Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Arsip Blog

Rabu, 24 September 2014

Singapore GP 2014 - Quotes of Kimi Raikkonen

Singapore GP - Friday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (4th, 1:48.031):
"Overall this was a positive day, even if, as usual, there is room for improvement. In the first session we concentrated on looking at different set-up solutions and on my first set of Soft tyres I managed to do a good lap, then unfortunately some technical niggles prevented me from getting the most out of the second set. At the end of the session I had a problem with the brakes overheating, but the team managed to sort it out quickly and prepare the car for the second session. The changes we made to the set-up improved the handling of the car and with the Supersoft tyres there was plenty of grip."

Singapore GP - Saturday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (7th, 1:46.170):
"I'm very happy with the handling of my car. Yesterday, we made some changes to the set-up and in qualifying, I finally managed to drive the way I wanted. Unfortunately, in Q3, on my final run on new Supersoft tyres, a problem forced me to pit. It's a real shame as I felt comfortable in the car and we had the potential to get a good result. Now I want to feel confident for the race and I hope the team manages to solve the problem without too much difficulty. Tomorrow, we will do our best to bring home as many points as possible, aware that we are going in the right direction."

Singapore GP - Sunday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (8th):
"Today's race was really frustrating, because despite the fact we were quick, we weren't able to finish where we wanted. My start was good, I moved up a few places and everything was working perfectly. After the first stop, I lost a place to Felipe and from then on, I found myself stuck behind a Williams for the entire race. Unfortunately, every time I managed to get close, I lost aero performance on the rear and on top of that, tyre degradation was very high. It's a real shame I was never able to run my race, even if we already knew that straightline speed is our opponents' strong point. I'm not happy with eighth place, but on the positive side, we have seen improvements this weekend. I'm sure that if, from now on, we don't have problems, things will go better."

Jumat, 12 September 2014

Review Novel Dewi Kawi

Novel pendek yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto ini bercerita tentang Eling, yang kini di usia senja telah menjadi juragan. Berasal dari keluarga miskin, Eling dan adiknya, Waspodo sampai terpaksa mengais kol busuk di pasar untuk menyambung hidup, termasuk juga mengumpulkan air kelapa yang oleh pedagang di pasar dibuang begitu saja karena tidak terpakai, mengumpulkan biji srikaya, sirsak dan kedondong yang diolah menjadi makanan ringan dan malah menelurkan ide usaha. Sewaktu usianya masih dua puluh satu tahun lebih beberapa bulan, Eling pernah jatuh cinta pada seorang pelacur dengan nama Dewi Kawi. Percintaan mereka berlangsung beberapa saat. Eling menjadi pelanggan tetap Kawi. Meskipun Eling tidak dapat membayar lebih seperti pelanggan yang lain, Kawi tetap meladeni, malah menghadiahinya gunting kuku, kaus, dan sarung. Keduanya jatuh cinta dan berniat menikah. Namun, setalah usaha Eling mulai menanjak, termasuk menciptakan produk belut yang lembut yang inspirasinya berasal dari Kawi, perlahan-lahan Eling menjauh dan akhirnya tak pernah menemui Kawi lagi. Ketika Eling akhirnya telah sukses, ia meminta adiknya, Waspodo untuk mencari Kawi, ingin berterima kasih padanya karena dulu telah mencintainya dan memberinya dorongan untuk meraih kesuksesan. Sayangnya pencarian Waspodo terbentur kepada dua belas orang bekas pelacur yang semuanya bernama Kawi. Terakhir, Waspodo merasa Bu Kidul lah yang paling mendekati gambaran yang diceritakan Eling, namun sebelum mengetahui kebenarannya apakah Bu Kidul memang benar Kawi, Waspodo telah keburu meninggal. Bu Kidul sendiri tidak ingat banyak tentang masa lalunya. Pada akhirnya, Eling sendiri merasa ragu untuk menemui Bu Kidul dan mencaritahu apakah ia benar adalah Kawi yang pernah ia cintai dahulu. Ia khawatir kedatangannya malah akan membuat Kawi (jika ia benar Kawi) merasa rendah kalau diingatkan akan masa lalunya sebagai bekas pelacur. Cerita berakhir dengan gambaran keraguan Eling dan tak tersedia akhir yang jelas.

