Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 19 Maret 2016

Sampah

Aku terlahir di tumpukan sampah,
Adalah sampah, 
Memang limbah, 
Kumpulan masalah.

Kodratku menjadi sampah,
Takdirku menjadi limbah,
Lalu, apa yang harus diperjuangkan jika begitu?

Tak punya pilihan, hingga terlupa,
Lupa apa artinya menginginkan,
Lupa apa artinya mengharapkan,
Tak mengerti, adakah yang bisa diperjuangkan?

Berserakan, berceceran,
Menggunung, 
Dan memutuskan dengan sebuah kesadaran :

Terkadang, berjuang itu bukan melulu untuk membuktikan bahwa aku bukan sampah. 

Terkadang, berjuang itu menunjukkan, sekalipus aku sampah, aku akan jadi kompos, aku masih punya nilai. 

Sebab berjuang bukan meratapi mengapa aku sampah, mengapa aku terbuang?
Sebab berjuang, sekalipun aku busuk,
Aku masih bisa didaur ulang.
Aku masih bernilai,
Aku memiliki guna.

Aku sampah,
Busuk dan terbuang,
Kuciptakan sendiri nilaiku,
Tanpa perlu bantuanmu.

Jumat, 18 Maret 2016

Review Novel The Book of Tomorrow

Novel yang terdiri dari dua puluh enam bab dan ditulis oleh Cecilia Ahern ini terbit di Indonesia dengan judul Buku Esok Hari, mengisahkan tentang remaja bernama Tamara Goodwin, yang ayahnya baru saja meninggal karena bunuh diri, sebab tak dapat melunasi hutangnya dan bangkrut. Tamara dan ibunya, Jennifer terpaksa merelakan rumah mewah mereka disita bank dan mereka terpaksa menumpang tinggal pada kerabat mereka, Arthur dan Rosaleen. 

Berada di lingkungan yang baru, Tamara benar-benar merasa tidak kerasan. Apalagi tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan. Sekolah ditutup, ibunya juga sepertinya mengalami depresi karena kematian ayahnya dan tidak bisa diajak bicara. Ia hanya seharian tidur dan terus berujar bahwa segalanya akan baik-baik saja. 

Tak tahan dengan nasib buruknya, Tamara pun menjelajahi reruntuhan kastil di dekat ia terpaksa tinggal, dan tanpa sengaja berteman dengan seorang biarawati tua bernama Suster Ignatius dan sempat meminjam buku harian aneh yang dipinjamnya dari Marcus yang menjalankan perpustakaan keliling dengan bis. 

Tak dinyana, buku harian ajaib yang dipinjamnya itu dapat menuliskan masa depan satu hari ke depan. Hal ini membuat Tamara merasa bahwa Rosaleen yang selalu mengawasi gerak-geriknya dan Jennifer menyimpan rahasia yang mencurigakan. Dituntun oleh buku harian ajaib yang ia sembunyikan dari pengetahuan Rosaleen, Tamara pun berusaha menyibak rahasia yang melibatkan keluarganya, termasuk tanpa sengaja mendapati Rosaleen memasukkan obat tidur pada makanan ibunya. Juga tentang ibu Rosaleen yang menderita multiple sklerosis. Sayang kedekatannya dengan Marcus membuat pria itu nyaris mendekam di penjara karena tuduhan berpacaran dengan anak di bawah umur dan menerobos masuk ke rumah lama Tamara yang telah disita bank. Meski Marcus tidak jadi diajukan ke pengadilan, namun hubungan mereka telanjur rusak dan tak dapat diperbaiki. Tamara malahan berteman dengan Weseley yang membantunya menemukan rahasia keluarganya. 

