Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 19 Februari 2019

Resensi Film Isabelle

Film garapan sutradara Rob Heydon dari naskah yang ditulis oleh Donald Martin ini berkisah tentang pasangan Kane, Matt (Adam Brody) dan Larissa (Amanda Crew) yang baru saja pindah ke rumah baru mereka yang indah. Mereka bertetangga dengan Ann Pelway (Sheila McCarthy) dengan anak gadisnya yang bisu dan lumpuh, Isabelle (Zoe Belkin). 

Kebahagiaan Matt-Larissa menjelang kelahiran anak pertama mereka pun terenggut saat Larissa mengalami pendarahan dan bayinya tak berhasil diselamatkan. Kesedihan Larissa berujung pada menyalahkan Matt. Apalagi pasca kematian bayinya Larissa mulai mendengar tangis bayi dan berdelusi melihat bayinya menangis di boks tempatnya terbaring. Pada kenyataannya, Larissa menimang boneka beruang yang disiapkan untuk menghias kamar bayinya. 

Mencemaskan kondisi istrinya, Matt membawa Larissa berobat kepada terapis. Sayangnya kondisi kejiwaan Larissa semakin memburuk karena Isabelle terus mengawasi gerak-gerik Larissa dari jendela kamarnya sepanjang hari. Bahkan Larissa juga merasa ada seseorang menyelinap masuk ke dalam rumahnya. Belakangan Larissa menyadari Isabelle yang memasuki rumahnya, bahkan berbaring di ranjang di samping Matt. Matt tentu tak percaya karena Isabelle lumpuh dan dia selalu duduk di jendela di loteng kamarnya. Apalagi hanya Larissa yang mendengar suara tangis bayi dan mencium bau busuk. Matt sama sekali tidak mendengar, melihat, atau mencium semua yang dikatakan Larissa. Matt berusaha bersabar menghadapi Larissa. 

Sadar pertolongan medis tak kunjung membuat kondisi Larissa membaik, Matt mulai memikirkan pertolongan spiritual dari Romo Lopez (Dayo Ade) yang meyakinkan Matt bahwa Larissa kerasukan sebab Larissa sempat meninggal selama semenit akibat eklampsia (serangan berupa kejang atau koma pada wanita hamil) dan mengaku melihat suatu makhluk menariknya ke dalam api saat dia meninggal. 

Matt yang sebelumnya meminta bantuan Romo Lopez kemudian berubah pikiran dan memilih menghubungi iparnya, Jessica (Krista Bridges) yang membawa Larissa menemui Pedro (Michael Miranda), penasihat spiritual yang membantu Larissa merelakan kematian bayinya. Larissa juga diperingatkan oleh Pedro bahwa ada arwah yang ingin merasuki dirinya karena saat Larissa meninggal dia telah melewati pintu gerbang kematian, sehingga menarik arwah untuk mengincar Larissa. Meski merasa lebih baik, kesedihan akibat kehilangan bayinya membuat Larissa tidak memiliki semangat hidup. Situasinya semakin parah saat Isabelle muncul di dalam kamarnya dan membuat Larissa sangat ketakutan. Isabelle bisa mendadak menghilang. Puncaknya Larissa memergoki Isabelle mengenakan gaun pengantin Larissa saat dulu menikahi Matt. Saat Larissa yang ketakutan menembak Isabelle, yang tersisa hanya gaun pengantinnya, tapi Isabelle lenyap begitu saja.

Saat Matt pulang dan menemukan Larissa dalam keadaan terguncang, dia terpaksa menemui Ann untuk memperingatkan Isabelle  agar tidak mengintai Larissa sehingga membuatnya ketakutan. Tak mendapat jawaban saat mengetuk pintu rumah, Matt memutuskan untuk menerobos masuk. Sambil terus memanggil Ann, Matt naik ke loteng. Matt segera mencium bau busuk, tapi terus masuk ke kamar Isabelle. Di dalam kamar, Matt terkejut menemukan jasad Isabelle. Matt pun segera menghubungi polisi. Matt lalu kembali ke rumahnya dan sama sekali tak menyadari bahwa arwah Isabelle telah mengambilalih tubuh Larissa, sementara  Larissa yang asli menggantikan Isabelle duduk di kursi rodanya di dekat jendela. 

