Translate

Total Tayangan Laman

Note

Note: For blogger friends who ever exchange links with me and have removed the blog or change your address, I have removed your link from my blog; including blogs that causes downloaded so difficult. Please remove my link from your blog. Thank you.

Catatan: Bagi teman-teman blogger yang pernah tukar link dengan saya dan telah menghapus blognya atau pindah alamat, saya telah menghapus link kalian dari blog saya; termasuk juga blog yang menyebabkan download jadi sukar. Silakan hapus link saya dari blog kalian. Terima kasih.

Arsip Blog

Senin, 18 Mei 2015

Review Novel Märchenmond (Dongeng Negeri Bulan)

Novel yang berjudul asli Märchenmond dan ditulis oleh Wolfgang dan Heike Hohlbein ini terdiri dari 20 bagian. Mengisahkan tentang seorang remaja lelaki bernama Kim Larssen dan kedua orang tuanya yang sedang dirundung duka karena Rebekka, adik perempuan Kim tiba-tiba saja koma setelah menjalani operasi usus buntu. Setelah kelelahan sepulangnya dari kunjungan ke rumah sakit untuk menengok adiknya yang masih belum siuman, Kim pun jatuh tertidur. Ia terbangun oleh suara Themistokles, seorang penyihir baik dari Dongeng Negeri Bulan yang memintanya untuk datang menolong adiknya yang tersesat dan ditawan oleh Boraas di istana Morgon. Secara ajaib Kim menemukan jalan masuk dan dengan pesawat viper, ia bertekad memasuki Dongeng Negeri Bulan. Sayangnya pesawat Kim jatuh dan dia malah menjadi tawanan Boraas sebelum akhirnya dapat melarikan diri.

Menjadi pelarian yang dikejar oleh tentara hitam anak buah Boraas dengan tangan kanannya, Baron Kart dan Bangsawan Hitam, makhluk jahat yang memenuhi ramalan, Kim pun dengan sebuah keberuntungan berhasil melewati Pegunungan Bayang-Bayang, ditolong oleh Ado dan ayahnya, Raja Kolam, para tak, serta dikawal oleh raksasa bernama Gorg, dan beruang bermata satu bernama Kelhim. Kim akhirnya bisa bertemu Themistokles dan rakyat Gorywynn, mencari sekutu dari ksatria Padang Ilalang dengan pangerannya yang tersisa, Priwinn. Dengan menunggangi seekor naga emas bernama Rangarig, mereka berusaha meminta pertolongan dari Raja Pelangi.

Setelah berhasil meyakinkan Raja Pelangi untuk meninggalkan istananya, Kim baru sadar ia selama ini dimanfaatkan oleh Boraas, pertahanan Gorywynn runtuh, Raja Pelangi dan Themistokles terbunuh menyusul
kematian Raja Kolam yang meninggal terlebih dulu saat mengorbankan nyawanya untuk melindungi Kim dan kawan-kawannya dari kejaran tentara hitam. Kim sendiri terbunuh oleh Bangsawan Hitam yang ternyata adalah sisi jahat dari dirinya sendiri. Namun, tak dinyana tindakan membunuh Themistokles yang adalah bagian baik dari diri Boraas dan membunuh Kim yang adalah bagian baik dari diri Bangsawan Hitam justru membuat keadaan menjadi terbalik. Keadaan terpulihkan seperti sebelum perang. Raja Kolam, Themistokles, dan Kim hidup kembali. Pegunungan Bayang-Bayang menghilang bersama Boraas dan Bangsawan Hitam. Rebekka pun telah siuman. Kim dan Rebekka pun berhasil kembali ke dunia mereka. Kim terbangun dari tidurnya dan bersama kedua orang tuanya, mereka menuju rumah sakit karena Rebekka telah siuman.

Saya tidak bisa menentukan apakah novel bergenre sci-fi ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak atau orang dewasa. Jika ditujukan untuk anak-anak bagian pertamanya yang mengisahkan Rebekka yang koma setelah operasi usus buntu rasanya terlalu "berat" untuk anak-anak dan percakapan antar karakternya juga terlalu filosofis. Kalau pun ditujukan untuk pembaca dewasa rasanya juga terlalu kekanak-kanakan karena benar-benar seperti dongeng, diceritakan dengan plot yang panjang, rumit, dan terkesan berbelit-belit sehingga melelahkan, sehingga untuk pembaca yang tak sabaran seperti saya plotnya jadi terkesan lamban. Selama beberapa bab awal cerita hanya berputar-putar seputar Kim yang mengelabui Boraas dan anak buahnya dengan mengenakan pakaian tentara hitam yang ia rampas dari salah satu anak buah Boraas yang ia lumpuhkan. Lalu deskripsi perjalanan yang rumit dan sulit seperti tidak ada habisnya. Sampai di bagian terakhir pun cerita sepertinya berakhir mengenaskan, lalu tiba-tiba berakhir bahagia dengan penjelasan yang terkesan filosofis, dan cerita berakhir dengan kembali ke dunia nyata, lepas dari Dongeng Negeri Bulan.

