Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 25 April 2008

Belajar Tentang Hidup dari Film


Saya bukan seorang yang arif-bijaksana. Saya hanyalah seorang penikmat film. Jadi, ketika saya menulis artikel ini, tak pernah terbetik di benak saya untuk menggurui siapa pun yang membaca tulisan ini – hanya sebuah pandangan pribadi tentang apa yang dapat saya pelajari mengenai hidup dari FILM.

Berikut adalah judul-judul film yang sangat menginspirasi saya, alasannya, dan apa yang dapat kita pelajari (atau dapat dikatakan sebagai moral ceritanya):


1. Smile Like Monalisa (Diangkat dari kisah nyata)
Film ini bercerita tentang Katherine Ann Watson (Julia Roberts), seorang dosen seni yang merubah cara pandang para mahasiswinya. Katherine dengan lugas memberitahu mereka bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi dan karir cemerlang, sama seperti laki-laki; sebuah pemikiran yang notabene bertentangan dengan anggapan umum masyarakat pada zaman itu ketika Katherine masih hidup, yang mengizinkan perempuan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi hanyalah sebagai cara mengisi waktu luang sampai tiba waktunya untuk menikah. Katherine bahkan mengajukan ide bahwa perempuan juga berhak hidup melajang, tanpa perlu menikah, jika hal itu memang membuat mereka bahagia.

Mulanya Katherine merasa kesulitan menghadapi para mahasiswinya yang luar biasa cerdas sekaligus luar biasa arogan. Semua bahan mata kuliah selama 1 semster telah mereka kuasai, sampai Katherine tak tahu apa yang harus ia ajarkan lagi, karena semuanya telah mereka kuasai. Katherine akhirnya menyusun sendiri bahan mata kuliahnya. Hal ini membuat Katherine mendapat respek dari para mahasiswinya, juga cinta mereka.

Meski sempat disalahpahami sebagai seorang wanita liberal, yang seolah mempengaruhi semua mahasiswinya untuk tidak menikah, dan hanya mengejar karir, Katherine telah berhasil menanamkan pemikiran dalam benak para mahasiswinya: HIDUP adalah sebuah PILIHAN, tak seorang pun berhak memutuskannya untuk kita. Hanya kita sendiri yang berhak menentukan nasib kita sendiri, bukan masyarakat.

Dari Katherine Ann Watson, saya belajar apa artinya membuat pilihan dalam hidup. Saya mengaguminya atas keberaniannya mendobrak tradisi masyarakatnya sendiri. Katherine telah memaknai emansipasi dalam perspektif baru yang lebih segar.


2. The Devil Wears Prada
Andrea (Anne Hathaway) yang buta mengenai fashion, tanpa diduga, diterima bekerja sebagai asisten Miranda (Meryl Streep) di majalah fashion Runway. Akibatnya Andrea kesulitan menghadapi pekerjaan barunya. Bukan saja karena selera berpakaian Andrea yang dianggap ketinggalan zaman dan tidak berhasil mempresentasikan Runway sebagai majalah fashion, tapi juga karena atasannya, Miranda yang perfeksionis dan seringkali sewenang-wenang. Miranda meminta Andrea mencarikan fotocopy naskah novel Harry Potter yang belum diterbitkan hanya dalam waktu beberapa jam. Jika Andrea tidak bisa memenuhi tugas ini, maka Miranda tanpa segan-segan akan memecatnya.

Andrea yang awalnya meremehkan orang-orang di industri fashion karena menurut anggapannya tidak berotak dan hanya mementingkan masalah penampilan terpaksa meralat pendapatnya. Setelah terjun sendiri ke dalamnya, Andrea jadi menghargai dan memahami betapa orang-orang ini ternyata berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Mulai dari jam kerja yang berat, dari pagi hingga larut malam, keharusan berpakaian modis (termasuk memakai high heels yang menyiksa) demi menjaga imej perusahaan, hingga korban perasaan – harus siap mental menghadapi kritik tajam dan celaan Miranda.