Tak lama, Matt melihat Ann pulang dan segera menelepon polisi yang memang sedang dicari karena jasad Isabelle yang ditemukan dalam posisi tergantung. Isabelle jelas dibunuh, bukan meninggal secara wajar. Matt sangat terkejut saat polisi memberitahunya bahwa Matt pasti salah lihat karena jasad Ann baru saja ditemukan di mobilnya. Pada saat itu Matt baru sadar bahwa yang bersama dengannya bukan Larissa, tapi arwah Isabelle yang lalu berusaha menyerang Matt. Sementara itu arwah Ann yang sengaja bunuh diri untuk menemani Isabelle mengira putrinya masih menghantui kamar. Baik arwah Ann maupun Larissa sama-sama terkejut. Ann pun minta maaf pada Larissa karena Isabelle sudah menyabotase raganya.

Sebelumnya, Isabelle diketahui meninggal karena dikorbankan di dalam ritual kepada setan. Saat kematian Isabelle bersamaan dengan hari kepindahan Matt-Larissa dan bayi mereka juga meninggal karena Isabelle. Ann yang menyesal hanya dapat menghukum dirinya dengan melukai kedua telapak tangannya, sadar bahwa doa-doanya tidak bisa mengubah keadaan. Isabelle sudah telanjur berubah menjadi arwah penasaran.

Matt berhasil meloloskan diri dari arwah Isabelle dan menemukan Larissa di kursi roda. Teringat perkataan Pedro yang sempat ditemui Matt tanpa kehadiran Larissa, Matt terpaksa mencekik Larissa untuk mengembalikan Larissa ke pintu gerbang kematian. Dia terus meminta Larissa untuk memilih hidup dan tidak menyusul bayi mereka yang sudah meninggal. Aksi Matt dihalangi oleh polisi yang sudah menyerbu masuk ke kamar Isabelle. Adegan lalu berganti ke Larissa yang mengalami eklampsia di ruang bersalin. Dokter memberitahu Matt bahwa Larissa sempat meninggal selama semenit. Adegan berikutnya memperlihatkan Matt dan Larissa membawa pulang bayi mereka. Saat akan memasuki rumah, Larissa sempat melihat ke arwah Isabelle yang mengintai mereka dari jendela kamarnya.

Film ini sukses membangun suasana mencekam sejak di menit pertama. Nyanyian yang membuat merinding disertai dengan suara napas mengerikan, layar yang gelap, kenop pintu di kamar yang setengah terbuka cukup memberitahu penonton bahwa film ini bergenre horor; namun untuk kategori horor, film ini jelas film horor yang depresif. Penonton dibawa memasuki depresi yang dirasakan Larissa saat kehilangan bayinya dan terus mendengar tangis anaknya dan melihatnya berada di boks. Penonton semakin dibuat depresi dengan suara musik yang mencekam dan mengagetkan. Penataan musik jelas memberikan andil besar untuk membangun suasana mencekam di film ini. Akhir film ini sendiri seperti menawarkan dua opsi: 1) Larissa dan Matt lalu melanjutkan hidup dan berhasil memiliki anak kedua mereka 2) Larissa kembali ke pintu gerbang kematian dan berhasil membalikkan keadaan sehingga baik dia maupun bayinya selamat. 

