan pewaris tahta kepada pilihan Nicholas sendiri, Putri Alix dari Hesse. Tidak seperti kebanyakan pasangan kerajaan, Nicholas dan Alexandra benar-benar jatuh cinta, yang menimbulkan kesedihan yang besar bagi ayahnya, Alexander III dan ibunya, Tsarista Marie, yang lebih suka pasangan yang lebih politis untuk masa depan Rusia daripada Putri Jerman yang tidak populer.

Nicholas adalah anak yang patuh, namun ia tidak menghendaki siapapun selain Alix dari Hesse-Darmstadt dan menolak calon-calon mempelai perempuan yang disarankan orang tuanya. Nicholas menulis ratusan surat cinta yang bergairah untuk Allix selama pertunangan mereka dan lebih banyak lagi setelah mereka menikah. Dalam suratnya ia menyebut dirinya sendiri sebagai “lembu tua.”

Nicholas memiliki hubungan yang akrab dengan adik laki-lakinya Georgy, yang dipindahkan ke tempat yang lebih hangat dan beriklim kering karena tuberkulosis. Nicholas sangat merindukan adiknya dan sering menyuratinya. Surat-surat Nicholas lucu, hangat, dan ceria – pernah sekali ia menyebut Ratu Victoria, “perempuan bengkak.” Nicholas hancur setelah kematian Georgy yang terlalu cepat pada tahun 1899. keduanya, Nicholas dan Alexandra menjadi sangat terbiasa dengan kematian, yang membuat mereka menyadari akan kehilangan putra mereka begitu nyata. Mereka berdua saling menguatkan, “Kehendak Tuhan terjadilah” dan berdoa dengan sangat bagi putra mereka dan bagi Rusia.

Nicholas mirip seperti sepupu pertamanya (dari saudara perempuan ibunya), Raja George V dari Inggris. Nicholas berperawakan pendek dan disukai oleh orang-orang yang mengenalnya secara pribadi. Ia sangat cemerlang dan dapat mengerti konsep-konsep dengan cepat, meskipun ada beberapa yang dikutip dari buku-buku sejarah tentang Perang Dunia I. Ia seorang yang sangat sopan dan tidak menyukai konfrontasi.

Nicholas merasa adalah tugasnya untuk memerintah Rusia sebaik Pemerintah. Ini berarti bahwa ia akan membuat keputusan-keputusan untuk negerinya dengan masukan dalam bentuk laporan singkat dari para menteri yang melayaninya. Ia tidak akan menemui mereka sekaligus pada saat yang sama, yang dapat meningkatkan komunikasi kaisar dan yang lainnya, namun hanya berdasar pada individual. Hal ini sangat menghambat efektifitas. Ia memiliki ingatan yang sempurna dan sebuah pemikiran besar yang detail. Kantornya sangat rapi dan ia tidak suka jika ada orang yang menyentuh kertas-kertasnya. Sehingga Nicholas tidak memiliki seorang sekretaris untuk membantunya dengan kertas kerja yang bobotnya luar biasa yang berdatangan di seberang mejanya setiap hari.

Karena ketidaksukaannya dan untuk menghidari konflik, ia biasanya setuju dengan menteri terakhir yang berbicara dengannya, dan akan melakukan apa yang disukainya sesudahnya. Ini membuatnya kelihatan tidak memiliki ketegasan. Anggota istana Nicholas II mendapati dia gusar karena keragu-raguan dan kepasifannya yang sama porsinya.