Andrea pun berubah menjadi kosmopolitan, pekerja keras, dan pada akhirnya, nyaris kehilangan kekasih dan persahabatannya karena kini Andrea tidak punya waktu lagi bagi dirinya sendiri. Andrea pun dituntut menentukan prioritas, mementingkan karir atau kehidupan pribadi?

Tak dinyana, Miranda mau memberikan petuah bijak padanya. Miranda berkata bahwa hidup memang selalu mengenai membuat pilihan. Manusia seringkali berdalih bahwa ia terpaksa melakukan suatu hal yang tidak disukainya, tapi sebenarnya, sejak awal, ia sudah membuat pilihan tentang apa yang akan ia lakukan terhadap hidupnya, apa pun konsekuensinya.

Dari tokoh Andrea dan Miranda, saya belajar untuk tidak menilai orang dari permukaannya saja, belajar membuat prioritas dalam hidup, tidak gampang menyerah jika terbentur masalah, dan tetap menjadi diri sendiri.


3. Gone With The Wind
Saya selalu mengagumi tokoh Scarlet (Vivian Leigh) yang bisa menghalalkan segala cara untuk terus bertahan hidup, melewati kejamnya perang dan kemiskinan, tetap fokus dalam mencapai tujuannya. Meski caranya memang culas, ia tetap gigih berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan. Bukan keculasan Scarlet yang mengagumkan, tapi tekadnya yang kuat yang layak kita tiru.

Di akhir film, ketika Scarlet ditinggalkan oleh suaminya, Rhett Butler (Clark Gable), meski sempat menangis, Scarlet akhirnya memutuskan untuk memikirkan kepergian Rhett besok saja karena ia takut menjadi gila kalau terus memikirkan kepergian Rhett.

Saya mencontoh Scarlet kalau menemui masalah pelik yang membuat saya khawatir. Saya memutuskan untuk memikirkannya besok saja. Daripada mencari solusi yang tetap saja tidak ditemukan, bukankah lebih baik kita cemaskan besok saja dan hari ini kita menabung energi untuk esok hari?



4. Scent Of A Woman
Charlie Simms (Chris O Donnell) adalah seorang siswa miskin yang diterima di Baird karena mendapat beasiswa. Ia menjadi saksi tindakan vandalisme yang dilakukan teman-temannya sesama siswa. Demi diterima dalam pergaulan dengan teman-temannya yang lebih kaya, Charlie memilih diam, padahal pihak sekolah menekannya untuk membeberkan kejadian yang sebenarnya. Tak terbersit dalam benak Charlie bahwa teman-temannya, sebenarnya menganggapnya tak lebih dari sekedar lelucon. Charlie ‘dipaksa berkorban’ untuk tetap diam dengan resiko dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan rekomendasi untuk melanjutkan ke Universitas Harvard. Charlie mengira sikap diamnya adalah suatu bentuk sikap setia kawan yang wajar, sementara teman-teman Charlie sebenarnya bahkan tidak peduli jika ia dikeluarkan dari sekolah, selama posisi mereka tetap aman.

Sementara itu liburan Thanksgiving tiba. Charlie harus menjaga Letkol Frank Slade (Al Pacino), pensiunan militer yang buta dan menjengkelkan. Tanpa diketahui Charlie, Frank sebenarnya berniat bunuh diri setelah selesai melakukan perjalanan terakhir ke berbagai tempat untuk bersenang-senang yang terakhir kalinya.

