Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Selasa, 08 Agustus 2017

MENULIS DI MANA?

Awalnya, saya sempat bingung membedakan tempat menulis yang paling cocok di hati. Harus membagi tulisan, di antara blog dan platform yang saya ikuti. Tapi, akhirnya menyimpulkan begini : kalau mau menulis yang ceplas-ceplos dan sarkastis, tulis saja di blog sendiri. Tapi, kalau mau menulis yang etis dan "manis", tulis di platform di mana saya nunut (menumpang) di situ. Namanya nunut, tentu tidak seleluasa di "rumah" sendiri, bisa menulis sesuka hati, apalagi lancang ngrasani (menggosipkan) kekurangan pemilik rumahnya. 

Saya bisa saja tidak setuju dengan selera admin-nya. Namanya nunut, ya wajib manut (menuruti) "aturan" yang diberlakukan. Juga belajar menghargai apa yang sudah diaturkan. Padahal, hasrat hati terus ingin merevisi ini-itu yang tidak sreg (cocok) di hati. Misalnya, ketimbang minta maaf berkali-kali setiap kali terlambat memberi pengumuman, mengapa tidak sekalian saja mengubah hari pengumuman? Dimundurkan saja sekalian sehari. Jadi, suatu ketika bisa tepat waktu, bukankah kesannya keren bisa efisien, mengumumkan sehari lebih cepat dari seharusnya?

Seperti kata saya tadi, namanya nunut ya harus manut. Ya, saya tahu mentalitas saya memang banyak protesnya. Maklum saja, sudah DNA. Jika ibu atau adik saya suka mengomentari makanan atau minuman yang mereka pesan saat makan di luar; maka saya lebih suka mengomentari kelakuan. Tentu, lebih sering dalam hati atau ngrasani dalam bentuk tulisan. Segala uneg-uneg di hati dikeluarkan tanpa sungkan di blog kesayangan.

Kesimpulan saya : Menulis di mana, ikuti saja naluri ...

Kompetitif, Namun Sportif

Saya tidak pernah benar-benar menyadari sebelumnya: saya ini ternyata seorang yang lumayan kompetitif. Saya ingin menang, bosan menjadi pecundang. Namun, saya tidak ingin menjadi orang yang dangkal. Jika saya berlomba dalam suatu hal, dan orang lain yang menang, saya tidak mau usil berkomentar bahwa orang itu tidak layak menang. Saya memilih bersikap pintar. Mempelajari kelebihan apa yang membuatnya menang. Dan dengan tulus belajar mengucapkan selamat tanpa perasaan dengki atau iri.

Mengutip dialog dalam film Midnight in Paris, para penulis itu kompetitif :

Hemingway: Writers are competitive. 
Gil: I’m not gonna be competitive with you. 
Hemingway: You’re too self-effacing. It’s not manly. If you’re a writer, declare yourself the best writer. 

Dan meski saya tidak tahu, apakah dialog film di atas hanya rekaan atau mungkin pernah diucapkan sungguhan oleh Ernest Hemingway semasa hidupnya dan lalu dikutip di film ini; tapi saya setuju bahwa sebagai penulis, mentalitas kita harus memastikan diri sebagai penulis terbaik. Dan maksud saya, bukan ngawur saja menganggap tulisan sendiri sangat bagus, tapi kita membentuk diri sendiri menjadi begitu. Tentu, siapa yang benar-benar tahu bagaimana caranya? Bukankah W. Somerset Maugham berkata, "There are three rules for writing a novel. Unfortunately, no one knows what they are." ? Ya, saya tahu penulis bukan melulu penulis novel saja. Tapi, yang saya maksudkan, siapa yang benar-benar tahu cara menulis yang paling tepat? Itu maksud saya dengan meminjam perkataan Maugham. 

