Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 25 September 2017

Mengapa Hari Ini Istimewa?

Setiap hari mungkin tidak banyak bedanya dari kebanyakan orang. Rutinitas dan keseharian yang sama. Mungkin hanya sedikit variasi di sana-sini. Mungkin yang membuat hari ini istimewa adalah kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Seringkali saya membuat terbengkalai apa yang sudah telanjur bermula. Ketimbang menyelesaikannya, saya lebih suka mengerjakan lagi sesuatu yang baru.

Sampai hari ini masih ada tiga buku fiksi yang belum selesai saya baca, sementara untuk non fiksi ... sedikitnya ada lima buku yang belum selesai dibaca. Saya mencoba memaknai hari ini dengan menyelesaikan membaca beberapa buku non fiksi. Setidaknya sebuah bab untuk setiap buku. Begitulah yang saya rencanakan untuk membuat hari ini menjadi istimewa : kesempatan untuk menyelesaikan yang sudah lama tidak disentuh dan ditinggalkan.

Saya juga masih berusaha menyelesaikan membaca (meski hanya beberapa) puisi-puisi dalam Top 500 Poems List yang saya temukan di poemhunter.com. Di antara yang cuma beberapa itu saya menemukan sebuah puisi pendek yang ditulis oleh Robert Louis Stevenson berjudul Love, What Is Love.

Berikut puisinya :

Love, What Is Love 
Robert Louis Stevenson


LOVE - what is love? A great and aching heart; 
Wrung hands; and silence; and a long despair. 
Life - what is life? Upon a moorland bare 
To see love coming and see love depart.


Puisi pendeknya yang berkesan muram itu mengingatkan saya akan tulisan saya sendiri yang beberapa waktu belakangan ini juga cenderung muram. Meski begitu, setiap hari adalah hari yang berbeda dengan tanggal berbeda. Tentu, meski sedikit, hal ini menimbulkan harapan bahwa setiap harinya ada sesuatu yang berbeda yang membuat sebuah hari dapat menjadi istimewa.

Hari ini saya menjadikannya istimewa dengan mencoba menyelesaikan apa yang sudah telanjur dimulai, tapi belum diselesaikan. 

Senin, 24 Juli 2017

Balada Nasi Goreng


Menjadi seseorang yang tidak menyukai aktivitas memasak, hal itu sungguh sebuah pergulatan untuk memerangi semua perasaan antipati di dalam diri. Seperti hari ini. Saya sedang ingin makan nasi goreng untuk makan malam. Dan di lemari masih tersisa dua bungkus bumbu nasi goreng siap saji. Maka saya mencoba memasak sendiri ketimbang merepotkan ibu saya yang tidak selalu sudi direpotkan. Sebab ibu saya adalah ibu yang nyata, bukan ibu sempurna seperti dalam film drama keluarga. Lagi pula, ibu saya belum kembali dari bepergian, dan menunggunya juga hanya membuat saya kelaparan. Ditambah, nasi goreng belum tentu dibuatkan.

Setelah mencari letak mentega dan menyendokkan secukupnya di atas kuali, saya lalu mengambil sebutir telur dan meletakkannya di sebelah kompor. Sementara saya mengosongkan sisa nasi yang tinggal sedikit (ke piring) dari rice cooker yang stekernya sudah saya cabut, menggunting kemasan supaya bumbunya lebih mudah dikeluarkan, kini saya bersiap menyalakan kompor untuk melelehkan mentega. Eh, tapi di mana telurnya? Astaga, saya tidak menyadari sebelumnya, ternyata sebutir telur yang saya letakkan di sebelah kompor dengan sukses menggelinding dan memecahkan dirinya di lantai dapur. Saya jadi punya pekerjaan tambahan memunguti kulitnya dan membuangnya ke tempat sampah. 

Saya terpaksa mengambil sebutir telur lagi dari kulkas. Setelah melelehkan mentega dan memasukkan bumbu, memecahkan telur dan mengaduknya jadi satu, masih harus mengecilkan api di kompor. Berhubung jarang memasak (belum tentu terjadi dalam satu purnama), saya malah salah mematikan kompornya, dihidupkan lagi, mencemplungkan nasi ke wajan, mengaduk-aduknya dengan tangan agak kepanasan, mengecilkan api di kompor. Kali ini berhasil tanpa membuat kompor mati sama sekali. Dan setelah mengaduk berkali-kali sambil menahan panasnya api, akhirnya nasi goreng matang juga dan siap dimakan. Ditemani dua buah bakwan udang sisa lauk tadi pagi; jadi juga saya menyantap nasi goreng sesuai keinginan. Dalam hati membatin, masih enak nasi goreng buatan mas pedagang yang kerap nongkrong di pinggir jalan. 