Secara keseluruhan, film ini cukup menjengkelkan. Saya sendiri sedikit bersimpati dengan karakter Isabelle yang naas. Terlahir bisu dan lumpuh, orang tuanya tidak memberinya pertolongan yang dia butuhkan, justru menempatkannya di kamarnya seumur hidupnya. Tidak ada informasi yang jelas apakah Isabelle pernah bersekolah, bisa membaca dan menulis atau tidak, dan apakah sejak lahir dia sudah disekap di lotengnya sampai hari dia dibunuh dalam ritual sesat yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Karakter Ann sendiri sangat membingungkan. Ann bisa mengendarai mobil, tapi gaya berpakaiannya seperti perempuan di zaman Victoria, dan dia juga mendandani Isabelle dengan gaun putih panjang yang terlihat kuno. Ann membaca kitab suci dan berdoa, tapi dia juga mengorbankan Isabelle dalam ritual. Entah karena Ann begitu primitif atau begitu bodoh, dia tidak membawa Isabelle ke sekolah khusus, tapi menyekapnya di loteng kamarnya. Alih-alih memberi pendidikan kepada Isabelle agar dia bisa eksis sekalipun bisu dan lumpuh, Ann justru membunuhnya dalam ritual? 

Helen Keller bisu, buta, sekaligus tuli, dan sekalipun saat kecil juga sangat pemarah karena frustasi dengan kondisinya, tapi dengan pendidikan dari guru-gurunya, dia menjadi salah satu perempuan paling inspiratif yang pernah hidup di dunia ini. Isabelle hanya bisu dan lumpuh. Dia tidak buta dan tuli. Mengapa Ann tidak memberinya buku-buku bagus yang menyemangatinya ketimbang seharian mengintai orang dari jendela kamarnya? Mengapa Ann tidak memberinya radio atau piringan hitam supaya Isabelle terhibur? Kalau pun Isabelle tidak bisa berdansa karena lumpuh, setidaknya dia bisa bertepuk tangan atau menggoyangkan kepala. Mengapa pula Ann menempatkan Isabelle di loteng? Kenapa tidak membawanya berjemur di halaman rumah dan menghirup aroma bunga? Tak cukup menyekapnya selama lebih dari dua puluh tahun, dia harus membunuh Isabelle juga di dalam ritual sesat? Tak heran Isabelle begitu marah. 

Meski begitu, kalau mau merasuki tubuh manusia, ketimbang Larissa, seharusnya Isabelle merasuki ibunya saja. Toh ibunya memang berhutang padanya karena sudah membunuhnya. Ketimbang menakutkan, film ini sebenarnya menjengkelkan. Satu-satunya yang membuat penonton merinding adalah penataan musiknya.

 Jadi, apakah Isabelle jahat? Menurut saya, Ann jauh lebih jahat. Entah jahatnya karena terbelakang cara berpikirnya atau karena dungu, tetap saja dia karakter paling menjengkelkan di film ini. Untunglah kejengkelan ini sedikit teredam dengan akting Adam Brody. Bagi yang familiar dengan serial The OC pasti sudah tidak awam dengan akting Brody sebagai Seth Cohen. Di film ini terlihat transformasi Brody dari karakter remaja di The OC menjadi pria dewasa sebagai Matt Kane.

Kamis, 31 Januari 2019

Resensi Film The Destroyer

Film yang disutradarai oleh Karyn Kusama ini dibuka dengan adegan detektif Erin Bell (Nicole Kidman) membuka matanya di dalam mobilnya yang diparkir di bawah jalan layang, sementara berjarak beberapa kaki beberapa remaja tengah bermain papan luncur. Adegan lalu berganti saat Erin dengan sempoyongan berjalan ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) di mana mayat seorang pria tertelungkup di trotoar. Darah menggenang di sekeliling kepalanya yang tertembak. Di bagian tengkuk mayat itu terlihat tato berbentuk tiga lingkaran hitam berjajar. 

Melihat kedatangan Erin, kedua rekannya bereaksi negatif. Mereka jelas tidak menganggap Erin cukup kompeten untuk menangani kasus sementara dia terlihat kacau dan mabuk berat. Erin tidak menggubris sikap kedua rekannya dan menanyakan beberapa pertanyaan. Tak ada identitas yang dapat ditemukan pada mayat pria itu dan terpaksa hanya disebut John Doe. 