Banyak orang di luar lingkaran keluarga dekat tidak menyadari penyakit putranya dan oleh karena itu tidak memahami alasan-alasan Nicholas atas keputusan-keputusan yang dibuatnya. Contoh yang paling besar ialah Rasputin yang bau, tidak terawat, petani alkoholik yang suka memaki dengan kasar. Rasputin, tampaknya memiliki akses ke istana lebih daripada orang lain. Anggota keluarga raja yang sopan saja tidak dapat bertemu dengan kaisar atau permaisuri.
Persekutuan pasangan istana ini bahkan lebih daripada dukungan pengadilan yang sangat mereka butuhkan selama masa Revolusi. (Rasputin telah mencengangkan para ahli selama hampir 100 tahun dengan kemampuan menyembuhkannya yang ajaib). Nicholas merasa bahwa Rasputin adalah orang yang diutus Tuhan untuk memerintah Rusia dan mengambil alih tugasnya yang sangat serius. Nicholas yakin bahwa ia tak perlu menjelaskan dirinya pada SIAPAPUN di dunia, dan bahwa ia harus menjawab hanya kepada Tuhan saja. Seperti istri dan anak-anaknya, ia juga sangat percaya pada hal-hal spiritual.
Dikatakan bahwa Nicholas tidak pernah tampak lebih santai daripada ketika ia turun tahta. Ia dapat melakukan hal-hal yang disukainya, berjalan-jalan di luar istana dan menghabiskan hari-harinya bersama keluarga yang dicintainya. Dua kegiatan yang terbatas untuk dilakukannya sebagai seorang kaisar.

Nicholas percaya bahwa segala hal yang terjadi pada dirinya merupakan kehendak Tuhan, oleh karena itu ia tidak pernah mencoba untuk mengubah apa yang ia anggap sebagai takdirnya. Ia dilahirkan pada perayaan Santo Ayub (jika anda mengetahui Alkitab, anda tentu tahu bahwa Ayub merupakan anak Allah yang setia yang oleh Iblis dicobai dalam penderitaan untuk membuat Ayub mengutuk Tuhan atas keadaannya. Namun, Ayub tidak pernah melakukannya, demikain juga Nicholas). Nicholas percaya bahwa ia memang ditakdirkan untuk menderita. Saat ini, Nicholas II, Alexandra, dan semua anak-anaknya ditetapkan sebagai martir dalam Gereja Ortodok Rusia atas ketaatan dan gaya hidup mereka dalam pengabdiannya kepada Kristus Tuhan yang harus dicontoh.

GRAND DUCHESS MARIE NICOLAIEVNA
Marie, sering dianggap sebagai gadis tercantik, merupakan anak ke-3 Nicholas dan Alexandra. Ia dilahirkan pada tanggal 14 Juni 1899 (OS) di Peterhorf. Ia dilahirkan hanya dua minggu sebelum pamannya, Grand Duke Georgy Alexandrovich (yang menjadi pewaris tahta karena Nicholas dan Alexandra tidak memiliki putra) yang mati muda karena tuberkulosis. Georgy, sebagai tumpuan keluarga dan seluruh Rusia, berharap Marie adalah seorang anak laki-laki dan menjadi pewaris tahta yang baru. Kesehatan Georgy menjauhkannya dari keluarga selama 8 tahun dan ia sangat menyesal karena tidak sempat mengenal 3 keponakannya. Marie bertubuh gempal, berambut coklat muda dan tebal, bermata biru tua yang oleh keluarganya disebut sebagai “cawan Marie.” Kakak-kakak perempuannya kerap menggodanya karena kemontokannya dan memanggilnya bow-wow. Marie suka membayangkan mengenai pernikahannya dan anak-anak yang akan dimilikinya. Ia seorang yang ramah dan diam-diam suka bermain dengan para pelaut dari Yacht mereka, Standart. Ia baru saja menginjak usia 19 tahun ketika ia dibunuh oleh kaum Bolshevik.

GRAND DUCHESS OLGA NICOLAIEVNA
Olga, anak tertua dari lima bersaudara, dilahirkan pada tanggal 3 November 1895 (OS) di Tsarskoe Selo. Orang tuanya sedikitpun tidak kecewa karena ia terlahir sebagai anak perempuan. Mereka masih muda dan memiliki banyak waktu untuk memiliki anak laki-laki. Saat lahir, Olga bertubuh besar, beratnya mencapai 10 pound (1 pound=0.454 kg). Ratu Victoria mengatakan bahwa Olga akan menjadi yang paling cantik, dengan kepala yang sangat besar.

