Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 11 Agustus 2015

Review Novel Breakfast at Tiffany's

Novel karangan Truman Capote yang sangat terkenal ini sempat difilmkan dengan judul yang sama dan filmnya pun menjadi sama terkenalnya dengan novelnya; meski plot antara novel dan filmnya berbeda.

Bercerita tentang tokoh "aku" (yang untuk memudahkan menceritakan plot novel ini akan dinamai Fred, seperti panggilan yang diberikan tokoh Holly pada tokoh "aku") yang bertemu kembali dengan Joe Bell, pengelola sebuah bar yang memintanya datang karena ingin memberitahukan penemuannya tentang Holiday Golightly atau Holly yang mungkin berada di Afrika. Fred pun terkenang akan apartemen lamanya yang telah ia tinggalkan di East Seventies, di mana ia dahulu sempat tinggal di gedung yang sama dengan Holly.

Holly adalah gadis tetangganya yang bereputasi buruk, seorang aktris pendatang baru dengan agennya O. J. Berman yang gusar pada Holly karena meninggalkan audisi penting. Holly juga menerima pekerjaan lain dengan menemani mengobrol bos mafia bernama Sally Tomato di Penjara Sing Sing setiap hari Kamis.

Fred yang seorang penulis pemula, seperti pria-pria lain yang terlebih dulu mengenal Holly jatuh cinta kepada gadis itu. Sayangnya Holly justru jatuh cinta pada José Ybarra-Jaegar, seorang diplomat Brazil tampan yang sebelumnya adalah kekasih dari Mag Wildwood, teman seapartemen Holly. Tadinya Holly yang tengah mengandung anak José akan menikahi José di Rio (meski sebenarnya Holly yang bernama asli Lulamae Barnes dan memiliki abang bernama Fred yang terbunuh dalam perang telah menikah dengan Doc Golightly saat berumur empat belas tahun), sampai Holly yang naif ditangkap dengan tuduhan membantu Sally Tomato dalam melakukan pengedaran narkoba dari penjara. Holly sama sekali tak mengetahui bahwa ia selama ini dijadikan pengirim pesan untuk Sally dengan O'Shaughnessy, kaki tangan Sally Tomato. Demi menjaga karir dan reputasinya, José memilih memutuskan hubungannya dengan Holly dan kembali ke negaranya.

Berkat pertolongan Berman yang menyewa pengacara terbaik, Holly bisa membayar jaminan kebebasan. Kesempatan ini dimanfaatkan Holly dengan melarikan diri dari hukuman penjara yang kelak akan ia terima. Dengan bantuan Joe Bell yang membayar sewa mobil untuk Holly dan Fred yang mengambilkan sebagian barang-barang Holly dan kucingnya dari apartemen dalam keadaan tercakar dan hujan lebat, Holly pun resmi menjadi buronan.

Di Spanish Harlem, Holly menurunkan kucingnya karena tidak ingin membawanya dalam pelarian; keputusan yang lalu ia sesali. Saat berlari kembali untuk mengambil kembali kucingnya, kucing itu telah lenyap. Di akhir cerita, Fred akhirnya berhasil menemukan lagi kucing Holly yang kini telah memiliki rumah baru. Hal ini ingin ia kabarkan pada Holly. Sayangnya tak ada cara mengabari Holly yang masih dalam pelarian, meskipun Sally Tomato telah meninggal di penjara karena serangan jantung. Ia hanya menerima sepucuk kartu pos dari Holly bahwa ia telah bepergian ke Brazil dan Buenos Aires.

Awalnya, saya khawatir tidak akan bisa mengingat plot novel ini karena pada bab-bab awal hanya menceritakan tentang Fred dan Holly dalam berbagai hal sehari-hari yang terasa random dan tidak seberapa penting detilnya. Meski bahasa novel ini tidak berbunga-bunga, entah bagaimana kesan puitis dan dalam seperti menguar begitu saja dari dialog tokoh-tokohnya dan deskripsi yang dituturkan Capote. Kepiawaian penulisnya bahkan membuat saya tak menyadari bahwa tokoh "aku" tak memiliki nama; setidaknya sampai saya menyelesaikan membaca novel ini dan mulai menuliskan resensinya.

Berikut beberapa dialog dan deskripsi yang mengesankan :
Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri saat terbangun pada suatu pagi yang cerah dan sarapan di Tiffany's. (hlm 52)

... menatap langit lebih baik daripada tinggal di langit. Tempat sesunyi itu; sesamar itu. Langit hanyalah tempat petir berkilatan dan berbagai hal lenyap begitu saja. (hlm 106)

Omong-omong, rumah adalah tempat kau merasa berada di rumah. Dan aku masih mencari tempat itu. (hlm 146)

Berikut adalah kata-kata Holly tentang kucingnya :
Kau tidak menyadari apa yang menjadi milikmu hingga kau menyingkirkannya. (hlm 156)

Di dalam filmnya (yang belum saya tonton) ending cerita dibuat berakhir bahagia; berbeda dengan ending menggantung dalam novelnya. Meski begitu, novel ini masih terkesan "manis" dengan kalimat penutup :
Di suatu pondok di Afrika atau di mana pun dia berada, kuharap Holly juga telah menemukan tempat yang sejati.