Menginap di hotel mewah, mencicipi hidangan lezat, dan menjadi navigator bagi Frank yang buta, yang nekat ngebut dengan Ferarri sewaan hingga hampir ditilang polisi, bagi Charlie benar-benar petualangan yang naik-turun. Tanpa direncanakan, persahabatan pun tumbuh di antara mereka. Ketika Charlie mendapati Frank mencoba mengakhiri hidupnya, ia mencegah Frank bertindak bodoh, meski Frank mengancam akan menembaknya juga, jika menghalangi niatnya bunuh diri. Frank akhirnya mengurungkan niatnya, malah ia menjadi penyelamat bagi Charlie. Frank mengajukan pembelaan luar biasa baginya, hingga Charlie urung dikeluarkan dari sekolah.

Dari film ini, saya belajar 1 hal: dalam hidup, kadang kita tidak cukup menjadi ‘pahlawan’ bagi orang-orang di sekeliling kita, yang mungkin membutuhkan lebih dari sekedar pertolongan dan empati. Mereka tengah menunggu ‘tindakan heroik’ kita yang akan mengubah jalan hidup mereka, atau bahkan hidup kta sendiri.


5.Tuesdays With Morrie (Diangkat dari kisah nyata)
Sejak kematian pamannya yang memiliki jarak umur tak jauh darinya, Mitch Albom menutup dirinya agar tidak lagi terlalu terlibat dengan orang lain. Ia takut harus kembali merasakan kehilangan orang yang dicintai. Akibatnya, Mitch menenggelamkan dirinya dalam kesibukan bekerja, hingga hubungannya dengan kekasih dan keluarganya pun memburuk.

Suatu kali, Mitch melihat berita tentang eks dosennya semasa kuliah, Dr Morrie Schwartz yang kini menderita penyakit parah. Sewaktu kuliah, Mitch adalah mahasiswa kesayangan Dr Morrie. Ketika Mitch lulus, ia berjanji akan terus mengontaki Dr Morrie, tapi Mitch lalai menepati janjinya. Sekarang dihantui oleh rasa bersalah karena telah melanggar janji, Mitch memutuskan untuk menemui kembali Dr Morrie meski sempat ragu-ragu tentang tanggapan Dr Morrie jika ia muncul sekarang. Tapi ternyata kekhawatirannya tidak beralasan. Dr Morrie menerimanya dengan ramah.

Setiap Selasa, Mitch lalu menemui Dr Morrie secara rutin. Dari Dr Morrie, Mitch belajar untuk membuka diri kembali. Bahkan ketika kesehatan Dr Morrie kian memburuk dan Mitch menghadapi ketakutan yang sama akan kembali kehilangan orang terdekat, semua itu tak mampu merusak persahabatan yang telanjur terjalin di antara keduanya. Dalam keadaan sekarat, Dr Morrie bahkan sempat-sempatnya menghibur Mitch dengan berkata, bahwa maut hanya dapat memisahkan seseorang dari kehidupan, tapi tidak dari persahabatan.

Dr Morrie lalu mengadakan upacara pemakaman bagi dirinya, meski ia masih hidup. Tindakannya yang unik ini bukannya tanpa alasan. Ia memilih mendengarkan apa yang akan dikatakan teman-teman dan kerabatnya tentang dirinya sekarang, di saat ia masih punya waktu. Dr Morrie berkata pada Mitch, jika kelak ia meninggal, Mitch masih bisa bicara padanya seperti ketika ia masih hidup.

Dr Morrie akhirnya meninggal, tepat pada hari Selasa, hari di mana ia dan Mitch biasanya bertemu. Hari itu, Mitch memang tidak berbicara lagi pada Dr Morrie, tapi Mitch kini telah berubah. Dr Morrie dalam sisa hidupnya yang pendek telah mengembalikan Mitch, kembali menjadi orang yang berani membuka diri bagi orang-orang terdekatnya, meski suatu hari, Mitch bisa saja kehilangan mereka.

Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama dan berasal dari kisah nyata penulisnya. Saya telah belajar 1 hal dari Dr Morrie, seperti juga tokoh Mitch di film ini (sebagian besar dari dialog di film ini) bahwa hal terpenting dalam hidup adalah belajar bagaimana mencintai dan dicintai.


