Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Kamis, 19 Januari 2017

Quotes from "Bound" - Okky Madasari

My favorite quotes from "Bound" - Okky Madasari : 

It was then that I began regretting why I had been born. This world wasn't for me. It didn't need me. I didn't like any of it. I was in the wrong place. And I always would be. (page 13)

Boredom. It was so refreshing to hear that one could quit doing something simply out of boredom. But not so for me. (page 14)

I caged my soul and my thoughts. I began building up a high wall. (page 27)

I didn't say anything else. It would be pointless. (page 31)

But I clicked with him. He made it seem as though life was easy, that everything could be had. (page 45)

It wasn't important what people called me because I would always be me. And it didn't matter what I looked like because I was still me. (page 49)

I had my dignity. (page 54)

Every relationship had its expiry date. That was why the people who were once special in our lives became less so over time. (page 92)

I entered the worlds they had created for themselves-magical places full of surprises and never boring. (page 100)

The insane are truly the only people in full possession of themselves. They won't necessarily do as others tell them. They won't play along just to appear normal. People who have lost all reason are those who have attained full consciousness. (page 101)

The soul, meanwhile, was the consciousness found deep in every person, so small, so hidden. Its voice was clear, but too low to hear. The more it went unnoticed, the deeper down it burrowed, defeated by the cacophony of voices from the outside that were deemed to be right. It wasn't just us crazies who had lost this consciousness, but the sane people out there too. (page 117)

"My life is my biggest fear," I said. (page 121)

And wasn't it freedom and courage that allowed a person to think properly? (page 195)

For days I swam in a sea of humanity. It was true that courage and enthusiasm were contagious. (page 204)

Love was love. It had nothing to do with gender, and there was no need to follow all the rules. (page 241-242)  

I'm not making the review because the stories are too gloomy for my taste, but it is a very well written novel. The sad part that makes me burst into tears is Banua's suicide note: I AM FREE. The dialogues are philosophical. The languages are soft and beautiful. Even though the plots and stories is full of pains, it isn't bitter. It's still sweet somehow, that through many difficulties, injustices, and bounds, the main characters: Sasana and Jaka Wani finally get their freedom that they always wanted.

Review Buku Manusia Ide - Otobiografi Mochtar Riady

Umumnya, sebuah resensi buku ditulis dengan format : sinopsis terlebih dahulu, analisis isi buku, lalu disisipkan kutipan di sana-sini. Kali ini, saya ingin mengulas dengan keluar dari format tersebut. Meskipun ini bukan pertama kalinya saya meresensi sebuah buku keluar dari format umum seperti itu. Sinopsis buku ini atau tepatnya ringkasan dari seluruh isi buku ini, sudah diringkas sendiri oleh penulisnya di hlm 305-326. Jadi, saya tidak merasa perlu untuk sekali lagi membuatkan ringkasannya.

Pertama-tama, saya merasa perlu menjelaskan, bahwa saya membuat ulasan buku ini bukan karena jenis bukunya; sebab jujur saja, saya jenis orang yang lebih senang membaca dan mengulas buku fiksi ketimbang non fiksi. Namun begitu, saya ingin mengulas buku ini, bukan melulu karena buku ini adalah pemberian sepupu saya, sehingga ada "beban moral" untuk membaca dan mengulasnya, melainkan apa yang dapat saya pelajari, atau katakanlah, inspirasi yang saya dapatkan selama membaca buku ini.

Di hlm ix (Mukadimah), penulisnya menyatakan bahwa ia menulis sendiri otobiografinya. Frase "menulis sendiri" ini memberi inspirasi dan menerbitkan penghargaan sehingga membuat saya berniat menyelesaikan membaca buku ini; sebab berapa banyak orang yang mengklaim bahwa yang mereka tulis adalah otobiografi, namun sebenarnya diam-diam mereka menyewa jasa seorang ghost writer untuk menuliskan kisah hidup mereka? Setidaknya buku ini ditulis sendiri oleh penulisnya, sekalipun dengan bantuan dua orang penyunting.