Secara keseluruhan, novel ini sangat imajinatif, ditulis dengan detail yang sempurna dan rapi, bahkan terlalu rapi (menurut saya), lumayan menghibur (jika Anda termasuk pembaca yang sabar dan tak terlalu penasaran bagaimana endingnya), dan yang paling penting, berakhir dengan happy ending. Sisanya, tergantung dari selera Anda untuk menentukan apakah novel yang konon "Best Seller International" ini memang pantas dinilai bagus.

Selasa, 28 April 2015

SATU



Tak ingin melihat sakura mekar,
tak berhasrat melihat mentari terbenam.

Tak ingin menyaksikan surya menandai fajar,
tak peduli pada sinar rembulan.

Tak ingin menjejakkan kaki di kota-kota yang tak kukenal,
tak ingin mengasingkan diri dalam perantauan.

Tak kugubris kebun, taman, air mancur, dan lampu kota,
Tak ada niat menyusuri istal, paviliun, bahkan istana,

Tak kuhirau replika surga atau miniatur nirwana,

Hanya satu yang kuingin kutatap selamanya,
Dirimu !

Dan senyum yang berpulas di wajahmu.

Kamis, 16 April 2015

Review Novel THANKS FOR THE MEMORIES

*Review ini saya dedikasikan untuk Herny yang menghadiahi saya novel ini.

Novel yang ditulis oleh Cecelia Ahern ini bercerita tentang seorang wanita muda bernama Joyce Conway yang baru saja kehilangan janinnya setelah terjatuh dari tangga saat dengan tergesa-gesa menuruninya untuk mengangkat telepon yang berdering. Joyce yang setelah sekian lama terbiasa menjalani hari-harinya tanpa suaminya, conor yang bekerja di kota yang berbeda dengan tempatnya tinggal memutuskan bercerai dengan sang suami, setelah menyadari usahanya memiliki anak sebagai satu-satunya usaha terakhir untuk merekatkan hubungan mereka kandas, sesudah bakal bayi mereka yang tadinya ingin dinamai Sean keburu meninggal sebelum sempat dilahirkan.

Sementara itu, adalah Justin Hitchcock, seorang duda yang baru saja diceraikan oleh mantan isterinya, Jennifer yang telah memiliki hubungan baru dengan pria bernama Laurence, memutuskan untuk memberanikan diri menyumbangkan darahnya demi mendapatkan kencan dengan Sarah, wanita cantik dan pintar yang ditemuinya saat menjadi dosen tamu di Dublin. Justin yang kini terpaksa hidup sendiri tanpa isteri dan anak perempuannya, Bea yang tinggal dengan ibunya, terpaksa membiarkan adik lelakinya, Al dan isteri Al, Doris turut campur membenahi apartemen barunya agar lebih layak ditinggali.

Hal-hal aneh mulai terjadi saat darah yang didonorkan Justin diterima oleh Joyce yang sempat dirawat di rumah sakit akibat keguguran kandungan. Beberapa kali Justin dan Joyce tanpa sengaja saling bertemu dan mulai terhubung. Joyce yang tadinya vegetarian dan tak menyukai seni mendadak menyukai daging dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai seni arsitektur, hal yang dia dapatkan dari ingatan Justin. Termasuk pula ingatan akan ayah Justin yang meninggal karena mereguk racun, hal yang hanya diketahui oleh Justin dan ibunya, serta kenangan akan Bea kecil yang menari balet. Meski berusaha mengingkarinya, Justin juga mewarisi ingatan Joyce.

Menghadapi keanehan-keanehan yang terjadi, Justin dan Joyce sama-sama meyakini bahwa hal ini berkaitan dengan darah yang didonorkan Justin dan diterima Joyce. Saat tanpa sengaja berpapasan beberapa kali terciptalah ikatan erat antara Justin-Joyce dan keduanya pun saling jatuh cinta. Namun demikian, percintaan mereka yang dimulai dengan cara tak lazim membuat keduanya tak mudah untuk memulai hubungan.