Senin, 03 Agustus 2015

Review Novel Wuthering Heights

Memenuhi tantangan Herny S. Yahya untuk menulis bersama review sebuah buku, saya dedikasikan review novel ini untuknya, yang sebelumnya sudah ia baca dan tulis lebih dulu resensinya.

Novel klasik yang ditulis oleh Emily Brontë ini mengambil alur mundur, berkisah tentang Tuan Lockwood yang menyewa "Wuthering Heights" milik Heathcliff Earnshaw. Karena keingintahuannya terhadap si pemilik rumah, Tuan Lockwood mengorek keterangan dari pelayannya, Nona Nelly Dean yang dulu pernah bekerja untuk keluarga Earnshaw dan Linton.

Adalah Tuan Earnshaw yang membawa pulang Heathcliff, anak gelandangan yang ia temukan dalam perjalanannya dan menjadikannya anak adopsinya. Hal ini menimbulkan kecemburuan anak kandungnya, Hindley, sementara adiknya, Catherine (biasa disapa Cathy), justru berteman baik dengan Heathcliff.

Setelah kematian ibu, lalu menyusul ayahnya, Hindley pun menguasai rumah peninggalan orang tuanya dan menuntaskan dendam yang sudah ia pupuk sejak kecil; Hindley memperlakukan Heathcliff dengan buruk, layaknya terhadap pelayan. Sementara Cathy yang beranjak remaja kebingungan membagi waktu antara persahabatannya dengan Heathcliff dan teman-teman barunya, Edgar dan Isabella Linton. Cathy sendiri sebenarnya mencintai Heathcliff, sama halnya seperti perasaan Heathcliff terhadap Cathy. Namun, menyadari tentangan dari kakaknya, Cathy memilih menerima pinangan Edgar, karena ia tak ingin Heathcliff kembali dicambuk dan dihukum berat setiap kali dianggap membuat kesalahan.

Mendengar rencana Cathy menikahi Edgar, Heathcliff pun minggat dari rumah, meninggalkan Cathy yang patah hati terserang delirium. Tiga tahun kemudian Heathcliff kembali ke Wuthering Heights dengan rencana balas dendam yang rapi. Ia berhasil menemui Cathy dan menyadari cinta mereka berdua tak pernah padam. Edgar yang cemburu bertengkar dengan Cathy. Ditambah lagi, Heathcliff membawa lari Isabella, adik Edgar yang jatuh cinta pada Heathcliff.

Tak kuasa menanggung kesedihan, sakit Cathy kambuh dan akhirnya meninggal setelah melahirkan anak perempuan yang dinamai Catherine. Sementara Isabella akhirnya menyadari bahwa Heathcliff tak mencintainya dan hanya memperalatnya untuk membalas dendam; ia pun melarikan diri dari Wuthering Heights dalam keadaan hamil. Kelak ia melahirkan anaknya dan menamainya Linton Heathcliff.

Setelah Isabella meninggal, Heathcliff merebut hak asuh Linton dari Edgar. Ia pun menghasut Hareton, anak kandung Hindley untuk membenci ayahnya, menjadikan pemuda itu berwatak buruk dan tak mengecap pendidikan. Sedang Hindley sendiri (sepeninggal isterinya yang terlebih dulu meninggal) mengatasi kesedihannya dengan bermabuk-mabukan.

Setelah Hindley meninggal dalam keadaan bangkrut dan Heathcliff berhasil menguasai harta keluarga Earnshaw; berikutnya ia mengincar kekayaan keluarga Linton. Heathcliff mengumpankan anaknya yang sekarat, Linton agar menikahi Catherine. Ia bahkan tak segan menyekap dan memukul Catherine dan pelayannya, Nelly di Wuthering Heights tanpa sedikit pun mengindahkan perasaan Catherine yang mencemaskan kesehatan ayahnya yang di ambang kematian; demi memastikan Linton menikahi Catherine agar kekayaan keluarga Linton dapat ia keruk setelah Edgar dan Linton (tak lama lagi) meninggal.

Setelah terpaksa menikahi Linton dan ayahnya, Edgar meninggal, Catherine dipaksa oleh Heathcliff untuk tinggal di Wuthering Heights seperti pelayan dan menerima pukulan jika menolak perintahnya atau perintah Hareton. Seakan penderitaannya belum cukup; Heathcliff lalu bersekongkol dengan Tuan Green (pengacara Linton yang berkhianat), maka harta Catherine yang diwarisi dari ayahnya jatuh ke tangan Linton. Dalam keadaan sekarat dan di bawah tekanan ayahnya yang kejam, Linton pun mewariskan semua harta Catherine dan hartanya sendiri untuk Heathcliff. Tak lama, Linton pun meninggal.