Berikutnya, bagian yang saya sukai dari sebuah buku adalah kutipan; jadi izinkanlah saya mencomot di sana-sini kutipan dari buku ini :

"Kemarin" berarti masa lalu yang tidak akan kembali lagi, sudah menjadi sejarah dan cerita masa lalu. Tapi, pengalaman masa lalu bisa menjadi pelajaran untuk membangun masa kini. Karena sejarah, pengalaman, dan pengetahuan masa lalu bisa menjadi pedoman untuk mengembangkan kebijaksanaan, mencapai keberhasilan, dan menghindari kegagalan. (hlm 61)

... keberhasilan saya hari ini disebabkan oleh duka dan derita saya di masa kecil sehingga membuat mental saya menjadi tangguh, tekun belajar, dan bekerja. (hlm 259)

... "saya tahu bahwa saya tidak tahu." Hanya orang yang sadar keterbatasan dirinya akan berusaha dengan segala upaya mencari orang yang tahu melaksanakan tugas yang ingin dicapainya. (hlm 264-265)

Saya sadar bahwa kian besar target, kian besar pula tantangan dari berbagai kekuatan yang berlawanan pandangan dan kepentingan ... Dari pengalaman dan filsafat hidup ini, saya mendapat pencerahan bahwa untuk mencapai sukses yang lebih besar, saya harus senantiasa meningkatkan target serta tantangan terhadap diri sendiri. (hlm 299)

Alasan mengapa buku ini layak dibaca dan rangkaian kutipan sudah saya tuturkan, berikutnya adalah inspirasi, yang adalah bagian penutup dari ulasan saya. Banyak yang menarik dari bagian buku ini di antaranya : 

•Tabanas yang "kalah" dari SDSB (hlm 91-92)
•Bill Clinton yang oleh penulis buku ini digambarkan demikian, "Beliau senang belajar dan rajin membaca. Konon, setiap dua hari beliau membaca habis sebuah buku. Beliau juga senang berdiskusi dan berdebat." (hlm 123). Kesimpulan saya: bacalah setidaknya 15 buah buku per bulan, rajin-rajinlah berdiskusi dan jangan takut berdebat.
•106 kantor cabang dalam 12 bulan (hlm 157)
•Loyalitas dan integritas (hlm 163)
•Tenang, sabar (hlm 170)
•Mengatasi pos-pos gantungan (hlm 227)
•Melepas (hlm 268)
•Lembut, tenang (hlm 278)
   
Daftar di atas adalah bagian-bagian yang inspiratif bagi saya. Dan, tidak! Saya tidak akan menjelaskan mengapa halaman-halaman di atas menurut saya inspiratif. Bukan karena saya tidak ingin ulasan buku ini jadi penuh spoiler; tapi inspirasi itu mungkin tidak akan bisa dipahami sepenuhnya jika tidak dibaca langsung dari bukunya, dan hanya dari ulasannya saja. Lagi pula, saya selalu merasa sebuah ulasan yang baik seharusnya tidak membosankan; sebaliknya sanggup menggugah dan menumbuhkan rasa penasaran supaya yang sudah membaca ulasannya ingin cepat-cepat membaca bukunya.

Akhir kata, untuk seorang pecinta fiksi seperti saya, buku ini tidak "terlalu berat" untuk dibaca (maksudnya, tidak membosankan) untuk dibaca. Bahasanya ringan dan meski Anda bukan pengamat atau pelaku ekonomi sekalipun, buku ini tidak sampai harus membuat dahi Anda berkerut untuk memahami isi buku ini.

Kamis, 05 Januari 2017

Review Novel The Secret Garden

Novel yang ditulis oleh Frances Hodgson Burnett ini berkisah tentang bocah perempuan berusia sepuluh tahun bernama Mary Lennox yang menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya meninggal karena wabah kolera di India. Mary yang terbiasa dimanja selama hidupnya oleh para pelayannya di India, kini harus tinggal di rumah pamannya, Archibald Craven di Misselthwaite Manor di Inggris. Kini ia hidup hanya di bawah pengawasan Mrs Medlock, pengurus rumah yang dingin dan Martha Phoebe Sowerby, gadis pelayan yang ceria, namun ceroboh, yang terheran-heran dengan tingkah Mary yang berharap selalu dilayani dan sangat pemarah.