6. October Sky (Diangkat dari kisah nyata)
Pada suatu malam di bulan Oktober 1957, satelit buatan: Sputnik memasuki orbitnya, sebuah peristiwa yang dinantikan oleh seluruh penduduk kota kecil Coalwood, di Virginia Barat. Bagi penduduk Coalwood yang miskin, menatap sekilas lintasan Sputnik di langit malam Coalwood, hanyalah sebentuk hiburan gratis yang jarang mereka dapatkan. Tapi tidak bagi Homer Hickam, seorang anak buruh tambang batu bara. Penduduk Coalwood memang hidup bergantung dari tambang batu bara, kendati resiko kecelakaan fatal yang kerap kali merenggut nyawa menghantui mereka, belum lagi paru-paru mereka lama-kelamaan akan berlubang karena setiap hari menghirup zat berbahaya di dalam tambang batu bara. Homer begitu terkesan akan Sputnik, sehingga ia lalu memutuskan untuk membuat sendiri tiruan roket. Tadinya, tak seorang pun yang menanggapi ide Homer, tapi Homer tidak menyerah.

Usaha Homer tidak berjalan mulus. Roket pertamanya menghancurkan pagar yang baru saja dibeli ayahnya, setelah bersusah-payah mengumpulkan uang cukup lama. Homer pun dilarang membuat roket lagi. Diam-diam, Homer tetap membuat roket, bekerja sama dengan ketiga teman sekelasnya dan dukungan gurunya, Miss Riley.

Setelah berkali-kali gagal dan sempat dijebloskan ke penjara karena polisi setempat salah mengira, roket buatan mereka telah menimbulkan kebakaran hutan, Homer pun berhasil membuat tiruan roket yang benar-benar bisa meluncur dengan baik. Sayangnya, Miss Riley yang sakit parah dan telah berhenti mengajar, hanya dapat menyaksikan peluncuran roket yang dibuat Homer dan ke-3 temannya dari jendela kamarnya, tempat Miss Riley berbaring sekarat.

Roket yang dibuat Homer dan kawan-kawan berhasil memenangkan penghargaan dalam kompetisi sains nasional. Mereka akhirnya berhasil meraih beasiswa di universitas sehingga nasib mereka tidak perlu berakhir sebagai buruh tambang batu bara dengan paru-paru berlubang. Kiprah mereka membuat penduduk Coalwood memiliki pilihan masa depan yang lebih baik.

Dari Homer Hickam dan ke-3 temannya, saya belajar, bahwa dalam hidup, kita kadang memang harus keras kepala dan tidak boleh menyerah dalam memperjuangkan apa yang ingin kita raih. Gagasan awal yang mulanya terdengar naïf, sembrono, dan terlalu ‘tinggi’, jika benar-benar diwujudkan, tidak saja dapat mengubah nasib kita, bahkan juga – nasib orang-orang di sekeliling kita.


7. Life Is Beautiful
Film ini bercerita tentang kejamnya perang, tapi diberi judul Life Is Beautiful, kedengarannya sangat kontradiktif bukan? Film beralur mundur ini, diceritakan oleh narator filmnya (Joshua), kembali ke masa perang dunia II, ketika Hitler berkuasa. Seperti para warga Yahudi lainnya, Joshua (waktu itu masih anak-anak) beserta kedua orang tuanya, Guido dan Dora dibawa ke kamp konsentrasi secara paksa untuk dijadikan tawanan perang.

Joshua yang memang selalu malas mandi, selamat dari maut. Apa yang oleh Nazi disebut sebagai ‘mandi’ ternyata adalah hukuman mati dengan menghirup gas beracun bagi semua anak-anak Yahudi. Semua manula dan anak-anak Yahudi dibunuh karena mereka memang tidak bisa bekerja di kamp konsentrasi.