Di sepanjang cerita, Arswendo memang terus menekankan bahwa ingatan adalah sebuah rekonstruksi ulang, bisa didramatisir sedemikian rupa sehingga tidak akurat, seperti juga halnya cinta dan mimpi, seperti sebuah dusta, namun sebaiknya tidak dianggap dosa, sebab ketidak-akuratannya hanyalah karena diromantisasi, bukan karena maksud yang lain. Sebagai sebuah kisah cinta, novel ini tentu saja berbeda, bukan saja karena kedua tokohnya "tidak sempurna" karena bukan melulu menceritakan tentang seorang pria dan wanita, tapi tentang pelacur dan pelanggannya yang saling jatuh cinta. Endingnya juga tidak sesempurna seperti Pretty Woman, di mana Richard Gere jatuh cinta pada Julia Roberts yang berperan sebagai pelacur di film itu. Namun, endingnya yang "tak sempurna" itu justru merupakan akhir yang membumi. Novel ini pun ditulis dengan ringan dan mengalir, tak ada kesan pahit, meski Kawi digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang dinikahkan pada usia dua belas tahun, sampai akhirnya nasib membawanya tinggal di lokalisasi dan mencari nafkah di situ. Penuturan di dalam novel ini sangat blak-blakan dan apa adanya, meski di beberapa bagian juga sangat dalam, puitis, dan indah, seperti beberapa kutipan di bawah ini:

"Kematian perlu upacara, mengenang yang tiada."

"Dalam keadaan jatuh cinta, kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain dari sebatang cokelat sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang tengah jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai dalam pengertian mengubah realitas yang ada."

"Cinta adalah dramatisasi, rekonstruksi ulang segala kejadian yang dialami - atau tak dialami secara langsung. Ketika kita larut di dalamnya, dan tak mampu membedakan mana peristiwa yang sesungguhnya dan mana yang olahan, sempurnalah sudah libatan emosi itu."


Secara keseluruhan, novel ini mudah dibaca. Meski termasuk bacaan sastera, membacanya tidak akan sampai membuat kening berkerut, karena pemilihan kalimat dan konstruksi tata bahasanya yang lugas.

Senin, 08 September 2014

10 Hal yang Saya Cinta

Beberapa waktu yang lalu, saya dan sahabat saya, Herny Yahya memutuskan untuk membuat permainan kecil dengan menyebutkan sepuluh hal yang kami cintai secara random, dan mencaritahu apakah kami memiliki persamaan. Dari kesepuluh hal yang saya cintai, ternyata ada tiga persamaan antara saya dengan sahabat saya, yaitu kami sama-sama mencintai buku, puisi, dan hujan. 

Berikut list dari ke-10 hal yang saya cintai: 
  1. Buku 
  2. Puisi 
  3. Hujan 
  4. Bunga 
  5. Kopi 
  6. Kutipan 
  7. Kejujuran 
  8. Kebulatan tekad 
  9. Loyalitas 
  10. Akhir bahagia 
Mengapa kami harus repot-repot membuat permainan kecil ini? Buat saya sendiri, ini bermula dari rasa prihatin saya dengan banyaknya status yang saya baca yang bernada negatif dan menggunakan emoticon yang juga negatif, dari yang ringan seperti emoticon sedih, hingga emoticon marah. Dengan membuat permainan kecil (yang tak digubris banyak orang ini), kami hanya ingin membuat orang-orang di sekeliling kami mulai memikirkan hal-hal yang lebih menyenangkan ketimbang semua perasaan dan pemikiran negatif tersebut. Meski tampaknya tidak berhasil, tapi buat saya sendiri, hal ini mengilhami saya untuk menulis lagi postingan untuk label "Silly Me" yang telah lama vakum, dan berikut adalah uraian dari ke-10 hal yang saya cintai itu: 