Salah satu tips menulis yang saya dapat adalah dengan banyak membaca. Dengan membandingkan tulisan sendiri dengan tulisan orang lain, menurut saya memiliki dua dampak, karena tergantung dengan tulisan siapa kita akan membandingkannya. Jika saya membandingkan tulisan "amatir" saya dengan yang setara, mungkin saya bisa sombong dan merasa tulisan saya lebih baik; atau merasa heran tulisan yang sepertinya tidak lebih bagus dari saya, mengapa ternyata bisa terpilih atau menang ini dan itu? Itu sebabnya, sikap sportif harus terjaga. Jangan apriori dalam membandingkan tulisan sendiri! Lalu, jika saya membandingkan tulisan dengan penulis yang memang sudah terbukti bermutu tinggi, seperti para sastrawan atau penulis ternama, akibatnya saya mungkin bisa kecil hati karena merasa tidak sanggup bersaing dengan mereka.

Lagi-lagi mengutip dialog dalam film Midnight in Paris :

Ernest Hemingway: If it's bad, I'll hate it because I hate bad writing, and if it's good, I'll be envious and hate all the more. You don't want the opinion of another writer.

Ya, seorang penulis entah cuma setitik debu atau sebongkah batu, tentu memiliki egonya masing-masing. Siapa yang betul-betul suka kritik? Siapa pula yang benar-benar peduli pendapat penulis lain? Dan saran atau tips menulis yang cocok untuk penulis A belum tentu cocok diberlakukan untuk penulis B. Pada akhirnya, ini bukan soal benar atau salah, tapi lebih ke soal selera. Dan pada akhirnya, saya setuju dengan Maugham. Kita harus mengambil cara yang paling sesuai dengan kita.

Di antara episode-episode kebingungan saya, saya menemukan : ketimbang membaca puisi-puisi yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu menginspirasi saya, saya memutuskan untuk menolong diri sendiri dengan mulai membaca 500 puisi teratas yang saya temukan di www.poemhunter.com dan mungkin mulai membaca kumpulan puisi dari para penyair yang namanya tertera dalam daftar 500 puisi teratas itu. Sejauh ini, karena masih kesulitan mengatur waktu, saya baru sempat membaca sebuah puisi yang ditulis oleh Maya Angelou yang berjudul Phenomenal Woman yang rimanya sangat catchy, juga isinya menawan hati. Hari ini saya juga menyempatkan diri membaca beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Guy de Maupassant dari buku kumpulan cerpen berjudul Mademoiselle Fifi.

Kesimpulan saya : kompetitif boleh saja, namun sportivitas harus tetap terjaga.

Rabu, 26 Juli 2017

Ucapan Versus Tindakan

Belakangan ini, saya jadi gampang tersulut dengan segolongan oknum yang mahirnya cuma bicara saja, tapi saat sudah membicarakan pelaksanaan, ada saja alasannya. Lucunya, di mana-mana ketemu saja orang yang serupa dengan saya, yang telanjur murka dengan PHP (Pemberi Harapan Palsu) saja. Ketika janji ini-itu dilontarkan memang merdu di telinga, saat ditagih eksekusinya, yang dikeluarkan cuma dalih dan alasan semata. 

Teramat geram dengan segolongan oknum seperti ini, tidak peduli siapa, dan dengan cara apa saja, saya jadi punya kebiasaan baru membagikan kisah inspirasi, artikel yang saya setujui, dan lain sebagainya, yang intinya cuma satu : ucapan tanpa tindakan, itu namanya menipu. 

Buat saya, menipu itu tidak harus menggelapkan uang. Tidak mengerjakan apa yang sudah dijanjikan, cuma sekadar bicara saja, buat saya ini juga termasuk kategori menipu. Menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan, sekalipun tidak sampai membuat pelakunya diseret ke pengadilan dan dibui, tapi tidak lantas harus dibiarkan lari.

