Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Sabtu, 08 Juli 2017

Ketika Saya Letih

Hari ini saya merasa letih. Sebenarnya, kemarin dan kemarinnya lagi pun sudah merasa letih. Letih mengejar mimpi yang lebih mirip ilusi. Letih dengan ekspetasi yang lebih mirip delusi. Letih dengan mimpi dan ekspetasi sendiri. Juga, letih dengan mimpi dan ekspetasi orang lain juga.

Saya rasa, pada akhirnya, saya letih dengan semua yang tipikal. Semua yang terbaca jelas dan bagai buku terbuka bagi saya. Dan letih dengan semua kedunguan orang-orang, yang sama sekali tidak tahu bagaimana membaca saya. Dan karena begitu tipikal, letih dengan semua kesalahpahaman mereka. Letih ... terlalu letih dengan semua yang tipikal.

Letih dengan orang-orang dungu, yang mengira eksistensi manusia adalah demi mendapatkan sebuah label. Jika mereka senang dilabeli, bukan berarti saya harus dilabeli juga. Jika tujuan hidup mereka hanya demi sebuah label, maka silakan saja. Jika mau hidup demikian, ya biar saja. Bukan berarti saya bersedia dilabeli juga. Eksistensi saya tidak perlu ikut-ikutan tipikal, setipikal mereka. Tujuan hidup saya bukan demi label belaka.

Saya muak dengan semua yang tipikal. Saya muak dengam semua label. Saya muak mencerna mereka. Saya muak semua kedangkalan yang begitu tipikal. Saya muak dengan semua ketipikalan yang begitu dangkal.

Saya muak ... dan saya letih untuk terus merasa muak.

Kamis, 06 Juli 2017

Akhirnya ... Follower Pertama

Ya, hari ini tanpa disangka-sangka, saat kebanyakan orang sudah nyaman di peraduan mereka. Saya masih melek, meski mata sejujurnya hampir terkatup. Saya menulis untuk yang ketiga kalinya pada hari ini. Maksud saya, saya menulis sebuah untuk blog, sebuah untuk disembunyikan di draft, dan sebuah lagi ya tulisan ini.

Kemarin, saya mengeluhkan tentang follower. Bukan di blog saya. Karena, meski jumlahnya tidak luar biasa, masih ada yang bersedia mengikuti blog saya. Ini tentang sebuah platform yang baru beberapa hari saya ikuti. Saya sudah berusaha produktif setengah mati (setengahnya lagi, hidup), malah jadi bingung sendiri, upaya setengah hati untuk menjaring follower, berharap tulisan saya diminati untuk bisa diikuti. Berharap banyak yang membaca, sehingga saya bahagia.

Ya, ukuran bahagia saya memang dungu. Saya akui itu. Dulu ukuran bahagia saya diukur jika pagerank blog saya minimal 3. Jika turun, bisa agak depresi. Belakangan, tidak lagi peduli. Dan blog ditelantarkan ratusan hari. Lalu sejak Mei belum lagi berganti, sehari sebelum Juni, jadi mendadak menulis setiap hari. Dan kini, merasa bersalah jika berhenti. Tapi, saya tidak janji, bisa memaksa diri menulis setiap hari. Sebab, resolusi beda dengan janji; jadi tidak harus dipenuhi.

Nah, tepatnya hari ini, follower yang tak disangka-sangka itu akhirnya dapat juga. Meski, hanya satu saja. Ya, saya bersyukur sesyukur-syukurnya bahwa Tuhan tahu saya memang sedungu itu. Bahwa ukuran bahagia saya tidak bisa sederhana. Sederhana artinya, ya sekedar berterima kasih (saja), bahwa masih bisa hidup dan bernafas dengan leluasa, belum lagi mengalami penyakit kronis (saya mau tetap sehat), sehingga memerlukan tabung oksigen untuk membantu bernafas. 

Ya, kriteria bahagia saya memang nyeleneh. Saya tahu itu dari dulu. Maksud saya, kriteria bahagia bagi perempuan pada umumnya, ya jika target menikah sudah terlaksana, lalu mendapat momongan, dan sejenisnya. Dan saya, kriteria bahagia saya selalu berkaitan dengan angka. Dari mencemaskan pagerank turun, hingga follower pertama. Padahal saya tidak pandai matematika; jadi mengapa  saya terobsesi dengan angka? Sungguh, saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Mengganti Resolusi

Sebuah resolusi, umumnya dibuat saat menjelang pergantian tahun. Biasanya tahun yang baru adalah saatnya memperbaiki komitmen dan prioritas dalam mewujudkan sesuatu. Namun, menunggu hingga pergantian tahun, baru membuat resolusi, tentu saja tidak harus begitu. Saya sendiri berpikir untuk mengganti resolusi saya; dari menulis setiap hari menjadi membaca setiap hari. Tentu, sedikit atau banyak, saya memang membaca setiap hari, meski mungkin yang dibaca cuma Alkitab; tapi tetap saja terhitung membaca.

Mungkin, saya juga akan menyempatkan untuk tetap membaca artikel psikologi, dan menyelesaikan tiga buah buku novel yang sebagian kecilnya sudah saya baca, dan sebagian besarnya terbengkalai oleh saya. Dan semoga, dari membaca setiap hari, pikiran saya bisa tetap "cerewet", sehingga saya juga bisa menulis setiap hari.

Terkadang, apa yang saya kira sebagai prioritas malah seringkali membuat saya kehilangan fokus. Dari sekadar mengedit "ringan" tulisan lama untuk diposting, malah membuat saya lupa untuk menulis yang baru. Dan kadang, malah bingung sendiri mau menulis apa. Juga, jadi bingung sendiri, menulis di blog saya, atau dipublikasi di wadah yang mengiming-imingi royalti. Pada akhirnya, saya mau tak mau, tetap harus mengikuti kata hati. Jika menulis menjadi tekanan dan tuntutan, tentu tak lagi menyenangkan. Bukankah menulis yang menyenangkan, harus membuatnya menjadi semacam petualangan? 