Catherine harus hidup terpisah dari Nelly, pelayannya yang setia, tanpa teman dan tanpa buku-bukunya, berkat kekejaman Heathcliff yang menyita semua miliknya. Heathcliff memerintahkan Nelly untuk tetap tinggal di Thrushcross Grange, rumah Catherine yang sudah direbut Heathcliff dan kini disewakan kepada Tuan Lockwood.

Setelah Zillah, pelayan Heathcliff berhenti dari pekerjaannya dan Tuan Lockwood meninggalkan Thrushcross Grange, Nelly pun bekerja sebagai pelayan di Wuthering Heights dan bisa berkumpul lagi dengan Catherine. Melalui waktu, Hareton dan Catherine pun berbaikan dan akhirnya saling mencintai dan berencana akan menikah saat tahun baru; sementara Heathcliff tiba-tiba meninggal secara misterius, menurut penuturan Heathcliff yang samar-samar pada Nelly, selama ini dia terus dihantui oleh arwah Cathy, ibu Catherine, sekaligus kekasih Heathcliff. Hal ini diketahui Tuan Lockwood dari Nelly saat ia datang kembali ke Wuthering Heights untuk melunasi sisa hutangnya saat menyewa Thrushcross Grange.

Satu hal yang terasa menyenangkan saat membaca novel ini adalah bahasanya yang tidak berbunga-bunga. Mulanya saya mengira semua jenis karya klasik pastinya memakai deskripsi dan bahasa berbunga-bunga yang terkesan terlalu puitis dan berlebihan, tetapi Emily Brontë dengan Wuthering Heights mematahkan dugaan saya. Meski plotnya tidak sangat cepat, tapi cukup pendek dan ringkas, sehingga sepanjang 34 bab dari novel ini, pembaca tidak akan dibuat bosan. Sementara itu, transformasi dari Heathcliff kecil (yang notabene adalah korban yang menimbulkan rasa iba) menuju Heathcliff yang bagai jelmaan setan (setelah Cathy meninggal) prosesnya kurang terasakan hanya dengan sebentuk penjelasan bahwa Heathcliff minggat dan baru kembali tiga tahun kemudian dengan rencana balas dendamnya. Pembaca pun dibuat gusar oleh kekejaman Heathcliff terhadap Isabella dan Catherine dengan menampar hingga berdarah. Begitu pun saat Hareton dengan ringan menampar Catherine hingga mulutnya berdarah, tapi kemudian Brontë bisa dengan ringan "menjodohkan" Catherine dengan Hareton. Terasa seperti ending yang ambigu dan dipaksakan. Jika novel ini ditulis oleh saya, maka saya pasti akan menempatkan Tuan Lockwood sebagai pahlawan yang menyelamatkan Catherine dari penjaranya di Wuthering Heights. Tapi Jika begitu, novel ini pastinya tidak akan selesai dalam 34 bab. Secara keseluruhan, novel ini tidak membosankan untuk dibaca, bahasanya yang tidak berbunga-bunga adalah sebuah kelebihan yang patut diakui. Meski plotnya tidak sangat cepat, tapi juga tidak bisa dikatakan lambat, cukup pendek dalam setiap babnya, dan diceritakan dengan lancar. Selain itu, review ini tidak ditulis dalam kapasitas seorang penikmat karya sastra klasik, lebih ke seorang pembaca yang menuliskan kesan-kesannya setelah membaca sebuah novel, tanpa memperhitungkan bahwa novel ini adalah sebuah karya klasik penting dalam kesusasteraan Inggris.

Selasa, 09 Juni 2015

Vulkanik

Lelah dan kalah.
Tak ingin lagi mengalah.
Sebab, ada kalanya cukup benar-benar cukup.

Aku adalah gunung berapi yang tak bisa lagi menahan magmanya.
Tak bisa yang lain selain memuntahkan yang telah lama disimpan,
Tak kuasa menahan lahar panas tetap terpendam.
Sudah waktunya meletuskan :
Abu, debu, bencana, prahara,
Semburan yang menunggu lama untuk bisa muncul ke permukaan,
Meletupkan semua yang terkubur lama di dalam,
Hingga tersisa luka dan duka,
Berseling dengan murka,
Berjalinan dengan angkara.

Rabu, 03 Juni 2015

Pagi dan Juni


Pagi pertama di bulan Juni.
Kesunyian menyelinap.
Lalu ia membuka topengnya, menunjukkan kehadirannya.
Angkara pun merayap.
Betapa aku lebih menyukai topengnya dari wajah angkaranya.

Kegusaran perlahan lenyap.

Angkara telah memakai lagi topengnya.

Pagi pun kembali senyap.

Sebelum pagi pertama di bulan Juni berlalu,
Izinkan aku mengubah wajah angkaramu, jadi kesunyian yang senyap.
Mencoba memaknai hadirmu, tak rela kau pergi laksana asap.