Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Jumat, 01 Januari 2016

Review Novel Lelaki Tua dan Laut

Novel yang ditulis oleh Ernest Hemingway dan memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1954 ini memiliki judul asli The Old Man and the Sea; bercerita tentang Santiago, nelayan tua yang selama 84 hari belum juga berhasil menangkap seekor ikan pun. Tadinya Santiago didampingi seorang anak lelaki bernama Manolin selama 40 hari pertama. Namun, tak juga berhasil menangkap ikan, ayah Manolin lalu memintanya untuk beralih ke nelayan lain yang lebih beruntung; sekalipun Manolin (yang karena pengalaman tahu bahwa dulu mereka pernah tak berhasil menangkap ikan seekor pun selama 87 hari, tapi kemudian setiap hari selama tiga minggu berturut-turut selalu berhasil menangkap ikan-ikan besar) lebih suka melaut bersama Santiago. 

Hari itu, Santiago pun melaut sendirian lagi. Setelah melaut semakin jauh, umpan yang ia pasang pada alat pancingnya akhirnya mengundang seekor ikan marlin untuk memakannya. Ikan besar itu terjerat tak bisa lepas, tapi karena terlalu besar Santiago juga tidak dapat menaikkan ikan itu ke perahunya. Ia malah terseret semakin jauh seturut gerakan ikan itu. 

Berlayar semakin jauh hingga beberapa hari dan tanpa perbekalan makanan, Santiago terpaksa memakan tuna kecil, lumba-lumba, ikan terbang, dan udang mungil mentah dari sisa umpan dan tangkapannya selama melaut sendirian tanpa teman. 

Ikan marlin yang terjerat di alat pancingnya mengundang hiu mako untuk memangsanya. Santiago memang berhasil membunuh hiu itu dengan seruit tapi ikan marlin tangkapannya sekarang cacat, tercabik setelah dua puluh kilo dagingnya dimakan hiu mako. Ancaman dari hiu-hiu lain yang bisa berdatangan jika mencium darah dan kehilangan seruit membuat perjalanan melaut Santiago kian berat. Terlebih kedua tangannya terluka selama menarik pancing untuk memastikan ikan marlin itu tidak terlepas. Punggung dan seluruh tubuhnya juga nyeri karena kelelahan. 

Kekhawatiran Santiago terbukti; dua ekor hiu berhidung sekop pun muncul dan memakan ikan marlinnya. Ia membunuh kedua ekor hiu itu dengan pisau. Tapi, kemudian datang seekor lagi ikan hiu berhidung sekop, dan dalam upaya menjaga ikan marlinnya agar tetap berharga untuk kelak dijual di pasar, mata pisau yang dipakai Santiago pun patah. Ia terpaksa mengusir dua hiu lain dengan tongkat pemukul dan hanya berhasil melukai tubuh hiu-hiu itu, sementara separuh tubuh ikan marlinnya sudah hancur. 

Ia pun menghalau hiu-hiu lain yang berdatangan menyerang ikan marlinnya dengan tongkat pemukul. Setelah kehilangan tongkat pemukulnya dalam pertarungan dengan sekelompok hiu, ia pun memakai senjata terakhirnya, tongkat kemudinya yang lalu patah. Sebagai usaha terakhir, di dalam kegelapan di tengah malam itu, Santiago menggunakan serpihan kayu yang tajam dari tongkat kemudinya yang patah untuk menusuk seekor ikan hiu yang mencaplok kepala ikan marlinnya. Sekalipun hiu yang terluka itu akhirnya berenang menjauh, namun ikan marlin tangkapannya kini sudah menjadi bangkai. Santiago yang merasa kalah pun akhirnya hanya bisa pasrah, saat hari telah memasuki larut malam, sekelompok hiu kembali berdatangan dan memakan bangkai ikan marlinnya. 