Buku adalah teman yang menyenangkan dan selalu dapat diandalkan, tidak melulu untuk membunuh waktu ketika menunggu atau melewatkan waktu luang, tapi nyaris menjadi kebutuhan primer serupa dengan makan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan melewatkan satu hari tanpa membaca. Bahkan saya sendiri baru menyadari bahwa koleksi buku saya jauh lebih banyak daripada koleksi pakaian saya, padahal pakaian sebenarnya termasuk kebutuhan primer. 

Saya mencintai puisi semenjak saya mendapat tugas membuat puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dulu. Pada saat saya selesai membuatnya, saya baru mengetahui bahwa saya ternyata memang cukup pandai membuatnya. Meski mungkin tidak sebagus karya penyair sungguhan, setidaknya saya tidak perlu memeras otak seperti teman-teman saya saat menyelesaikan tugas membuat puisi. Hingga kini, puisi menjadi sebuah hal yang terasa wajar dan normal untuk menjadi bagian dari kehidupan saya. Saya jadi teringat, saat reuni SMP setahun lalu, mendiang kepala sekolah saya sempat bertanya, "Apa kamu masih suka membaca puisi?" Dan saya sambil tersenyum mengiyakan pertanyaannya. Puisi bisa menjadi sebuah persembunyian. Saya bisa saja menulis buku harian dalam bentuk puisi dan jika dibaca orang, saya bisa tetap merasa aman, karena belum tentu yang membacanya akan memahaminya. 

Entah mengapa, saya selalu suka hujan. Jangan salah: saya bilang saya suka hujan, bukan kehujanan, bukan pula kebanjiran. Hanya hujannya saja. Ada yang magis dari hujan, ada sisi yang ritmis, romantis, bahkan juga mistis. Saat hujan turun tiba-tiba di siang yang terik, orang bisa terheran-heran, bagaimana cuaca bisa berubah demikian drastis dan tak sesuai perkiraan; bukankah magis? Rintik hujan yang memukuli jendela dan atap; bukankah ritmis? Berjalan di bawah payung menyusuri jalanan yang basah; bukankah romantis? Konon, hujan pun memiliki pawang, supaya tidak turun jika tidak dikehendaki; bukankah mistis?

Saya mencintai bunga, meski tidak semua jenis bunga. Saya menyukai harum lavender, kecantikan mawar, putihnya melati, cerianya krisan, bahkan lembutnya anggrek. Bukankah tanpa bunga, sebuah perhelatan terasa kurang semarak? Bukankah tanpa bunga sebuah prosesi pemakaman akan terasa terlalu beku? Bukankah tanpa bunga, sebuah nisan akan terasa sendirian? Bukankah tanpa bunga, sebuah taman akan terasa kurang indah dipandang? 

Kopi sudah pasti sebuah kebutuhan, juga gaya hidup; dapat diandalkan untuk mengusir kantuk, dapat menjadi inspirasi untuk menulis (setidaknya saya pernah menulis satu atau dua puisi yang berkaitan dengan kopi), dan manfaatnya bagi kesehatan. Hari ini saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa berdasarkan studi terbaru, gejala glaukoma dapat membaik dengan minum kopi. Antioksidan yang terdapat pada kopi dapat mencegah terjadinya degenerasi retina. Sudah pasti pula, kopi lebih enak untuk diminum, ketimbang diperbincangkan. 

Saya menyukai kutipan, baik dari lagu, film, puisi, artikel, buku atau bahkan dari sosok idola yang menurut saya menarik dan inspiratif. Saya mengutipnya di mana saja, di pembatas buku buatan sendiri, disisipkan di antara tulisan saya, pokoknya sesuka saya mau menempatkannya di mana. 