Bosan hampir selalu ditinggal bermain sendirian, tanpa mainan dan hiburan, Mary pun melanggar larangan untuk tetap tinggal di kamarnya dan mulai menjelajahi berbagai ruangan di rumah besar dan sunyi tempat ia kini tinggal. Ia bahkan berniat menemukan taman rahasia yang kuncinya telah dikubur oleh pamannya setelah kematian bibinya. Taman rahasia milik mendiang bibinya yang telah dibiarkan terbengkalai dan tak terawat selama sepuluh tahun, tanpa sengaja berhasil ia temukan kuncinya. Mary pun diam-diam menjelajah taman-taman di rumah pamannya untuk menemukan taman rahasia yang kini terlarang dan tak boleh dimasuki siapa pun. Hingga suatu hari angin meniup sulur-sulur tanaman yang menutupi pintu ke taman rahasia dan Mary akhirnya berhasil memasuki taman itu.

Sementara tinggal di Misselthwaite Manor, Mary telah beberapa kali mendengar suara tangisan dan berusaha mencari sumber suara tangis itu. Ia dimarahi dengan keras oleh Mrs Medlock ketika tertangkap basah sedang berkeliaran di tempat yang tidak seharusnya ia masuki saat mencoba menemukan sumber suara tangisan yang di dengarnya. Martha pun seperti berusaha menutup-nutupi rahasia suara tangisan itu. Sampai suatu malam, Mary akhirnya menemukan sepupunya, Colin yang ternyata adalah pemilik suara tangisan misterius yang selalu didengarnya.

Setelah kematian ibunya, selama hidupnya, Colin selalu berbaring seharian di kamarnya, terisolir dari siapa pun dan tidak ingin menemui siapa pun. Tumbuh dalam ketakutan bahwa ia bisa mati setiap saat dan diprediksi akan segera meninggal, serta terancam menjadi bungkuk, Colin tumbuh menjadi anak pemarah, mengingatkan Mary akan dirinya sendiri saat masih tinggal di India. Ia dikenal sebagai anak manja pemarah dengan wajah yang selalu masam, sampai akhirnya ia menemukan taman rahasia, berteman dengan burung robin berdada merah yang memberitahunya jalan ke taman rahasia, hingga berhasil menjalin pertemanan dengan Martha, Ben Witherstaff, si tukang kebun pemarah, dan Dickon, adik Mary yang membantunya menumbuhkan kembali taman rahasia yang hampir mati setelah sepuluh tahun tak terurus.

Dengan bantuan Mary dan Dickon, perlahan-lahan Colin memiliki harapan lagi untuk hidup bebas dari ketakutan akan kematian dan menjadi bungkuk. Melalui menghirup udara segar di taman rahasia dan bersama-sama merahasiakan kegiatan mereka untuk membangunkan kembali taman yang hampir mati itu, Colin pun belajar menapak di tanah, berjalan, dan berlari seperti anak normal lainnya. Nyatalah bahwa kematian dan ancaman menjadi bungkuk hanya berasal dari ketakutan Colin akibat ulah para pembantu dan dokternya yang telah menghembuskan desas-desus yang tak benar sejak ia dilahirkan.

Ketika Archibald, ayah Colin yang meninggalkan rumah tak lama sejak kedatangan Mary, akhirnya pulang, ia mendapat kejutan menggembirakan bahwa Colin ternyata telah menjadi sehat dan bahagia, dapat berlari seperti anak normal, tidak cacat dan bungkuk. Sementara taman rahasia yang selama ini terkunci selama sepuluh tahun, perlahan mulai hidup kembali berkat kerja keras Mary, Dickon, Colin, dan Ben Witherstaff yang diam-diam selalu mengurus taman rahasia sekali dalam setahun, kecuali dua tahun terakhir karena ia terserang rematik dan tak dapat memanjat tembok. Bagaimana pun, taman rahasia itu kini telah hidup kembali dan membawa kebahagiaan dengan keindahannya.

Buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca dan cukup mengharukan di beberapa bagian ini memiliki deskripsi indah di sana-sini; namun demikian, berikut adalah beberapa kutipan yang saya sukai :

"Tunggu sampai musim semi tiba-tunggu sampai matahari bersinar di kala hujan dan hujan turun di kala matahari bersinar, dan saat itu kau akan tahu." (hlm 103)

"Hujan sama keras kepalanya seperti aku dulu." (hlm 135)

... Dan dia pikir aku hantu atau mimpi, dan kupikir mungkin dia hantu atau mimpi. (hlm 153)

Mungkin kalau mendapat cukup banyak udara segar dan mengenal Dickon dan si burung robin serta melihat tanaman tumbuh, dia tidak akan terlalu memikirkan kematian. (hlm 166)

"Aku pikir kau hantu atau mimpi." (hlm 167)

... ; matanya bagai potongan langit. (hlm 171)

Mereka yang tidak diinginkan sulit untuk bertahan. (hlm 176)

"... Tapi aku tak berani memberitahumu - aku tak berani karena aku takut tak bisa memercayaimu - dengan sungguh-sungguh!" (hlm 206)

Novel ini sungguh layak dibaca. Kisahnya mengalir indah dan ringan di setiap bab dan membuai; membuat pembacanya jadi berangan-angan bagaimana rasanya tinggal di sebuah rumah dengan ratusan ruangan mirip kastil, dengan taman-taman yang luas, dengan sulur-sulur mawar yang meliliti batang pohon mati di taman rahasia.

Review Novel Chocolat

Izinkan saya memulai menceritakan tentang isi novel yang ditulis oleh Joanne Harris ini, dengan membeberkan kutipan-kutipan indah dalam buku ini.
Berikut yang menurut saya paling indah dan berkesan :

Seni mengubah nasib jelek menjadi baik. (hlm 41)

Mimpi yang satu ini akan kupegang teguh. (hlm 63)

"Kadang-kadang bertahan hidup adalah pilihan yang paling buruk" (hlm 190)

Kebahagiaan. Sesederhana secangkir cokelat atau serumit hati manusia. Pahit. Manis. Hidup. (hlm 211)

Aku membiarkannya. Aku tak mengatakan kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tak berusaha membuatnya tenang. Kadang-kadang lebih baik membiarkan hal-hal berjalan apa adanya, membiarkan kesedihan mengalir begitu saja. (hlm 217)

Malam ini aku hanya ingin mengingat hal-hal yang indah, lucu, hal-hal yang menyenangkan. Sudah ada cukup banyak aura sedih di udara. (hlm 219-220)

Tidak, tempat-tempat tidak kehilangan identitasnya, betapapun jauhnya seseorang mengembara. Hatilah yang mulai terkikis setelah beberapa saat ... Kita tidak meninggalkan jejak saat kita pergi. Seperti hantu, kita tidak punya bayangan. (hlm 222)

"Hidup-lah yang kau rayakan. Semuanya. Bahkan akhir hidup itu sendiri." (hlm 254)

"Itulah yang dilakukan orang tua. Mereka meninggal. Itu kenyataan hidup. Terjadi terus-menerus." (hlm 261)

.... Seperti bunga, dia tumbuh menentang cahaya, tanpa memikirkan atau meneliti proses yang membuatnya seperti itu. Seandainya aku bisa melakukan hal yang sama. (hlm 283)

Aku merasa ringan, tanpa bobot seperti bunga rumput alang-alang. Siap untuk diterbangkan angin ke mana pun. (hlm 333)

"Hidup itu penuh kejutan" (hlm 338)

"Orang-orang selalu berpikir bahwa kesenangan harus berakhir ketika kau sudah tua. Itu tidak benar." (hlm 349)