Adegan lalu beralih ke Erin yang berjalan menuju ruang kerjanya. Rekan kerjanya mengkonfrontasinya karena menjadikan kantor sebagai tempat Erin menerima surat-surat pribadi. 

Setelah membuka salah satu amplop dan menemukan selembar uang kertas dengan noda tinta, Erin yang kini bekerja di LAPD bergegas menemui koleganya di FBI. Mengandalkan bantuan tak resmi dari koleganya itu, Erin mendapat konfirmasi bahwa ada kecocokan pada identitas pria yang mengiriminya lembaran uang itu. Erin yakin bahwa Silas memang muncul kembali. Erin lalu melanjutkan penyelidikannya, sementara adegan demi adegan memberikan kilas balik bagaimana Erin muda dan partnernya, Chris (Sebastian Stan) melakukan misi penyamaran dengan bergabung di sebuah geng yang dipimpin Silas (Toby Kebbell). 

Berkat koneksi dari Toby (James Jordan), sepupu Erin yang terlebih dulu menjadi anggota geng dan tidak mengetahui profesi Erin sebagai agen FBI, keduanya berhasil diterima sebagai anggota geng pimpinan Silas. Selama menjalani penyamaran, Erin dan Chris kemudian menjadi sepasang kekasih. Saat Erin menguping pembicaraan antara Silas dan kekasihnya, Petra (Tatiana Maslany) yang merencanakan merampok sebuah bank, Erin segera memberitahu Chris. Dari adegan kilas balik ini, diketahui bahwa Erin mengandung anak Chris; karena itu Erin lalu membujuk Chris untuk mengambil sebagian dari hasil rampokan dan sengaja tidak memberitahukan rencana perampokan Silas kepada atasan mereka. Mereka sepertinya berencana pensiun dini demi bayi yang dikandung Erin.

Perampokan geng Silas dan rencana sabotase Erin-Chris tadinya berjalan lancar, sampai Silas dibuat berang karena wanita pegawai bank yang berusaha bersikap heroik membohongi Silas bahwa dia tidak memasukkan juga tumpukan uang yang sudah ditandai dengan tinta. Di dalam kemarahannya, Silas masuk kembali ke dalam bank untuk menghabisi si pegawai. Chris terpaksa membuntuti Silas untuk menghentikannya dan terpaksa mengungkap identitasnya sebagai agen FBI. Sayangnya, justru Chris dan si pegawai bank yang tewas di tangan Silas. 

Melihat Silas kembali tanpa Chris, Erin terguncang begitu menyadari bahwa Chris sudah dihabisi Silas. Toby yang semobil dengan Erin juga terguncang saat mengetahui baik Erin maupun Chris ternyata polisi. Erin lalu melajukan mobil sampai menabrak tempat sampah. Erin lalu menyembunyikan uang hasil rampokan ke dalam salah satu tempat sampah.

Kembali ke masa sekarang, Erin mendapat kabar dari Ethan(Scoot McNairy), ayah adopsi Shelby (Jade Pettyjohn), anak kandung Erin-Chris yang kini berusia enam belas tahun bahwa putrinya sering membolos dan sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Erin menemukan Shelby tengah bercumbu dengan pacarnya yang jauh lebih tua, Jay (Beau Knapp) di sebuah bar. Alih-alih berhasil menggelandang Shelby untuk pulang, justru Erin yang digelandang petugas keamanan di bar itu setelah memukul Jay. Sikap Jay dan Shelby jelas-jelas menunjukkan permusuhan. Jay bahkan mengoloknya sebagai pelacur mabuk. Erin terpaksa meminta Ethan untuk menjaga Shelby karena kembalinya Silas membuat Erin tak punya waktu untuk menangani Shelby, apalagi Shelby kemudian masuk rumah sakit akibat lengannya patah saat membantu Jay yang terlibat pertengkaran di bar. 