Karena tahanan pria dan wanita ditempatkan terpisah dan tidak diizinkan berkomunikasi, Guido diam-diam menyelinap ke ruangan tempat mikropon yang biasanya selalu memperdengarkan propaganda-propaganda politik ala Hitler. Guido menyanyikan lagu yang biasa mereka dengarkan, sebuah upaya memberitahu Dora bahwa ia dan Joshua masih hidup.
Tepat sebelum Hitler dikalahkan oleh sekutu, Guido ditembak mati dengan disaksikan sendiri oleh Joshua. Guido yang tahu bahwa Joshua akan keluar dari persembunyiannya jika tahu ayahnya akan ditembak mati, menyambut ajalnya dengan menirukan gerakan pelawak yang lucu agar Joshua tetap berada di tempat persembunyiannya dan tidak ikut menjadi sasaran tembak. Joshua dan Dora selamat berkat pertolongan tentara sekutu.

Film ini memberitahu kita bahwa seberat apa pun hidup, jika kita mau sungguh-sungguh mengusahakannya, hidup sebenarnya indah. Tidak seharusnya kita menjadi ‘orang mati’ selagi kita masih hidup.


8. Catch Me If You Can (Diangkat dari kisah nyata)
Film ini bercerita tentang Frank Abignale Jr (Leonardo Dicaprio), yang setelah ayahnya bangkrut dan bercerai dengan ibunya, memutuskan kabur dari rumah. Meski masih remaja, Frank telah terlibat dalam sejumlah pemalsuan cek, lalu dengan kepandaiannya berhasil mengelabui banyak orang. Dengan surat keterangan palsu, ia berhasil keliling dunia secara gratis dengan mengaku sebagai co-pilot Pan Am, bahkan berbekal ijazah palsu, ia lalu berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai dokter. Frank bahkan lulus uji tes pengacara hanya dengan belajar keras selama 2 minggu.

Frank jatuh cinta pada Brenda, seorang perawat, yang nyaris dinikahinya kalau saja FBI tidak menemukan jejak pelariannya. Frank akhirnya berhasil ditangkap oleh Carl (Tom Hanks), seorang agen FBI yang bersimpati padanya. Carl yang menganggap Frank hanyalah anak-anak yang salah jalan berusaha mengatur keringanan hukuman untuk Frank. Tapi setelah Frank mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal, ia berusaha melarikan diri dari pesawat yang hampir mendarat.

Frank lalu ditangkap kembali dan dijatuhi hukuman di penjara dengan tingkat penjagaan maksimum. Carl masih berbaik hati mengatur pembebasannya. Frank yang tahu banyak tentang seluk-beluk pemalsuan cek, akhirnya direkrut sebagai agen FBI sebagai syarat pembebasannya. Ketika akhirnya Frank dinyatakan bebas, ia mengembangkan sistem anti pemalsuan dan mendapatkan kekayaan yang lebih dari cukup untuk jasanya itu. Frank lalu berkeluarga dan dikarunia 3 orang anak.

Melalui tokoh Carl yang rela mempertaruhkan reputasinya demi membuat Frank bisa mendapatkan pembebasan bersyarat, kita bisa belajar untuk tidak menilai seseorang dari permukaannya saja, juga belajar untuk berempati dan mau memberi kesempatan kedua bagi orang yang melakukan kesalahan, tapi mau memperbaiki diri. Selain itu dari tokoh Frank, kita belajar filosofi yang dianutnya, seperti yang diceritakan Frank Abignale Sr padanya: “Ada 2 ekor tikus jatuh ke dalam krim. Tikus pertama menyerah dengan cepat, sedang tikus kedua terus berenang dan dengan demikian mengaduk-aduk krim itu sehingga menjadi mentega. Ketika krim itu menjadi mentega, tikus itu akhirnya berhasil keluar.” Frank telah menjadi tikus kedua itu. Ia tidak menyerah pada keadaan, tapi ia membalik keadaan yang tak menguntungkan itu sebagai jalan keluar dari masalahnya.

Tidak ada komentar: