Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 25 April 2008

Chairil Anwar

Diterjemahkan dari berbagai sumber

Chairil Anwar

Chairil Anwar, hidup hanya 27 tahun, tapi ia merupakan salah satu kekuatan utama dalam puisi Indonesia modern. Pengaruhnya bercabang dari 2 sumber:
1. Inovasi-inovasinya dalam bidang bahasa, yang menelanjangi “dekorasi” tradisional dan kebiasaan-kebiasaan “puitis” tradisional dari bahasa Indonesia, meninggalkan apa yang disebut “benih kata”, “benih imej”
2. Hidupnya yang singkat, mungkin tragis (dilahirkan pada tahun 1922, ia berjuang sebagai seorang gerilyawan melawan Pemerintah Kolonial Belanda dan meninggal karena tifus, TBC, dan Sifilis pada tahun 1949, ketika ia baru berusia 27 tahun) yang bersamaan dengan periode kegelisahan sosial dan politik (akhir pemerintahan Jepang dan perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari Belanda) sentral pembentukan Indonesia modern. Puisi-puisi ini diterjemahkan oleh Burton Raffel dan diterbitkan di The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (1993) – suara Malam: Puisi dan Prosa Chairil Anwar, lengkap.

Karya-karyanya diterbitkan kembali di The Poetry of the World – Puisi Dunia, diedit oleh Jeffrey Paine (New York: Harper Collins, 2000) tapi tanpa latar belakang dan informasi penerbitan.
“Siapapun engkau” ditulis oleh seorang penulis kontemporer Indonesia yang rupanya dipengaruhi oleh Chairil Anwar; “Pesanku”, sebuah karya yang baru saja muncul dan rupanya pengarangnya, seorang penyair Malaysia berdarah Inggris, yang menulis aslinya dalam bahasa Inggris.


Chairil Anwar, “Me”

When my time comes
No one’s going to cry for me,
And you won’t, either

The hell with all those tears!

I’m a wild beast
Driven out of the herd

Bullets may pierce my skin
But I’ll keep coming,

Carrying forward my wounds and my pain
Attacking
Attacking
Until suffering disappears

And I won’t give a damn

I want to live another thousand years


AKU *

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Chairil Anwar, “Heaven”

Like my mother, and my grandmother too,
plus seven generations before them,
I also seek admission to Heaven
which the Moslem party and the
Mohammedan
Union say has rivers of milk
And thousands of houris all over.

But there’s a contemplative voice inside me,
Stubbornly mocking. Do you really think
the blue sea will go dry
--and what about the sly temptations
waiting in every port?
Anyway, who can say for sure
that there really are houris there
with voices as rich and husky as Nina’s
with eyes that flirt like Yati’s?


SORGA *
buat Basuki Resobowo

Seperti ibu + nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai
susu
dan bertabur bidari beribu

Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya
kerlingnya Jati?


Chairil Anwar, “Willingness”

If you like I’ll take you back

With all my heart.

I’m still alone.

I know you’re not what you were,

Like a flower pulled into
parts.

Don’t crawl! Stare at me bravely.

If you like I’ll take you back

For myself, but
I won’t share even with a mirror.


PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.


Chairil Anwar, “Twilight at Little Harbor”

This time no one’s looking for love
down between the sheds, the old houses, among the
twittering
masts and rigging. A boat, a prau that will never sail again
puffs and snorts, thinking there’s something it can catch

The drizzle brings darkness. An eagle’s wings flap,
brushing against the gloom; the day whispers, swimming
silkily
away to meet harbor temptations yet to come. Nothing
moves
and now the sand and the sea are asleep, the waves gone.

That’s all. I’m alone. Walking,
combing the cape, still choking back the hope
of getting to the end and, jst once, saying the hell with it
from this fourth beach, embracing the last, the final sob


SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak
elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa
terdekap.


Penulis Indonesia yang hidup liar dan mati muda, tapi yag memiliki pengaruh besar atas puisi dan prosa Indonesia pasca kemerdakaan. Chairil adalah arsitek utama dalam revolusi kesusastraan Indonesia dalam puisi sekaligus prosa. Ia melepaskan puisi dari bentuk ikatan tradisional dan bahasa, dan tantangan idealistiknya, “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” telah membuatnya menjadi ikon yang artistic. Dengan kegemarannya yang energik terhadap kesusastraan, ia dipandang sebagai tokoh Pelopor Angkatan Empat Puluh Lima dan salah satu penyair terbesar negerinya.