Penyelidikan Erin dimulai dari Toby. Dari sepupunya yang kini sekarat itu, Erin lalu menemukan Arturo (Zach Villa) yang mengarahkannya pada DiFranco (Bradley Whitford), pengacara yang mencuci uang hasil rampokan geng Silas. Meski babak belur dihajar pengawal pribadi DiFranco, Erin lalu mengumpulkan tekad dan sisa tenaganya untuk menghajar balik, baik si pengawal maupun DiFranco sendiri. Dari interogasi Erin terhadap DiFranco, meski mengenal ayah Petra, DiFranco tak berusaha menolong Petra untuk keluar dari geng, bahkan sempat meniduri Petra selagi Petra masih anak-anak. Berkat informasi yang dikorek Erin dari DiFranco diketahui bahwa selalu Petra yang menjadi penghubung. Silas sendiri tak pernah muncul. Erin lalu membuntuti Petra. Tak dinyana, Petra dan kelima anggota geng lainnya ternyata berniat merampok bank. Setelah memberi informasi dan meminta bantuan dari polisi lokal, tanpa menunda Erin masuk ke dalam bank. Dengan bantuan hanya dua polisi yang paling cepat tiba di TKP, mereka menyerbu ke dalam bank dan terlibat baku tembak. Beberapa anggota geng, termasuk Petra berhasil kabur. Erin lalu mengikuti Petra yang tertembak di kakinya dan berhasil menculiknya. Erin tak ingin menyerahkan Petra sebelum berhasil menemukan Silas. Setelah mengintimidasi Petra, Erin berhasil mendapat lokasi dan waktu Silas akan muncul untuk mengambil uang hasil rampokan gengnya. Tanpa membuang waktu  Erin segera mencari Silas, tapi sebelumnya Erin meyakinkan Ethan untuk membawa pergi Shelby dengan membekalinya uang hasil rampokan Petra. Karena Ethan menolak, Erin terpaksa menyuap Jay dengan uang hasil rampokan Petra agar meninggalkan Shelby untuk selama-lamanya dan tidak mengontakinya lagi. Jay sempat bimbang, tapi karena tergiur oleh uang yang ditawarkan Erin, Jay akhirnya setuju.

Kembali ke Silas, Erin berhasil menemukan pria pembunuh Chris itu dan menembaknya berulang kali hingga tewas. Setelah dendamnya terbalas, Erin lalu beristirahat di dalam mobilnya. Kondisinya semakin lemah akibat lebam dan memar di tubuhnya yang tak sempat diobati karena fokus memburu Silas. Adegan lalu beralih kembali ke adegan awal saat Erin menuju TKP dan mengajukan pertanyaan kepada kedua rekannya, bagaimana jika dia tahu siapa pembunuhnya.

Satu hal yang patut dikagumi dari film ini adalah kecerdikan yang disuguhkan dari naskah besutan Phil Hay dan Matt Manfredi ini. Sebenarnya, ending film ini sangat tipikal. Erin berhasil membalaskan kematian Chris dengan membunuh Silas, sekaligus menyingkirkan Jay dari kehidupan Shelby, juga akhirnya berhasil mengungkapkan rasa cintanya pada anak semata wayangnya itu. Ending tipikal khas film thriller atau action, tapi kecerdikan Hay-Manfredi yang menyembunyikan endingnya dan 'menipu' penonton untuk percaya bahwa film ini beralur maju, ending yang tipikal itu malah terkesan elegan, terasa seperti plot twist. Di adegan pertama, Hay-Manfredi sengaja tak menyisipkan keterangan "beberapa ... sebelumnya" atau "beberapa ... jam sebelumnya". Tipuan sederhana yang cerdik. Secara keseluruhan, film ini mudah dicerna. Plotnya tidak rumit, dan kita harus mengakui kepiawaian tim tata riasnya yang berhasil menyulap wajah cantik Nicole Kidman menjadi kusam dan penuh keriput. Singkatnya, film ini lumayan bagus buat selera saya. 

Rabu, 20 Juni 2018

BELAJAR TENTANG HIDUP DARI FILM HOROR

Konon, film horor dibuat hanya untuk menakut-nakuti penonton, sekadar seram, dan tidak punya pesan moral yang positif. Beberapa film berikut bisa mengubah stereotip negatif yang telanjur melekat pada film horor :

1. Thir13en Ghosts (2001)

Tema film ini mungkin sudah sering dipakai dalam kebanyakan film horor: rumah baru yang ternyata berhantu; namun pengemasan dalam jalinan ceritanya membuat film ini terasa berbeda. Umumnya, rumah berhantu digambarkan sebagai rumah tua yang angker, namun rumah berhantu di film ini justru terkesan canggih dengan konsep Lazaruz Machine. Jika dalam film horor, mantera pengusir hantu jamaknya terdapat pada buku dan harus dibacakan oleh orang yang kompeten dalam pengusiran arwah, di Thir13en Ghost, mantera dituliskan pada kaca yang bisa digotong ke mana-mana, bahkan para hantu bisa dilihat dengan kacamata khusus. Hal yang bisa kita pelajari dari film ini adalah sebuah ide yang terkesan kolosal jika dieksekusi dengan kreatifitas dan inovasi, apalagi jika didukung dengan teknologi yang aplikatif dan praktis bisa menjadi produk yang disukai.

2. Warm Bodies (2013)

Film ini meramu beberapa genre sekaligus: horor, komedi, dan roman. Karakter zombie bernama R (dia tidak bisa mengingat namanya saat masih menjadi manusia) dan Julie mengajarkan kita tentang pentingnya kejujuran dan saling memaafkan dalam sebuah hubungan. Hal ini tergambar saat R mengaku pada Julie (manusia yang dicintai R) bahwa dia yang membunuh dan memakan Perry, teman Julie. Selain itu, hubungan yang sehat bukan saling mencelakai, sebaliknya saling membantu, seperti R yang menolak memangsa Julie dan menjadikannya zombie. R justru mencoba melindungi Julie dari zombie lain yang ingin memangsanya dengan mengoleskan darah ke wajah Julie dan mengajarinya berjalan seperti zombie untuk kamuflase.

3. Vamps (2012)

Serupa dengan Warm Bodies, Vamps juga mencampurkan genre horor dengan komedi romantis. Dari karakter Goody yang sudah bosan menjadi vampir sejak 1841, kita bisa memetik pelajaran hidup bahwa bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar. Goody tadinya berniat mengakhiri hidup dengan membiarkan dirinya musnah terbakar sinar matahari. Persahabatannya dengan Stacy yang baru saja menjadi vampir membuat hidup Goody menjadi lebih bermakna. Ini mengajarkan kita bahwa sebagai makhluk sosial, kita memang membutuhkan sahabat. Dari karakter Goody kita juga diajarkan untuk tidak takut pada perubahan dan membiasakan diri beradaptasi. Goody yang merupakan generasi abad ke-18 harus belajar beradaptasi dengan teknologi dan membiasakan diri dengan komputer dan ipad. Adaptasinya menjadi lebih menyenangkan saat Stacy mengenalkannya pada aplikasi Photoshop sebab sebagai vampir, mereka tidak bisa melihat bayangan mereka pada cermin.

4. The Woman in Black (2012)

Dari karakter Arthur Kipps, kita bisa belajar untuk melanjutkan hidup setelah kehilangan orang yang dicintai. Meski masih merasakan kehadiran mendiang istrinya, Stella yang meninggal saat melahirkan, Arthur tidak tenggelam dalam kesedihan. Dia tetap bekerja dan justru tergerak untuk menolong orang-orang yang butuh bantuan. Arthur bahkan tak segan-segan untuk menolong arwah Jennet yang frustasi karena dipisahkan dari anaknya. 