Seiring pertumbuhannya, Olga menunjukkan dirinya sebagai seorang yang sensitif, spiritual, dan sangat serius untuk seorang anak kecil. Guru bahasa Perancisnya, Pierre Gilliard, menggambarkan dirinya “sangat cantik dan bercahaya, matanya yang biru keabu-abuan memancarkan kenakalan dan hidung yang agak pesek.” Olga yang sangat baik dan rendah hati, menggunakan sedikit uangnya dan menyumbangkannya untuk amal dengan tidak menyebutkan nama. Ia adalah yang paling serius dari keempat anak perempuan itu dan menghabiskan banyak waktu dengan membaca novel seperti (ironisnya) Les Miserables karangan Victor Hugo, bersama ibu dan adik peremuannya, Tatiana, melayani sebagai perawat selama Perang Dunia I. Olga merupakan satu-satunya Grand Duchess yang terekam dalam kanvas minyak, sedang menari di Imperial Ball sebelum pembunuhannya yang brutal di Ekaterinburg. Pada 1914, ia dan keluarganya melakukan kunjungan formal ke Rumania dan menemui Putra Mahkota, Pangeran Carol. Ia curiga bahwa ini adalah kunjungan untuk mencarikannya jodoh. Ia berkata pada gurunya, Gilliard, “Aku tidak ingin meninggalkan Rusia. Aku adalah seorang Rusia dan aku bermaksud untuk tetap menjadi seorang Rusia.” Bagaimanapun, dengan pecahnya Perang Dunia I, orang tuanya tidak pernah lagi mencarikannya jodoh yang sesuai untuknya. Bahkan tidak pernah menyebut-nyebut perjodohannya dengan Edward, Pangeran Wales, yang akhirnya melepaskan takhtanya pada tahun 1930 setelah menikahi seorang janda cerai berkebangsaan Amerika. Nicholas dan Alexandra luar biasa sensitif terhadap perasaan putri mereka mengenai pernikahan dan tidak akan memaksa putri-putri mereka ke dalam pernikahan yang tidak mereka inginkan.

EMPRESS ALEXANDRA FEDOROVNA ROMANOV
Tsarista Alexandra Fedorovna dilahirkan dengan nama Alix Victoria Helena Louise Beatrice, Putri Hesse-Darmstadt pada tanggal 6 Juni 1872.

Ia merupakan cucu kesayangan Ratu Victoria dari Inggris. Ia pertama kali bertemu dengan Tsarevitch Nicholas muda yang tampan ketika ia berumur 11 tahun pada perayaan pernikahan kakak perempuannya, Ella dengan paman Nicholas, Sergei. Mereka bertemu kembali ketika ia berumur 17 tahun dan Nicholas berumur 21 tahun, usia yang memang sewajarnya bagi orang di usia itu untuk memikirkan tentang cinta. Tsar Alexander III dan istrinya Empress Marie Fedorovna menentang perjodohannya dengan gadis pemalu dan tidak populer itu meskipun ia adalah putri baptis mereka.

Tanpa takut, Nicholas mendekati Alix saat pernikahan kakak laki-laki Alix, Ernest dan sepupunya, Victoria Melita di Coburg Jerman pada April 1894. Tak perlu ditanya lagi, keduanya saling jatuh cinta, namun Alix merasa berat untuk mengganti agamanya dari Lutheran ke Ortodok Rusia (Undang-Undang Rusia menegaskan bahwa seorang Kaisar harus menikah dengan wanita yang sederajat dan ia harus seorang Ortodok Rusia pada saat menikah).