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang, menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
berlari …
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Dari ‘Aku’, 1943)


Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatra Utara; keluarganya lalu pindah ke Jakarta. Tak cukup banyak yang dapat kita ketahui tentang orangtuanya. Pendidikan formal Chairil singkat saja. ia mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar dan 2 tahun di Sekolah Menengah Pertama berbahasa Belanda di Mulo. Ia mulai menulis saat remaja, sebelum ia pindah ke Jakarta pada tahun 1940, tapi tidak ada puisinya pada masa-masa awal yang bertahan. Berdasarkan penuturannya sendiri, ia telah membuangnya. Di antara puisi-puisi awalnya yang pendek, “Penghidupan” dari Desember 1942: “Lautan maha dalam / mukul dentur selama / nguji tenaga pematang kita”

Di Jakarta, ia menjadi pionir, kekuatan di antara penulis-penulis muda dan seniman, “angkatan ‘45”. Chairil pernah bekerja sebagai redaktur di salah satu jurnal kesusastraan yang sangat penting pada zamannya, siasat yang muncul pada tahun 1947. Adalah kolom budaya yang diberi nama “Gelanggang”, yang menarik sejumlah penulis-penulis muda yang menjadi cikal bakal “Angkatan ‘45”. Chairil juga aktif dalam isu-isu politik dan patriotic. Kesadaran sastranya yang politis dan pergerakan cultural, mendeskripsikan hal itu sendiri sebagai suara revolusi Indonesia, diidentifikasi dengan modernisme Eropa dalam pencarian bentuk-bentuk sastra baru dan esensinya. Dari angkatan ini muncul di antara yang lainnya seperti pengarang Pramoedya Ananta Toer, yang sering disebut-sebut sebagai penulis prosa modern Indonesia terbesar dan Mochtar Lubis, seorang jurnalis politik yang berani dan juga seorang novelis..

Karya fiksi yang sangat terkenal di Belanda yang ditulis oleh pengarang Indonesia ialah Buiten het gareel (1940), dikarang oleh Suwarsih Djojopuspito. Bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang resminya muncul pada tahun 1928, menjadi sebuah bahasa sastra yang vital melalui tulisan-tulisan Chairil. Novel-novel Indonesia terdahulu diterbitkan pada tahun 1920. Sekolah sastra Pujangga Baru dibangun pada tahun 1933, memberikan pengaruh besar dalam kemajuan sastra. Hal ini dipelopori oleh ide bahwa bentuk-bentuk sastra tradisional telah digantikan dengan cara berekspresi modern. Pendiri dan editor-editor pertamanya ilah Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, saudara laki-laki dari Sanusi Pane. Pergerakan lainnya, kelompok ’45 merefleksikan ide-ide mengenai perjuangan kemerdekaan. Telah dikatakan sebelumnya bahwa perbedaan antara angkatan Pujangga Baru dan angkatan 1945 itu menyangkut perbedaan antara harapan dan kepesatan. Chairil Anwar dan anggota-anggota lainnya melepaskan puisi dari ikatan bentuk-bentuk tradisional dan bahasa satra. Penulis-penulis penting lainnya ialah Idrus, Surwarsih Djojopuspito, Achdiat Karta Mihardja, Toha Mochtar, Mochtar Lubis (yang dipenjarakan oleh rezim Soekarno selama 4 tahun), Pramoedya Ananta Toer. Dramawan pertama Indonesia yang mendapat pengakuan yang dalam adalah Utuy Tatang Sontani (1820-1979). Puisi dalam bahasa Jawa sejak kemerdekaan didominasi oleh St. Iesmaniasita dan Muryalelana (sebelum 1932), tokoh utama penulis fiksi dalam bahasa Sunda selama masa pra kemerdekaan adalah Mohamad Ambri (1892-1936). Liem King-Boo dianggap sebagai novelis Tionghoa-Indonesia terbaik.

Puisi Chairil ditandai oleh emosinya, dan kadang-kadang menggunakan bahasa yang tidak konvensional. Karya-karyanya menyampaikan sesuatu yang berkekuatan, penuh vitalitas dan individualisme; puisi-puisinya memiliki tensi seksua yang kuat, seperti yang terdapat dalam “Lagu Biasa” (1949). Chairil menyerap pengaruh dari penulis-penulis barat seperti Rilke, T.S. Elliot, Emily Dickinson, dan penulis-penulis Belanda (H. Marsman, J.J. Slauerhoff). Meskipun ia memiliki pendidikan formal yang singkat, ia menerjemahkan puisi-puisi Rilke, Marsman, dan Slauerhoff, dan mencontoh karya-karya mereka sebagai acuan ke dalam puisi-puisinya. Pendekatannya dalam menulis suatu kali ia gambarkan sebagai “Dalamseni, vitalitas bermula dari keadaan yang kacau balau; dengan keadaan akhir yang kosmis dan indah”.

Di antara puisi-puisi Chairil yang paling terkenal adalah puisi berjudul “Aku’ (1943), sebuah ratapan akan kebebasan dan hidup (“Aku mau hidup seribu tahun lagi”). Puisi lainnya dari masa ini adalah “Diponegoro”, judul ini mengambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang di awal abad ke-19: “punah di atas menghamba / binasa di atas ditindas / sungguh pun dalam ajal baru tercapai / Jika hidup harus merasai.”