Saat angin dan laut akhirnya membawa perahunya mendekati daratan, Santiago harus menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menambatkan perahu dan berjalan ke gubuk tempatnya tinggal. Karena kelelahan, ia pun jatuh tertidur. Manolin yang setia menungguinya sampai ia bangun mendapatkan todak ikan marlinnya, sementara kepala ikan marlinnya ia berikan pada Pedrico untuk dicacah sebagai umpan karena sudah mengurus perahu dan tongkat kemudinya. Manolin pun memutuskan untuk membawakan kopi, makanan, dan koran untuk Santiago sampai sahabatnya, lelaki tua itu pulih kesehatannya, dan memutuskan akan kembali melaut bersama Santiago setelah pulih, tak peduli bagaimana orang tuanya menyuruhnya melaut bersama nelayan lain. Cerita ditutup dengan Santiago yang kembali jatuh tertidur, sementara Manolin setia menungguinya. 

Jujur saja, novel yang terdiri dari sebuah bab ini (ya, betul, Anda tidak salah membaca; novel ini memang hanya terdiri dari satu bab saja) adalah sebuah bacaan yang bagi saya sukar untuk dibaca. Sekalipun bahasanya cukup puitis dan tidak berbunga-bunga, sehingga sebenarnya mudah dibaca; tapi karena temanya yang tentang melaut dan menangkap ikan, saya harus berjuang mengatasi kebosanan untuk dapat menyelesaikan membaca buku ini. Jujur, topik menangkap ikan atau pun memancing bukanlah topik yang saya bayangkan akan saya temukan akan ada dalam novel sastera. Apalagi jika ini adalah setting dan tema utamanya. Sepanjang buku ini, dari halaman pertama hingga halaman terakhir, ceritanya memang tentang Santiago dan laut. Tak heran, buku ini berjudul "Lelaki Tua dan Laut". Seperti kebosanan Santiago melaut sendirian tanpa kawan, saya juga memerlukan berhari-hari untuk akhirnya menyelesaikan membaca buku ini. Membaca beberapa halaman, berhenti berhari-hari, lalu melanjutkan membaca lagi, berhenti berhari-hari lagi, hingga akhirnya pada hari ini saya berhasil menyelesaikan membaca novel ini. Jujur, saya heran apa sebenarnya yang membuat novel ini bisa memenangkan penghargaan Nobel. Apa karena unik (hanya terdiri dari satu bab saja, bicara tentang menangkap ikan marlin raksasa yang adalah pengalaman Hemingway sendiri, meski dalam pengalaman Hemingway ikan marlin tangkapannya masih utuh, tidak dicabik-cabik dagingnya oleh rombongan hiu) atau memang bernilai sastera tinggi (yang karena kebodohan saya) tidak berhasil saya ketahui? Saya benar-benar tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu, mulanya saya berpikir buku ini akan dapat selesai saya baca dalam waktu beberapa jam saja karena tipisnya. Nyatanya, saya butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya. Yang jelas buku ini membuat saya depresi: pertama karena bosan, kedua karena endingnya (buat saya yang notabene adalah penyuka ending bahagia) mengenaskan. Setelah 84 hari, Santiago berhasil menangkap ikan marlin. Setelah beberapa hari melaut dan berusaha mengusir rombongan hiu, ikan marlinnya hanya menyisakan kepala ikan, todak, dan rangka ikan sesampainya di darat. Saya saja masih bingung, sebenarnya pesan moral dari buku ini mau bicara tentang apa? Tekad yang kuat? Tapi mengapa akhirnya memprihatinkan??? 

Ya, setidaknya saya masih bisa memahami dan mengagumi beberapa kutipan indah berikut : 

"Awalnya kau meminjam, kemudian kau akan meminta-minta" (nasihat finansial ala Hemingway di hlm 12) 

"Usia adalah penanda waktuku," kata lelaki tua itu. "Kenapa seorang lelaki tua bangun tidur begitu pagi? Apakah agar dapat memiliki satu hari yang lebih panjang?" (hlm 18) 

Dia merasa kasihan pada burung-burung, terutama burung laut yang kecil dan lembut berwarna gelap yang selalu mencari makanan dan hampir tidak pernah mendapatkannya. Dan dia berpikir burung-burung itu mempunyai kehidupan yang lebih keras daripada manusia, kecuali burung-burung perampok dan burung-burung yang kuat dan kasar. (hlm 25) 

Tidur akan menyenangkan. Terasa enteng saat kau dikalahkan. Sebelumnya aku tak tahu betapa enteng rasanya. Dan apa yang mengalahkanmu, pikirnya. (hlm 123)

Selasa, 29 Desember 2015

Review Novel Asylum

Novel yang ditulis oleh Madeleine Roux ini bercerita tentang Daniel Crawford, seorang remaja yang diadopsi oleh Paul dan Sandy Harold. Selama musim panas, Dan menghabiskan liburannya dengan menginap di Brookline (yang tadinya adalah sebuah rumah sakit jiwa) untuk mengikuti kelas persiapan sebelum menempuh perkuliahan. Ia mendapat teman sekamar bernama Felix Sheridan dan teman-teman baru : Abby Valdez yang mengikuti kelas seni dan Jordan yang jenius matematika. 

Meski awalnya merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, Dan cukup senang bisa berkenalan dengan Abby dan Jordan. Belakangan Dan juga berkencan dengan Abby. Namun setelah menemukan foto lama seorang petugas medis yang dirusak bagian wajahnya di laci kamarnya dan karena rasa penasaran setelah mengetahui informasi yang diberikan Felix bahwa ruangan bawah tanah yang menyimpan arsip para pasien yang dulu pernah dirawat di Brookline tidak dikunci, Dan, diikuti Abby dan Jordan memutuskan untuk menyelinap ke ruangan bawah tanah dan melihat-lihat. 

Dari penjelajahan yang mereka lakukan, Dan menemukan kartu indeks pasien bernama Dennis Heimline, pembunuh berantai yang dijuluki si pemahat. Sementara Aby merasa terhubung dengan foto seorang gadis kecil yang di dahinya terlihat bekas luka melintang. Dan tak sampai hati untuk memberitahu Abby bahwa bekas luka di dahi gadis itu adalah tanda bahwa ia telah menjalani prosedur operasi lobotomy. 

Semenjak mereka menyelinap ke ruangan bawah tanah, ketiganya pun mengalami mimpi buruk dan insomnia. Abby terobsesi dengan foto gadis kecil dengan bekas luka di dahinya dan diam-diam menggambar beberapa sketsanya. Sementara Dan yang mengetahui bahwa seorang dokter yang dulu pernah bekerja di Brookline ternyata memiliki nama yang persis sama dengan namanya : Daniel Crawford merasa mulai kehilangan kewarasannya saat pemikiran pria itu menyusup ke otaknya dan ia juga menerima pesan-pesan misterius yang menggelisahkan. Persahabatan mereka bertiga pun menjadi merenggang akibat ketegangan yang mereka alami setelah dihantui oleh apa yang mereka temukan di ruangan bawah tanah dan kemungkinan kekejaman yang diterima para pasien yang pernah dirawat di Brookline sebagai bagian prosedur pengobatan. 

Abby akhirnya tak dapat memendam lama-lama apa yang mengganggu pikirannya. Ia bercerita bahwa ia pernah punya seorang bibi bernama Lucy Abigail Valdez, saudara perempuan ayahnya yang pernah dirawat di Brookline saat masih seorang gadis kecil. Nalurinya mengatakan bahwa foto gadis kecil dengan bekas luka di dahinya adalah foto bibinya. Dan dan Jordan sama-sama skeptis dengan cerita Abby, membuat ketegangan di antara mereka kian menjadi. Untuk mencari tahu lebih banyak, mereka berniat menyusup lagi ke ruangan bawah tanah. Namun, kali ini mereka dipergoki Joe, pengawas gedung. Karena kecerdikan Abby yang berpura-pura menangis demikian mengibakan, Joe tak sampai hati melaporkan perbuatan mereka dan hanya memperingatkan mereka untuk tidak kembali ke ruangan bawah tanah yang terlarang dan mungkin berbahaya, karena ada kebocoran air di mana-mana. 

Tapi, Joe lalu dibunuh oleh si pemahat atau penirunya. Felix yang menemukan mayatnya. Dan Yi, teman sekamar Jordan lalu jatuh atau semacamnya di tangga dan ditemukan oleh Dan. Jordan menerima pesan dari ponsel Dan, sementara Dan merasa tidak pernah mengirimkannya ke Jordan; membuat gusar Jordan yang menganggap lelucon Dan tidak lucu, sementara Dan kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

Khawatir Jordan menjadi korban berikutnya dari si pemahat, Dan menuruti pesan yang diterimanya dan berniat menuju ke lantai lima. Ia mendapati Felix telah diserang, dan kini Dan dicurigai sebagai tersangka. Mencoba mencari jawaban dari Sal Weathers, seorang pria tua yang menulis situs tentang konspirasi yang mungkin terjadi di Brookline, Dan justru membuat marah Sal dan isterinya saat mereka mengetahui namanya adalah Daniel Crawford. Mengikuti Abby yang mendapatkan informasi dari Pendeta Ted Bittle yang memberitahu Abby bahwa bibinya, Lucy memang dibaptis di gereja tempat ia melayani, Dan juga berusaha mengorek keterangan dari Bittle; ia mendapati kemungkinan bahwa si pemahat bisa jadi masih hidup dan berkeliaran dengan bebas. Dalam perjalanan pulang ke Brookline, Dan kehujanan dan berteduh di hutan, hanya untuk mendapati Sal Withers yang tergantung di pohon. Tak ingin polisi makin mencurigainya, Dan berlari pulang. 

Akhirnya, Dan ditemani Abby berniat memenuhi pesan misterius yang memintanya datang ke ruangan bawah tanah. Ingin menguak pembunuh sebenarnya, Dan pun menyelinap lagi ke ruangan bawah tanah. Malangnya, ia dan Abby terperangkap di dalam saat celah tempat mereka masuk ditutup dari atas. Dalam kegelapan, mereka diserang dan diikat di brankar. Tak dinyana, Felix adalah pembunuh Joe yang mayatnya oleh Felix disebutnya sebagai karyanya yang dinamai "Prelude"; sementara percobaan pembunuhan terhadap Yi yang gagal dinamainya "Chaos" dan mayat Sal Weathers dinamainya "Precautionary Measures". Dan kini Felix berniat menjadikan Dan dan Abby korban berikutnya. 

Beruntung Jordan yang tadinya hanya berniat menunggu di atas berinisiatif mematikan saklar dan dalam kegelapan menolong Dan dan Abby. Dan terpaksa mengerahkan tenaganya untuk menghadapi Felix yang mengamuk. Ditambah sepertinya roh Daniel Crawford, si pengawas merasukinya dan seperti mendorongnya melakukan lobotomy terhadap Felix. Beruntung Jordan dan Abby ada di dekatnya. Dan dan Jordan lalu memanggul tubuh Felix kembali ke atas. 

Di atas, polisi telah menunggu dan kejutan berikutnya datang dari isteri Sal Weathers yang ingin menyerang Dan karena mengira ia yang membunuh suaminya. Beruntung, polisi berhasil melumpuhkan usaha penyerangan itu. Melihat bekas luka di dahi isteri Sal, Abby langsung mengenali bahwa isteri Sal adalah Lucy Valdez, bibinya. Karena kejadian-kejadian pembunuhan, Brookline pun menutup program persiapan kuliah itu dan memulangkan siswa-siswanya. 

Ini adalah untuk pertama kalinya saya membaca karangan Roux, dan saya cukup menyukai caranya menulis yang rapi dan lancar dalam mengemas plot demi plot. Sekilas, ia mengingatkan saya akan R. L. Stine dengan serial Fear Street-nya, meski sebenarnya berbeda. Jika Fear Street bisa saja gabungan antara horor dan thriller, maka Asylum murni thriller, dikemas ringan, dan mencoba 'mempengaruhi' pembaca bahwa tokoh utamanya, Dan mungkin mengidap penyakit mental kepribadian ganda dan saat alternya, Daniel Crawford si pengawas menguasai dirinya atau Heimline si pemahat, maka ia mungkin membunuhi korban-korbannya. Untuk ukuran thriller, novel ini tidak berat. Meski terjemahannya sarat salah ketik di mana-mana, secara keseluruhan bab demi bab yang dibuat serba singkat membuat novel ini masih mengasyikkan untuk dibaca. 

Berikut beberapa kutipan yang agak menarik : 

Sedih adalah satu cara menggambarkannya. Kosong adalah cara lainnya. (hlm 35) 

Sejarah bukan untuk ditakuti. (hlm 56) 

Berada di sini adalah takdirnya. (hlm 250)

Sabtu, 12 September 2015

Review Novel Haji Murad

Novel yang terdiri dari 25 bab dan berjudul asli Hadji Murat ini diinspirasi dari kisah nyata. Penulisnya, Leo Tolstoy berusaha menuliskannya seotentik mungkin sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, dengan memakai surat asli dan wawancara yang dilakukannya dengan narasumber, berusaha menuturkan kisah Haji Murad, pejuang muslim Chechnya ini agar tidak melenceng dari kenyataan sebenarnya. Tentu saja, karena ia sendiri bukan saksi mata dari tokoh yang dituliskannya ini, sisanya ia tuliskan dengan polesan imajinasi dan kecerdasannya.

Di bagian awal (sebelum bab 1), Tolstoy seolah secara random menuturkan kekejaman manusia merusak alam demi membajak tanah mengorbankan bunga widuri yang berduri namun tumbuh indah di tempatnya. Tebakan saya mungkin pemandangan ini, yang entah bagaimana memberi ide pada Tolstoy untuk menuliskan novel ini. Kalimat terakhir di novel ini adalah "KEMATIAN ini diingatkan kepadaku oleh serpihan bunga widuri di tengah ladang yang baru dibajak."

Di bagian awalnya di halaman 6 hingga 7, Tolstoy menulis demikian untuk menggambarkan bunga widuri yang bertahan dengan duri-durinya dari perusakan yang dilakukan terhadapnya :

"Tetapi kekuatan dan semangat hidupnya sungguh luar biasa."

"Betapa gigih dia mempertahankan diri dan sedemikian sayang dia pada kehidupannya."

"Manusia sungguh kejam dan merusak, berapa banyak makhluk hidup dan tanaman yang dibantainya untuk menopang kehidupannya sendiri."


Bab pertama novel ini lalu dibuka dengan kunjungan Haji Murad ke aoul di mana Sado dengan mempertaruhkan nyawanya menerima Haji Murad dan menjamunya dengan para muridnya. Bata, anak Sado mendapat tugas menemani Eldar, murid Haji Murad untuk mengantar surat yang ditujukan kepada Vorontsov yang merupakan perwakilan pihak Rusia. Haji Murad bermaksud membelot ke pihak Rusia karena Shamil sebenarnya adalah musuh keluarganya, dan selama ini Haji Murad terpaksa mengabdi kepada Shamil karena tidak memiliki pilihan.

Setelah melewati proses yang agak panjang, akhirnya Haji Murad dan para muridnya : Khan Mahoma, Tavlin Hanefi, Eldar, dan Gamzalo bertemu dengan Poltoratsky dan Vorontsov di lapangan Shalinskoe. Oleh Vorontsov muda, ia diperlakukan dengan baik. Tetapi Jenderal Meller-Zakomelsky, komandan pasukan di Vozdvizhenskoe yang tidak diberitahu oleh Vorontsov muda soal Haji Murad hendak membelot menjadi berang. Beruntung isteri Vorontsov muda, Marya Vassilievna dengan kecantikan dan kecerdasannya berhasil mengakhiri kemarahan Meller. Maka, untuk sementara waktu Haji Murad berada di bawah penanganan Meller.

Sesudah itu, Haji Murad dibawa bertemu Vorontsov tua (ayah dari Vorontsov muda). Melalui bawahannya, Loris-Melikov, Haji Murad diminta menuliskan kisahnya dari awal untuk disampaikan kepada tsar. Laporan pun dikirimkan Vorontsov tua kepada Nicholas yang lalu menginstruksikan serangan ke Chechnya. Serangan ini menyebabkan aoul tempat tinggal Sado dihancurkan oleh Butler dan pasukannya. Bahkan anaknya meninggal ditusuk bayonet. Seluruh aoul dirusak, dibakar dan dihancurkan. Para tetua pun memutuskan meminta bantuan pada Shamil.

Sementara Haji Murad diaturkan menemui Ivan Matveevich dan tinggal di rumahnya selama seminggu, bersama Eldar dan Hanefi, ibu Haji Murad, kedua isteri, dan anak-anaknya ditawan Shamil di aoul Vedeno. Yusuf, anak laki-laki kesayangan Haji Murad yang baru berusia delapan tahun dipenjarakan oleh anak buah Shamil.

Perjalanan Haji Murad untuk membebaskan keluarganya dari Shamil masih panjang. Bahkan ketika akan meninggalkan rumah Ivan Matveevich, Arslan Khan, musuhnya berusaha membunuhnya. Setelah kembali ke Tiflis, Haji Murad meminta pada Vorontsov untuk tinggal di Nukha untuk mencari informasi tentang keluarganya. Dia selalu menerima kabar buruk. Orang-orang gunung yang masih setia pada Haji Murad takut pada Shamil dan menolak mencoba membebaskan keluarganya meskipun dengan imbalan uang berapa pun. Belum lagi sempat merespon bagaimana menangani situasi itu, Haji Murad sudah diminta kembali ke Tiflis untuk menemui Argutinsky. Hal ini pun memaksa Haji Murad untuk melarikan diri dari pihak Rusia yang tidak segera memberikan bantuan untuk membebaskan keluarganya dari tawanan Shamil. Pihak Rusia sendiri memang sengaja mengulur waktu karena mencurigai pembelotan Haji Murad hanya taktiknya untuk mengetahui kelemahan pihak Rusia untuk kemudian mengkhianati mereka.

Kabar mengejutkan kemudian datang dari Kamenev. Ia datang untuk menemui Ivan Matveevich dengan membawa kepala Haji Murad yang dipenggal saat berusaha melarikan diri dari Rusia untuk menyelamatkan keluarganya. Para cossack yang diperintahkan mengawal Haji Murad dan para muridnya saat mereka diizinkan berkuda di area terbatas dibunuh oleh Haji Murad dan para muridnya dalam usaha mereka melarikan diri. Pihak Rusia lalu memerintahkan pengejaran besar-besaran. Dikepung di semak-semak oleh pihak Rusia dan milisinya, Haji Murad dan para muridnya bertempur habis-habisan hingga akhirnya terbunuh karena kalah jumlah. Ia mati dipenggal oleh Ghadji Aga yang telah terlebih dulu membelot ke pihak Rusia.

Untuk sebuah karya sastra klasik, novel ini sebenarnya tidak "berat" untuk dibaca. Bagi saya, yang mengganggu justru penjelasan dalam catatan kaki di novel ini dan nama-nama karakternya yang sulit dilafalkan lidah dan tentu saja lebih sulit lagi mengingat ejaan namanya. Saya yang tidak familiar dengan nama-nama Rusia dan ejaan namanya harus terlebih dulu memastikan saya menuliskan dengan benar nama setiap karakter di novel ini.

Ini adalah untuk pertama kalinya saya membaca tulisan Tolstoy dan entah bagaimana, dari deskripsi Tolstoy akan bunga widuri (yang ditulis sebelum bab pertama) membuat saya langsung menyadari kecerdasan penulisnya, menyukai dan mengagumi gaya menulisnya. Terlebih novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari Haji Murad sendiri. Imajinasi Tolstoy yang brilian membuat karakter Haji Murad di novel ini seolah hidup kembali, sebelum akhirnya terbunuh di halaman terakhir, dengan kegigihan yang diumpamakan Tolstoy dengan kegigihan bunga widuri yang mempertahankan hidupnya dengan duri-durinya.

Membeli Buku : Antara Keberuntungan dan Takdir

Ditulis pada hari Minggu, 6 September 2015. Baru sempat diposting pada Sabtu, 12 September 2015.

Saya dedikasikan tulisan ini untuk Neni dan Herny. Terima kasih telah menemani saya ke pameran buku hari ini.

Hari ini saya dengan dua orang teman dan adik saya mengunjungi pameran buku. Lucunya pula, tidak seperti kebiasaan saya dan teman saya, kali ini kami hanya mengitari stand demi stand sampai tumit dan telapak kaki rasanya sangat pegal, tapi tidak membawa pulang sebuah buku pun.

Teman saya memang sudah bertekad untuk menahan diri dari hasrat berbelanja bukunya yang gila-gilaan. Terakhir kali kami ke pameran buku (sebelum hari ini) kami sudah memborong buku melewati budget yang telah ditentukan bersama. Lucunya pula, budget itu kami habiskan hanya dengan mengunjungi satu booth penerbit saja. Menurut istilah teman saya, telanjur kalap. Berhubung anggaran telanjur membengkak, terpaksalah lekas pulang tanpa sempat lirik sana lirik sini ke booth lainnya.

Saya sendiri, telanjur terbiasa dengan keberuntungan mendapatkan buku-buku bagus dengan harga miring, jadi tidak tergiur sama sekali dengan iming-iming diskon 20 %. Telanjur terbiasa dengan buku-buku dengan harga terbanting minimum 40 %. Mungkin juga digerakkan oleh sejenis kerakusan, sehingga hanya ingin mendapatkan banyak buku dengan budget yang ditekan selimit mungkin. Mata langsung rajin mengamati booth dengan diskon dari 50 % hingga 70 %. Kalau hanya sekadar diskon 20 % jadi malas mendekat. Tidak keberatan pula dengan broken book atau used book; yang penting murah, meskipun cover agak sedikit lusuh atau bekas tertekuk. Telanjur terbiasa mendapatkan buku yang lumayan dengan harga lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah.

Kalau ditanya apakah saya menyesal hari ini mengelilingi booth demi booth tanpa membeli sebuah buku pun (untuk diri sendiri), saya akan jawab tidak. Setidaknya untuk saya yang seringkali malas berolahraga, ini jadi kesempatan untuk bergerak sedikit. Selain itu, melihat teman saya yang seorang lagi bergembira mendapatkan buku murah yang sesuai seleranya, saya juga ikut senang.

Tapi lebih dari itu, hari ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran. Ada kalanya antara keinginan dan kebutuhan meskipun untuk buku sekalipun (yang bagi saya dan sahabat saya yang hari ini juga tidak membeli buku sebuah pun, sama dengan saya) jaraknya nyaris tak berjarak, tetap ada sebuah perbedaan. Terkadang keinginan yang dipenuhi dengan mudah dengan cepat bisa menciptakan kerakusan. Namun terkadang pula, kebutuhan yang tidak terpenuhi tidak melulu menciptakan kepahitan. Hanya sebuah kesadaran; kali ini sambil mengingatkan diri sendiri dengan sebuah kalimat yang sering saya ucapkan kepada sahabat saya jika ia merasa telah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan buku bagus, "Mungkin buku itu memang tidak ditakdirkan untuk kamu miliki."

Hari ini saya melewatkan kesempatan untuk membeli tiga buah buku yang saya inginkan (karena harganya dijual tidak dengan harga diskon yang sangat terbanting). Untuk seorang kutu buku, rasanya aneh pergi ke pameran buku tanpa membeli buku sebuah pun. Tapi saya tahu kenapa saya tidak membeli ketiga buku yang saya inginkan itu. Tak lain karena buku itu memang tidak ditakdirkan untuk saya miliki.

Di sebuah hari yang lampau, teman saya melewatkan membeli sebuah buku. Lalu ketika datang kembali di lain kesempatan, ternyata buku itu belum lagi terjual. Setelah melewatkan beberapa kali (hanya mengitari saja raknya) buku yang tadinya masih ragu-ragu ingin dibeli, terjatuh beberapa kali dari raknya, seolah minta dibeli. Merasa itu mungkin pertanda, teman saya akhirnya jadi membeli buku itu. Dan saya dengan ringan berkata padanya, bahwa buku itu memang telah ditakdirkan untuk dia miliki.

Saya tidak selalu percaya pada apa yang dinamakan keberuntungan. Tapi sisi sok puitis dan sok romantis dari diri saya, entah bagaimana selalu mempercayai takdir. Sekalipun untuk hal kecil seperti membeli buku sekalipun. Bahkan termasuk buku-buku yang ternyata menurut kami jelek isinya atau tidak sesuai selera kami.

Jadi... hingga takdir berikutnya...

Terima kasih untuk momen yang sempurna di antara keputusan-keputusan yang tak sempurna.