Translate

Total Tayangan Halaman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Rabu, 23 Mei 2018

Dinding-dinding Bercerita

Sabtu yang silam, saya berkesempatan menghadiri pameran mengenai kehidupan seorang Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk catatan dan arsip. Pameran yang masih berlangsung hingga 3 Juni nanti. Bisa diintip di IG @dialogue_arts. Hal yang pertama membingungkan saya adalah jejeran pakaian yang dipajang di etalase yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Ini memang tempat pamerannyakah? Berhubung baru pertama kali menjejakkan kaki ke sini. Setelah masuk dan mendapati ruangan dengan pencahayaan yang temaram, mata saya langsung tertumbuk dengan larangan untuk mengambil gambar pada dinding yang berisi potongan biografi yang ditempelkan di sepanjang dinding. Dengan instrumentalia lembut, keremangan cahaya, dan untaian kalimat yang tertera dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia) di sepanjang dinding-dinding putih, saya bersama para pengunjung lainnya dibawa menelusuri masa silam. Masa di mana Pramoedya masih hidup dan imajinasi seolah ditarik ke waktu di mana saya bahkan belum terlahir. 

Dimulai dari masa kecilnya yang tiga kali tinggal kelas, kita (setidaknya saya) seolah diberitahu bahwa kisah yang sedang kami ikuti bukanlah kisah tentang kemenangan dan kesuksesan. Ini adalah kisah tentang seorang yang telah merasai apa itu kalah bahkan dari usia yang masih sangat belia. Sekalipun saya tumbuh dengan keyakinan bahwa rokok itu sejenis candu yang egois yang bisa membunuh siapa saja (sekalipun perlahan dan tidak drastis), saya tidak bisa tidak memahami dan bersimpati bahwa rokok mungkin menjadi semacam pelarian dari rasa kalah bagi Pramoedya. Dihiasi dengan berbagai kutipan yang inspiratif, lantang, dan tegas, ada beberapa kutipan yang terasa sangat membekas.

Beberapa di antaranya adalah :

I happen to be pretty productive when I am in jail. When you are in jail, you have to spend more time with yourself.

Pramoedya malah lebih produktif saat dia dibui. Saya mencoba menempatkan diri sendiri di tempatnya. Mungkin jika saya yang dibui, saya hanya akan menangis dan merutuki nasib. Mungkin karena dia sudah belajar kalah saat masih di usia sekolah, hidup sudah menempa semangat untuk berjuang sejak awal. 

Saya selalu percaya, dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis bahwa hari esok, akan lebih baik dari hari sekarang.

Mungkin hari ini kita merasa wajar bersikap skeptis dan pesimis jika mendengar kalimat afirmasi yang diutarakan para motivator. Bagaimana jika ucapan ini terlontar dari seseorang yang hidup dalam penjara selama bertahun-tahun lamanya? Seseorang yang karya-karyanya dihancurkan, tapi tidak kehilangan semangat untuk membuat karya yang baru. Seseorang yang memakai material apa saja untuk bisa terus berkarya. Terus menulis, menuangkan pikirannya, memberikan kontribusinya pada dunia tak peduli ada ancaman kerangkeng di luar, dan kekalahan yang mendera di dalam. Jika api harapan belum lagi padam, terlontar dari mulut seseorang yang pernah merasai penjara hingga bertahun-tahun lamanya, masihkah kita bisa dengan skeptis berujar bahwa afirmasi tidak mengubah keadaan? Tidak ada cukup penjelasan yang dapat menerangkan "sesuatu yang mistis bahwa hari esok, akan lebih baik dari hari sekarang." Tubuh boleh terpenjara, namun semangatnya untuk terus berkarya dan berjuang tetap merdeka tanpa kungkungan.

Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Mungkin hari ini kita tidak lagi merasakan kolonialisme, tapi bisa saja mentalitas kita adalah mentalitas yang terjajah. Mungkin terjajah oleh stigma, peraturan tak tertulis, atau yang lainnya. Seorang Pramoedya seolah mengingatkan kita untuk berhenti menjadi pengecut dan mulai melawan penjajahan, apapun bentuknya.

Yang harus malu itu mereka karena mereka takut untuk bekerja. Kau kan kerja. kau tidak boleh malu. Mereka yang harus malu, Tidak berani kerja. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan. 

Selama pekerjaan itu halal, bahkan profesi semacam batur atau tukang becakpun profesi yang mulia. Setidaknya, menurut interpretasi saya demikian.

Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan.

Mungkin kita sudah sering mendengar kalimat semacam "Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan." Jika seorang Pramoedya yang menuturkan, mungkin hasilnya adalah seperti kutipan di atas.

Mulanya, saya ingin sekali mencatat semua potongan biografi di dinding-dinding putih itu selama berjalan setapak demi setapak sambil membaca dan meresapinya. Belakangan, saya bersyukur atas pencahayaan temaram yang seolah menghalangi untuk leluasa mencatat. Ditambah ruang yang tak begitu luas. Dengan begitu, saya bisa lebih menghayati (meski tentu berbeda dengan merasai sendiri) sempitnya sel yang dulu dihuni Pramoedya, juga hasratnya untuk terus menulis, bahkan di kertas bekas. Menyelami bahwa semua keterbatasan ternyata tak bisa membatasi apa yang lebih besar: semangat untuk terus berjuang.

Hanya berbekal ingatan, saya mencoba merekam semua kesan itu dalam tulisan sederhana ini. Semua kutipan saya cari dari mesin peramban. Juga rasa penasaran saya mengenai hobi Pramoedya membakar sampah. Konon untuk meluapkan emosi. Surat-surat yang ditujukan kepada Pramoedya selama pemenjaraannya yang ditulis oleh anak-anaknya yang melalui sensor. Salah satu yang berkesan justru tentang pohon-pohon yang berbuah di pekarangan rumah Pramoedya. Kisah tentang kerinduan anak pada bapaknya. Kisah tentang sayunya menikmati panen buah tanpa orang yang dicintai bisa turut merasakannya.

Saya sempat tanpa sengaja membentur salah satu dinding kaca di ruangan yang memperlihatkan ruang kerja Pramoedya. Mungkin karena cahaya yang remang-remang.  Lebih mungkin karena kecerobohan saya. Saya seolah diingatkan, seperti dinding penjara yang pernah membui Pramoedya, berbenturan dengan kekuasaan kadang menuntut keberanian, kemerdekaan berpikir, dan seharusnya sebelum menjadi renta dan tak lagi berdaya, "pemuda harus melahirkan pemimpin." Pemimpin yang bisa membekali mereka yang dipimpinnya dengan keberanian berjuang sebelum berkalang tanah.

Senin, 23 April 2018

Andai ...


So if we get the big jobs

And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school
Still be trying to break every single rule?


Dulu saat saya pertama kali mendengar lagu ini, saya menyukai video klipnya yang buat saya lucu, iramanya enak didengar, dan liriknya menggelitik. Salah satu bagian yang lucu itu memperlihatkan sebuah kelas di mana seorang siswa yang sedang terkantuk-kantuk diganggu oleh teman sekelasnya yang menerbangkan origami pesawat ke arahnya. Saya jadi teringat lagu lain yang dinyanyikan The Corrs yang juga memuat bagian menerbangkan origami pesawat. Ya, maksud saya video klip So Young, yang membuat saya teringat juga akan lagu Would You Be Happier. Memiliki tema yang agak mirip, tema dari ketiga lagu ini menggelitik benak saya, terutama lirik lagu Graduation dari Vitamin C. 

Sering kali saya mengeluhkan (meski kadang hanya dalam hati), andai saya bisa membeli lebih banyak buku atau mengerjakan lebih banyak hal. Memiliki daftar buku yang ingin dimiliki, tapi belum juga dibeli. Memiliki daftar resolusi yang ingin dipenuhi, tapi kekurangan energi untuk mencapainya. Belakangan, ketiga lagu ini seolah "memaksa" saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang serupa. Jika kelak uang bukan masalah dan saya bisa membeli sebanyak mungkin buku yang saya mau, masihkah saya merasa antusias jika kelak buku yang diincar pada akhirnya berhasil didapatkan, apalagi ditambah dengan potongan harga (apalagi berbonus tanda tangan penulisnya)? Jika saya bisa mendapatkan semua yang ingin saya capai, masihkah kelak saya memiliki impian-impian baru yang lebih baik? Bisakah saya menghargai pencapaian yang lalu? Jika di dalam hidup, segala hal bisa diperoleh dengan mudah seperti menjentikkan jari-jari tangan, masihkah tersisa cukup makna untuk harga sebuah perjuangan? Jika hidup tak pernah mengenal kata lelah, bisakah kelak ada daya untuk memahami apa itu kepuasan? Jika hidup melulu tentang kesungguhan, mungkinkah kelak humor akan punah? Hanya tersisa wajah-wajah serius dengan kening berkerut dan guyon melulu harus politis? Jika suatu hari semua orang setuju dengan satu sama lain dan dalam segala hal, masihkah pemberontakan terasa romantis dan idealis? 

Ketiga lagu ini iramanya menyenangkan, tapi ada sesuatu yang menggelitik di dalam liriknya dan membuat saya bertanya-tanya, merenung, berpikir ... Mungkin, hidup bukanlah persoalan memastikan segala sesuatunya harus berjalan sempurna. Di antara kekurangan yang ada di sana-sini, ada kesempatan untuk menambal yang kurang. Lagi pula, bukankah sempurna itu membosankan?

Selasa, 27 Februari 2018

Sepintas Memintas IDN Times

Sebenarnya, saya baru mengenal IDN Times baru-baru ini saja. Sebelumnya, saya bahkan tidak tahu bahwa ada sebuah situs bernama IDN Times. Satu hal yang langsung saya rasakan sebagai kelebihan adalah para penulisnya yang mendapatkan royalti berdasarkan jumlah pembacanya. Saya rasa ini merupakan sebuah hal yang baik. Baik penulis maupun pembaca sama-sama merasakan manfaatnya. Pembaca kadang ingin membagikan sebuah link yang menurutnya informatif. Terkadang yang dibagikan itu ternyata hanya sebuah hoax belaka (misalnya hoax kesehatan). IDN Times bisa menjadi sebuah alternatif untuk membagikan informasi yang lebih terpercaya ketimbang membagikan hoax yang alih-alih bisa membuat penyebarnya terjerat UU ITE. 

Secara sepintas, IDN Times bisa menyedot pembaca dari berbagai jenis orang. Bagi pembaca yang menyukai berita ringan yang tidak memuat terlalu banyak kata, ada artikel yang lebih mengutamakan gambar ketimbang kata, misalnya tips, DIY, berita seputar artis lokal atau mancanegara. Topik dari yang ringan dan disukai semacam zodiak, relationship, bahkan quiz juga. Quizpun bisa berangkat dari topik yang ringan sampai mengarah ke topik psikologi. Bagi orang yang tidak percaya zodiak, mereka masih bisa membaca artikel bertema psikologi. Bagi yang suka memasak atau menata ruang ada juga artikel seputar resep dan tips yang berkaitan dengan inspirasi desain interior. 

Setelah mengamati, untuk kategori fiksi, cerpen memiliki tema yang lebih mendalam ketimbang puisi. Cerpen sendiri terasa jauh lebih puitis ketimbang puisi. Untuk seseorang yang menyukai tema ringan, puisi menjadi salah satu alternatif bacaan. Jika menginginkan bacaan puitis dengan tema yang lebih beragam, cerpen menjadi alternatif yang lebih masuk akal ketimbang puisi.

Untuk berita, menurut pengamatan saya, berita lokal (Indonesia), IDN Times tidak jauh berbeda dengan situs sejenis, didominasi oleh berita politik, sedang berita mancanegara (World) lebih beragam topiknya, sekalipun tidak ada yang sangat istimewa yang membedakan IDN Times dengan situs-situs berita lainnya. Sementara untuk Hype, artikel bertema Fun Fact lebih unggul ketimbang tema lainnya. Untuk kategori Life, semua topik sama pentingnya, tapi secara pribadi saya paling menyukai topik inspirasi, namun tak dapat dipungkiri topik women lebih menghibur ketimbang topik lainnya dalam kategori ini. Untuk kategori Automotive dan Business artikelnya dikemas ringan sehingga mudah dipahami. Untuk kategori sport, khususnya arena terasa kurang lengkap. Meskipun disisipkan berita seputar MotoGP, tapi berita menyangkut Formula One belum banyak ditulis. Untuk kategori Travel, topik tips tentu yang paling bermanfaat, namun topik journal dan destination memiliki keunikannya masing-masing. Untuk kategori Tech, topik trend yang paling menjawab kebutuhan, bisa dinikmati oleh mereka yang bukan pecandu gadget atau games, sebab topik yang diangkat memberikan informasi yang bisa langsung diterapkan. Untuk kategori Food dan Health, secara keseluruhan hampir sama dengan situs sejenis, namun topik fitness menyelipkan beberapa artikel yang cukup menarik yang membahas seputar mitos kesehatan. Ketimbang menyajikan topik yang menimbulkan paranoid bagi pembaca (misalnya gejala penyakit yang sering diabaikan), mungkin lebih bermanfaat jika menyajikan topik beragam seputar tips kesehatan atau artikel yang membahas tentang hoax kesehatan yang telanjur beredar di masyarakat. Artikel yang mengedukasi akan menjadi bantuan yang bermanfaat. Untuk kategori Science, sekalipun topiknya cukup menarik, tapi tidak ada yang menonjol. Untuk kategori Opini, topik sosial lebih menonjol ketimbang politik. Meski begitu, akan lebih menarik jika sebuah artikel opini diperkuat dengan argumentasi yang kuat dan tidak melulu berisi pernyataan persetujuan atau ketidaksetujuan mengenai sesuatu hal. Apalagi jika penulisnya tidak sekadar beropini, tapi juga memberikan masukan, saran, atau solusi mengenai kondisi sosial yang dibahas dalam artikelnya. 