Begitu rahasia itu tersingkap, Tamara tidak dapat tidak menjadi demikian terkejut. Ia menemukan bahwa ayahnya, George ternyata bukan ayah kandungnya. Malahan, Laurence yang ternyata adalah ayah kandungnya yang dikira Jennifer telah mati dalam kebakaran, ternyata masih hidup dan berpura-pura mati karena ia menderita luka bakar yang parah dan merasa tak lagi pantas untuk Jennifer. Juga karena kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh Rosaleen yang sejak kanak-kanak telah menaruh hati pada Laurence. Kebakaran yang tak disengaja itu juga disebabkan oleh kelalaian Rosaleen yang berniat membakar surat yang tidak ditujukan kepadanya. Sejak awal, Rosaleen memang iri pada Jennifer yang mendapatkan cinta Laurence. Sementara itu, Rosaleen sendiri akhirnya menikahi Arthur, adik kandung Laurence yang sebenarnya tidak ia cintai. 

Sekilas, novel ini mengingatkan saya pada plot novel karangan Chiung Yao yang juga mengisahkan pria yang menderita luka bakar parah dan lalu berpura-pura mati. Edisi terjemahannya terbit dengan judul Misteri Perkawinan yang juga diterbitkan oleh Gramedia. 

Meski begitu, novel ini sarat kutipan indah dan filosofis; di antaranya : 

Kalau diingat-ingat, kusadari cara terbaik untuk membuatku menghargai sesuatu mungkin adalah dengan tidak memberiku segalanya. (hlm 16) 

Dia bukan orang yang nyaman dengan dirinya sendiri dan oleh karena itu tidak memiliki kenyamanan yang bisa ditawarkannya ke orang lain. Ini seperti nasihat; kau tidak bisa memberi kecuali kau memiliki. (hlm 44) 

Kupikir kebanyakan orang masuk ke toko buku tanpa gagasan sama sekali apa yang ingin mereka beli. Entah bagaimana, buku-buku itu duduk di sana, hampir secara ajaib menggerakkan orang untuk meraihnya. Orang yang tepat untuk buku yang tepat. Seakan-akan mereka sudah tahu mereka perlu menjadi bagian dari hidup siapa, bagaimana mereka bisa membuat perbedaan, bagaimana mereka dapat mengajari, menyunggingkan senyuman di sebuah wajah pada saat yang tepat. Aku memandang buku dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda sekarang. (hlm 473-474)

Kutipan terakhir yang agak panjang di hlm 473-474 itu sangat mewakili apa yang saya pikirkan bahwa untuk memiliki sebuah buku tertentu, entah bagaimana itu ada kaitannya dengan takdir. Sebelumnya saya pernah menulisnya di postingan saya sebelumnya, yang mungkin malah terkesan aneh dan berlebihan, dan dapat dengan mudah salah dimengerti. Untunglah Ahern menjabarkannya dengan sederhana dan indah sehingga lebih mudah dimengerti dan masuk akal. 

Secara keseluruhan, seperti Thanks for The Memories (yang telah saya baca terlebih dulu), The Book of Tomorrow juga lebih kurang ingin berbicara tentang campur tangan takdir dengan caranya yang agak magis; meski saya tidak ingat, apakah di novel ini Ahern menggunakan kata "takdir" atau tidak. Saya rasa tidak. Kalau digunakan, saya pasti sudah menuliskannya juga sebagai salah satu kutipan yang paling mengesankan yang saya temukan di buku ini. 

Sebenarnya bagian terbaik dari novel ini (menurut saya) bukanlah plotnya, melainkan kutipan-kutipannya. Tiga di atas yang sudah saya tuliskan di atas adalah yang terbaik.

Jumat, 01 Januari 2016

Review Novel Lelaki Tua dan Laut

Novel yang ditulis oleh Ernest Hemingway dan memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1954 ini memiliki judul asli The Old Man and the Sea; bercerita tentang Santiago, nelayan tua yang selama 84 hari belum juga berhasil menangkap seekor ikan pun. Tadinya Santiago didampingi seorang anak lelaki bernama Manolin selama 40 hari pertama. Namun, tak juga berhasil menangkap ikan, ayah Manolin lalu memintanya untuk beralih ke nelayan lain yang lebih beruntung; sekalipun Manolin (yang karena pengalaman tahu bahwa dulu mereka pernah tak berhasil menangkap ikan seekor pun selama 87 hari, tapi kemudian setiap hari selama tiga minggu berturut-turut selalu berhasil menangkap ikan-ikan besar) lebih suka melaut bersama Santiago. 

Hari itu, Santiago pun melaut sendirian lagi. Setelah melaut semakin jauh, umpan yang ia pasang pada alat pancingnya akhirnya mengundang seekor ikan marlin untuk memakannya. Ikan besar itu terjerat tak bisa lepas, tapi karena terlalu besar Santiago juga tidak dapat menaikkan ikan itu ke perahunya. Ia malah terseret semakin jauh seturut gerakan ikan itu. 

Berlayar semakin jauh hingga beberapa hari dan tanpa perbekalan makanan, Santiago terpaksa memakan tuna kecil, lumba-lumba, ikan terbang, dan udang mungil mentah dari sisa umpan dan tangkapannya selama melaut sendirian tanpa teman. 

Ikan marlin yang terjerat di alat pancingnya mengundang hiu mako untuk memangsanya. Santiago memang berhasil membunuh hiu itu dengan seruit tapi ikan marlin tangkapannya sekarang cacat, tercabik setelah dua puluh kilo dagingnya dimakan hiu mako. Ancaman dari hiu-hiu lain yang bisa berdatangan jika mencium darah dan kehilangan seruit membuat perjalanan melaut Santiago kian berat. Terlebih kedua tangannya terluka selama menarik pancing untuk memastikan ikan marlin itu tidak terlepas. Punggung dan seluruh tubuhnya juga nyeri karena kelelahan. 

Kekhawatiran Santiago terbukti; dua ekor hiu berhidung sekop pun muncul dan memakan ikan marlinnya. Ia membunuh kedua ekor hiu itu dengan pisau. Tapi, kemudian datang seekor lagi ikan hiu berhidung sekop, dan dalam upaya menjaga ikan marlinnya agar tetap berharga untuk kelak dijual di pasar, mata pisau yang dipakai Santiago pun patah. Ia terpaksa mengusir dua hiu lain dengan tongkat pemukul dan hanya berhasil melukai tubuh hiu-hiu itu, sementara separuh tubuh ikan marlinnya sudah hancur. 

Ia pun menghalau hiu-hiu lain yang berdatangan menyerang ikan marlinnya dengan tongkat pemukul. Setelah kehilangan tongkat pemukulnya dalam pertarungan dengan sekelompok hiu, ia pun memakai senjata terakhirnya, tongkat kemudinya yang lalu patah. Sebagai usaha terakhir, di dalam kegelapan di tengah malam itu, Santiago menggunakan serpihan kayu yang tajam dari tongkat kemudinya yang patah untuk menusuk seekor ikan hiu yang mencaplok kepala ikan marlinnya. Sekalipun hiu yang terluka itu akhirnya berenang menjauh, namun ikan marlin tangkapannya kini sudah menjadi bangkai. Santiago yang merasa kalah pun akhirnya hanya bisa pasrah, saat hari telah memasuki larut malam, sekelompok hiu kembali berdatangan dan memakan bangkai ikan marlinnya. 

Saat angin dan laut akhirnya membawa perahunya mendekati daratan, Santiago harus menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menambatkan perahu dan berjalan ke gubuk tempatnya tinggal. Karena kelelahan, ia pun jatuh tertidur. Manolin yang setia menungguinya sampai ia bangun mendapatkan todak ikan marlinnya, sementara kepala ikan marlinnya ia berikan pada Pedrico untuk dicacah sebagai umpan karena sudah mengurus perahu dan tongkat kemudinya. Manolin pun memutuskan untuk membawakan kopi, makanan, dan koran untuk Santiago sampai sahabatnya, lelaki tua itu pulih kesehatannya, dan memutuskan akan kembali melaut bersama Santiago setelah pulih, tak peduli bagaimana orang tuanya menyuruhnya melaut bersama nelayan lain. Cerita ditutup dengan Santiago yang kembali jatuh tertidur, sementara Manolin setia menungguinya. 

Jujur saja, novel yang terdiri dari sebuah bab ini (ya, betul, Anda tidak salah membaca; novel ini memang hanya terdiri dari satu bab saja) adalah sebuah bacaan yang bagi saya sukar untuk dibaca. Sekalipun bahasanya cukup puitis dan tidak berbunga-bunga, sehingga sebenarnya mudah dibaca; tapi karena temanya yang tentang melaut dan menangkap ikan, saya harus berjuang mengatasi kebosanan untuk dapat menyelesaikan membaca buku ini. Jujur, topik menangkap ikan atau pun memancing bukanlah topik yang saya bayangkan akan saya temukan akan ada dalam novel sastera. Apalagi jika ini adalah setting dan tema utamanya. Sepanjang buku ini, dari halaman pertama hingga halaman terakhir, ceritanya memang tentang Santiago dan laut. Tak heran, buku ini berjudul "Lelaki Tua dan Laut". Seperti kebosanan Santiago melaut sendirian tanpa kawan, saya juga memerlukan berhari-hari untuk akhirnya menyelesaikan membaca buku ini. Membaca beberapa halaman, berhenti berhari-hari, lalu melanjutkan membaca lagi, berhenti berhari-hari lagi, hingga akhirnya pada hari ini saya berhasil menyelesaikan membaca novel ini. Jujur, saya heran apa sebenarnya yang membuat novel ini bisa memenangkan penghargaan Nobel. Apa karena unik (hanya terdiri dari satu bab saja, bicara tentang menangkap ikan marlin raksasa yang adalah pengalaman Hemingway sendiri, meski dalam pengalaman Hemingway ikan marlin tangkapannya masih utuh, tidak dicabik-cabik dagingnya oleh rombongan hiu) atau memang bernilai sastera tinggi (yang karena kebodohan saya) tidak berhasil saya ketahui? Saya benar-benar tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu, mulanya saya berpikir buku ini akan dapat selesai saya baca dalam waktu beberapa jam saja karena tipisnya. Nyatanya, saya butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya. Yang jelas buku ini membuat saya depresi: pertama karena bosan, kedua karena endingnya (buat saya yang notabene adalah penyuka ending bahagia) mengenaskan. Setelah 84 hari, Santiago berhasil menangkap ikan marlin. Setelah beberapa hari melaut dan berusaha mengusir rombongan hiu, ikan marlinnya hanya menyisakan kepala ikan, todak, dan rangka ikan sesampainya di darat. Saya saja masih bingung, sebenarnya pesan moral dari buku ini mau bicara tentang apa? Tekad yang kuat? Tapi mengapa akhirnya memprihatinkan??? 

Ya, setidaknya saya masih bisa memahami dan mengagumi beberapa kutipan indah berikut : 

"Awalnya kau meminjam, kemudian kau akan meminta-minta" (nasihat finansial ala Hemingway di hlm 12) 

"Usia adalah penanda waktuku," kata lelaki tua itu. "Kenapa seorang lelaki tua bangun tidur begitu pagi? Apakah agar dapat memiliki satu hari yang lebih panjang?" (hlm 18) 

Dia merasa kasihan pada burung-burung, terutama burung laut yang kecil dan lembut berwarna gelap yang selalu mencari makanan dan hampir tidak pernah mendapatkannya. Dan dia berpikir burung-burung itu mempunyai kehidupan yang lebih keras daripada manusia, kecuali burung-burung perampok dan burung-burung yang kuat dan kasar. (hlm 25) 

Tidur akan menyenangkan. Terasa enteng saat kau dikalahkan. Sebelumnya aku tak tahu betapa enteng rasanya. Dan apa yang mengalahkanmu, pikirnya. (hlm 123)

Selasa, 29 Desember 2015

Review Novel Asylum

Novel yang ditulis oleh Madeleine Roux ini bercerita tentang Daniel Crawford, seorang remaja yang diadopsi oleh Paul dan Sandy Harold. Selama musim panas, Dan menghabiskan liburannya dengan menginap di Brookline (yang tadinya adalah sebuah rumah sakit jiwa) untuk mengikuti kelas persiapan sebelum menempuh perkuliahan. Ia mendapat teman sekamar bernama Felix Sheridan dan teman-teman baru : Abby Valdez yang mengikuti kelas seni dan Jordan yang jenius matematika. 

Meski awalnya merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, Dan cukup senang bisa berkenalan dengan Abby dan Jordan. Belakangan Dan juga berkencan dengan Abby. Namun setelah menemukan foto lama seorang petugas medis yang dirusak bagian wajahnya di laci kamarnya dan karena rasa penasaran setelah mengetahui informasi yang diberikan Felix bahwa ruangan bawah tanah yang menyimpan arsip para pasien yang dulu pernah dirawat di Brookline tidak dikunci, Dan, diikuti Abby dan Jordan memutuskan untuk menyelinap ke ruangan bawah tanah dan melihat-lihat. 

Dari penjelajahan yang mereka lakukan, Dan menemukan kartu indeks pasien bernama Dennis Heimline, pembunuh berantai yang dijuluki si pemahat. Sementara Aby merasa terhubung dengan foto seorang gadis kecil yang di dahinya terlihat bekas luka melintang. Dan tak sampai hati untuk memberitahu Abby bahwa bekas luka di dahi gadis itu adalah tanda bahwa ia telah menjalani prosedur operasi lobotomy. 

Semenjak mereka menyelinap ke ruangan bawah tanah, ketiganya pun mengalami mimpi buruk dan insomnia. Abby terobsesi dengan foto gadis kecil dengan bekas luka di dahinya dan diam-diam menggambar beberapa sketsanya. Sementara Dan yang mengetahui bahwa seorang dokter yang dulu pernah bekerja di Brookline ternyata memiliki nama yang persis sama dengan namanya : Daniel Crawford merasa mulai kehilangan kewarasannya saat pemikiran pria itu menyusup ke otaknya dan ia juga menerima pesan-pesan misterius yang menggelisahkan. Persahabatan mereka bertiga pun menjadi merenggang akibat ketegangan yang mereka alami setelah dihantui oleh apa yang mereka temukan di ruangan bawah tanah dan kemungkinan kekejaman yang diterima para pasien yang pernah dirawat di Brookline sebagai bagian prosedur pengobatan. 

Abby akhirnya tak dapat memendam lama-lama apa yang mengganggu pikirannya. Ia bercerita bahwa ia pernah punya seorang bibi bernama Lucy Abigail Valdez, saudara perempuan ayahnya yang pernah dirawat di Brookline saat masih seorang gadis kecil. Nalurinya mengatakan bahwa foto gadis kecil dengan bekas luka di dahinya adalah foto bibinya. Dan dan Jordan sama-sama skeptis dengan cerita Abby, membuat ketegangan di antara mereka kian menjadi. Untuk mencari tahu lebih banyak, mereka berniat menyusup lagi ke ruangan bawah tanah. Namun, kali ini mereka dipergoki Joe, pengawas gedung. Karena kecerdikan Abby yang berpura-pura menangis demikian mengibakan, Joe tak sampai hati melaporkan perbuatan mereka dan hanya memperingatkan mereka untuk tidak kembali ke ruangan bawah tanah yang terlarang dan mungkin berbahaya, karena ada kebocoran air di mana-mana. 

Tapi, Joe lalu dibunuh oleh si pemahat atau penirunya. Felix yang menemukan mayatnya. Dan Yi, teman sekamar Jordan lalu jatuh atau semacamnya di tangga dan ditemukan oleh Dan. Jordan menerima pesan dari ponsel Dan, sementara Dan merasa tidak pernah mengirimkannya ke Jordan; membuat gusar Jordan yang menganggap lelucon Dan tidak lucu, sementara Dan kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

Khawatir Jordan menjadi korban berikutnya dari si pemahat, Dan menuruti pesan yang diterimanya dan berniat menuju ke lantai lima. Ia mendapati Felix telah diserang, dan kini Dan dicurigai sebagai tersangka. Mencoba mencari jawaban dari Sal Weathers, seorang pria tua yang menulis situs tentang konspirasi yang mungkin terjadi di Brookline, Dan justru membuat marah Sal dan isterinya saat mereka mengetahui namanya adalah Daniel Crawford. Mengikuti Abby yang mendapatkan informasi dari Pendeta Ted Bittle yang memberitahu Abby bahwa bibinya, Lucy memang dibaptis di gereja tempat ia melayani, Dan juga berusaha mengorek keterangan dari Bittle; ia mendapati kemungkinan bahwa si pemahat bisa jadi masih hidup dan berkeliaran dengan bebas. Dalam perjalanan pulang ke Brookline, Dan kehujanan dan berteduh di hutan, hanya untuk mendapati Sal Withers yang tergantung di pohon. Tak ingin polisi makin mencurigainya, Dan berlari pulang. 

Akhirnya, Dan ditemani Abby berniat memenuhi pesan misterius yang memintanya datang ke ruangan bawah tanah. Ingin menguak pembunuh sebenarnya, Dan pun menyelinap lagi ke ruangan bawah tanah. Malangnya, ia dan Abby terperangkap di dalam saat celah tempat mereka masuk ditutup dari atas. Dalam kegelapan, mereka diserang dan diikat di brankar. Tak dinyana, Felix adalah pembunuh Joe yang mayatnya oleh Felix disebutnya sebagai karyanya yang dinamai "Prelude"; sementara percobaan pembunuhan terhadap Yi yang gagal dinamainya "Chaos" dan mayat Sal Weathers dinamainya "Precautionary Measures". Dan kini Felix berniat menjadikan Dan dan Abby korban berikutnya. 

Beruntung Jordan yang tadinya hanya berniat menunggu di atas berinisiatif mematikan saklar dan dalam kegelapan menolong Dan dan Abby. Dan terpaksa mengerahkan tenaganya untuk menghadapi Felix yang mengamuk. Ditambah sepertinya roh Daniel Crawford, si pengawas merasukinya dan seperti mendorongnya melakukan lobotomy terhadap Felix. Beruntung Jordan dan Abby ada di dekatnya. Dan dan Jordan lalu memanggul tubuh Felix kembali ke atas. 

Di atas, polisi telah menunggu dan kejutan berikutnya datang dari isteri Sal Weathers yang ingin menyerang Dan karena mengira ia yang membunuh suaminya. Beruntung, polisi berhasil melumpuhkan usaha penyerangan itu. Melihat bekas luka di dahi isteri Sal, Abby langsung mengenali bahwa isteri Sal adalah Lucy Valdez, bibinya. Karena kejadian-kejadian pembunuhan, Brookline pun menutup program persiapan kuliah itu dan memulangkan siswa-siswanya. 

Ini adalah untuk pertama kalinya saya membaca karangan Roux, dan saya cukup menyukai caranya menulis yang rapi dan lancar dalam mengemas plot demi plot. Sekilas, ia mengingatkan saya akan R. L. Stine dengan serial Fear Street-nya, meski sebenarnya berbeda. Jika Fear Street bisa saja gabungan antara horor dan thriller, maka Asylum murni thriller, dikemas ringan, dan mencoba 'mempengaruhi' pembaca bahwa tokoh utamanya, Dan mungkin mengidap penyakit mental kepribadian ganda dan saat alternya, Daniel Crawford si pengawas menguasai dirinya atau Heimline si pemahat, maka ia mungkin membunuhi korban-korbannya. Untuk ukuran thriller, novel ini tidak berat. Meski terjemahannya sarat salah ketik di mana-mana, secara keseluruhan bab demi bab yang dibuat serba singkat membuat novel ini masih mengasyikkan untuk dibaca. 

Berikut beberapa kutipan yang agak menarik : 

Sedih adalah satu cara menggambarkannya. Kosong adalah cara lainnya. (hlm 35) 

Sejarah bukan untuk ditakuti. (hlm 56) 

Berada di sini adalah takdirnya. (hlm 250)