Saya memutuskan mengganti resolusi; dari menulis setiap hari, menjadi membaca setiap hari. Mungkin, dengan sendirinya akan mengikuti. Dari membaca setiap hari, bisa dibarengi dengan menulis setiap hari. Dari menulis demi royalti, diganti kembali menjadi menulis dengan mengikuti kata hati. 

Memang, September nanti IIBF (Indonesia International Book Fair) akan diadakan lagi, dan kami juga dari tahun lalu, saya dan sahabat saya berencana akan memborong buku. Tapi, sekali lagi, resolusi harus diganti. Berhubung, tak bisa terlalu mengharapkan royalti untuk mencari tambahan dana untuk berbelanja buku; mungkin ketimbang dengan serakah ingin memiliki buku ini dan itu, saya lebih baik menghabiskan membaca dulu stok semua buku, yang sudah ditimbun sejak beberapa tahun yang lalu, dan belum semuanya selesai dibaca. Memang, membeli di saat event besar, biasanya penerbit berlomba-lomba memberikan potongan harga. Tapi, September toh belum lagi tiba. 

Juni ke Juli, bulan telah berganti. Dan ternyata, sungguh tak apa-apa untuk mengganti resolusi.

Rabu, 05 Juli 2017

Antara Rencana dan Realita

Tadinya saya berencana, setelah Juni usai, saya akan meneruskan menulis setiap hari. Nyatanya, saya hanya menulis di hari pertama. Keesokannya hingga hari keempat, saya sibuk memindahkan koleksi puisi saya yang saya tulis saat remaja dulu hingga kira-kira usia saya 20-an awal ke platform yang saya ikuti. Tentu saja, saya juga menyadari, sampai kini pun puisi saya belum lagi sehebat buatan para penyair yang saya kagumi. Bedanya, tentu jelas sekali. Jika konon, Chairil bisa memikirkan sebuah kata saja sampai berhari-hari, saya menulis puisi tidak sampai setengah hari. Mengenai kualitas, ya jangan dibandingkan.

Setelah sibuk dengan puisi, saya lalu terobsesi memindahkan tulisan saya berupa prosa (novel pendek dan cerpen), lagi-lagi ke platform. Tulisan yang tidak seberapa saya banggakan. Saya menulisnya bertahun-tahun yang lalu, saat saya menulis hanya sekadar kesukaan, dikerjakan sekadar cepat selesai, supaya bisa lekas dikirim, baik ke penerbit atau majalah yang dilombakan. Sebenarnya, sebagian besar (kalau tidak semuanya) adalah rejected writings. Tulisan yang memang sudah ditolak oleh penerbit dan tidak memenangkan lomba.

Kadang, saya merasa ambigu, antara idealisme dan selera pasar. Sejak dulu, cerita percintaan yang banyak diburu. Dan, mau tak mau, ya harus menulis yang sejenis itu. Masalahnya, mimpi saya adalah menerbitkan antologi puisi, bukan sejenis novel kacangan yang banyak diminati.

Saya memang serba salah. Tidak suka menulis yang manis-manis. Dibuat manis pun, ternyata tidak cukup manis juga untuk disesuaikan dengan selera pasar. Sejujurnya, meski penyuka happy ending, sampai sekarang saya masih tidak tahu bagaimana menulis dengan akhir memuaskan, tanpa membuat kisahnya jadi terkesan picisan. Konon (ini menurut opini sahabat saya), sebuah kisah cinta semakin tragis dan miris, justru semakin dianggap romantis dan (agak berbobot). Ya, saya pun mencoba mengikuti sarannya. Jika dulu, saya menulis dengan ending bahagia yang mungkin agak dipaksa, sekarang saya cenderung membuat cerita tentang perempuan nelangsa yang kurang beruntung dalam percintaan, dan tak tahu kapan menjelang bahagia (saya mendadak teringat novel Waiting to Exhale); dan sangat bergantung kepada rima, sambil pura-pura menguasai sastra, sambil berdelusi saya bisa menulis sesadis Shakespeare membunuhi Romeo dan Juliet sekaligus, atau ... Ya, saya tidak kelingan (ingat) mana lagi yang endingnya tragis. O ya, Wuthering Heights tragis juga. Ya, saya penyuka happy ending. Sesadis-sadisnya saya, tokoh utamanya tidak pernah saya bunuh. Maafkanlah kepengecutan saya, duhai Shakespeare, meski sudah engkau beri contoh, paling maksimal satu-dua saja karakter yang saya bantai. Kalau karakter antagonis mungkin tidak masalah mati sebanyak-banyaknya, tapi yang protagonis cukup satu saja, dan pastinya bukan tokoh utamanya.

Jalan masih panjang, bagai tak ada ujung (Duh, kenapa ingat Iwan Simatupang?). Perjalanan masih jauh untuk menelurkan masterpiece; jangan mimpi langsung bestsellers. Lupakan royalti, follower saja susah dikumpulkan. Pada akhirnya, makin lama makin ambigu, makin lama makin dungu. Saya makin kehilangan arah. Tidak tahu bagaimana harus fokus. Pada akhirnya, saya tetap saja lebih suka (sok) sastra. Lebih suka menulis apa adanya. Antara imajinasi dan reality, saya ternyata paling lancar menulis yang kedua. Dan paling merasa nyaman menyatakan opini saya.

Ketimbang (sok) menulis chicklit, saya ternyata lebih suka (sok) menulis sastra. Dan saya bertanya-tanya, di platform itu, mengapa tidak ada genre sastra???