Selasa, 04 Juli 2017

Lelah (2)

Aku lelah dan kalah. 
Aku tidak ingin lagi berjuang. 
Menyerah lebih mudah ketika daya telah punah. 

Aku limbung dan getir. 
Aku tidak lagi punya tenaga. 
Menyerah lebih mudah ketika getas menjelma jadi nadiku.

Hidup hanya setarikan nafas. 
Tak lagi tersisa cukup waktu.
Aku hanya ingin menyerah. 
Sudah teramat lelah.

Sabtu, 01 Juli 2017

Mencari Tuhan di Luar Kolam

Kita semestinya diajar tidak menunggu inspirasi untuk mulai melakukan sesuatu. Tindakan senantiasa menghasilkan inspirasi. Sedangkan inspirasi jarang menghasilkan tindakan. - Frank Tibolt

Ini hari pertama di bulan Juli 2017. Hari Sabtu yang kulewatkan dengan melewatkan sebuah kebaktian yang tidak ingin kuhadiri. Lama-kelamaan menjenuhkan. Hanya segelintir yang masih bersedia menghadiri. Dan datang lebih karena kewajiban, ketimbang kesukaan. Aku lelah mendengarkan teori tentang bagaimana harus menjadi rohani. Aku bukan pecinta teori; aku suka yang serba pasti. Aku tak suka jika manusia hanya pandai bicara, tapi pandir dalam bertindak. Aku tak suka tipe perencana, tapi alpa dalam menjadi pelaksana.

Jadi, aku sembunyi di dalam kamarku, sarangku, seperti laba-laba menenun jaring-jaringnya. Setelah sarapan pagi yang kesiangan, aku membaca. Usai membaca, kini aku menuliskan pikiran-pikiran tergelapku, yang jika kukabarkan kepada seorang saja dari para pembicara dan perencana itu, yang selalu lupa dan alpa, bagaimana bertindak dan menjadi pelaksana, maka aku pasti dicekoki dengan ribuan petuah dan tatap mata yang menghunjam. Mungkin, jika di dalam film horor, aku sudah disembur dengan air suci dan salib akan mulai diacung-acungkan padaku.

Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan, mengapa membiarkan orang-orang yang bagai duplikasi segerombolan Farisi dan ahli Taurat dibiarkan nyaman berkoar-koar tentang menjadi rohani. Bagiku, segala sesuatu yang salah pasti oknumnya, bukan wadahnya. Aku merasa seperti orang buta yang terlahir buta sejak lahirnya, yang bertemu Tuhan bukan di sinagoga. Mendapatkan kesembuhan, lalu dijejali pertanyaan. Aku merasa hidup di zaman Zakheus, di mana para pemungut cukai dianggap tidak layak berada di Bait Allah. Seolah hanya orang suci yang berhak mendapatkan Tuhan.

Bukankah orang sakit yang memerlukan Tabib? Tidakkah orang-orang berdosa berhak disembuhkan dari penyakit dosa yang menggerogoti? Bukankah banyak domba hilang, mirip dengan orang di tepi kolam Betesda, yang sudah 38 tahun sakit dan memerlukan seseorang memapahnya segera masuk kolam begitu guncangan pertama reda, supaya bisa disembuhkan dari penyakitnya? Dan di manakah orang yang memapahnya? Bukankah tidak ada? Kesembuhan tidak didapat dari nyemplung ke kolam. Dia bertemu Tuhan dan beroleh kesembuhan di luar kolam.

Aku berada di luar kolam. Dan semoga aku bertemu Tuhan. Aku di luar kolam, dan semoga aku dan sesama pesakitan, bisa sama-sama mendapatkan kesembuhan, dan Tuhan, tanpa harus nyemplung ke kolam yang begitu didewa-dewakan. Yang mencapainya harus berebutan, dan ditunggu seharian, tanpa kepastian kapan lagi akan diguncangkan, tanpa jadwal yang sudah lebih dulu ditetapkan. Dan nyemplungnya pun harus duluan.

Ingatkan aku, jika aku sembuh nanti, berikan aku tenaga, juga hati, menceburkan siapapun lebih dulu ke dalam kolam itu, begitu selesai diguncangkan. Tapi jika tak keburu, mari kita sama-sama mencari Tuhan, di luar kolam.