5. Flatliners (2017)

Berkisah tentang lima mahasiswa kedokteran yang melakukan eksperimen ilegal untuk mengetahui apa yang terjadi pada manusia setelah mati, film ini sarat pesan moral. Karakter Jamie yang memilih meninggalkan pacarnya, Alicia setelah menghamilinya mengajarkan kita untuk menjadi orang yang tidak lari dari tanggung jawab supaya tidak dihantui oleh rasa bersalah. Dari karakter Marlo, kita diajarkan untuk berani mengakui kesalahan ketimbang menutupinya. Marlo yang tanpa sengaja membunuh pasiennya mencoba menyembunyikan kesalahannya dengan berdalih bahwa pasiennya meninggal karena sengatan ubur-ubur. Sementara dari Courtney, kita bisa belajar memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah kita lakukan, sebab sebagai manusia kita memang tidak luput dari melakukan kesalahan. Courtney terus dihantui oleh rasa bersalah setelah adiknya, Tessa meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu mobil dikendarai oleh Courtney. Dari Sophia, kita bisa belajar untuk menerima bahwa banyak orang memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Hal ini seharusnya tidak menjadi sebuah alasan untuk memusuhi atau mencelakai mereka. Sophia yang dengki karena Irina lebih berprestasi ketimbang dirinya meretas data Irina dan mempermalukannya. Dari Irina, kita bisa belajar pelajaran mengampuni dan dari Ray, kita bisa belajar untuk tidak menceburkan diri ke dalam masalah yang tidak perlu, namun untuk membantu beberapa teman, kita harus rela untuk direpotkan. 

Setelah mencermati beberapa film di atas, masihkah bersikukuh dengan stereotip sekadar seram yang selama ini melekat pada film horor?

Rabu, 23 Mei 2018

Dinding-dinding Bercerita

Sabtu yang silam, saya berkesempatan menghadiri pameran mengenai kehidupan seorang Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk catatan dan arsip. Pameran yang masih berlangsung hingga 3 Juni nanti. Bisa diintip di IG @dialogue_arts. Hal yang pertama membingungkan saya adalah jejeran pakaian yang dipajang di etalase yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Ini memang tempat pamerannyakah? Berhubung baru pertama kali menjejakkan kaki ke sini. Setelah masuk dan mendapati ruangan dengan pencahayaan yang temaram, mata saya langsung tertumbuk dengan larangan untuk mengambil gambar pada dinding yang berisi potongan biografi yang ditempelkan di sepanjang dinding. Dengan instrumentalia lembut, keremangan cahaya, dan untaian kalimat yang tertera dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia) di sepanjang dinding-dinding putih, saya bersama para pengunjung lainnya dibawa menelusuri masa silam. Masa di mana Pramoedya masih hidup dan imajinasi seolah ditarik ke waktu di mana saya bahkan belum terlahir. 

Dimulai dari masa kecilnya yang tiga kali tinggal kelas, kita (setidaknya saya) seolah diberitahu bahwa kisah yang sedang kami ikuti bukanlah kisah tentang kemenangan dan kesuksesan. Ini adalah kisah tentang seorang yang telah merasai apa itu kalah bahkan dari usia yang masih sangat belia. Sekalipun saya tumbuh dengan keyakinan bahwa rokok itu sejenis candu yang egois yang bisa membunuh siapa saja (sekalipun perlahan dan tidak drastis), saya tidak bisa tidak memahami dan bersimpati bahwa rokok mungkin menjadi semacam pelarian dari rasa kalah bagi Pramoedya. Dihiasi dengan berbagai kutipan yang inspiratif, lantang, dan tegas, ada beberapa kutipan yang terasa sangat membekas.

Beberapa di antaranya adalah :

I happen to be pretty productive when I am in jail. When you are in jail, you have to spend more time with yourself.

Pramoedya malah lebih produktif saat dia dibui. Saya mencoba menempatkan diri sendiri di tempatnya. Mungkin jika saya yang dibui, saya hanya akan menangis dan merutuki nasib. Mungkin karena dia sudah belajar kalah saat masih di usia sekolah, hidup sudah menempa semangat untuk berjuang sejak awal. 

Saya selalu percaya, dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis bahwa hari esok, akan lebih baik dari hari sekarang.