Manusia dewasa bukan anak-anak; yang kalau ketahuan makan es krim (padahal sudah dilarang karena takut batuk dan pilek), serta-merta menyangkal, lalu menangis meraung-raung, merasa diperlakukan dengan kejam saat diomeli. Manusia dewasa harus berhadapan dengan konsekuensi. Kalau senang mengingkari janji, siapa yang mau percaya lagi? Kalau cuma bicara saja, tapi minim aksi, siapa yang  tidak akan keki? 

Berlian mungkin mahal, tapi tidak semahal kepercayaan. Sekali diberikan dan disalahgunakan, tidak mudah untuk kembali diberikan, seolah hanya recehan. Jadi, tolong camkan : jika tidak bisa menepati, lebih baik tidak usah berjanji. Jika tidak bisa memberi bukti, lebih baik bicara dalam hati. Lebih banyak ucapan, seharusnya dibarengi dengan lebih banyak tindakan. Dari dulu hingga sekarang, banyaknya ucapan tidak akan seberapa dihargai, jika tidak ada pelaksanaan. Dari dulu hingga sekarang, tindakan berbicara lebih kuat, ketimbang sekadar ucapan.

Siklus Kebodohan

Sejujurnya, bagi saya, tidak ada yang lebih bodoh dari segelintir orang yang mencoba mencaritahu tentang sebuah fakta dengan mengirim orang-orang yang kredibilitasnya tidak dapat dipercaya untuk memancing pertanyaan yang menggusarkan dan meluruhkan kesabaran, lalu ketika dijawab dengan meradang, sekalipun sarat kejujuran, dan ketika manusia-manusia tanpa kredibilitas itu menyampaikan jawabannya sesuai versi mereka, lalu segelintir orang itu mendadak sakit hati, merasa jawaban itu muncul dari sosok yang penuh kesombongan, sok tahu, penuh intimidasi dan tuntutan, pendeknya memecah keesaan. 

Siklus kebodohan yang betapa bodoh. Sebuah repetisi berulang yang menyebalkan. Kebodohan yang dibuat sendiri, dengan mencari masalah mengutus orang-orang tanpa kredibilitas untuk mengorek permukaan, dan malah menimbulkan luka. Luka yang diciptakan sendiri, tapi merasa diri dicelakai. Lalu, menempatkan diri sendiri sebagai korban. 

Ada pula, tipikal manusia dangkal yang merasa dirinya begitu spesial, merasa terlukai jika orang tidak sependapat dengannya. Jika salah, merasa sakit hati jika dikoreksi. Merasa normal saja merendahkan orang lain, dan ketika orang merespon sesuai perlakuannya, merasa telah dihina. Bahkan, merasa tersakiti juga. Senang menampilkan diri sebagai yang paling peduli, paling memahami, paling bijaksana, dan bisa bersimpati, juga paling mengetahui update terbaru, nyatanya hidup dalam perasaan rendah diri dan butuh pengakuan di mana-mana dan dari mana-mana. Jika bualannya tidak ditanggapi, lalu merasa dilukai. Jika bualannya disangkal, merasa dijahati. Jika orang enggan memberitahu sesuatu, dianggap sengaja mau mengucilkan. Jika diberitahu, merasa direpoti, merasa  disudutkan dengan sengaja, merasa ditempatkan sebagai tokoh antagonis jika dia tidak ikut serta dalam hal yang sudah kewajibannya. Diam-diam merasa iri jika orang lain menuai pujian; sungguh pun orang bisa membedakan apa yang dikerjakan orang karena haus pujian atau berasal dari ketulusan. Diam-diam haus kekuasaan; merasa diri disingkirkan, jika tidak bisa ikut menitahkan. Seolah alam semesta adalah miliknya, merasa segala galaksi seharusnya berputar di sekeliling dirinya.

Saya terhempas di antara angkara dan murka. Ritual muak, kini berganti jijik, karena siklus kebodohan masih berulang. Sebuah repetisi tanpa henti.