Kamis, 01 Februari 2018

Membaca untuk Hidup

Saya lupa siapa yang mengatakannya dan bagaimana persisnya ucapan yang dia katakan, tapi saya harus mengakui kutipan yang pernah saya baca itu memang benar; bahwa kita perlu membaca tidak saja buku-buku yang dianggap bagus, tapi buku-buku yang jelek juga. Pada saat membaca kutipan itu, tentu saja saya tidak setuju. Dalam benak saya, hanya buku-buku bagus yang layak dibaca. Namun, setelah berkutat dengan setidaknya tiga buku yang menurut saya sukar dibaca, karena tidak membuat saya kecanduan membacanya dan kesulitan menyelesaikannya, saya akhirnya setuju dengan kutipan yang sebelumnya tidak saya setujui itu. Tentu saja, bagus dan jelek sangat subyektif sifatnya, bergantung kepada selera pembacanya, dan bisa sangat berbeda antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lainnya. Pada akhirnya, tidak ada sebuah standar yang pasti apakah sebuah buku bagus atau jelek. Dan mengutip Gustave Flaubert, "Do not read, as children do, to amuse yourself, or like the ambitious, for the purpose of instruction. No, read in order to live.", kita seharusnya membaca untuk hidup. Untuk itu kita tidak seharusnya membaca seperti anak-anak, hanya membaca buku yang memang kita sukai saja. Untuk hidup, terkadang kita harus membaca buku-buku yang tidak begitu kita sukai juga. Mungkin di saat kita menyelesaikan lembar terakhir, tersisip pelajaran penting yang mungkin akan terlewatkan jika kita memilih untuk tidak menyelesaikan apa yang tengah kita baca.

Dari Jiwa-jiwa Mati-nya Nikolai Gogol, saya menemukan bahwa saya ternyata mirip Ulinka, sekalipun karakter Ulinka hanya disisipkan saja oleh Gogol dan porsinya hanya sedikit sekali dalam buku tebal itu. Setidaknya, saya mengenali diri sendiri dari karakter Ulinka yang gampang marah, tapi juga mudah memaafkan. Dari sini saya tahu bahwa saya perlu mengelola amarah saya ke arah yang positif. Menyalurkan kemarahan ke bentuk yang kreatif. Lalu dari dua buku lainnya saya menemukan bahwa sebuah buku dengan akhir bahagia tetap disukai sekalipun ditulis dengan alur linear. Karena di balik ending bahagia, pembaca memiliki afirmasi tersembunyi bahwa hidupnya juga memiliki akhir yang sama seperti karakter dari buku yang dia baca. 

Sementara dari The Sound and the Fury-nya William Faulkner, saya menyimpulkan bahwa asal kita sudah membuktikan diri dan menunjukkan kualitas terbaik kita, tak seorang pun yang keberatan jika kita menulis keluar dari pakem atau nyeleneh (aneh sendiri). Karena ditulis oleh seorang William Faulkner, siapa yang akan menuding dirinya ngawur jika dia sengaja menulis tanpa menghiraukan tanda baca? 

Singkatnya, jika Anda adalah seorang dewasa, jangan membaca seperti kanak-kanak; hanya membaca buku-buku yang disukai saja - baca jugalah buku-buku yang penting yang memang perlu dibaca, sekalipun buku-buku tersebut mungkin tidak sesuai dengan selera Anda. Camkan yang dikatakan Gustave Flaubert, membacalah untuk hidup!