Sampul buku berwarna merah ini, dihiasi dengan kalimat "Cokelat dipuja sebagai obat pahit kehidupan. Kegembiraan yang dibawanya dahsyat dan mengerikan." Kalimat yang memang cocok untuk menggambarkan isi buku ini yang memang berlatar sebuah toko cokelat bernama La Céleste Praline di Lansquenet-sous-Tannes. Toko yang disewa oleh Vianne Rocher, seorang wanita pengembara dengan anak perempuannya, Anouk dengan kelinci imaginer peliharaannya, Pantoufle, tadinya adalah bekas toko roti yang sudah terbengkalai. Dengan usaha keras memperbaiki dan membersihkan toko sekaligus tempat tinggal itu, maka terciptalah tempat ajaib dan fenomenal, di mana sesuai kalimat di sampul buku ini, penduduk di Lansquenet-sous-Tannes menemukan kebahagiaan kecil di antara kepedihan hidup mereka dengan membaui cokelat di udara dan menikmati manisnya penghiburan.

Pelanggan-pelanggan di toko cokelat milik Vianne memiliki masalah dan kesedihan mereka sendiri. Di antaranya ada Josephine Bonnet, seorang perempuan yang dulunya ingin menjadi penari dan sangat cerdas di sekolah, namun karena dinikahi pria kasar dan kejam yang kerap memukulinya, ia berubah menjadi perempuan pemurung yang suka mencuri barang-barang sebagai pelariannya. Ada pula Guillaume Duplessis, pria yang hidup selama 18 tahun hanya dengan seekor anjing bernama Charly yang tengah sekarat; anjing yang dibelinya ketika ayahnya meninggal. Masih ada Armande Voizin, wanita tua yang eksentrik, menderita diabetes dan hampir kehilangan penglihatannya, hidup terasing dari keluarganya yang hipokrit, hanya dengan kucingnya yang dia namai Lariflete. Satu-satunya yang masih ia pedulikan hanyalah Luc Clairmont, cucunya yang penggagap akibat pendidikan orang tuanya yang ketat, yang harus sembunyi-sembunyi menemui Armande. Masih ada Michel Roux, pria Indian berambut merah yang rumah perahunya dibakar Paul Marie Muscat, suami Josephine Bonnet yang akhirnya ditinggalkan oleh isterinya. Masih ada karakter-karakter lain di seputar toke cokelat milik Vianne, tapi mereka lah karakter-karakter utama yang menarik.

Sementara para pelanggan toko cokelat Vianne mendapat sedikit kehangatan di La Céleste Praline, ada pula yang membenci keberadaan Vianne dan toko cokelatnya, antara lain pastor setempat, Francis Reynaud dan anggota-anggota gerejanya, antara lain Caroline Clairmont, anak perempuan Armande Voizin dan Paul Marie Muscat. Mereka membenci Vianne dengan berbagai alasan. Reynaud membencinya karena Vianne tidak pergi ke gereja, tetap membuka tokonya pada hari Minggu, bahkan saat masa berpuasa. Caroline yang memang sok berkuasa menganggap Vianne meracuni ibunya yang diabetes dengan menjual cokelat, dan Paul Marie Muscat membenci Vianne karena dianggapnya telah mempengaruhi Josephine untuk meninggalkan dirinya.

Ada banyak detil dalam buku ini yang tidak semuanya ingin saya tuturkan. Saya juga tidak ingin memberitahu akhir kisah di novel ini yang berkaitan dengan angin. Tidak, membacanya sendiri dan mencari tahu bagaimana Vianne mengelola toko cokelatnya di tengah pro dan kontra akan lebih menarik daripada mencaritahu dari sinopsis dan review buku ini.

Akhirnya, saya hanya dapat berkata, bahwa buku ini sarat kutipan indah, bab-bab pendek yang ringan dan magis, dalam; dan seperti cokelat, kadang agak sukar dibaca karena plotnya tidak mengalir sangat cepat. Sukar dibaca, karena setelah beberapa bab, saya baru mengetahui bahwa Pantoufle itu ternyata kelinci imaginer peliharaan Anouk, dan detil-detil kecil lainnya yang bertebaran di sepanjang cerita.

Tentu, sebagai penghormatan terhadap buku ini, setidaknya Anda harus menikmatinya dengan sebatang cokelat.