Ia telah menolak Nicholas selama bertahun-tahun, dan dengan bersimbah air mata. Setiap orang yang hadir dalam pesta pernikahan itu menyadari hasrat Nicholas terhadap Alix untuk menjadikannya sebagai mempelai perempuannya dan sangat menganjurkan Alix untuk mendapat ijin. Ella, kakak tertua Alix yang telah mengubah agamanya dan pindah ke Rusia, menjadi pendukung kuat Nicholas sebagai sepupu Kaisar Wilhelm dari Jerman. Ia penghubung yang tepat bagi Jerman dan Rusia untuk aliansi yang kuat di antara kedua negara tersebut.

Sehari setelah pernikahan dan tiga hari setelah Nicholas memohon selama 2 jam, Alix dengan gembira menyetujui setelah Nicholas memohon lagi! Mungkin hal itu merupakan romantika di pesta pernikahan, atau ketakutannya bahwa cinta sejatinya akan kembali ke Rusia tanpa pernah bertanya lagi, tahun-tahun penolakan Alix untuk mempertimbangkan menjadi ortodok Rusia hancur luluh pada malam itu. Setelah ia menerima proposal dari cabang keluarganya di Eropa, yang menunggu pertunangan ini dengan harap-harap cemas, bergembira. Bahkan Ratu Victoria, yang sebenarnya lebih suka Alix bersama dengan Prince of Wales dari Inggris, mengirimkannya penjaga yang berjaga di bawah jendela Nicholas keesokan paginya untuk menghormati pertunangan itu.

Meskipun sangat mencintai, namun Alix ingin mempelajari bahasa Rusia dulu sebelum pernikahan sehingga ia dapat memahami upacaranya. Dengan enggan mereka berpisah, namun, Alix merasa senang karena akan pergi ke Inggris bersama neneknya dan ke Rusia bersama Nicholas. Mereka bersama lagi pada bulan Juni di Inggris. Nicholas membawa serta Yanyshev, pendeta ortodoks untuk membimbingnya dalam konversinya ke agama Rusia Ortodoks. Nicholas tinggal di Inggris selama lebih dari sebulan. Lagi-lagi ia merasa enggan kembali ke Rusia. Mereka tidak akan saling bertemu lagi sampai bulan Oktober 1894. Namun, segalanya menjadi suram karena penyakit Tsar Alexander III memburuk dan tepat 10 hari setelah kedatangan Alix di Rusia, Tsar Alexander III meninggal. Kurang dari tiga minggu kemudian dan setelah ratusan surat cinta, Nicholas II dan Alix yang sekarang menjadi Alexandra Fedorovna melangsungkan pernikahan pada tanggal 15 November 1894 (OS).

Alexandra ingat akan pernikahannya yang merupakan kelanjutan dari upacara pemakaman, kecuali itu ia mengenakan pakaian putih seharian itu. Cinta mereka telah membawa mereka melewati berbagai kesulitan, khususnya kelahiran 4 putrinya yang tidak memenuhi syarat untuk mewarisi takhta. Tidak adanya anak laki-laki yang merupakan pewaris takhta mungkin telah memicu stres yang dihadapi Alexandra pada tahun 1902 ketika ia mengalami kehamilan siluman yang oleh dokter dianggap sebagai anemia. (Paul I merasa sangat jijik pada ibunya, Catherine the Great, sehingga ia menyingkirkan para wanita dari garis pewaris takhta pada akhir tahun 1700an dan awal 1800an). Setelah 4 putri yang cantik, Alexandra melahirkan seorang putra pada tanggal 30 Juli 1904 (OS). Melalui kakek dari ayahnya, Alexander III, Nicholas II menjadikan Alexei pewaris satu-satunya dan yang paling berpengaruh dalam kekaisaran di dunia. Melalui nenek buyut dari pihak ibunya, Ratu Victoria, Alexandra mewarisi Alexei penyakit hemofilia. Kegembiraan di istana dihancurkan ketika seminggu setelah kelahirannya, bayi itu mengalami pendarahan yang hebat dari pusarnya. Alexandra merasa hancur. Ia telah kehilangan abangnya karena hemofilia yang saat itu masih anak-anak dan baru saja bisa berjalan, ketika itu Alexandra masih sangat kecil, setelah itu tak lama kemudian ia kehilangan adik perempuannya, May dan ibunya karena penyakit difteri ketika ia masih berumur 6 tahun. Ayahnya tidak bertahan hidup untuk menyaksikan pertunangannya dan sekarang ia dihantui ketakutan akan mengalami lagi hal yang sama, kehilangan anak laki-laki yang telah lama ditunggu kehadirannya dan yang telah membawa kegembiraan.