Selama masa hidupnya Chairil menerbitkan hanya secara periodik, tapi ada beberapa buku-buku yang diterbitkan setelah ia meninggal, yang pertama ialah Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam, dan Yang Terampas dan Yang Putus (1951). Chairil menulis sedikitnya 70 puisi, beberapa esai dan alamat-alamat radio, dan beberapa terjemahan yang terpisah. Chairil meninggal pada tanggal 28 april 1949, di Jakarta. Karena pengaruhnya, kemajuan bahasa Indonesia mencapai kesetaraan dengan bahasa-bahasa lain sebagai kesustraan menengah. Puisi dn prosa Chairil yang lengkap diterbitkan di Inggris di The Voice of The Night (1992) diterjemahkan oleh Burton Raffel.

Untuk pembacaan lebih lanjut: The Encyclopedia of World Literature, Vol. 1, diedit oelh Steven R. Serafin (1999); Modern Indonesian Literature, Vol I, oleh A. Teeuw (1979); Cultural Options and The Role of Tradition oleh A.H. Johns (1979); A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920-1974 oleh H. Aveling (1974); Chairil Anwar, pelopor Angkatan 45 oleh H.B. Jassin (1968); The Development of Modern Indonesian Poetry oleh B. Raffel (1967); “My Love’s on a Far-Away Island” dan ‘A Room’ diterjemahkan oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam, di Contemporary Asian Poetry, Musim Dingin (1962-1963); Pkok dan Tokoh oleh A. Teeuw (1959); Chairil Anwar oleh H.B. Jassin (1956) – juga lihat: Chairil Anwar oleh Sobron Aidit – Chairil Anwar: ‘Aku’.

Karya-karya terpilih:
· Deru Tjampur Debu, 1949
· Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, 1949
· Tiga Menguak Takdir, 1950 (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
· Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45, 1956
· Selected Poems, 1964 (diterjemahkan oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam, direvisi oleh Robert H. Glauber)
· The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, 1970
· Voice of The Night : Complete Poetry And Prose of Chairil Anwar, 1992 (terjemahan revisi oleh Burton Raffel)


Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang’kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(oleh Chairil Anwar, Maret 1943)

I

If my time should come
I’d like no one to entice me
Not even you

No need for those sobs and cries

I am but a wild animal
Cut from its kind

Though bullets should pierce my
skin
I shall still strike and march forth

Wounds and poison shall I take
Aflee
Aflee
‘Til the pain and pang should
dissapear

And should care even less

I want to live for another
Thousand years

(vert. Urip Hudiono)


Ik

Als mijn tijd gekomen
is
wil ik van niemand
rouw
Ook niet van jou

Niks geen gesnik en
gesnotter

Ik ben een eenling
geworden
Uitgestoten uit de
horde

Laat kogels mijn huid
doorboren
Ik blijf tekeergaan en
schoppen

Wonden en gif voer ik
mee op mijn vlucht
Vlucht
Tot de schrijnende
pijn zal verdwijnen

En ik zal er nog
minder om geven

Ik wil nog duizend
jaar leven

(vert. A. Teeuw
Uit: Ik wil nog duizend
Jaar leven
Uitgeverij Meulenhoff
Amsterdam 1979)



Chairil Anwar (meninggal pada 28 April 1949) mungkin merupakan salah satu dari penyair-penyair terkenal Indonesia. Chairil adalah seorang yang melegenda pada zamannya.

Meninggal pada usia yang masih sangat muda pada tahun 1949, Chairil meninggalkan jejak yang besar di dalam puisi-puisinya.

Khususnya, salah satu dari puisinya yang paling terkenal ialah “Aku”. Ini adalah sebuah puisi yang datang dari luka yang disebabkan oleh ayahnya yang mengkhianati ibunya. Tapi ekspresi luka Chairil yang personal dan pemberontakannya ditafsirkan oleh banyak orang Indonesia sebagai panggilan untuk berperang. Puisinya “Aku” paling banyak digunakan dalam reli dan protes sebagai pernyataan pemberontakan.

Faktanya, Chairil memang seorang pribadi yang pemberontak. Ia tinggal di jalanan Jakarta dan berteman dengan banyak orang dari kelas atas. Pamannya adalah salah satu dari Perdana Mentri Indonesia tapi Chairil tak pernah mengambil keuntungan dari posisi itu. Bahkan, Chairil tinggal di jalanan atau di pondok yang dibangun ibunya.

Chairil, bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin, adalah penyair di belakang angkatan 45. pergerakan itu menandai sebuah perubahan dalam kesusateraan Indonesia.
Kata-katanya cerdas, singkat dan tidak berbunga-bunga menjadi hal tertinggi dalam angkatan ’45. hal ini bertentangan dengan angkatan sebelumnya seperti penyair Sutan Takdir Alisjahbana yang puisi-puisinya kebanyakan masih menggunakan lirik “tradisional”, rima, dan bentuk yang terstruktur (yang berasal dari pantun).

Artikel ini di bawah lisensi GNU Free Documentation License.
Artikel ini menggunakan material dari artikel wikipedia “Chairil Anwar”.

Tidak ada komentar: