Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Senin, 01 Januari 2018

Tahun Baru, Sebuah Euforia dan Kerja Nyata

Sebagai ritual universal yang mungkin dijalankan di berbagai penjuru dunia, perayaan Tahun Baru dirayakan dengan berbagai event. Dan semalam, event sekaligus ritual yang selalu dinantikan setiap tahunnya oleh penduduk Jakarta kembali berulang. Langit Jakarta benderang dengan aneka kembang api yang dinyalakan, berbeda tempat dan waktu menyalakannya, namun memiliki pesan euforia yang sama. Semakin mengarah ke pergantian tahun, semakin banyak mobil-mobil yang menepi di pinggir jalan tol. Para penumpangnya keluar ke jalan untuk mengabadikan momen pergantian tahun dengan merekam video kembang api yang dinyalakan atau menangkap gambar dari ponsel pintar mereka dari pagar pembatas. 

Pertunjukan kembang api yang membuat pengguna jalan menyemut di jalan tol.

Menepi sebentar bersama para pengunjung yang menikmati hiburan gratis dari tepi jalan tol itu, mata saya tanpa sengaja tertumbuk pada pemandangan di bawah saya. Beberapa perempuan masih menjajakan dagangan mereka di halte bus. Dari tempat saya berdiri, saya tidak dapat melihat jelas apa yang mereka jual. Mereka sendiri seperti tidak terpengaruh dengan pemandangan kembang api yang silih berganti bergantian membuat langit Jakarta yang gelap menjadi benderang diiringi gemuruh petasan dan mercon yang terlontar ke langit. Mungkin sejak beberapa jam sebelumnya mereka sudah berjualan di sana dan sudah jemu menyaksikan aneka kembang api yang hilir mudik memamerkan keindahan cahaya warna-warni dengan suaranya yang menarik perhatian. Atau mungkin saja, buat mereka, tak ada bedanya hari terakhir di tahun lalu dan hari pertama di tahun yang baru. Saya tidak tahu apa yang terlintas di benak mereka. Namun, sikap mereka yang seolah tak peduli dengan pemandangan yang menarik perhatian para pengguna jalan untuk menyemut di pagar pembatas jalan tol, dan juga para pedagang yang setiap malam masih dengan setia begadang bahkan ketika jam semakin bergulir ke jam satu pagi, saat saya bersama pengguna jalan yang lain menempuh rute untuk kembali ke rumah, mengajarkan saya akan satu hal : euforia hanya sementara saja sifatnya, namun kerja nyata harus dipertahankan konsistensinya hari demi hari, sampai tahun berikutnya. 

Para pedagang masih berjualan hingga hari berganti.

Jadi, selamat tahun baru 2018. Semoga tahun ini, setiap harinya kita isi dengan kerja nyata, berprestasi lebih gemilang, hingga euforia berikutnya.

Senin, 25 September 2017

Mengapa Hari Ini Istimewa?

Setiap hari mungkin tidak banyak bedanya dari kebanyakan orang. Rutinitas dan keseharian yang sama. Mungkin hanya sedikit variasi di sana-sini. Mungkin yang membuat hari ini istimewa adalah kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Seringkali saya membuat terbengkalai apa yang sudah telanjur bermula. Ketimbang menyelesaikannya, saya lebih suka mengerjakan lagi sesuatu yang baru.

Sampai hari ini masih ada tiga buku fiksi yang belum selesai saya baca, sementara untuk non fiksi ... sedikitnya ada lima buku yang belum selesai dibaca. Saya mencoba memaknai hari ini dengan menyelesaikan membaca beberapa buku non fiksi. Setidaknya sebuah bab untuk setiap buku. Begitulah yang saya rencanakan untuk membuat hari ini menjadi istimewa : kesempatan untuk menyelesaikan yang sudah lama tidak disentuh dan ditinggalkan.

Saya juga masih berusaha menyelesaikan membaca (meski hanya beberapa) puisi-puisi dalam Top 500 Poems List yang saya temukan di poemhunter.com. Di antara yang cuma beberapa itu saya menemukan sebuah puisi pendek yang ditulis oleh Robert Louis Stevenson berjudul Love, What Is Love.

Berikut puisinya :

Love, What Is Love 
Robert Louis Stevenson


LOVE - what is love? A great and aching heart; 
Wrung hands; and silence; and a long despair. 
Life - what is life? Upon a moorland bare 
To see love coming and see love depart.


Puisi pendeknya yang berkesan muram itu mengingatkan saya akan tulisan saya sendiri yang beberapa waktu belakangan ini juga cenderung muram. Meski begitu, setiap hari adalah hari yang berbeda dengan tanggal berbeda. Tentu, meski sedikit, hal ini menimbulkan harapan bahwa setiap harinya ada sesuatu yang berbeda yang membuat sebuah hari dapat menjadi istimewa.

Hari ini saya menjadikannya istimewa dengan mencoba menyelesaikan apa yang sudah telanjur dimulai, tapi belum diselesaikan. 

Senin, 24 Juli 2017

Balada Nasi Goreng


Menjadi seseorang yang tidak menyukai aktivitas memasak, hal itu sungguh sebuah pergulatan untuk memerangi semua perasaan antipati di dalam diri. Seperti hari ini. Saya sedang ingin makan nasi goreng untuk makan malam. Dan di lemari masih tersisa dua bungkus bumbu nasi goreng siap saji.

Setelah mencari letak mentega dan menyendokkan secukupnya di atas kuali, saya lalu mengambil sebutir telur dan meletakkannya di sebelah kompor. Sementara saya mengosongkan sisa nasi yang tinggal sedikit (ke piring) dari rice cooker yang stekernya sudah saya cabut, menggunting kemasan supaya bumbunya lebih mudah dikeluarkan, kini saya bersiap menyalakan kompor untuk melelehkan mentega. Eh, tapi di mana telurnya? Astaga, saya tidak menyadari sebelumnya, ternyata sebutir telur yang saya letakkan di sebelah kompor dengan sukses menggelinding dan memecahkan dirinya di lantai dapur. Saya jadi punya pekerjaan tambahan memunguti kulitnya dan membuangnya ke tempat sampah. 

Saya terpaksa mengambil sebutir telur lagi dari kulkas. Setelah melelehkan mentega dan memasukkan bumbu, memecahkan telur dan mengaduknya jadi satu, masih harus mengecilkan api di kompor. Berhubung jarang memasak (belum tentu terjadi dalam satu purnama), saya malah salah mematikan kompornya, dihidupkan lagi, mencemplungkan nasi ke wajan, mengaduk-aduknya dengan tangan agak kepanasan, mengecilkan api di kompor. Kali ini berhasil tanpa membuat kompor mati sama sekali. Dan setelah mengaduk berkali-kali sambil menahan panasnya api, akhirnya nasi goreng matang juga dan siap dimakan. Ditemani dua buah bakwan udang sisa lauk tadi pagi; jadi juga saya menyantap nasi goreng sesuai keinginan. Dalam hati membatin, masih enak nasi goreng buatan mas pedagang yang kerap nongkrong di pinggir jalan. 

Selasa, 04 Juli 2017

Lelah (2)

Aku lelah dan kalah. 
Aku tidak ingin lagi berjuang. 
Menyerah lebih mudah ketika daya telah punah. 

Aku limbung dan getir. 
Aku tidak lagi punya tenaga. 
Menyerah lebih mudah ketika getas menjelma jadi nadiku.

Hidup hanya setarikan nafas. 
Tak lagi tersisa cukup waktu.
Aku hanya ingin menyerah. 
Sudah teramat lelah.