Mungkin hari ini kita merasa wajar bersikap skeptis dan pesimis jika mendengar kalimat afirmasi yang diutarakan para motivator. Bagaimana jika ucapan ini terlontar dari seseorang yang hidup dalam penjara selama bertahun-tahun lamanya? Seseorang yang karya-karyanya dihancurkan, tapi tidak kehilangan semangat untuk membuat karya yang baru. Seseorang yang memakai material apa saja untuk bisa terus berkarya. Terus menulis, menuangkan pikirannya, memberikan kontribusinya pada dunia tak peduli ada ancaman kerangkeng di luar, dan kekalahan yang mendera di dalam. Jika api harapan belum lagi padam, terlontar dari mulut seseorang yang pernah merasai penjara hingga bertahun-tahun lamanya, masihkah kita bisa dengan skeptis berujar bahwa afirmasi tidak mengubah keadaan? Tidak ada cukup penjelasan yang dapat menerangkan "sesuatu yang mistis bahwa hari esok, akan lebih baik dari hari sekarang." Tubuh boleh terpenjara, namun semangatnya untuk terus berkarya dan berjuang tetap merdeka tanpa kungkungan.

Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Mungkin hari ini kita tidak lagi merasakan kolonialisme, tapi bisa saja mentalitas kita adalah mentalitas yang terjajah. Mungkin terjajah oleh stigma, peraturan tak tertulis, atau yang lainnya. Seorang Pramoedya seolah mengingatkan kita untuk berhenti menjadi pengecut dan mulai melawan penjajahan, apapun bentuknya.

Yang harus malu itu mereka karena mereka takut untuk bekerja. Kau kan kerja. kau tidak boleh malu. Mereka yang harus malu, Tidak berani kerja. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan. 

Selama pekerjaan itu halal, bahkan profesi semacam batur atau tukang becakpun profesi yang mulia. Setidaknya, menurut interpretasi saya demikian.

Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan.

Mungkin kita sudah sering mendengar kalimat semacam "Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan." Jika seorang Pramoedya yang menuturkan, mungkin hasilnya adalah seperti kutipan di atas.

Mulanya, saya ingin sekali mencatat semua potongan biografi di dinding-dinding putih itu selama berjalan setapak demi setapak sambil membaca dan meresapinya. Belakangan, saya bersyukur atas pencahayaan temaram yang seolah menghalangi untuk leluasa mencatat. Ditambah ruang yang tak begitu luas. Dengan begitu, saya bisa lebih menghayati (meski tentu berbeda dengan merasai sendiri) sempitnya sel yang dulu dihuni Pramoedya, juga hasratnya untuk terus menulis, bahkan di kertas bekas. Menyelami bahwa semua keterbatasan ternyata tak bisa membatasi apa yang lebih besar: semangat untuk terus berjuang.

Hanya berbekal ingatan, saya mencoba merekam semua kesan itu dalam tulisan sederhana ini. Semua kutipan saya cari dari mesin peramban. Juga rasa penasaran saya mengenai hobi Pramoedya membakar sampah. Konon untuk meluapkan emosi. Surat-surat yang ditujukan kepada Pramoedya selama pemenjaraannya yang ditulis oleh anak-anaknya yang melalui sensor. Salah satu yang berkesan justru tentang pohon-pohon yang berbuah di pekarangan rumah Pramoedya. Kisah tentang kerinduan anak pada bapaknya. Kisah tentang sayunya menikmati panen buah tanpa orang yang dicintai bisa turut merasakannya.

Saya sempat tanpa sengaja membentur salah satu dinding kaca di ruangan yang memperlihatkan ruang kerja Pramoedya. Mungkin karena cahaya yang remang-remang.  Lebih mungkin karena kecerobohan saya. Saya seolah diingatkan, seperti dinding penjara yang pernah membui Pramoedya, berbenturan dengan kekuasaan kadang menuntut keberanian, kemerdekaan berpikir, dan seharusnya sebelum menjadi renta dan tak lagi berdaya, "pemuda harus melahirkan pemimpin." Pemimpin yang bisa membekali mereka yang dipimpinnya dengan keberanian berjuang sebelum berkalang tanah.