Konon, kejujuran bisa saja menyakitkan. Itu sebabnya ada saja orang yang lebih suka menyembunyikannya atau tidak mengungkapkan seluruhnya. Hanya saja, saya telanjur mencintai kejujuran, dan menganggapnya sebagai hal yang harus dipertahankan. Mungkin itu sebabnya, jika saya mengendus sedikit ketidakjujuran, kepercayaan saya jadi gampang luntur. 

Bagi saya, kebulatan tekad adalah sebuah hal yang harus dipelajari, karena kualitas ini tidak dimiliki semua orang. Saya mempelajarinya dari orang-orang yang saya kagumi. Dari Kimi Raikkonen, pebalap Formula One yang saya kagumi yang butuh waktu tujuh tahun sebelum meraih gelar juara dunianya pada tahun 2007; dari Elizabeth Kostova yang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyelesaikan menulis novel The Historian, dan secara umum, dari semua orang yang tak jera dengan kegagalan, terus berusaha untuk berkarya tanpa menyerah dengan kesulitan. 

Seperti halnya kebulatan tekad, loyalitas pun perlu dipelajari untuk dapat dikerjakan. Sama halnya dengan kejujuran, loyalitas perlu dipertahankan dan diusahakan, bukan dipertanyakan. 

Saya selalu suka yang namanya akhir bahagia. Tidak peduli sebagus apa pun sebuah film, seperti misalnya Gone with the Wind, tetap saja miris ketika Scarlett ditinggalkan Rhett, atau saat Rose ditinggal mati oleh Jack dalam Titanic. Maafkanlah, saya tetap saja sebal saat Nicholas Sparks "membunuh" tokoh utama pria-nya di Message in A Bottle dan saat Erich Segal "membunuh" tokoh utama wanita-nya dalam Love Story. Saya suka akhir bahagia. Itu saja. Akhirnya, semoga lebih banyak akhir bahagia di bab kehidupan semua orang yang membaca postingan ini.

Italian GP 2014 - Quotes of Kimi Raikkonen

Italian GP - Friday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (3rd, 1:26.331): "That was a very busy day, but a positive one. We made the most of every minute available to us in both sessions, managing to try everything we had on our programme. In the morning, we concentrated on assessing different aero configurations, in search of the best level of downforce. Then in the afternoon, we opted for an intermediate solution that seemed to produce the best results on both compounds. The difference between the Medium and the Hard is more or less what we expected; the softer one behaves well, but in terms of driveability, I found the Hard wasn't bad either."

Italian GP - Saturday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (12th, 1:26.110): "After a definitely positive start to the weekend, today in qualifying, I was expecting a better result. I experienced some difficulties in the afternoon, as the car was harder to drive, I was struggling to find the right grip level and I was locking the fronts. That's why, on my last run on the Medium tyres, I made a few small mistakes which prevented me getting further than Q2. Starting eleventh is not ideal but all the same, I will give it my best shot tomorrow. We know we are up against some very strong opponents, but the long run went well and even if the race is another matter, this factor means we can be confident. It will be very important to get off the line well and choose the best strategy. It would be very nice to produce a good result for all our fans who have come to support us here in Monza."

Italian GP - Sunday - Team Quotes
Kimi Raikkonen (9th): "We knew this would be a difficult weekend and today in the race, we saw the proof of that. Overall, I was happy with the handling of the car and the balance was good, but we lacked speed down the straight and I didn't have much grip. As soon as I got close to the cars ahead of me, I lost aerodynamic downforce and the car was sliding all over the place. I think I did the most I could today, even if unfortunately I was unable to get the result I would have wanted for our home race, for the team and all our fans. Now we must think of the upcoming races and continue to work nonstop, because we are coming up to tracks that should better suit the characteristics of our car."