Dikritik oleh seisi istana Rusia dalam waktu yang sangat lama karena tidak dapat melahirkan seorang anak laki-laki pewaris takhta, ia sekarang ‘disalahkan karena membuatnya ‘cacat’. Penyakit yang masih merupakan rahasia. Banyak dokter telah dipanggil untuk mencari obatnya, tapi hingga hari ini, 100 tahun kemudian, obatnya masih belum ditemukan.

Alexandra adalah seorang wanita yang penuh gairah, buku hariannya yang dipublikasikan adalah saksinya. Ia menggunakan kata-kata yang berbunga-bunga untuk menggambarkan emosinya, orang, dan bahkan cuaca. Gairah ini berubah menjadi obsesi ketika sudah menyangkut Alexei. Ketika dokter tidak dapat menolong, ia berpaling ke seorang dukun mistis bernama Rasputin, yang memiliki reputasi sebagai seseorang yang bisa menyembuhkan. Rasputin, dengan mata yang menghipnotis, akan berdoa di kaki tempat tidur anak laki-laki itu. Ajaib, Alexei rupanya sembuh, dokter-dokternya sangat tidak percaya. Dengan begitu, Alexandra merasa Rasputin adalah kunci atas kesehatan anak laki-laki kesayangannya dan kemudian kunci masa depan dinasti Romanov dan Rusia sendiri.

Karena kondisi Alexei masih merupakan rahasia, orang-orang Rusia yang tidak tahu mengapa seorang yang nafsu berahinya besar, pecandu alkohol yang kata-katanya kasar (yang membusukkan nama permaisuri sendiri di depan publik) diizinkan menjadi sangat dekat dengan kaisar dan permaisurinya. Ini menambah kebencian atas wanita yang disalahpahami, dituduh telah mengkhianati Rusia dan kaisar.

GRAND DUCHESS TATIANA NICOLAIEVA
Tatiana,yang dianggap sebagai Grand Duchess paling elegan dari yang terelegan, adalah anak ke-2 Nicholas dan Alexandra. Ada yang mengatakan mengenai Tatiana, bahwa jika anda sedang berbicara dengannya, anda akan menyadari bahwa anda sedang berhadapan dengan seorang putri kaisar. Ia dilahirkan pada tanggal 29 Mei 1897 (OS) di Tsarskoe Selo dan merupakan yang paling tinggi dari ke-4 bersaudara itu. Ia merupakan “induk semang” bagi adik-adiknya, tugas yang tampaknya diabaikan oleh kakak perempuannya, Olga. Ia mengabdi sebagai seorang perawat selama Perang Dunia I bersama ibunya dan Olga.

Ia baru berusia 21 tahun ketika dibunuh oleh kaum Bolshevik pada tahun 1918.

Tatiana memiliki seekor anjing kecil bernama Ortino, yang menjadi subyek bagi beberapa “kreasi” Faber.

2 komentar:

SP mengatakan...

Thanks blogg nya menambah wawasan tetang Kimi.
Note: Catatan penulisan blogg di milis mohon diperbaiki seperti http://www.slusman.blogspot.com/

Ani Kurnia mengatakan...

terima kasih infonya, nice banget