Novel yang sangat lucu dan mengharukan ini sarat dialog lucu, manis, dalam, dan menyentuh. Kepiawaian penulisnya mampu menyatukan bagian yang lucu dan mengharukan pada beberapa paragraf yang saling berkaitan, membuat pembaca dipaksa tertawa berderai untuk kemudian menitikkan air mata. Misalnya saja, saat Henry, ayah Joice yang takut naik pesawat membuat keributan di bandara, lalu juga saat sudah berada di dalam pesawat dengan berkomentar dan menanyakan banyak hal, bagian yang membuat para pembaca bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal, tapi pada beberapa paragraf berikutnya, pembaca dibawa hanyut oleh haru, saat Henry menatap awan melalui jendela pesawat dengan foto mendiang isterinya diletakkan di meja dan dihadapkan ke jendela pula, seolah Henry ingin memenuhi keinginan ibu Joyce yang sewaktu hidup tak sempat ia penuhi keinginannya untuk bepergian ke luar negeri.

Beberapa kutipan yang dalam dan menyentuh di novel ini antara lain:
  • Kadang-kadang kita membutuhkan seluruh lem yang kita butuhkan, hanya untuk merekatkan diri kita.
  • Sebenarnya, kita semua hanya menyibukkan diri, mengisi waktu yang kita miliki, tapi kita suka membuat diri kita merasa lebih hebat dengan menyusun daftar kepentingan.
  • Tapi lebih seringnya, keputusan-keputusan mudah adalah keputusan-keputusan yang keliru, dan kadang-kadang kita merasa berjalan mundur padahal sebenarnya bergerak maju.
  • Aku berhenti di luar rumah lama kami dan mendongak menatap batu bata merahnya, pintu yang kami perdebatkan akan dicat dengan warna apa, bunga-bunga yang kami pikirkan masak-masak sebelum menanamnya. Bukan milikku lagi, tapi kenangannya masih; kenangan tidak bisa dijual.
Setidaknya, saya menangis empat kali saat membaca novel ini:
  1. di halaman 121 saat Joyce menyadari kebiasaan ayahnya membeli biskuit kesukaan ibu Joyce dan memandanginya, dan berbagai detil lainnya untuk mengenang mendiang isterinya.
  2. di halaman 211 saat ayah Joyce berpura-pura membersihkan kotoran di foto mendiang isterinya padahal ia tengah membayangkan membelai wajah isterinya yang telah meninggal.
  3. di halaman 228 saat ayah Joyce yang ditahan petugas bandara karena dianggap membuat keributan merelakan barang-barangnya disita petugas asal dapat mendampingi anak perempuannya pergi ke London.
  4. di halaman 234 saat ayah Joyce dan foto mendiang isterinya bersama-sama memandangi awan dari jendela pesawat.
Eh, sepertinya lima kali saya menangis (atau lebih?). Seingat saya, saya juga menitikkan air mata saat Joyce tanpa sengaja salah menyebut anak Kate dengan Sean (nama yang akan dia berikan untuk anaknya yang tak pernah terlahir). Bagian yang ini saya lupa mencatatnya ada di halaman berapa. Saat itu saya sedang sibuk mencari tisu untuk mengeringkan mata saya yang berlinangan air mata.

Dan tidak sempat menghitung berapa kali saya tersenyum, tertawa, atau terbahak-bahak saat membaca keseluruhan novel ini. Secara keseluruhan novel ini sangat menghibur dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang. 

Rabu, 15 April 2015

IRONIS

IRONIS

Baru saja menyadari :

Ada orang membeli buku tanpa membacanya untuk memberi sugesti dirinya pintar; beberapa lagi membeli kosmetik yang tidak diperlukan supaya terlihat cantik.

Ada juga yang bepergian ke sana-sini untuk mendongkrak reputasi, supaya merasa trendy, up date, tahu banyak hal.

Malahan, ada juga orang yang dengan pongah bilang, dia baru saja makan di sana (sambil menyebutkan tempat makan bergengsi), kadang mulut gatal pingin balik bertanya, "Yang bikin kenyang itu makanannya atau gengsinya?"

Tidak penting menjadi pintar atau trendy. Jika tidak bisa menghargai diri sendiri, melakukan ini-itu untuk mendongkrak eksistensi, tetap tidak bisa menghilangkan perasaan inferior yang di dalam.

Saya? Masih sarkastis, masih miris. Masih merasa "tidak sempurna" itu tidak apa-apa. Masih merasa yang "apa-apa sempurna" belum tentu benar "sempurna" adanya. Masih merasa jujur dengan diri sendiri lebih baik. Masih merasa kebohongan paling pahit adalah memaksakan menjadi "saya ideal", tanpa pembelajaran, hanya polesan.